Pages

8/20/12

8/13/12

Homeland Pilgrimage

Ki-Ka: Arman Dhani, Wana Senthong, Nuran m0V3oN, Adi Setiawan, 
Putri Bakpo, Djuneds, Kinchung, Ifan, Lukki Galau, 
Ticco, Oot, dan Idhm Rhmnrt.

Kasodo setahun yang lalu, kami membuat Homeland. Sebuah video yang icik icik ehemm. Dibuat dengan sepenuh hati, lengkap dengan suporter garis keras yang datang dari nJember dan nJakarta.

Kasodo kali ini kami datang lagi ke Bromo. Mengenang Homeland, sekaligus ajang silaturahmi yang sudah lama kami idamkan. Bila dulu hanya kenal lewat layar laptop, sekarang lewat momen Kasodo bisa tatap muka. Nah kehangatan seperti ini yang selalu kami rindukan.

8/6/12

Foi Moi Sentani

Foto-foto oleh Ayos Purwoaji

Lukisan kulit kayu adalah komoditas pariwisata 
paling dicari di Pulau Asei. Motif yang digambar biasanya 
diambil dari kisah kepahlawanan 
atau mitos kuno setempat. 

Banyak pemuda di Pulau Asei yang 
menghabiskan waktu dengan menombak ikan. 
Mereka mampu menyelam bermenit-menit 
dalam sekali tarikan nafas. 

Kole-kole atau jukung kayu adalah jenis 
transportasi tradisional yang menghubungkan 
pulau-pulau di danau Sentani sebelum adanya kapal mesin. 

Dayung berukir motif tribal yang banyak ditemui di Sentani. 
Sejak zaman dahulu, penduduk Sentani memang dikenal 
sebagai pengrajin kriya yang hebat. 

Totem pusaka Desa Babrongko yang disimpan di dasar danau. 
Bahannya kayu besi, semakin lama direndam air, semakin kuat.

Menyingkap Tabir Yobeh


Teks dan foto: Sri Anindiati Nursastri

Perahu kayu itu dijejali warga yang mengenakan khombou, pakaian adat Papua dengan baju dari kulit kayu dan rok berbahan jerami. Baik di laut maupun darat, mereka menyambut rombongan wartawan dengan sumringah. Tarian Onomi Foimoy, tarian selamat datang, diiringi nyanyian dengan ritme cepat dan menghentak.

Mereka menari dengan senyum mengembang. Para lelaki termasuk anak kecil berhias cat putih di tubuh dan wajah, sementara para wanita menari cantik di belakangnya. Dedaunan menggantikan fungsi pompom yang biasa digunakan oleh pemandu sorak.


Selamat datang di Yobeh, salah satu dari 24 desa adat yang menempati salah satu pulau mungil di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Belum genap sebulan desa ini membuka cadar, memperlihatkan tradisi dan benda pusaka yang disimpan erat selama berabad-abad.

***

Saya menyambangi desa ini sebulan lalu, tepat saat berlangsung Festival Danau Sentani (FDS) 2012 (22/6/2012). Andre, sang pemandu dari Sentani Lake Tour tak banyak memberi penjelasan tentang desa Yobeh. Tidak seperti sebelumnya di mana ia bercerita panjang lebar tentang Desa Asei yang punya kerajinan kulit kayu, atau Desa Abar yang identik dengan pembuatan gerabah.

Ada sedikit kekhawatiran saat menginjakkan kaki di dermaga yang tampak rapuh, mengingat sebelumnya tari Onomi Foimoy digelar di situ. Namun masyarakat Danau Sentani punya rahasia terkait ini. Mereka menyebutnya: kayu besi. Kayu jenis ini digunakan oleh seluruh desa adat sebagai pondasi bangunan di pinggiran pulau. Disebut kayu besi karena sifatnya yang sangat kuat layaknya besi. Semakin lama terkena air, kayu ini semakin keras.

Seperti pulau-pulau lain di Danau Sentani, Desa Yobeh punya gereja peninggalan kolonial Belanda. Gereja Bethel Yobeh ini masih digunakan sebagai tempat beribadat masyarakat setempat, terutama pada Minggu pagi. Petualangan dimulai dari sini.

Di pelataran gereja terdapat Batu Begal, terletak di sebuah ceruk yang tampak sengaja dibuat. Batu itu terbelah dua, mewakili kaki kiri dan kanan. Konon, batu ini adalah tempat pemimpin perang meniup triton (alat musik tiup yang terbuat dari cangkang kerang). Siulan panjang triton adalah pertanda bagi para pria untuk bersiap terjun ke medan perang.

