Pages

7/23/12

Foto Portrait Jurnalistik


Foto oleh Hafidz Novalsyah

“Bagi saya, portrait harus menghormati subjeknya. 
Di dalam kamera saya, memotret presiden 
sama terhormatnya dengan memotret korban perang/konflik. 
Fotografer harus memberikan yang terbaik 
dan penuh rasa hormat!”
(Poriaman Sitanggang)

Karakter dan ekspresi manusia kerap disebut-sebut sebagai faktor penting dalam fotografi portraiture (potret). Lalu bagaimanakah jenis fotografi yang satu ini digunakan dalam dunia jurnalisme? Bagaimana etika, kaidah, tips, dan triknya? FOTOKITA.net bersama dengan Galeri Foto Jurnalistik Antara menghadirkan seorang fotografer profesional sarat pengalaman, Poriaman Sitanggang dan kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara Oscar Motuloh yang akan menguraikan jawaban atas pertanyaan di atas.

Pembicara
Oscar Motuloh (Kurator Foto GFJA)
Poriaman Sitanggang (Fotografer Senior)

Waktu Acara
28 Juli 2012
Pukul 15:30-19:00 WIB
Lokasi Acara

Neo Journalism Cafe Galeri Foto Jurnalistik ANTARA Jl. Antara no 59 Pasar Baru Jakarta Pusat

Persyaratan Peserta
Melakukan pendaftaran online via: http://bit.ly/frameFK15
Pendaftaran dibuka mulai tanggal 21-7-2012 dan ditutup tanggal 26-7-2012
Panitia berhak menutup pendaftaran lebih awal apabila kuota sudah terpenuhi
Daftar peserta akan ditampilkan di website: http://bit.ly/frameFK15 Tanggal 27 Juli 2012
Pendaftaran gratis, tempat terbatas

Informasi Kegiatan
National Geographic Indonesia
http://fotokita.net/event/frame10
Email : event@nationalgeographic.co.id
FB: http://nationalgeographic.co.id/facebook
Twitter: @fotokitanet & @NGIndonesia

Travel Writing Workshop for Jepecom


Materi ini sebetulnya sudah kadaluwarsa. Karena disampaikan pada acara Gathering I Jejak Petualang Community Jawa Timur bulan lalu. Acaranya bertempat di Kebun Raya Purwoadi, materinya disampaikan malam hari dalam keadaan perut kenyang dan angin gunung berhembus. Tapi toh yang namanya bulan Ramadhan itu sedekah harus diperbanyak. Termasuk sedekah ilmu. Jadi ya monggo disruput bagi yang berkenan. Menyeruput materi ini tidak membatalkan puasa kok. Hehehe. 

Susunan acaranya sendiri cukup asyik. Pada pagi hari, peserta diajak trekking di sekitar Kebun Raya hingga Air Terjun Cuban Baung. Saya jadi kenal teman-teman baru yang gila outdoor adventure, termasuk Om Ori, pembuat dokumenter alam bebas yang sudah mengantongi banyak jam terbang.

Dan karena ini formatnya workshop, jadi ada sesi praktiknya juga. Beberapa tulisan anak Jepecom sudah hampir matang. Ada yang deskripsinya detil seperti milik Boi, ada yang dikasih bumbu saintifik seperti milik Isna, ada pula yang mengambil sudut penulisan unik seperti tulisan Bung Karni. 

Semoga lain waktu bisa berbagi dengan anak-anak Jepecom lagi! 

7/22/12

The Imperial Way


Pakdhe Theroux and pakdhe McCurry never fails me! Dua orang ini merupakan yang terbaik di bidangnya. Paul Theroux adalah begawan di bidang penulisan perjalanan. Karyanya sungguh banyak. Meliputi berbagai macam model perjalanan, dan beberapa di antaranya sudah menjadi karya klasik. Sebut saja The Great Railway Bazaar yang melegenda, tentang jurnal naratif perjalanan melintas benua dengan kereta api. 

Sedangkan Steve McCurry adalah fotojurnalis kenamaan. Potretnya tentang anak perempuan pengungsi Afghanistan sudah sangat masyhur, bahkan menjadi kover terbaik National Geographic sepanjang masa. Hasil bidikan McCurry yang lain juga tak kalah dahsyat dalam balutan humanisme yang kental.

