Pages

5/10/12

The Tranquil Palace



Teks: Mahardhika
Foto: Novita Eka Syaputri


Saya percaya beberapa tempat memiliki aura spiritual yang kuat. Termasuk komplek Sendangsono, tempat ziarah Goa Maria yang terletak di Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.

Syahdan, pada awal tarikh masehi tempat ini menjadi peristirahatan bagi biksu-biksu dari selatan sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju Aruphadatu: poros tertinggi candi Borobudur. Dalam keheningan lembah Menoreh para manusia suci ini membasuh diri. Menyegarkan raga pada sebuah sendang yang terlindung di bawah tajuk pohon-pohon angsana.

Kesejukan dan kenyamanan tempat itu ternyata juga menarik rohaniwan Belanda berabad-abad kemudian. Tersebutlah Romo Van Lith -salah satu evangelis paling awal di Jawa- yang membuat Sendangsono menjadi populer.

Di pertengahan Mei 1904, Romo Van Lith membaptis 173 warga Kalibawang sebagai pengikut. Dua puluh lima tahun kemudian Sendangsono menjadi tempat ziarah dan napak tilas bagi penganut Katolik.


Komplek ziarah yang pernah memenangi Aga Khan Awards untuk arsitekturnya yang unik ini terletak sekitar 45 kilometer dari pusat kota Yogya. Lewat jalan Godean sampai Sentolo kemudian berbelok ke kanan. Atau mengikuti jalan Magelang sampai di pasar Muntilan kemudian berbelok ke kiri.

Dalam film 3 Hari Untuk Selamanya, di petilasan agung ini Ambar menyapa Bunda Maria dan lalu berdoa. Karena ia pikir, berdoa adalah,"good enough reason untuk berada di sini, di Sendangsono."

Di tempat yang sama, Bunda Maria hadir di depan mata saya. Tapi saya tak hendak berdoa. Saya hanya ingin merasakan suasana hening.

Saya kemudian menyusur jalan salib yang sempat hilang tertumpuk abu vulkanik gunung Merapi. Di beberapa perhentian terlihat kemerlip cahaya lilin yang tertiup angin dan pohon-pohon besar menjadi perindang yang membuat rasa damai kian kental.


Begitu masuk kompleks Sendangsono, gerbang yang mempertahankan bentuk joglo khas Jawa menyambut. Ia menyatu dengan patung-patung yang didatangkan langsung dari Spanyol. Area yang dirancang oleh Y.B. Mangunwijaya ini didominasi oleh wastu yang terbuat dari batu. Saya kemudian menyeberangi jembatan kecil sebelum akhirnya sampai di area utama tempat gua Maria berada.

Di area inilah kini saya duduk dalam sunyi, ditimpali rintik-rintik hujan.

Sendangsono memang menawarkan, bahkan memaksa, setiap pengunjungnya untuk berada dalam hening yang syahdu. Membuat hati kian ngelangut. Kebetulan pada saat itu, hanya ada beberapa orang yang duduk di depan Gua Maria dengan rosario di tangan.


Tuhan barangkali suka keheningan. Dia hadir dalam khusyuknya doa Yesus pada malam terakhir sebelum dibawa ke bukit Golgota. Dia mengejawantah dalam semedi Siddhartha Gautama di bawah pohon Bodh Gaya. Dia -melalui utusanNya- juga hadir di sela itikaf Muhammad di Gua Hira.

Saya pun berharap, bisa menemuiNya dalam keheningan yang pekat di Sendangsono.

______________________________________________
Kontributor

 
 











Mahardhika adalah mahasiswa Universitas Indonesia jurusan sastra dan nyambi jadi jurnalis kampus. Setelah lulus ia ingin,"keliling Indonesia dan nggak pulang-pulang seperti Bang Toyib." Hey, kasihan mamamu di rumah, Nak. Nggak ada yang bantu cuci piring. Sila cek blognya!

Beberapa foto dibantu Novita Eka Syaputri.

______________________________________________ 

4 comments:

Anonymous said...

Tujuan selanjutnya, setelah Ganjuran...

-titiss- said...

Tranquil.. it is..

-titiss- said...

Tranquil.. it is..

-titiss- said...

Tranquil.. it is..