Pages

6/5/12

Pagi di Payangan


Matahari belum muncul benar ketika saya mendaki bukit Semboja di Pantai Payangan, Jember. Tingginya sekitar dua ratus meter saja. Dari puncak, saya bisa melihat pemandangan barisan pasir Pantai Payangan dan hamparan Samudera Hinda yang teduh. Matahari muncul dari balik bebukitan, sedangkan di timur laut, petak-petak sawah dengan barisan pohon kelapa mengingatkan saya pada lukisan gaya mooi indie karya Walter Spies. Embun masih mengambang di permukaan tanah.  

Pantai Payangan belum begitu populer, bahkan oleh warga Jember sendiri. Keindahannya berada dalam bayangan Pantai Papuma yang jeuh lebih ngetop bagi wisatawan dari luar kota. Panduan wisata Lonely Planet memasukkan Pantai Papuma sebagai obyek wisata yang harus dikunjungi di Jember, tapi alfa menuliskan Pantai Payangan yang hanya berjarak lima kilometer. 

Akibat publikasi yang tidak luas itu, Pantai Payangan termasuk sepi pengunjung. Dan jauh dari keramaian adalah syarat pertama sebuah tempat yang akan saya datangi.  

Desau angin laut menampar-nampar kulit. Saya tahu benar ini adalah hembusan dari laut yang memaksa para pelaut pulang ke rumah. Saya lihat, dari sudut horison, satu dua kapal menunggangi ombak dan meluncur turun menghunjam daratan. Berbondong-bondong nelayan lain yang menunggu di bibir pantai bekerja sama untuk menarik perahu menjauhi laut. Pindang, kakap, dorang, dan ikan-ikan lain yang memenuhi lambung perahu segera diborong para ibu. 


Bagi saya Pantai Payangan menjadi khas karena dua bukitnya. Yang saya naiki ini disebut Bukit Semboja, sedangkan yang lebih kecil dan bertebing curam di sampingnya dinamai Bukit Seruni. Entah berasal dari mana toponimi seperti itu. Syahdan ada hubungannya dengan cerita rakyat yang dipercayai warga setempat. “Waduh tapi saya sudah tidak tahu lagi ceritanya mas, orang-orang tua yang tahu,” kata Mas Arif, penduduk Pantai Payangan yang mengantar saya ke puncak bukit. 


Rumput setinggi mata kaki tumbuh subur di punggung bukit. Segerombolan kambing asik mengunyah rumput tanpa takut jatuh ke laut. Sepertinya kambing-kambing di Payangan sudah hafal betul trek di Semboja. Sang gembala terlihat bermalas-malas mengaso di bawah pohon waru. Saya pun ikut malas. Merebahkan diri di atas rerumputan, langit biru yang tak terbatas, hembusan angin laut yang hangatnya pas, dan tingkah ribuan capung merah yang sibuk terbang kesana kemari membuat atmosfer di sekeliling saya terasa sureal. Saya keluarkan iPod pinjaman dari Putri, kebetulan di dalamnya penuh dengan lagu-lagu Sigur Ros, sempurna! 

Menjelang siang, saya turun bukit. Sedangkan pantai sudah mulai sepi dari nelayan. Perahu-perahu yang bercat warna-warni terparkir rapi. Perut saya mulai keroncongan dan akhirnya menemukan sebuah warung kopi tidak jauh dari kaki bukit. Penjualnya pria tambun paruh baya yang suka sekali bergoyang ketika irama dangdut diputar dari radio. “Mas mie goreng satu ya...” kata saya tak kuat menahan lapar. []

4 comments:

Tekno Bolang said...

Ajak aku mrene po'o kang... Keren.. COcok buat menggalau kayaknya :)

nengbiker said...

ancer2nya piye dari Jember ke arah mana? wuaaapik lop ini bukit2nya

Tour Explora said...

Jember oke juga yah pantainya. Cool !

Rudi B. Prakoso said...

Sekarang udah ada tempat parkir motor sama mobil..jadi aman lah...tidak seperti dulu..juga ada hamparan pohon bakau...