Pages

5/20/12

Sekilas Komik Perjalanan

Note: Ini bukan riset serius. Hanya tulisan ringan untuk membuka diskusi tentang Komik Perjalanan di Indonesia. Siapa pun yang membaca tulisan ini sangat boleh menambahkan data dan referensi. Artikel akan senantiasa kami perbarui dengan masukan dari pembaca sekalian.


Perkenalan saya dengan komik sudah cukup lama. Sejak sebelum SD, Bapak rajin membelikan saya buku komik strip Perancis. Kovernya tebal (hard cover), dimensinya besar (sekira A4), dan seluruh halamannya dicetak berwarna. Ada yang bercerita tentang Perang Dunia II, tentang astronot yang tersesat, ada pula yang berkisah tentang sekelompok anak muda gowes keliling kota.

Sejak saat itu saya tergila-gila dengan komik. Saya mengoleksi beberapa serial manga, Donal Bebek, komik terbitan Indira dan cergam silat Cina. Selain itu, selama bertahun-tahun langganan Majalah Bobo, saya suka sekali dengan komik petualangan "Pak Janggut". Sedangkan keluaran Marvel adalah jenis komik yang jarang sekali saya sentuh. 

Komikus pujaan saya sepanjang masa tetaplah Dwi Koendoro, pencipta tokoh komik "Panji Koming" dan tetralogi "Sawung Kampret". Entah mengapa saya suka sekali karya-karya Dwi Koen. Sepertinya sangat Indonesia sekali. Umpatan "hwarakadah!" ala Panji Koming dan logat Sawung Kampret yang Jawa Timuran itu begitu membekas di kepala.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, dunia komik menyihir masa kecil saya. Setidaknya, semasa SMP saya pernah terobsesi untuk menjadi komikus. Hahaha.

Bagi saya pribadi, komik adalah media yang cukup efektif untuk bercerita. Ia mengandung unsur visual, tapi tidak mengekang pembacanya untuk tetap berimajinasi liar. Komik juga merupakan media yang sangat ekspresif. Lihat saja bentuk balon kata yang bisa membentuk apa saja. Lengkap dengan kejutan seperti "Kaboom!" atau "Bang! Bang! Bang!" yang membuat pembaca terkaget-kaget.

Di Indonesia, komik strip sudah hadir sejak lama. Kata Marcel Boneff, pada tahun 1930-an, koran-koran lokal seperti De Java Bode atau Sin Po sudah memajang cerita bergambar. Sedangkan pada tahun 1970-an industri komik Indonesia mencapai puncaknya, sebelum hancur diserbu Manga pada akhir 1980.

Namun, dari sejarah komik Indonesia yang panjang, hampir-hampir saya tidak dapat menemukan genre komik perjalanan di dalamnya. Kebanyakan tema yang diangkat adalah heroisme, pewayangan, cerita rakyat, kehidupan sehari-hari, humor, atau kritik sosial.

Padahal di Barat (baca: Eropa dan Amerika) genre komik perjalanan sudah memiliki tempat sendiri. Tanpa perlu menyebut serial "The Adventures of Tintin" karya Hergé, contoh yang lain pun banyak! Termasuk novel grafis "The Photographer" karya Didier Lefèvre dan Emmanuel Guibert atau "Palestine" karya Joe Sacco yang keduanya sudah disulih ke dalam bahasa Indonesia.

Dua karya di atas menjadikan perang sebagai latar belakang. Kisahnya sama-sama legit, sama-sama bernas. Saya kagum sekali dengan teknik menggambar Joe Sacco karena detailnya yang seringkali membuat gemas.

Beberapa bulan lalu, teman saya, Mas Ibnu, pengelola toko buku online di Malang, menunjukkan sebuah komik berjudul "You Can Never Find a Rickshaw When It Monsoons: The World on One Cartoon a Day" karya Mo Willems. Berkisah tentang perjalanan penulisnya keliling dunia, dan seingat saya termasuk Indonesia. Dengan berbekal notebook, bolpen, dan tinta, ia menggambar pengalaman uniknya setiap hari selama dua belas bulan. Gambar di dalamnya mengingatkan saya pada ilustrasi khas yang menghiasi majalah The New Yorker.

