Pages

4/13/12

Indonesia Underwater World


Apakah pakdhe budhe Hifatlobrainers sekalian ada yang sudah menonton film dokumenter bawah laut berjudul "Indonesia Underwater World" buatan Cahyo Alkantana? Mungkin beberapa orang yang kemarin datang ke pameran Deep and Extreme di Jakarta ada yang sudah mendapatkannya gratis...

Sebetulnya saya bingung untuk membahas film ini. Saya harus mulai dari mana? Saya bukan diver. Saya juga belum pernah lihat film dokumenter bawah air karya filmmaker lokal sebelumnya. Dan rasanya tidak adil jika harus membandingkan film sepanjang 24 menit ini dengan dokumenter lain seperti "March of the Pinguin" karya Luc Jaquet atau "Home" besutan Luc Besson. Jadi ya, biarkan saya berceracau saja yes.

Film ini menjadi berharga karena belum banyak orang Indonesia yang membuat hal serupa. Sedangkan Cahyo Alkantana sudah memulainya sejak awal tahun 1990-an. Bisa jadi, Cahyo Alkantana adalah Riza Marlon versi underwater. Jam terbangnya tinggi dan (mungkin) hampir semua dive site terbaik di negeri ini sudah pernah ia selami. Dokumenter singkat ini menjadi saksi ketekunan dan konsistensi Cahyo Alkantana dalam berkarya. Sepanjang film ini, saya menikmati alur, narasi, juga musik pengiringnya. Dan setelah menyaksikan film Indonesia Underwater World, yang saya mau hanyalah satu; mencari sertifikat menyelam secepatnya! Hahaha.

Saya mengenal Cahyo Alkantana dari Majalah SWA, jauh sebelum pria ini memproduseri program ekspedisi di Kompas TV, Teroka. Sejak saat itu saya ingin melihat hasil karyanya. Sayang, sulit sekali menemukan karya Cahyo di internet. Maka Indonesia Underwater World adalah perjumpaan pertama saya dengan film dokumenter karya Cahyo.

Hemat saya, film ini merupakan ensiklopedia dive site terbaik di Indonesia yang dikemas dalam dokumenter pendek. Dengan membandingkan begitu luasnya laut Indonesia dan besarnya potensi yang dikandungnya, tentu saja film ini bagaikan tahi lalat di wajah Revalina S. Temat. Membuat kita tidak puas dan terasa nanggung. Di sisi lain, film ini menjadi alat provokasi yang paling efektif untuk mengajak orang memulai diving. Tak perlu jauh-jauh mencari contoh, saya adalah salah satu korbannya.

Melalui film ini, saya sebagai orang awam harus mengakui virtuositas Cahyo sebagai pembuat film dokumenter khusus bawah air. Gambar-gambarnya begitu filmis sekaligus saintis. Indah tapi juga bernilai edukasi. "...Saya seorang filmmaker, saya mengutamakan art-nya: angle, warna, motion, obyek, bagi saya semua itu penting," kata Cahyo yang menggunakan kamera Arriflex 16 mm Housing Arri SR2, Sony DSR PD 150 Housing Ikelite, Canon 5D mk2 Housing Ikelite , dan lighting HMI, HID sebagai senjatanya di bawah laut.

Setengah jam menonton film ini hampir tidak terasa. Apalagi gambarnya tidak monoton, cepat berubah dari satu satwa ke satwa lainnya, dari satu pemandangan ke pemandangan lain. Semua hampir ada di sini, mulai dari ubur-ubur Kakaban, penyu Sanggalaki, ikan sotong di perairan Lesser Sunda, hiu paus Kwatisore, hingga berbagai jenis nudibranch yang imut. Hampir tak ada satwa laut yang luput dari kamera Cahyo.

Kisah penyelamannya untuk mendapatkan rekaman hiu paus sendiri ditulis oleh Cahyo di majalah National Geographic Traveler edisi khusus Papua (vol.4/no.3) dengan judul "Terkepung 'Raksasa' Teluk Nabire". "Kami menyelam lebih dalam, 20 meter, dan mendapati belasan hiu paus. Yang membuat kami terpana, di antaranya berukuran panjang sekitar 15 meter, serupa bus Trans Jakarta." tulis Cahyo dalam artikelnya. 

