Pages

5/15/12

Joel's Sketch



Pria itu duduk santai di perempatan Jalan Mliwis. Sambil menghadap sebuah rumah tua, ia membuat sketsa. Pulpen Stabillo hitamnya bergerak liar. Kadang menarik garis lurus, kadang mengarsir cepat. Dengan tekun dia memenuhi sketch book kecil yang selalu dibawanya berpelesir. Nama pria ini Joel Allesandra, seorang komikus yang menyukai petualangan. "Dulu umur 19 aku sempat bikin puyeng bapakku. Tanpa izin, aku pergi ke Brazil sama pacar," kata Joel sambil tertawa.

Selama festival komik Cergamboree 2012 yang diadakan oleh c2o Library dan IFI Surabaya, Joel adalah salah satu artis komik yang paling mendapat sorotan. Selain dia ada juga Redi Murti, pencipta novel grafis "Jurnal" yang mengadaptasi karya Pramoedya Ananta Toer.

Joel memamerkan beberapa buah karyanya berupa komik perjalanan. Komik berjudul "Fierté de Fer" menceritakan perjalanannya di Djibouti, Ethiopia. Sedangkan yang berjudul "Ennedi, la beauté du monde" adalah tentang petualangannya di Gurun Ennedi, Chad. Dua-duanya bagus dan berbahasa Prancis. "Dua buku itu rata-rata aku kerjakan selama satu bulan," kata Joel.

Fierté de Fer dan isi di dalamnya.

Sebagai seorang sarjana desain, medium gambar adalah salah satu cara Joel untuk berkomunikasi. Dengan menggambar pula ia mengabadikan perjalanannya. Meski selama di jalan ia membawa kamera, tapi tak lupa Joel membawa drawing kit juga. Di dalamnya ada berbagai ukuran kuas cat air, pensil HB, pensil 2B, beberapa varian spidol marker, dan seperangkat palet aquarel.

 Drawing kit andalan Joel, juga sketch book mungilnya.

Sketch book mungil juga tidak pernah absen dari kantong celana kargonya. "Aku suka sketch book yang kecil. Ini aku pesan khusus ke seorang teman," kata Joel. "Aku suka kertasnya, cukup tebal untuk menyerap tinta." Joel menyebut buku mungil yang selalu menemaninya traveling ini sebagai catatan kartun (notes dessinées). "Aku punya banyak notes dari perjalananku sebelumnya. Dan tidak akan aku jual pada siapapun!" kata Joel.

Selama berkeliling Indonesia, Joel juga menyiapkan satu notes dessinées khusus. Pada halaman paling awal, dia menempelkan bon makan dari sebuah resto di Bali. Di dalamnya ada lebih banyak tempelan. Joel memang memperlakukan notes perjalannya ini layaknya scrap book. Segala macam hal yang berhubungan dengan perjalanan dia tempelkan. Termasuk brand tag kaos dan label kertas Bir Bintang. "Aku sih nggak minum. Cuma suka logonya saja," ujar Joel ngeles.

Ketika di jalan, bapak berputri satu ini lebih suka melakukan eksplorasi seorang diri. Perhatiannya paling besar adalah pada pemandangan alam, arsitektur, dan manusia. Joel rela keluar masuk pasar tradisional dan perkampungan untuk bercengkrama dengan penduduk. "Tidak pernah ada masalah untuk mendekati orang lokal, kecuali di Djibouti, mereka akan melempari aku bila ketahuan menggambar," kata Joel, "Jika dapat satu obyek yang menarik, aku bakal berhenti sekitar sepuluh menitan untuk membuat sketsa."

Joel membuat sketsa sebuah rumah tua di Jalan Mliwis.

Setiap sketsa biasanya diurutkan berdasarkan aras waktu. Pada beberapa gambar, Joel menambahkan catatan pendek. Biasanya untuk hal-hal khusus yang begitu menarik perhatiannya. Bila masih ada tenaga, kumpulan sketsa itu diberi warna begitu Joel sampai di penginapan. "Itu mengapa saya tetap memotret. Agar saya bisa mengingat detail dan warna obyek," kata pria yang mencintai komik strip sejak kecil ini.