Dalam pencarian terhadap literatur komik perjalanan di internet, saya menemukan catatan berharga yang ditulis Takeshi Ishizawa. Barangkali ini adalah satu-satunya tulisan yang merekam hubungan antara komik manga dengan perjalanan di Indonesia. Dari tulisan singkat ini, saya baru tahu ternyata ada beberapa komik Jepang yang berkisah tentang perjalanan ke Bali! Ini bukan hal aneh karena tingkat kunjungan wisatawan Jepang ke Bali termasuk sangat tinggi. 

Beberapa komik tersebut adalah "Osanpo Daiou" karya Masumi Sudo. Ada sebuah adegan yang menggambarkan tokoh utama makan mie bakso di kota Denpasar. Pada salah satu panel ada tulisan warung sate gule. Sangat Indonesia!


Manga lainnya adalah "Muteki no Bali" karya Manotonoma (pen name dari dua komikus wanita; MANO Kyo dan NOMA Osamu). Salah satu panelnya menggambarkan adegan minum es campur di Ubud. Pada panel lainnya si tokoh utama minum es kelapa muda 'Pak Subur' di Pasar Sanumu. Di manakah Pasar Sanumu di Bali? Barangkali sang komikus lupa bagaimana cara melafalkan Sanur dengan benar.      


Melihat catatan Ishizawa, saya jadi tergugah untuk menulis daftar komik perjalanan (graphic travelogue) yang pernah terbit di Indonesia. Khususnya yang terbit pada era 2000-an, karena sulitnya mencari referensi untuk menyusur lebih jauh ke belakang.

Setidaknya tulisan ini dibuat sebagai pengingat, bahwa di belantara tinta cina dan kertas gambar, masih ada komik-komik Indonesia yang mengangkat perjalanan sebagai tema cerita.

1. Lost in Bali Series (Benny & Mice, 2008)

Saya menggemari duet ini sejak SMP, saat itu baru muncul seri Lagak Jakarta yang bercerita tentang kerusuhan '98. Ide-idenya sederhana, diambil dari kehidupan nyata sehari-hari. Komposisinya naif, sedikit garing, namun tetap ambyar. Sejak saat itu saya jatuh cinta pada Benny & Mice.

Dalam komik "Lost in Bali", mereka mendeskripsikan Bali bukan dalam sebagai pulau dewata yang indah dan mempesona, tapi justru dari gegar budaya yang jamak ditemui. Benny & Mice membantu kita untuk melihat Bali lebih jeli.

Ada beberapa golongan turis stereotip yang mereka beberkan dalam komik ini. Dari yang sok gembel hingga yang gembel beneran. Semua persona itu dideskripsikan dengan kocak dan hampir sahih!

Pada bagian tertentu komik ini memotret dengan satir perlakuan para pelaku wisata yang memberikan layanan istimewa pada turis bule dan bersikap sebaliknya pada pelancong lokal. Nah di sinilah kekuatan komik ini. Kemampuan duo Benny & Mice untuk membaca gejala sosiokultural sebuah masyarakat sudah teruji dalam karya-karya sebelumnya. Dan dalam "Lost in Bali", mereka tak lupa memberikan warna tersebut.

http://id.wikipedia.org/wiki/Benny_%26_Mice 

2. Curhat Tita: Back in Bandung (Tita Larasati, 2008)


Saya mengenal Tita sebagai seorang doktor desain produk yang suka sekali membuat graphic diary. Kathleen Azali, pemilik c2o Library, adalah orang yang mengenalkan saya pada karya-karya Tita, termasuk komiknya yang berjudul "Back in Bandung".

Buku ini bercerita tentang perjalanan pulang. Dimana kata teman saya, Nuran; "Setiap pejalan musti pergi, tapi juga harus kembali..." Dan Tita menggambarkan kejadian itu dalam bingkai yang sangat personal.

Setelah nyantrik selama sepuluh tahun di Technical University of Delft, Belanda, akhirnya Tita harus pulang ke Bandung. Bagaimana perasaannya? Segala perubahan dan refleksi ia gambarkan di sini, dalam bingkai kehidupan sehari-hari.

Kisah tentang cicak, kampus, dan angkot di Bandung menjadi menu yang segar. Saya jadi ingat komik "Kapten Bandung" karya kang Motulz yang juga sama bagusnya. Dari sini saya berpikir; tampaknya Bandung punya banyak stok komikus yang siap mengajak para pembaca untuk menyusuri kota dari panel-panel naratif. Cool!

Sependek pengetahuan saya, komik ini diterbitkan dan didistribusikan secara indie. Agak sulit mendapatkan di jaringan toko buku ternama. Di Surabaya, Anda bisa menemukannya di c2o Library.  

