Pages

4/14/12

A Million Experiences


Teks: Sri Anindiati Nursastri
Foto: Miquele Silvestre

"I used to be a lawyer. I had a good life, good career, expensive cars. I work behind my desk."

Kalimat itu terlontar dari seorang pria hispanik berumur 43. Jambang pirangnya tumbuh tak beraturan, kulitnya memerah terbakar sinar matahari. Tapi senyum sumringah tak pernah lepas dari wajahnya. Tubuhnya tak terbilang tinggi untuk ukuran manusia Eropa. Dalam skala ukuran yang sama, ia juga tergolong slengean.

Setelah menyelesaikan kalimat itu ia menepuk bahu saya dan berkata, "Sastri, you are young."

Hari itu, tepat seminggu berlalu sejak Miquele Silvestre menginjakkan kakinya di Belawan, Sumatera Utara. Indonesia jadi negara ke-85 yang berhasil ditaklukkannya. Seorang diri? Tentu saja tidak. Ia punya teman traveling sepanjang masa: sebuah motor BMW RS 1200, yang belakangan saya dengar harganya mencapai setengah milyar rupiah.


Sebagai seorang jurnalis, saya berkesempatan menemui Silvestre dalam sebuah wawancara eksklusif di kantor BDO Tanubrata, Jakarta Pusat. Dua jam berbincang dengan Silvestre sepertinya tidak akan pernah berakhir. Selalu ada hal yang ia ceritakan. Awalnya ia berkisah tentang masa lalu, kemudian masa kini, kisah perjalanan, romansa percintaan, kuliner lokal, tradisi masyarakat, kehidupan pribadi, dan seks (ups!) hingga kami berbincang lama sekali tentang "zona nyaman".

Zona nyaman sempat membuat Silvestre betah jadi pengacara. Zona nyaman itu pula yang membuatnya rela menempuh ratusan ribu kilometer, melintasi berbagai kota-negara-benua, tidur di hostel murah dan makan seadanya. Mencuci baju pun jarang, kecuali bila orang lain tiba-tiba bermuka sengit sambil menatap Silvestre dan menutup hidung mereka.

Apa yang membuat pengacara jutawan ini rela menjadi gembel jalanan?

Alkisah, suatu hari di kota asalnya yaitu Madrid, Silvestre mengalami kecelakaan motor yang berakibat tulang siku kirinya patah. Silvestre pun mendekam berhari-hari di rumah sakit, tak bisa melakukan apa pun. Pada saat itulah terlintas sebuah hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya: liburan panjang.

"Then I decided to go to Italy," katanya.

Dalam benak saya: Oh oke, cuma negara tetangga. Pasti tak butuh effort kuat untuk sekadar pergi ke negara sebelah. Tapi kawan, itulah mengapa Lao Tzu berucap "A journey of a thousand miles begins with a single step".

Mengendarai motor kesayangannya, Silvestre meninggalkan Spanyol dengan praduga yang tinggi. Berbagai pertanyaan melintas di kepala setengah botaknya: Bagaimana ia akan bertahan? Bagaimana jika bensinnya habis? Mau makan apa sepanjang jalan? Bagaimana jika terjadi kejahatan? Berapa botol sunblock yang harus ia bawa?

Maka benarlah adagium: Tuhan bersama orang-orang yang melakukan perjalanan. Kepergian itu berbuah rasa nyaman. Alhasil, perjalanan ke Italia ditulis dan dipublikasikan di koran lokal kota asalnya.

Selanjutnya, mulutnya merapal negara lain yang pernah disinggahi: Kenya, Kazakhstan, Turki, Uzbekistan, Slovenia, Kanada, Bostwana, Cyprus, Spanyol, Amerika Serikat, India, Nepal, Malaysia, dan sebagainya. Saya tak mampu merekam dengan jelas, Silvestre mengucapkannya dengan cepat. Intinya, selama empat tahun belakangan, ia sudah mampir di 80 negara. Dan, kali ini ia berada di Jakarta, tepat di hadapan saya.

Silvestre pun berkisah, rutinitas yang ia lakukan selama ini adalah: berkendara santai dengan motornya mengandalkan GPS (Global Positioning System, yang sering saya terjemahkan sebagai Guide Penduduk Setempat, hehe). Ia menginap di hostel murah, mencuci baju hanya saat diperlukan. Ia makan apa pun kuliner lokal. Ia kenal mata uang tiap negara. Silvestre sudah menjadi penduduk dunia.