Proses mewarnainya sendiri begitu unik. Untuk dasaran dan warna padang pasir, biasanya Joel menggunakan kopi cair. "Karena kopi itu pewarna yang mudah didapat di mana saja," begitu alasannya. Joel juga mencelupkan warna lain ke dalam air kopi sebelum dipulas. Hasilnya sungguh cihuy dan warna cat air menjadi lebih matang. Efek lainnya, permukaan gambar jadi lebih punya tekstur yang berasal dari bubuk kopi. Bila diraba, begitu terasa. Semacam ada pasir atau lapisan debu yang hadir di permukaan gambar. Memberi kesan bahwa gambar ini betul-betul dibuat di jalanan. On the road! 

Sketsa perjalanan yang dibuat Joel memang terasa begitu hidup. Bukan saja karena teksturnya, tapi karena personalitas yang begitu kuat. Dalam dua travel book, "Fierté de Fer" dan "Ennedi, la beauté du monde", Joel merekam segalanya. Ia hadir sebagai seorang observer, pejalan yang ingin tahu apa saja. Joel tidak sekedar mencari keindahan turistik, namun justru ia datang untuk merasakan kehidupan itu sendiri. "Aku berkendara dengan mobil selama tiga minggu melintasi Gurun Ennedi dan air begitu sulit ditemui. Tapi ada saja orang -suku-suku baduy- yang tinggal di sana," kata Joel,"Fakta itu membuat aku tertegun; bagaimana mereka bisa bertahan hidup?"

Buku tentang Gurun Ennedi dan isi di dalamnya.

Joel memang begitu kagum dengan daratan Afrika. Baik lanskap maupun budayanya. Itu tampak jelas dari beberapa karya Joel. "Ya aku memang suka Afrika. Saat ini putriku sedang merengek-rengek minta diajak ke sana," kata Joel.

Pengaruh itu bahkan masih terasa saat Joel menggarap komik saduran dari novel "Baltashar's Odyssey" karya Amin Maalouf, "Le Périple de Baldassare".

"Aku menelepon Amin, dan dia langsung setuju!" kata Joel yang mengaku penggemar berat karya-karya Maalouf. "Aku mengerjakan komik Balthasar selama delapan bulan, komik paling lama proses pembuatannya," ujar Joel. Dalam komik Balthasar sendiri Joel tak alpa memberikan sentuhan traveling berupa penjelasan geografis Lebanon yang menjadi latar cerita.

Tapi menurut Joel, pasar komik perjalanan di Paris pun tidak begitu menggairahkan. "Kalau aku bisa menjual 3000 eksemplar, itu sudah luar biasa!" ujar Joel. Di Indonesia keadaannya sama saja. Tidak banyak pejalan yang menggunakan medium komik sebagai alat bercerita. Komik "Tersesat di Byzantium" karya Duo Hippo Dinamis barangkali adalah satu-satunya. Itu berarti, komik perjalanan masih menjadi domain yang masih potensial untuk diselami.

"Kamu kayaknya harus balik lagi ke Indonesia untuk bikin komik perjalanan deh, Bro," kata saya.

"Yeah, negaramu indah banget sih. Tapi rasanya butuh waktu luang yang sungguh longgar untuk itu..." kata Joel. []

4 comments:

wahyugunawan said...

karna saya awam mgkin ini bs disebut pendekatan baru dalam penulisan perjalanan, dan quote punya ansel adams ini ttp berlaku ya "Not everybody trusts paintings, but people believe photographs" :)

Tege said...

woaaa cara lain untuk mengabadikan pengalaman perjalanan, nice!

Argha Christyanto said...

sebuah gambar bisa mewakili ribuan kata dan memancing imajinasi..

winda savitri said...

Jadi pengen bisa nggambar lagi