Secara estetika, graphic diary yang dibuat oleh Tita tidak berbentuk seperti komik konvensional. Tidak ada panel sekuensial dan balon teks di dalamnya. Sedikit membingungkan tapi mengalir saja seperti ceracau yang manis saat curhat.

http://esduren.multiply.com

3. Tersesat di Byzantium (Duo Hippo Dinamis, 2010)


The Naked Traveler mengejawantah dalam bentuk komik! Itulah pertama kali kesan saya terhadap karya Sheila Rooswitha ini. Sampul depannya begitu provokatif, berwarna merah dan membuat lapar. Begitu dibaca, kisah-kisahnya membuat saya tersenyum. Ditambah gimmick bahasa prokem yang setia menghiasi balon kata.

Ini adalah bentuk inovasi yang patut diapresiasi. Sebelumnya kita lebih mengenal Trinity sebagai penulis perjalanan. Tiga serial The Naked Traveler adalah signature dalam genre travel writing di Indonesia. Tapi pada titik aman ini Trinity tetap mau berinovasi. Ia bersama Erastiany menjelma menjadi sosok kartun DD dan KK yang ginuk-ginuk seperti kuda nil. Mereka menyebut diri sebagai Duo Hippo Dinamis.

DD dan KK bepetualang di Byzantium, sebuah negeri yang saat ini kita kenal sebagai Turki. Dalam barisan panel hitam putih, buku ini bercerita tentang dua hal; yaitu kesulitan yang ditemui selama perjalanan dan kisah pertemuan duo ini dengan tokoh lain bernama ET, mantan pedagang narkoba di New York, Amerika Serikat, yang kemudian menemani mereka ke Cappadocia. Sebuah destinasi turistik di kawasan di Provinsi Nevehir, sekitar 750 kilometer dari Istanbul, Turki.

Gambar dalam komik ini begitu khas ala Sheila yang sebelumnya juga menerbitkan komik laris "Cerita Si Lala". Garis-garisnya sederhana, minim detail, dan lebih menekankan pada luapan ekspresi tokoh di dalamnya.

Saya memiliki ekspektasi besar dalam komik ini. Dengan adanya nama besar Trinity di baliknya, semoga "Tersesat di Byzantium" mampu memicu tren komik perjalanan yang lebih luas di Indonesia.   

http://duohippodinamis.wordpress.com/

4. Halimun Zine (Anitha Silvia, 2011 - hari ini)


Dalam menyusun daftar ini, saya harus memasukkan zine Halimun sebagai penutup. Ini sebetulnya bukanlah buku graphic travelogue atau graphic diary seperti yang lain. Halimun adalan zine fotokopian bertema traveling yang dikelola oleh kawan saya, Anitha Silvia. Saya akan mengulas zine ini lebih jauh di lain waktu.

Tapi yang membuat Halimun pantas masuk dalam daftar ini karena Anitha menghadirkan rubrik komik perjalanan dalam zine buatannya. Ia rajin menodong kawan-kawannya yang jago visual untuk mengisi bagian ini.

Salah satu yang paling menarik adalah Halimun edisi 4 yang menampilkan komik perjalanan karya Novie Elisa dan Bagus Sarapan. Dua komikus gaul ini menggambarkan kisah perjalanan ke Bali. Bedanya, Elisa lebih menggambar tentang proses perjalanan termasuk kisah sedih di dalamnya. Sedangkan Bagus bercerita tentang penjual bensin eceran.

Edisi sebelumnya juga tak kalah menarik. Halimun mengangkat tema tentang destinasi-destinasi under radar di Jawa Timur. Dalam edisi ini, ada beberapa karya sketsa tentang Pasuruan oleh Garis Kabe Muslim, peta wisata kuliner dalam bentuk ilustrasi oleh Pinkan Victorien, dan karya grafis tentang Surabaya oleh Felkiza Vinanda.

"Aku memang suka komik, karena bosan dengan foto perjalanan," kata Anitha."Komik juga terasa lebih personal dan membiarkan pembaca berimajinasi."

Silahkan unduh Halimun Zine pada link di bawah ini:

http://ow.ly/b1w4A  



Referensi:
Ishizawa, Takeshi. "Komik Catatan Perjalanan Mengenai Bali". 2004.
Mahesarani, Thamrin. "Perjalanan Komik Indonesia". 2011. 

