Pages

6/28/12

Lombok by Smartphone

Photo by Werdha Prasidha Wangsa

Werdha Prasidha Wangsa membagikan empat buah foto dari perjalanannya selama lima hari berkeliling Lombok. Selama perjalanan, Werdha aktif melakukan snapshot dari smartphone android mungil miliknya.

Selain makan nasi puyung dan ayam taliwang, Werdha juga sempat mampir di Air Terjun Benang Kelambu di Lombok Tengah, mendatangi Pantai Seger dan Tanjung Ringgit, serta melihat suguhan budaya Gendang Beleq di Desa Denggen, Lombok Timur. Sebuah perjalanan yang sungguh terasa lengkap. 

6/8/12

Vaastu


Click on image to watch Vaastu video! 

6/5/12

Vaastu: Behind The Scene



Membuat video perjalanan tampaknya sudah menjadi obsesi baru kami. Setelah kenyang melahap berbagai video bagus di Vimeo, kami pun harus turun ke lapangan. Mencoba membuatnya sendiri. Tapi ternyata tak semudah yang dibayangkan. Menyusun konsep sebuah video agar pesan tersampaikan adalah sebuah tantangan. 

Hingga pada akhir 2011 Wego Indonesia menawarkan kerjasama untuk membuat proyek video. Ini adalah konsep duet maut yang cukup menyenangkan. Wego dan Hifatlobrain sama-sama pemain baru dalam industri wisata. Bedanya, Wego fokus pada pengembangan fitur travel metasearch, sedangkan Hifatlobrain menguatkan posisinya dalam dunia dokumentasi perjalanan di Indonesia. Klop! 

Kami menggodok konsep Vaastu sejak lama. Dalam bahasa Sanskerta, Vaastu sendiri berarti arah. Konsepsi tentang arah merupakan hal yang sangat fundamental bagi para pejalan. Itu mengapa buku panduan perjalanan sungguh laris di pasaran. Meskipun kami selalu percaya bahwa penunjuk jalan terbaik dalam berkelana adalah penduduk sekitar. Kalo menurut Saastrii, kawan kami yang jurnalis itu, memelesetkan kepanjangan GPS menjadi Guide Penduduk Setempat.

Nah, melalui berbagai arahan penduduk lokal, si pejalan bisa menemukan tujuannya tanpa takut tersesat. Itulah inti dari video Vaastu yang kami buat. Sederhana bukan? Sebuah interpretasi ringan dari adagium pasaran: Malu bertanya sesat di jalan. 

Ide itu datang dari Samuel Respati, pria edan yang juga membuat music scoring untuk Vaastu. Sebelum diterima, gagasan mentah dari Samuel harus melewati sesi curah pendapat cukup alot di Warung Kopi Cirkel yang sekarang sudah almarhum.

Berbeda dengan Homeland yang digarap suka-suka dan penuh spontanitas, Vaastu kami garap 'agak' serius. Setelah konsep matang, kami mulai melakukan survei lokasi, mengurus perizinan, melakukan casting, membuat storyboard, menyusun shotlist, menyunting, dan membuat scoring. Kurang lebih seluruh proses itu menghabiskan waktu sebulan. Tapi di lapangan kami hanya butuh waktu empat hari kerja. 

Susunan tim masih didominasi wajah lama; Lukki Sumarjo sebagai sutradara, Giri Prasetyo masih memegang kamera sekaligus editor, Samuel Respati pun belum bosan membuatkan musik. Selebihnya, kami mengajak Adinda Nurul sebagai art director dan Lukman Simbah sebagai pemulus perizinan dan pengatur cuaca. Tak perlu heran mendengar kemampuan Lukman Simbah yang terakhir. Ilmu kanuragan itu ditimba langsung dengan bertapa di Gunung Kemukus 40 hari lamanya. 


Kru di balik pengerjaan Vaastu.

Bagi para pria yang sudah menonton Vaastu, pasti penasaran dengan pemeran utamanya? Wohoo dia adalah Erina Koto, seorang mahasiswi HI Unair yang baru minggu kemarin dikukuhkan menjadi Ning Surabaya 2012! Selamat ya bro! Wanita berdarah Padang - Banjar ini memiliki motto hidup seperti Cat Woman: fun fearless female. Meskipun sudah malang melintang menjadi model dan gadis sampul, Vaastu merupakan debut pertama Erina di bidang videografi.  Jadi tidak heran bila ia melakoni berkali-kali take untuk sebuah scene. Ini adalah pengalaman menguras tenaga, namun Erina berhasil membawakan perannya cukup baik.   

Wedyan, pemeran Vaastu jadi Ning Surabaya 2012!  
(Foto pindai dari Jawa Pos)

Sebagian besar proses pengambilan gambar dilakukan di Jember, Jawa Timur. Bagi kami Jember adalah sebuah paket lengkap destinasi yang memang kami cari. Ada hutan, bukit, pantai, dan pegunungan. Perfecto! Aksesnya juga mudah, hanya butuh empat jam berkendara dari Surabaya. 