Kawan, bersalaman dengannya, serasa memegang tangan ribuan orang dari seluruh bumi.


Perjalanan bermotornya keliling Afrika diabadikan dalam buku berbahasa Spanyol, "Un millon de piedras" (A Million Stones). Semenjak itu pula Silvestre memutuskan untuk menjadi seorang penulis perjalanan. Berkelana keliling dunia sambil membuat artikel. Mengirimnya ke beberapa koran lokal, serta situs pribadi dan jejaring sosial.

Sosok Silvestre mengingatkan saya pada Gol A Gong dengan serial "Balada si Roy" buatannya. Wawancara singkat dengan Gol A Gong beberapa waktu lalu berhasil menetapkan statusnya sebagai salah satu travel writer favorit saya sepanjang masa.

Cekrek! Ia pun memotretku dengan salah satu Canon EOS-nya. Cekrek! cekrek! cekrek! beberapa kali.

Secepat kilat, Silvestre menukar kamera itu dengan satu Canon lainnya. Cekrek!

"See? This one is different. It's fish eye. Good for buildings, great for landscape," katanya sumringah.

Kami bertukar cerita tentang daerah yang penuh kenangan. Tahukah kau, ia menjawab apa? Sumatera! Dataran panjang itu rupanya membekas di hati Silvestre. Ia tak bercerita banyak tentang caranya menembus jalur ganas Sumatera. Namun, ia berhasil menaklukkan pulau itu empat hari lamanya. Sempat tersasar ke banyak tempat yang namanya pun tak dia ingat. Hingga akhirnya Pelabuhan Bakauheni menyambutnya dengan sukacita dan sebuah ferry mengantar perjalanannya ke Jawa.

"So Miquele, what is the most interesting experience that you found after these long, long, journey?" tanyaku.

Jauh dari ekspektasiku tentang pengalaman sepanjang perjalanan, Silvestre hanya melontarkan satu kata: "People."

"People, everyone who lives in this world is good. They have their own life, live their own dreams. People are nicer than what you saw on TV. Believe me, normal people, are going to help you anytime, anywhere."

Mata saya berbinar tepat saat ia menghembus nafas panjang, menyadari pukul 14.00 telah lewat. Ia harus menghadiri sebuah acara lainnya dan saya harus beranjak ke kantor untuk membuat ulasan tentangnya.

"One more question, mind you?"

"Absolutely."

"Are you going to stop traveling?"

Jawaban terakhirnya pun diucapkan pelan-pelan, dengan senyum mengembang.

"I think I have money and luck. Destiny may change, but He saved my life over and over again. I don't know when to stop. And um... I don't think so."

NB:
Ikuti perjalanan Silvestre pada blognya:
http://miquel.exploramoto.com


______________________________________________ 
Kontributor










Sri Anindiati Nursastri adalah jurnalis di Detik Travel. Suka mendengarkan musik Mew, Weezer dan Sigur Rós. Menganut falsafat 'traveling without moving' ala Jamiroquai. Menggemari tulisan Remy Sylado dan pssst hati-hati, sudah ada yang punya bro.

Twitter @saastrii
______________________________________________ 

9 comments:

RuliDeGreat said...

sendiriannn menn.. ediann!!

"The best thinking has been done in solitude"

Dina said...

kereeeeeennnnn (diucapkan dengan nada bernyanyi)

Arman Dhani Bustomi said...

kalimat penutup itu kamerad. pantasnya untuk kawan saya yang sedang studi di Jogja itu

Sastri said...

:"> :">

Nuran Wibisono said...

komene dhani asu :D

efenerr said...

sastrii you rawks!

erry f muharrom said...

sayang sekali dengan kata kata terakirnya."psst, udah ada yang punya"
hiks :mewek:

Rapa said...

Seneng bacanya, yang ini aku share ya mbakyu jeng Sastri, permisi yo pak om bro tuan ruma hifatlobrain ^_^

rio praditia said...

hhmmmm.. jadi teringat pernah bertemu traveler serupa dari norwegia.. bertemu di kaki rinjani..

memang sulit sekali keluar dari zona nyaman..

saya saja mahasiswa pas1an n ga lulus2 tetep nyaman2 aja.. apalagi dia yang sudah mapan,,
]
two thumbs up