5/15/12

Joel's Sketch



Pria itu duduk santai di perempatan Jalan Mliwis. Sambil menghadap sebuah rumah tua, ia membuat sketsa. Pulpen Stabillo hitamnya bergerak liar. Kadang menarik garis lurus, kadang mengarsir cepat. Dengan tekun dia memenuhi sketch book kecil yang selalu dibawanya berpelesir. Nama pria ini Joel Allesandra, seorang komikus yang menyukai petualangan. "Dulu umur 19 aku sempat bikin puyeng bapakku. Tanpa izin, aku pergi ke Brazil sama pacar," kata Joel sambil tertawa.

Selama festival komik Cergamboree 2012 yang diadakan oleh c2o Library dan IFI Surabaya, Joel adalah salah satu artis komik yang paling mendapat sorotan. Selain dia ada juga Redi Murti, pencipta novel grafis "Jurnal" yang mengadaptasi karya Pramoedya Ananta Toer.

Joel memamerkan beberapa buah karyanya berupa komik perjalanan. Komik berjudul "Fierté de Fer" menceritakan perjalanannya di Djibouti, Ethiopia. Sedangkan yang berjudul "Ennedi, la beauté du monde" adalah tentang petualangannya di Gurun Ennedi, Chad. Dua-duanya bagus dan berbahasa Prancis. "Dua buku itu rata-rata aku kerjakan selama satu bulan," kata Joel.

Fierté de Fer dan isi di dalamnya.

Sebagai seorang sarjana desain, medium gambar adalah salah satu cara Joel untuk berkomunikasi. Dengan menggambar pula ia mengabadikan perjalanannya. Meski selama di jalan ia membawa kamera, tapi tak lupa Joel membawa drawing kit juga. Di dalamnya ada berbagai ukuran kuas cat air, pensil HB, pensil 2B, beberapa varian spidol marker, dan seperangkat palet aquarel.

 Drawing kit andalan Joel, juga sketch book mungilnya.

Sketch book mungil juga tidak pernah absen dari kantong celana kargonya. "Aku suka sketch book yang kecil. Ini aku pesan khusus ke seorang teman," kata Joel. "Aku suka kertasnya, cukup tebal untuk menyerap tinta." Joel menyebut buku mungil yang selalu menemaninya traveling ini sebagai catatan kartun (notes dessinées). "Aku punya banyak notes dari perjalananku sebelumnya. Dan tidak akan aku jual pada siapapun!" kata Joel.

Selama berkeliling Indonesia, Joel juga menyiapkan satu notes dessinées khusus. Pada halaman paling awal, dia menempelkan bon makan dari sebuah resto di Bali. Di dalamnya ada lebih banyak tempelan. Joel memang memperlakukan notes perjalannya ini layaknya scrap book. Segala macam hal yang berhubungan dengan perjalanan dia tempelkan. Termasuk brand tag kaos dan label kertas Bir Bintang. "Aku sih nggak minum. Cuma suka logonya saja," ujar Joel ngeles.

Ketika di jalan, bapak berputri satu ini lebih suka melakukan eksplorasi seorang diri. Perhatiannya paling besar adalah pada pemandangan alam, arsitektur, dan manusia. Joel rela keluar masuk pasar tradisional dan perkampungan untuk bercengkrama dengan penduduk. "Tidak pernah ada masalah untuk mendekati orang lokal, kecuali di Djibouti, mereka akan melempari aku bila ketahuan menggambar," kata Joel, "Jika dapat satu obyek yang menarik, aku bakal berhenti sekitar sepuluh menitan untuk membuat sketsa."

Joel membuat sketsa sebuah rumah tua di Jalan Mliwis.

Setiap sketsa biasanya diurutkan berdasarkan aras waktu. Pada beberapa gambar, Joel menambahkan catatan pendek. Biasanya untuk hal-hal khusus yang begitu menarik perhatiannya. Bila masih ada tenaga, kumpulan sketsa itu diberi warna begitu Joel sampai di penginapan. "Itu mengapa saya tetap memotret. Agar saya bisa mengingat detail dan warna obyek," kata pria yang mencintai komik strip sejak kecil ini.

Proses mewarnainya sendiri begitu unik. Untuk dasaran dan warna padang pasir, biasanya Joel menggunakan kopi cair. "Karena kopi itu pewarna yang mudah didapat di mana saja," begitu alasannya. Joel juga mencelupkan warna lain ke dalam air kopi sebelum dipulas. Hasilnya sungguh cihuy dan warna cat air menjadi lebih matang. Efek lainnya, permukaan gambar jadi lebih punya tekstur yang berasal dari bubuk kopi. Bila diraba, begitu terasa. Semacam ada pasir atau lapisan debu yang hadir di permukaan gambar. Memberi kesan bahwa gambar ini betul-betul dibuat di jalanan. On the road! 