Syahdan, masyarakat Danau Sentani akrab dengan perang. Para pria menjunjung tinggi konsep perang. Mereka membuat senjata dan menyesuaikan beragam hal untuk keperluan perang. Hal ini terbawa hingga sekarang, dapat dilihat dari desain perahu milik pria berukuran lebih kecil agar bergerak lebih lincah saat perang.

Foto tifa dari Desa Babrongko (Ayos Purwoaji)

Bergerak ke tengah desa, terdapat batu sakral lain bernama Ondi Fnarkoi. Batu ini berfungsi sebagai altar penobatan Ondofolo, kepala suku. Setelah mengambil beberapa gambar, saya mendapati seluruh rombongan mengerubungi sang Ondofolo. Rupanya ia sedang berkisah seru, tentang tifa berumur ratusan tahun. Tifa adalah gendang tradisional yang banyak ditemui di Sentani.

"Tifa dibuat menggunakan kulit manusia. Umurnya dua ratus tahun. Dulu ada dua, tifa laki-laki dan perempuan. Yang perempuan dibawa ke Belanda, dimuseumkan di sana. Di sini, tinggal tifa laki-laki," jelas sang Kepala Suku, dengan bahasa Indonesia yang sungguh lancar.

Mendengar penjelasan sang Kepala Suku, seluruh rombongan penasaran. Kami lalu dibolehkan masuk ke dalam sebuah rumah tempat Tifa itu disimpan. Sebelum masuk ruangan, kami wajib mengucap salam. Permisi...

Ada dua Tifa yang menggantung di langit-langit. Warnanya hitam, mungkin termakan usia. Sejepret-dua jepret kamera dan saya pun keluar untuk ganti giliran dengan pengunjung lainnya. Di pintu rumah, Ondofolo angkat bicara.

"Tifa ini sebagai pertanda kalau ada warga yang mau meninggal. Yang rambutnya sudah memutih, yang sudah ada bercak-bercak di wajahnya. Malam hari, Tifa akan bunyi sendiri. Pertanda besoknya dia akan meninggal."

Astaga! Ini adalah hal paling mistis yang saya temui sepanjang FDS 2012. Tapi rupanya Kepala Suku belum selesai cerita.

"Kalau Tifa ini bunyi, yang di Belanda sana juga bunyi. Bersamaan."

Setelah tercekat beberapa detik, dua warga lokal yang berdiri tak jauh dari situ mengalihkan perhatian saya. Mereka membawa tombak panjang, memegangnya dengan hati-hati dan mengelusnya dengan cermat. Itu adalah tombak keramat.

"Ini juga tombak laki-laki dan tombak perempuan. Digunakan untuk perang. Tidak bisa digunakan sembarang orang, harus yang sudah tua atau punya kedudukan," tutur salah seorang warga Yobeh.

Seperti pondasi bangunan, tombak itu juga terbuat dari kayu besi. Tombak laki-laki sekitar 3 meter tingginya, sementara yang perempuan sekitar 3,5 meter. Motif khas Papua terukir di tiap bagian tombak itu, dari pangkal sampai ujung. Seperti tifa keramat itu, tombak ini juga usianya tak tanggung-tanggung. "Lima belas keturunan," ujar Ondofolo,"dan sampai sekarang masih digunakan untuk acara pelantikan," tambahnya.

Saya bertanya, apa nama tombak itu? Sang Ondofolo tersenyum dan menjawab, kalau nama tombaknya tak boleh disebut. Terlalu sakral.

Tak sampai satu jam kami singgah di Desa Yobeh. Masih dengan senyum mengembang, warga setempat mengantar kepergian kami ke dermaga. Melambaikan tangan lama sekali hingga kapal tak terlihat.

***

Di dalam kapal, Andre bicara kepada segelintir orang termasuk saya. Kata-katanya tersendat, pandangannya resah. Namun kata-katanya bisa ditangkap oleh siapa pun yang kebetulan sedang berada di dekatnya.

"Saya dekat sekali dengan kepala suku. Sudah biasa menginap di rumahnya beberapa hari. Tapi selama bertahun-tahun saya nggak pernah tahu sama sekali tentang batu, tombak, apalagi Tifa. Mereka sembunyikan itu rapat-rapat," tuturnya.