Baik Theroux dan McCurry, adalah dua inspirasi saya sejak lama. Karya mereka begitu saya kagumi. Adalah impian saya untuk bisa menulis seciamik Paul Theroux dan memotret semaknyus Steve McCurry.  Ahay!

Nah, pertanyaannya; bagaimana jika dua orang super ini berkolaborasi? 

Hasilnya sudah dapat ditebak, it's kinda masterpiece! Dan itulah yang ditawarkan buku The Imperial Way: By Rail from Peshawar to Chittagong. Perpaduan apik dua jenius yang memadukan antara keindahan prosa dengan manisnya visual. Buku ini merupakan sari perjalanan yang dilakukan Theroux dan McCurry menggunakan sebelas rute kereta api dari Pakistan baratlaut, melintasi India bagian utara, hingga ujung tenggara Bangladesh. Plus rute tambahan dari Shimla ke Darjeeling. 

Theroux sendiri tidak menulis banyak. Hanya beberapa belas halaman di depan. Ia membagi tulisannya pada sebelas rute yang dilalui. Masing-masing memiliki karakternya sendiri. Dan di situlah kecanggihan Theroux yang mampu menyerap setiap ciri khas kota dalam takaran yang tepat. "When something human is recorded, good travel writing happens," kata Theroux. Maka ia menulis tentang para pengguna kereta dan segala tingkah polahnya. 

Sedangkan sisanya, 82 kekayaan visual disuguhkan oleh McCurry. Menjadi terjemah otentik atas memori yang ditulis oleh Theroux. Beberapa foto di dalamnya bahkan sudah menjadi "permanent visual-heritage" bagi saya pribadi. 


Jauh sebelum menemukan buku ini, saya juga mengoleksi National Geographic edisi Juni tahun 1984 yang menyuguhkan artikel berjudul "India By Rail", sebuah versi pendek dari buku The Imperial Way. Tampak dalam foto di atas saya perbandingkan dua foto yang sama, satu dari kover National Geographic, sedangkan yang lain ada di dalam buku. Tampaknya ada perbedaan kualitas foto yang cukup menarik. Foto untuk kover National Geographic memiliki saturasi warna yang lebih cerah. Apakah majalah Natgeo melakukan proses tusir pada foto ini?

Selain melengkapi koleksi saya atas karya Theroux dan McCurry, buku ini juga melejitkan imajinasi atas petualangan yang serupa. Mungkin ada baiknya jika ada penulis perjalanan papan atas Indonesia yang melakoni perjalanan ditemani fotografer perjalanan yang juga memiliki level yang sama. Apa yang mereka akan tulis tentang Indonesia? 

Setidaknya pada akhir tahun 80'an, penulis perjalanan Lawrence Blair (yang kita kenal dengan karya buku dan seri film dokumenter Ring Of Fire: The Indonesian Odyssey) mengajak Rio Helmi muda untuk menjelajahi rimba Kalimantan dan menghasilkan buku berjudul River of Gems. Saat ini, Helmi sendiri sudah menjadi nama besar dalam dunia etno-fotografi Indonesia. Sedangkan Blair beberapa saat lalu menerbitkan kembali buku Ring of Fire versi reprinted melalui sebuah publisher Singapura. Suatu saat bila sudah khatam membaca River of Gems, akan saya ulas juga dalam blog ini. 

Di kover belakang buku The Imperial Way, ada foto duo combo saat beliau-beliau ini masih muda. Theroux dengan kaos polo kasual dan tas pinggang (yang mungkin berisi notes) sedangkan McCurry membawa courier bag kanvas berisi peralatan fotografi dan berpuluh-puluh rol Kodachrome kesayangannya. Saya jadi membayangkan, bagaimana dua orang ini melakukan perjalanan bersama dengan ego masing-masing? Apakah mereka pernah ngambek selama perjalanan? Apakah mereka berdebat panjang tentang sudut penulisan? Apa yang mereka obrolkan di suatu sore saat melintas Darjeeling dan menyesap tehnya yang terkenal itu?[]

Foto terlampir adalah milik Steve McCurry yang juga terdapat dalam buku The Imperial Way. Diambil dari blognya dalam kisah foto berjudul "Riding the Indian Railways".