Sketsa perjalanan yang dibuat Joel memang terasa begitu hidup. Bukan saja karena teksturnya, tapi karena personalitas yang begitu kuat. Dalam dua travel book, "Fierté de Fer" dan "Ennedi, la beauté du monde", Joel merekam segalanya. Ia hadir sebagai seorang observer, pejalan yang ingin tahu apa saja. Joel tidak sekedar mencari keindahan turistik, namun justru ia datang untuk merasakan kehidupan itu sendiri. "Aku berkendara dengan mobil selama tiga minggu melintasi Gurun Ennedi dan air begitu sulit ditemui. Tapi ada saja orang -suku-suku baduy- yang tinggal di sana," kata Joel,"Fakta itu membuat aku tertegun; bagaimana mereka bisa bertahan hidup?"

Buku tentang Gurun Ennedi dan isi di dalamnya.

Joel memang begitu kagum dengan daratan Afrika. Baik lanskap maupun budayanya. Itu tampak jelas dari beberapa karya Joel. "Ya aku memang suka Afrika. Saat ini putriku sedang merengek-rengek minta diajak ke sana," kata Joel.

Pengaruh itu bahkan masih terasa saat Joel menggarap komik saduran dari novel "Baltashar's Odyssey" karya Amin Maalouf, "Le Périple de Baldassare".

"Aku menelepon Amin, dan dia langsung setuju!" kata Joel yang mengaku penggemar berat karya-karya Maalouf. "Aku mengerjakan komik Balthasar selama delapan bulan, komik paling lama proses pembuatannya," ujar Joel. Dalam komik Balthasar sendiri Joel tak alpa memberikan sentuhan traveling berupa penjelasan geografis Lebanon yang menjadi latar cerita.

Tapi menurut Joel, pasar komik perjalanan di Paris pun tidak begitu menggairahkan. "Kalau aku bisa menjual 3000 eksemplar, itu sudah luar biasa!" ujar Joel. Di Indonesia keadaannya sama saja. Tidak banyak pejalan yang menggunakan medium komik sebagai alat bercerita. Komik "Tersesat di Byzantium" karya Duo Hippo Dinamis barangkali adalah satu-satunya. Itu berarti, komik perjalanan masih menjadi domain yang masih potensial untuk diselami.

"Kamu kayaknya harus balik lagi ke Indonesia untuk bikin komik perjalanan deh, Bro," kata saya.

"Yeah, negaramu indah banget sih. Tapi rasanya butuh waktu luang yang sungguh longgar untuk itu..." kata Joel. []

5/14/12

Surabaya Discover


Joel Allesandra video. Coming Soon.

5/13/12

Smell of the Street


Sabtu yang cerah, saya menemani anak-anak c2o Library untuk berkeliling kota tua. Acaranya begitu menyenangkan, kami berjalan bersama Joel, seorang komikus dari Prancis yang suka sekali menggambar gedung tua. Kami singgah di beberapa tempat, termasuk melewati Jalan Mliwis yang belum pernah saya singgahi dan perkampungan kecil di seberang JMP. Ini beberapa foto jalanan yang saya dapatkan. Enjoy the weekend lads!

Jakarta Car Free Day

Jalanan bisa jadi sangat tidak ramah bagi manusia. Yaitu ketika para pejalan diusir dari trotoar, kendaraan yang melaju seperti dikejar setan, jalur arteri yang sulit diseberangi, hingga penjahat kelas teri yang siap memalak anak-anak sekolah. Jalanan, khususnya di Jakarta bisa begitu jahat, kawan.

Tapi ada saat-saat tertentu, manusia bisa menjadi raja jalanan. People occupy the street! Anak-anak bebas bermain in-line skate, para gadis duduk aman di trotoar sambil mengudap makanan kecil, atau para lajang yang bebas beratraksi mencari perhatian cewek manis. Wuhu semua itu hanya terjadi ketika car free day. Dimana menurut Galih Setyo Putro, sang fotografer,"car free day adalah wajah Jakarta yang paling ramah bagi manusia!"

Dan gegap gempita itu direkam oleh kamera.