Lanjut Andre, ini adalah kali pertama Desa Yobeh membuka diri untuk wisatawan. Dari 24 desa adat di Danau Sentani, tak lebih dari 5 desa yang membuka wajah untuk pariwisata. Tampaknya masyarakat Desa Yobeh sudah mulai mengetahui dampak positif pariwisata, terutama untuk aspek ekonomi dan kesejahteraan.

"Banyak sekali desa Danau Sentani yang minta didatangi wisatawan. Tapi nggak semuanya memungkinkan, soalnya jarak pulaunya ada yang jauh sekali dekat hilir," tambah Andre.

Saya pun merinding. Sulit membayangkan kalau hampir seluruh desa adat di sini merongrong untuk dikenal turis, membuka pintu lebar-lebar terhadap dunia pariwisata. Mereka mengungkapkan apa yang telah disimpan beratus-ratus tahun lamanya.

Desa Yobeh adalah "the next" Baduy, Tana Toraja, atau Lembah Baliem. Di masa-masa yang akan datang, wisatawan akan berbondong-bondong menyambangi desa ini untuk memotret tifa keramat atau memegang tombak sakral. Desa Yobeh telah membuka cadarnya.

Satu hal yang sangat kentara saat kedatangan kami ke Desa Yobeh adalah keterbukaan masyarakat setempat. Mereka percaya sepenuhnya kepada turis yang bisa ikut melestarikan peninggalan dan budaya mereka. Setelah ini dan seterusnya, untuk jangka waktu yang tak terbatas, semoga wisatawan menggunakan kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya.[]


______________________________________________
Kontributor














Sri Anindiati Nursastri adalah jurnalis di Detik Travel. Suka mendengarkan musik Mew, Weezer dan Sigur RĂ³s. Menganut falsafat 'traveling without moving' ala Jamiroquai. Menggemari tulisan Remy Sylado dan pssst hati-hati, sudah ada yang punya bro.

Twitter @saastrii
______________________________________________

8/2/12

Adzan yang Jejalan


Disclaimer: Mohon maaf, ngapunten, dalam postingan ini sama sekali tidak ada maksud SARA apalagi Azhari.

Bulan Ramadhan, Hifatlobrain sepi postingan. Para punggawa kami sibuk mempersiapkan kuis sahur yang selalu diikuti jutaan akun twitter Lobrainers sekalian. Membuat kami kewalahan. Maka setelah imsyak biasanya Hifatlobrain mati suri, hidup kembali sore menjelang buka. Ngiahaha.

Selama Ramadhan kita tentu menemui hal-hal yang stereotipikal. Para artis mengeluarkan album religi, politisi menggelar pengajian, masjid-majid penuh dengan para mahasiswa pemburu takjil, dan berat badan Lobrainers makin mengkhawatirkan. Perut tidak bertambah susut.

Nah, tapi Ramadhan kali ini, perhatian kami malah tertuju pada video adzan subuh yang seringkali kita lewatkan. Nyatanya, akhir-akhir ini cukup banyak adzan subuh yang bertema jalan-jalan. Sungguh menggembirakan. Dan tak ada salahnya bagi blog ini untuk mengarsipkan keberadaan video adzan subuh yang ciamik. 

Menurut penerawangan kami hingga detik ini, desain adzan subuh itu berbeda dengan adzan maghrib. Adzan subuh biasanya memiliki tema yang lebih beragam. Panggilan shalat di pagi hari terasa lebih segar dan optimistis. Ada semangat yang coba ditularkan pada pemirsa yang terkantuk-kantuk. Semacam pesan yang jelas agar menjalani hari dengan semangat dan kerja keras. Carpe diem! Ihik. 

Sedangkan adzan maghrib -yang lebih banyak ditonton masyarakat- justru memunculkan rangkaian footage yang itu-itu saja; kemacetan jam pulang kantor, langit senja, matahari terbenam, orang berwudhu, arsitektur masjid atau hal-hal semacam itu lah. Bahkan, ada juga adzan maghrib di televisi lokal Jawa Timur yang malah dimanfaatkan sebagai media branding sebuah merek motor. Panggilan Tuhan hari ini tampaknya menjadi multipurpose dan multitasking

Sebetulnya, fenomena adzan subuh yang menggunakan kisah perjalanan sudah kami perhatikan sejak tahun lalu. Saat itu, ada adzan subuh yang berkisah tentang sepasang muda mudi (suami istri?) yang melakukan perjalanan ke Gunung Rinjani. Mereka berdua sempat mampir ke Desa Sade, kampung adat Sasak yang menjadi jujugan para turis yang ingin mengenal kehidupan masyarakat lokal. Seingat saya, pada saat fragmen mendaki mereka menemui berbagai hambatan. Tubuh si mbak lekas lunglai. Tapi berbekal tekad, akhirnya mereka bisa sholat berjamaah di Puncak Rinjani. 

