Pages

5/20/12

Sekilas Komik Perjalanan

Note: Ini bukan riset serius. Hanya tulisan ringan untuk membuka diskusi tentang Komik Perjalanan di Indonesia. Siapa pun yang membaca tulisan ini sangat boleh menambahkan data dan referensi. Artikel akan senantiasa kami perbarui dengan masukan dari pembaca sekalian.


Perkenalan saya dengan komik sudah cukup lama. Sejak sebelum SD, Bapak rajin membelikan saya buku komik strip Perancis. Kovernya tebal (hard cover), dimensinya besar (sekira A4), dan seluruh halamannya dicetak berwarna. Ada yang bercerita tentang Perang Dunia II, tentang astronot yang tersesat, ada pula yang berkisah tentang sekelompok anak muda gowes keliling kota.

Sejak saat itu saya tergila-gila dengan komik. Saya mengoleksi beberapa serial manga, Donal Bebek, komik terbitan Indira dan cergam silat Cina. Selain itu, selama bertahun-tahun langganan Majalah Bobo, saya suka sekali dengan komik petualangan "Pak Janggut". Sedangkan keluaran Marvel adalah jenis komik yang jarang sekali saya sentuh. 

Komikus pujaan saya sepanjang masa tetaplah Dwi Koendoro, pencipta tokoh komik "Panji Koming" dan tetralogi "Sawung Kampret". Entah mengapa saya suka sekali karya-karya Dwi Koen. Sepertinya sangat Indonesia sekali. Umpatan "hwarakadah!" ala Panji Koming dan logat Sawung Kampret yang Jawa Timuran itu begitu membekas di kepala.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, dunia komik menyihir masa kecil saya. Setidaknya, semasa SMP saya pernah terobsesi untuk menjadi komikus. Hahaha.

Bagi saya pribadi, komik adalah media yang cukup efektif untuk bercerita. Ia mengandung unsur visual, tapi tidak mengekang pembacanya untuk tetap berimajinasi liar. Komik juga merupakan media yang sangat ekspresif. Lihat saja bentuk balon kata yang bisa membentuk apa saja. Lengkap dengan kejutan seperti "Kaboom!" atau "Bang! Bang! Bang!" yang membuat pembaca terkaget-kaget.

Di Indonesia, komik strip sudah hadir sejak lama. Kata Marcel Boneff, pada tahun 1930-an, koran-koran lokal seperti De Java Bode atau Sin Po sudah memajang cerita bergambar. Sedangkan pada tahun 1970-an industri komik Indonesia mencapai puncaknya, sebelum hancur diserbu Manga pada akhir 1980.

Namun, dari sejarah komik Indonesia yang panjang, hampir-hampir saya tidak dapat menemukan genre komik perjalanan di dalamnya. Kebanyakan tema yang diangkat adalah heroisme, pewayangan, cerita rakyat, kehidupan sehari-hari, humor, atau kritik sosial.

Padahal di Barat (baca: Eropa dan Amerika) genre komik perjalanan sudah memiliki tempat sendiri. Tanpa perlu menyebut serial "The Adventures of Tintin" karya Hergé, contoh yang lain pun banyak! Termasuk novel grafis "The Photographer" karya Didier Lefèvre dan Emmanuel Guibert atau "Palestine" karya Joe Sacco yang keduanya sudah disulih ke dalam bahasa Indonesia.

Dua karya di atas menjadikan perang sebagai latar belakang. Kisahnya sama-sama legit, sama-sama bernas. Saya kagum sekali dengan teknik menggambar Joe Sacco karena detailnya yang seringkali membuat gemas.

Beberapa bulan lalu, teman saya, Mas Ibnu, pengelola toko buku online di Malang, menunjukkan sebuah komik berjudul "You Can Never Find a Rickshaw When It Monsoons: The World on One Cartoon a Day" karya Mo Willems. Berkisah tentang perjalanan penulisnya keliling dunia, dan seingat saya termasuk Indonesia. Dengan berbekal notebook, bolpen, dan tinta, ia menggambar pengalaman uniknya setiap hari selama dua belas bulan. Gambar di dalamnya mengingatkan saya pada ilustrasi khas yang menghiasi majalah The New Yorker.