Dalam Vaastu, kami menggunakan stasiun Jember, pasar tradisional, dan Pantai Payangan sebagai latar belakang. Pantai Payangan tidak cukup populer, bahkan bagi warga Jember sendiri. Padahal pemandangannya cukup sadis. Belakangan baru kami tahu bahwa Pantai Payangan sudah tiga kali dijadikan tempat syuting film pendek. "Seingat saya ada dua lagi selain Vaastu," ujar Cak Oyong, salah satu penggiat kreatif kota Jember. 

Cuaca sempat menjadi kendala nomor satu saat membuat Vaastu. Kala itu, berita tentang badai matahari menghiasi media dan linimassa. Beberapa rencana gambar harus ditangguhkan karena ombak sedang tinggi-tingginya. Deru angin juga menimbulkan suara kemeresek pada usaha merekam soundscape.   



Tapi Tuhan memang baik hati, pada pengambilan gambar sore hari di Bukit Semboja, Pantai Payangan matahari muncul dengan ray of light yang anggun, membuat Samudera Hindia tampak kelap-kelip bercahaya. Dan momen itu pula yang kami jadikan penutup dalam Vaastu. 

Selamat menikmati!

PS: 
Terimakasih kepada pakdhe budhe Lobrainers sekalian, yang sudah menunggu tayangnya video ini sejak beberapa bulan yang lalu! We love you! Terimakasih juga pada Wego atas kesempatannya. Semoga lebih sering berduet dengan kami di masa depan :p

Keluarga besar Hifatlobrain (minus Lukman Simbah) pada pemutaran terbatas Vaastu di acara Wego Party. 
(Sumber: idVR360)

Pagi di Payangan


Matahari belum muncul benar ketika saya mendaki bukit Semboja di Pantai Payangan, Jember. Tingginya sekitar dua ratus meter saja. Dari puncak, saya bisa melihat pemandangan barisan pasir Pantai Payangan dan hamparan Samudera Hinda yang teduh. Matahari muncul dari balik bebukitan, sedangkan di timur laut, petak-petak sawah dengan barisan pohon kelapa mengingatkan saya pada lukisan gaya mooi indie karya Walter Spies. Embun masih mengambang di permukaan tanah.  

Pantai Payangan belum begitu populer, bahkan oleh warga Jember sendiri. Keindahannya berada dalam bayangan Pantai Papuma yang jeuh lebih ngetop bagi wisatawan dari luar kota. Panduan wisata Lonely Planet memasukkan Pantai Papuma sebagai obyek wisata yang harus dikunjungi di Jember, tapi alfa menuliskan Pantai Payangan yang hanya berjarak lima kilometer. 

Akibat publikasi yang tidak luas itu, Pantai Payangan termasuk sepi pengunjung. Dan jauh dari keramaian adalah syarat pertama sebuah tempat yang akan saya datangi.  

Desau angin laut menampar-nampar kulit. Saya tahu benar ini adalah hembusan dari laut yang memaksa para pelaut pulang ke rumah. Saya lihat, dari sudut horison, satu dua kapal menunggangi ombak dan meluncur turun menghunjam daratan. Berbondong-bondong nelayan lain yang menunggu di bibir pantai bekerja sama untuk menarik perahu menjauhi laut. Pindang, kakap, dorang, dan ikan-ikan lain yang memenuhi lambung perahu segera diborong para ibu. 


Bagi saya Pantai Payangan menjadi khas karena dua bukitnya. Yang saya naiki ini disebut Bukit Semboja, sedangkan yang lebih kecil dan bertebing curam di sampingnya dinamai Bukit Seruni. Entah berasal dari mana toponimi seperti itu. Syahdan ada hubungannya dengan cerita rakyat yang dipercayai warga setempat. “Waduh tapi saya sudah tidak tahu lagi ceritanya mas, orang-orang tua yang tahu,” kata Mas Arif, penduduk Pantai Payangan yang mengantar saya ke puncak bukit. 


Rumput setinggi mata kaki tumbuh subur di punggung bukit. Segerombolan kambing asik mengunyah rumput tanpa takut jatuh ke laut. Sepertinya kambing-kambing di Payangan sudah hafal betul trek di Semboja. Sang gembala terlihat bermalas-malas mengaso di bawah pohon waru. Saya pun ikut malas. Merebahkan diri di atas rerumputan, langit biru yang tak terbatas, hembusan angin laut yang hangatnya pas, dan tingkah ribuan capung merah yang sibuk terbang kesana kemari membuat atmosfer di sekeliling saya terasa sureal. Saya keluarkan iPod pinjaman dari Putri, kebetulan di dalamnya penuh dengan lagu-lagu Sigur Ros, sempurna! 

Menjelang siang, saya turun bukit. Sedangkan pantai sudah mulai sepi dari nelayan. Perahu-perahu yang bercat warna-warni terparkir rapi. Perut saya mulai keroncongan dan akhirnya menemukan sebuah warung kopi tidak jauh dari kaki bukit. Penjualnya pria tambun paruh baya yang suka sekali bergoyang ketika irama dangdut diputar dari radio. “Mas mie goreng satu ya...” kata saya tak kuat menahan lapar. []