Sayang sekali, video adzan Subuh versi Rinjani yang ditayangkan pada Ramadhan tahun 2011 itu tidak berhasil saya temukan arsipnya di belantara internet. Padahal pengambilan gambarnya cukup nyus dan sedikit banyak memberikan gambaran wisata di Lombok. 

Adzan subuh versi Ketika Cinta Bertasbih di RCTI 
tahun 2009 yang sedikit berbau perjalanan :p

Maka, setelah melakukan pencarian yang intensif di belantara Youtube dan Vimeo, akhirnya kami menemukan dua adzan subuh yang bertema jejalan untuk dibagikan pada Lobrainers sekalian.

...

 
 

Pertama, adalah adzan yang ditayangkan SCTV pada tahun 2011. Saya memberi nama; Adzan Subuh versi Arsitek Muda.

Nah kisahnya, ada seorang pengelana yang ingin menuju sebuah tempat tapi tak punya fulus. Akhirnya, dengan sedikit usaha hitchhiking, menumpanglah ia pada trailer SCTV yang kebetulan sedang lewat. Pengemudinya berbadan tegap, berambut ikal, sedikit gondrong, tapi baik hati. Sesampainya di tempat tujuan, pengemudi menurunkan si pengelana. Tapi apa lacur, sebuah barang miliknya tertinggal di dalam trailer.

Beruntung si sopir adalah pria yang memiliki sifat amanah, dapat dipercaya. Trailer diputar balik, ia berkorban menyusuri kota dan kampung untuk mengembalikan tabung plastik berisi rancangan arsitektur masjid milik si pemuda.

Akhir hikayat, kedua orang ini akhirnya dipertemukan lagi oleh Tuhan. Video adzan versi Arsitek Muda ini mewakili keyakinan saya dan Nuran akan kredo: God save the traveler! Tuhan yang menyuruh kita berkelana, dan Dia juga yang akan menjadi pelindungnya. 

Nuansa Jogja begitu kuat dalam video ini. Signature seperti jemuran kain batik, Candi Prambanan, tembok Kotagede, Stasiun Lempuyangan, dan plang Malioboro tentu saja merujuk pada kota gudeg. Nuansa lokal yang ditampilkan membuat saya kesengsem. Apalagi teknik pewarnaan video (color grading) yang agak oldies memberikan nuansa cinematik yang cukup. Tidak lazimnya video adzan yang selama ini mengudara.

Dan, adegan video pun diakhiri dengan melakukan sholat bersama menghadap pantai selatan.


...

Nah ini yang paling gres. Sebuah adzan subuh dengan latar belakang Raja Ampat yang ditayangkan oleh KompasTV pada Ramadhan 2012.

Maka percayalah kawan, bahwa epic adzan is truly epic! Berkisah tentang seorang musafir (atau muadzin; pelantun adzan) yang berkeliling kepulauan Raja Ampat. Dimulai dari sebuah jetty di Pulau Mansuar, mampir ke Kampung Manyaifun, mendaki Wayag, adzan di atasnya, dan sholat di atas pasir putih Pulau Batanta. Adegan diakhiri dengan kumandang tahlil di atas Pasir Timbul Pulau Mansuar. Sayangnya tidak dijelaskan mengapa pria berbaju koko dan berwajah Jawa ini harus berkeliling Raja Ampat. Jadi silahkan pemirsa menerka sendiri.   


Video yang mengudara pada bulan Ramadhan 2012 ini memang memiliki visual yang menggoda. Sebuah ciri wanci yang melekat kuat pada KompasTV. Banyak footage yang diambil dengan menggunakan lensa lebar, sudut-sudutnya pun diperhitungkan secara fotografis. Apalagi saat adegan adzan di atas bukit karang di Wayag dengan semburat pelangi muncul di langit. Wah juara! Bahkan ada beberapa footage yang diambil dengan tenik helishoot, dari atas. Membingkai keindahan Raja Ampat dengan sempurna.

Konsep adzan versi Raja Ampat ini sungguh mengena, cocok sekali bila dibandingkan dengan ayat para traveler: "Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan" (QS. 67:15)


...

Kesimpulannya, adzan subuh yang menggunakan konsep perjalanan merupakan sebuah daya kreatifitas yang segar. Namun, sayangnya, tidak banyak dari kita yang menonton adzan subuh. []