Dalam pencarian terhadap literatur komik perjalanan di internet, saya menemukan catatan berharga yang ditulis Takeshi Ishizawa. Barangkali ini adalah satu-satunya tulisan yang merekam hubungan antara komik manga dengan perjalanan di Indonesia. Dari tulisan singkat ini, saya baru tahu ternyata ada beberapa komik Jepang yang berkisah tentang perjalanan ke Bali! Ini bukan hal aneh karena tingkat kunjungan wisatawan Jepang ke Bali termasuk sangat tinggi. 

Beberapa komik tersebut adalah "Osanpo Daiou" karya Masumi Sudo. Ada sebuah adegan yang menggambarkan tokoh utama makan mie bakso di kota Denpasar. Pada salah satu panel ada tulisan warung sate gule. Sangat Indonesia!


Manga lainnya adalah "Muteki no Bali" karya Manotonoma (pen name dari dua komikus wanita; MANO Kyo dan NOMA Osamu). Salah satu panelnya menggambarkan adegan minum es campur di Ubud. Pada panel lainnya si tokoh utama minum es kelapa muda 'Pak Subur' di Pasar Sanumu. Di manakah Pasar Sanumu di Bali? Barangkali sang komikus lupa bagaimana cara melafalkan Sanur dengan benar.      


Melihat catatan Ishizawa, saya jadi tergugah untuk menulis daftar komik perjalanan (graphic travelogue) yang pernah terbit di Indonesia. Khususnya yang terbit pada era 2000-an, karena sulitnya mencari referensi untuk menyusur lebih jauh ke belakang.

Setidaknya tulisan ini dibuat sebagai pengingat, bahwa di belantara tinta cina dan kertas gambar, masih ada komik-komik Indonesia yang mengangkat perjalanan sebagai tema cerita.

1. Lost in Bali Series (Benny & Mice, 2008)

Saya menggemari duet ini sejak SMP, saat itu baru muncul seri Lagak Jakarta yang bercerita tentang kerusuhan '98. Ide-idenya sederhana, diambil dari kehidupan nyata sehari-hari. Komposisinya naif, sedikit garing, namun tetap ambyar. Sejak saat itu saya jatuh cinta pada Benny & Mice.

Dalam komik "Lost in Bali", mereka mendeskripsikan Bali bukan dalam sebagai pulau dewata yang indah dan mempesona, tapi justru dari gegar budaya yang jamak ditemui. Benny & Mice membantu kita untuk melihat Bali lebih jeli.

Ada beberapa golongan turis stereotip yang mereka beberkan dalam komik ini. Dari yang sok gembel hingga yang gembel beneran. Semua persona itu dideskripsikan dengan kocak dan hampir sahih!

Pada bagian tertentu komik ini memotret dengan satir perlakuan para pelaku wisata yang memberikan layanan istimewa pada turis bule dan bersikap sebaliknya pada pelancong lokal. Nah di sinilah kekuatan komik ini. Kemampuan duo Benny & Mice untuk membaca gejala sosiokultural sebuah masyarakat sudah teruji dalam karya-karya sebelumnya. Dan dalam "Lost in Bali", mereka tak lupa memberikan warna tersebut.

http://id.wikipedia.org/wiki/Benny_%26_Mice 

2. Curhat Tita: Back in Bandung (Tita Larasati, 2008)


Saya mengenal Tita sebagai seorang doktor desain produk yang suka sekali membuat graphic diary. Kathleen Azali, pemilik c2o Library, adalah orang yang mengenalkan saya pada karya-karya Tita, termasuk komiknya yang berjudul "Back in Bandung".

Buku ini bercerita tentang perjalanan pulang. Dimana kata teman saya, Nuran; "Setiap pejalan musti pergi, tapi juga harus kembali..." Dan Tita menggambarkan kejadian itu dalam bingkai yang sangat personal.

Setelah nyantrik selama sepuluh tahun di Technical University of Delft, Belanda, akhirnya Tita harus pulang ke Bandung. Bagaimana perasaannya? Segala perubahan dan refleksi ia gambarkan di sini, dalam bingkai kehidupan sehari-hari.

Kisah tentang cicak, kampus, dan angkot di Bandung menjadi menu yang segar. Saya jadi ingat komik "Kapten Bandung" karya kang Motulz yang juga sama bagusnya. Dari sini saya berpikir; tampaknya Bandung punya banyak stok komikus yang siap mengajak para pembaca untuk menyusuri kota dari panel-panel naratif. Cool!

Sependek pengetahuan saya, komik ini diterbitkan dan didistribusikan secara indie. Agak sulit mendapatkan di jaringan toko buku ternama. Di Surabaya, Anda bisa menemukannya di c2o Library.  