Menariknya, sebelum film berakhir Cahyo menyisipkan salah satu footagenya yang paling mahal! Yaitu rekaman ikan pejantan jawfish yang sedang mengeluarkan ribuan telur dari mulutnya. Footage ini dibeli production house Zebra Films seharga US$ 25.000 atau sekitar Rp 225 juta. "Tapi, itu kategori best shoot yang saya rekam pukul empat pagi di Pulau Derawan," kata Cahyo. Sebuah harga yang wajar dari penantian selama 20 jam penyelaman. (Majalah SWA no. 2/XXVII/20, hal. 101)

Pria kelahiran Yogyakarta yang sudah menyelam lebih dari 6000 kali dan menghasilkan 52 ekspedisi ini karyanya sudah diputar di berbagai saluran bergengsi, seperti Animal Planet, TV France, BBC, NHK Jepang, dan National Geographic Channel. Wedyan bro!

Dokumentasi KompasTV

Foto oleh Purwo Subagiyo

Maka untuk menjadi seorang pembuat film dokumenter bawah air, Cahyo membagikan beberapa tips yang terdapat pada majalah DiveMag terbaru (Vol.3/No.025), yaitu:

1. Penyelam harus memiliki kemampuan buoyancy yang baik. Artinya bisa mempertahankan posisi selama melakukan shot tanpa mengayuhkan fins.

2. Setiap turun satu meter, warna bawah laut berubah. Itu mengapa penting sekali mengetahui setelan white balance yang pas. Meski ada teknik post-production, tapi ini nggak boleh jadi peganggan underwater videographer.

3. Mempelajari karakteristik hewan yang muncul pada momen tertentu dan perilakunya. Manfaatkan peralihan-peralihan tersebut untuk menangkap momen-momen yang sejalan dengan shot yang akan diambil.

4. Jangan menaruh kamera di atas karang. Be friendly to the environment. Kita mengambil gambar untuk kepentingan dan keuntungan kita, jangan sampai merugikan ekosistem.

5. Pengetahuan tentang obyek dan daerah yang akan diambil gambarnya itu sangat penting. Begitu juga harus paham tingkah laku obyek, pasang-surut, arus, dan kontur daerah penyelaman. Riset sangat dibutuhkan!

6. Jadilah diver yang bertanggung jawab. Ikuti peraturan setempat dan patuhi batas-batas penyelaman sesuai standar yang berlaku.[]

NB: Nuhun teh Riyanni yang sudah mengirim DiveMag terbaru dan DVD ini untuk diulas.  

5 comments:

purwoshop said...

Wah terima kasih sudah berbagi. Kemaren saya sudah minta teteh Riyani buat temen2 :) mau dikirim ke dirimu ternyata sudah dikirim duluan ya?

Semoga karya ini bisa menginspirasi utk kita agar bisa berkarya dan mencintai alam Indonesia.

Salam
@purwoshop

Ayos Purwoaji said...

Wohoo iya mas, tentu saja karya seperti ini semacam racun positif buat kita yang muda biar lebih giat berkarya :)

Tekno Bolang said...

Keren sangat lah...kmaren di kasih pas talkshow ama beliaunya di DeepIndo, jadi mupeng belum punya ijin menyelam ha ha

Journal Kinchan said...

saya juga salut sama Cahyo Alkantana yang berhasil mempromosikan Luweng Jomblang (ga tanggung-tanggung, langsung di Amazing Race nongolnya!) dan Wisata Kalisuci yang skrg lagi populer2nya di Jogja.

Stand beliau di Deep Extreme yang ada cave towernya kmrn juga jadi salah satu stand yang paling menarik!

rio praditia said...

cahyo alkantana.. orang bersahaja dengan selera humor yang bagus..

bertemu dia saat caving ke goa jomblang...

semoga dia semakin bisa menginspirasi orang muda agar mau lebih mengenal kekayaan indonesia