Pages

7/21/12

Pameran Bol Brutu

Disclaimer: Foto-foto di atas adalah jepretan para Brutuers. 
Penggunaan lebih lanjut bisa menghubungi Bol Brutu.

Bol Brutu attack! Yeah. Saya sudah menunggu pameran ini sejak lama. Bagi Anda yang belum tahu apa itu Bol Brutu, wah Anda harus segera memperbanyak istighfar. Bol Brutu adalah sindikat kece dengan arti "Gerombolan Pemburu Batu", sekumpulan orang gila yang memiliki perhatian pada sejarah, khususnya candi dan arca.

Teman saya yang semlohai, Bung Carlos, memberikan invitasi untuk menghadiri pameran Bol Brutu di House of Samperna minggu lalu. Foodies yang juga juragan Surabaya Food dotcom ini memang salah satu aktifis Bol Brutu. Seingat saya, beliau juga pernah ikut riweuh pada pameran pertama Bol Brutu di Sangkring Art Space, Jogja pada tahun lalu. Menandakan militansi Bung Carlos yang tidak main-main.

Saya sendiri mengenal lebih jauh komunitas ini pada pagelaran Biennale Jogja 2012. Mereka membangun stand yang cukup oke, berdampingan dengan stan geowisata yang digawangi oleh resi-resi Fakultas Geologi UPN Jogja. Di sisi lain, Bol Brutu juga sudah menerbitkan sebuah buku tentang penemuan dan perjalanan mereka dalam berburu batu. Sayangnya saya belum punya. Padahal ingin sekali saya ulas dan bandingkan dengan buku "Situs-Situs Marjinal Jogja" karya M. Rizky Sasono, dkk. 

Pada pameran foto yang diadakan Bol Brutu, tidak semuanya hasil jepretan profesional. Ada pula yang menggunakan kamera seadanya dengan sudut pandang biasa saja. Tapi toh justru hal tersebut mewakili keragaman yang tak terelakkan. Bukti sahih bahwa Bol Brutu merupakan komunitas yang terbuka bagi siapa saja. Fotografer pro atau bukan. Lelaki atau perempuan. Dewasa atau anak-anak. Atau bisa juga jiwa anak-anak yang terperangkap dalam tubuh dewasa, seperti teman saya Bung Carlos itu. Hahaha. 

Beberapa dari foto yang dipajang begitu menginspirasi. Di antaranya menarik secara visual, tapi juga penuh makna dan histori. Karena saya kebetulan membawa kamera saku, maka saya repro saja. Difoto ulang untuk ditampilkan dalam blog ini. Semoga inspirasi itu (baik secara visual atau semangat) bisa menular kepada jamaah Hifatlobrainiyah sekalian.

Contohnya, foto Candi Barong yang diselimuti cahaya matahari pagi, dan dari kejauhan sebuah gunung tampak masih berselimut kabut. Adalah replika dari imaji mooi indie yang ideal. Atau foto Candi Plaosan yang diambil dalam teknik framing dari sudut reruntuhan lain. Atau anak-anak SD berseragam Pramuka yang bermain seenak-udelnya di atas Candi Jago. Foto-foto ini sungguh menarik perhatian saya karena selain mengandung nilai dokumentasi (atau jurnalistik?) juga memiliki kualitas visual yang prima. Memang seharusnya fotografi bisa menjadi medium paling mudah dalam memberikan apresiasi bagi warisan agung nenek moyang kita. 

Pada akhirnya, pameran ini seyogyanya mampu menjadi katarsis yang baik dalam menularkan semangat 'cinta batu' Brutuers, sebutan bagi anggota Bol Brutu, kepada masyarakat awam seperti saya. Setelah melihat pameran Bol Brutu, saya jadi punya sudut pandang lain dalam memandang candi dan relik sejarah; meskipun sudah dihantam angin dan diguyur hujan selama ribuan tahun, ternyata eksotika batu-batu ini tidak juga luntur. Bahkan mungkin bagi para Brutuers, semakin seksi.[]

NB: Kalo sudah dapat buku sakti Bol Brutu, akan segera saya review di blog icik icik ehem ini. 

1 comment:

Vira said...

foto2nya bagus..!
nama gengnya lucuk!
hm.. ada upacara nyembah batu juga nggak?