Secara estetika, graphic diary yang dibuat oleh Tita tidak berbentuk seperti komik konvensional. Tidak ada panel sekuensial dan balon teks di dalamnya. Sedikit membingungkan tapi mengalir saja seperti ceracau yang manis saat curhat.

http://esduren.multiply.com

3. Tersesat di Byzantium (Duo Hippo Dinamis, 2010)


The Naked Traveler mengejawantah dalam bentuk komik! Itulah pertama kali kesan saya terhadap karya Sheila Rooswitha ini. Sampul depannya begitu provokatif, berwarna merah dan membuat lapar. Begitu dibaca, kisah-kisahnya membuat saya tersenyum. Ditambah gimmick bahasa prokem yang setia menghiasi balon kata.

Ini adalah bentuk inovasi yang patut diapresiasi. Sebelumnya kita lebih mengenal Trinity sebagai penulis perjalanan. Tiga serial The Naked Traveler adalah signature dalam genre travel writing di Indonesia. Tapi pada titik aman ini Trinity tetap mau berinovasi. Ia bersama Erastiany menjelma menjadi sosok kartun DD dan KK yang ginuk-ginuk seperti kuda nil. Mereka menyebut diri sebagai Duo Hippo Dinamis.

DD dan KK bepetualang di Byzantium, sebuah negeri yang saat ini kita kenal sebagai Turki. Dalam barisan panel hitam putih, buku ini bercerita tentang dua hal; yaitu kesulitan yang ditemui selama perjalanan dan kisah pertemuan duo ini dengan tokoh lain bernama ET, mantan pedagang narkoba di New York, Amerika Serikat, yang kemudian menemani mereka ke Cappadocia. Sebuah destinasi turistik di kawasan di Provinsi Nevehir, sekitar 750 kilometer dari Istanbul, Turki.

Gambar dalam komik ini begitu khas ala Sheila yang sebelumnya juga menerbitkan komik laris "Cerita Si Lala". Garis-garisnya sederhana, minim detail, dan lebih menekankan pada luapan ekspresi tokoh di dalamnya.

Saya memiliki ekspektasi besar dalam komik ini. Dengan adanya nama besar Trinity di baliknya, semoga "Tersesat di Byzantium" mampu memicu tren komik perjalanan yang lebih luas di Indonesia.   

http://duohippodinamis.wordpress.com/

4. Halimun Zine (Anitha Silvia, 2011 - hari ini)


Dalam menyusun daftar ini, saya harus memasukkan zine Halimun sebagai penutup. Ini sebetulnya bukanlah buku graphic travelogue atau graphic diary seperti yang lain. Halimun adalan zine fotokopian bertema traveling yang dikelola oleh kawan saya, Anitha Silvia. Saya akan mengulas zine ini lebih jauh di lain waktu.

Tapi yang membuat Halimun pantas masuk dalam daftar ini karena Anitha menghadirkan rubrik komik perjalanan dalam zine buatannya. Ia rajin menodong kawan-kawannya yang jago visual untuk mengisi bagian ini.

Salah satu yang paling menarik adalah Halimun edisi 4 yang menampilkan komik perjalanan karya Novie Elisa dan Bagus Sarapan. Dua komikus gaul ini menggambarkan kisah perjalanan ke Bali. Bedanya, Elisa lebih menggambar tentang proses perjalanan termasuk kisah sedih di dalamnya. Sedangkan Bagus bercerita tentang penjual bensin eceran.

Edisi sebelumnya juga tak kalah menarik. Halimun mengangkat tema tentang destinasi-destinasi under radar di Jawa Timur. Dalam edisi ini, ada beberapa karya sketsa tentang Pasuruan oleh Garis Kabe Muslim, peta wisata kuliner dalam bentuk ilustrasi oleh Pinkan Victorien, dan karya grafis tentang Surabaya oleh Felkiza Vinanda.

"Aku memang suka komik, karena bosan dengan foto perjalanan," kata Anitha."Komik juga terasa lebih personal dan membiarkan pembaca berimajinasi."

Silahkan unduh Halimun Zine pada link di bawah ini:

http://ow.ly/b1w4A  



Referensi:
Ishizawa, Takeshi. "Komik Catatan Perjalanan Mengenai Bali". 2004.
Mahesarani, Thamrin. "Perjalanan Komik Indonesia". 2011. 

1 comment:

fajjar_nuggraha said...

Belooonn pada baca semuaa tuh komik perjalanannya gan..hahahaha