5/10/12

Waisak Borobudur

 Foto oleh Dwi Putri Ratnasari


Beberapa waktu lalu, Dwi Putri Ratnasari mengunjungi Borobudur untuk melihat prosesi Waisak. Bermodalkan kamera poket, inilah dua oleh-oleh Putri untuk Lobrainers semua.

"Mendengar nyanyian syahdu para biksu tiba-tiba jadi ingat Kasodo di Bromo, ketika kidung diresonansikan dari Pura Poten dan menggema di dinding kaldera pada dini hari. Rasanya semriwing..." kata Putri. 

Semoga semua makhluk berbahagia!

The Tranquil Palace



Teks: Mahardhika
Foto: Novita Eka Syaputri


Saya percaya beberapa tempat memiliki aura spiritual yang kuat. Termasuk komplek Sendangsono, tempat ziarah Goa Maria yang terletak di Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.

Syahdan, pada awal tarikh masehi tempat ini menjadi peristirahatan bagi biksu-biksu dari selatan sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju Aruphadatu: poros tertinggi candi Borobudur. Dalam keheningan lembah Menoreh para manusia suci ini membasuh diri. Menyegarkan raga pada sebuah sendang yang terlindung di bawah tajuk pohon-pohon angsana.

Kesejukan dan kenyamanan tempat itu ternyata juga menarik rohaniwan Belanda berabad-abad kemudian. Tersebutlah Romo Van Lith -salah satu evangelis paling awal di Jawa- yang membuat Sendangsono menjadi populer.

Di pertengahan Mei 1904, Romo Van Lith membaptis 173 warga Kalibawang sebagai pengikut. Dua puluh lima tahun kemudian Sendangsono menjadi tempat ziarah dan napak tilas bagi penganut Katolik.


Komplek ziarah yang pernah memenangi Aga Khan Awards untuk arsitekturnya yang unik ini terletak sekitar 45 kilometer dari pusat kota Yogya. Lewat jalan Godean sampai Sentolo kemudian berbelok ke kanan. Atau mengikuti jalan Magelang sampai di pasar Muntilan kemudian berbelok ke kiri.

Dalam film 3 Hari Untuk Selamanya, di petilasan agung ini Ambar menyapa Bunda Maria dan lalu berdoa. Karena ia pikir, berdoa adalah,"good enough reason untuk berada di sini, di Sendangsono."

Di tempat yang sama, Bunda Maria hadir di depan mata saya. Tapi saya tak hendak berdoa. Saya hanya ingin merasakan suasana hening.

Saya kemudian menyusur jalan salib yang sempat hilang tertumpuk abu vulkanik gunung Merapi. Di beberapa perhentian terlihat kemerlip cahaya lilin yang tertiup angin dan pohon-pohon besar menjadi perindang yang membuat rasa damai kian kental.


Begitu masuk kompleks Sendangsono, gerbang yang mempertahankan bentuk joglo khas Jawa menyambut. Ia menyatu dengan patung-patung yang didatangkan langsung dari Spanyol. Area yang dirancang oleh Y.B. Mangunwijaya ini didominasi oleh wastu yang terbuat dari batu. Saya kemudian menyeberangi jembatan kecil sebelum akhirnya sampai di area utama tempat gua Maria berada.

Di area inilah kini saya duduk dalam sunyi, ditimpali rintik-rintik hujan.

Sendangsono memang menawarkan, bahkan memaksa, setiap pengunjungnya untuk berada dalam hening yang syahdu. Membuat hati kian ngelangut. Kebetulan pada saat itu, hanya ada beberapa orang yang duduk di depan Gua Maria dengan rosario di tangan.


Tuhan barangkali suka keheningan. Dia hadir dalam khusyuknya doa Yesus pada malam terakhir sebelum dibawa ke bukit Golgota. Dia mengejawantah dalam semedi Siddhartha Gautama di bawah pohon Bodh Gaya. Dia -melalui utusanNya- juga hadir di sela itikaf Muhammad di Gua Hira.

Saya pun berharap, bisa menemuiNya dalam keheningan yang pekat di Sendangsono.

______________________________________________
Kontributor

 
 











Mahardhika adalah mahasiswa Universitas Indonesia jurusan sastra dan nyambi jadi jurnalis kampus. Setelah lulus ia ingin,"keliling Indonesia dan nggak pulang-pulang seperti Bang Toyib." Hey, kasihan mamamu di rumah, Nak. Nggak ada yang bantu cuci piring. Sila cek blognya!

Beberapa foto dibantu Novita Eka Syaputri.

______________________________________________