7/21/12

Pameran Bol Brutu

Disclaimer: Foto-foto di atas adalah jepretan para Brutuers. 
Penggunaan lebih lanjut bisa menghubungi Bol Brutu.

Bol Brutu attack! Yeah. Saya sudah menunggu pameran ini sejak lama. Bagi Anda yang belum tahu apa itu Bol Brutu, wah Anda harus segera memperbanyak istighfar. Bol Brutu adalah sindikat kece dengan arti "Gerombolan Pemburu Batu", sekumpulan orang gila yang memiliki perhatian pada sejarah, khususnya candi dan arca.

Teman saya yang semlohai, Bung Carlos, memberikan invitasi untuk menghadiri pameran Bol Brutu di House of Samperna minggu lalu. Foodies yang juga juragan Surabaya Food dotcom ini memang salah satu aktifis Bol Brutu. Seingat saya, beliau juga pernah ikut riweuh pada pameran pertama Bol Brutu di Sangkring Art Space, Jogja pada tahun lalu. Menandakan militansi Bung Carlos yang tidak main-main.

Saya sendiri mengenal lebih jauh komunitas ini pada pagelaran Biennale Jogja 2012. Mereka membangun stand yang cukup oke, berdampingan dengan stan geowisata yang digawangi oleh resi-resi Fakultas Geologi UPN Jogja. Di sisi lain, Bol Brutu juga sudah menerbitkan sebuah buku tentang penemuan dan perjalanan mereka dalam berburu batu. Sayangnya saya belum punya. Padahal ingin sekali saya ulas dan bandingkan dengan buku "Situs-Situs Marjinal Jogja" karya M. Rizky Sasono, dkk. 

Pada pameran foto yang diadakan Bol Brutu, tidak semuanya hasil jepretan profesional. Ada pula yang menggunakan kamera seadanya dengan sudut pandang biasa saja. Tapi toh justru hal tersebut mewakili keragaman yang tak terelakkan. Bukti sahih bahwa Bol Brutu merupakan komunitas yang terbuka bagi siapa saja. Fotografer pro atau bukan. Lelaki atau perempuan. Dewasa atau anak-anak. Atau bisa juga jiwa anak-anak yang terperangkap dalam tubuh dewasa, seperti teman saya Bung Carlos itu. Hahaha. 

Beberapa dari foto yang dipajang begitu menginspirasi. Di antaranya menarik secara visual, tapi juga penuh makna dan histori. Karena saya kebetulan membawa kamera saku, maka saya repro saja. Difoto ulang untuk ditampilkan dalam blog ini. Semoga inspirasi itu (baik secara visual atau semangat) bisa menular kepada jamaah Hifatlobrainiyah sekalian.

Contohnya, foto Candi Barong yang diselimuti cahaya matahari pagi, dan dari kejauhan sebuah gunung tampak masih berselimut kabut. Adalah replika dari imaji mooi indie yang ideal. Atau foto Candi Plaosan yang diambil dalam teknik framing dari sudut reruntuhan lain. Atau anak-anak SD berseragam Pramuka yang bermain seenak-udelnya di atas Candi Jago. Foto-foto ini sungguh menarik perhatian saya karena selain mengandung nilai dokumentasi (atau jurnalistik?) juga memiliki kualitas visual yang prima. Memang seharusnya fotografi bisa menjadi medium paling mudah dalam memberikan apresiasi bagi warisan agung nenek moyang kita. 

Pada akhirnya, pameran ini seyogyanya mampu menjadi katarsis yang baik dalam menularkan semangat 'cinta batu' Brutuers, sebutan bagi anggota Bol Brutu, kepada masyarakat awam seperti saya. Setelah melihat pameran Bol Brutu, saya jadi punya sudut pandang lain dalam memandang candi dan relik sejarah; meskipun sudah dihantam angin dan diguyur hujan selama ribuan tahun, ternyata eksotika batu-batu ini tidak juga luntur. Bahkan mungkin bagi para Brutuers, semakin seksi.[]

NB: Kalo sudah dapat buku sakti Bol Brutu, akan segera saya review di blog icik icik ehem ini.