Pages

8/6/12

Menyingkap Tabir Yobeh


Teks dan foto: Sri Anindiati Nursastri

Perahu kayu itu dijejali warga yang mengenakan khombou, pakaian adat Papua dengan baju dari kulit kayu dan rok berbahan jerami. Baik di laut maupun darat, mereka menyambut rombongan wartawan dengan sumringah. Tarian Onomi Foimoy, tarian selamat datang, diiringi nyanyian dengan ritme cepat dan menghentak.

Mereka menari dengan senyum mengembang. Para lelaki termasuk anak kecil berhias cat putih di tubuh dan wajah, sementara para wanita menari cantik di belakangnya. Dedaunan menggantikan fungsi pompom yang biasa digunakan oleh pemandu sorak.


Selamat datang di Yobeh, salah satu dari 24 desa adat yang menempati salah satu pulau mungil di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Belum genap sebulan desa ini membuka cadar, memperlihatkan tradisi dan benda pusaka yang disimpan erat selama berabad-abad.

***

Saya menyambangi desa ini sebulan lalu, tepat saat berlangsung Festival Danau Sentani (FDS) 2012 (22/6/2012). Andre, sang pemandu dari Sentani Lake Tour tak banyak memberi penjelasan tentang desa Yobeh. Tidak seperti sebelumnya di mana ia bercerita panjang lebar tentang Desa Asei yang punya kerajinan kulit kayu, atau Desa Abar yang identik dengan pembuatan gerabah.

Ada sedikit kekhawatiran saat menginjakkan kaki di dermaga yang tampak rapuh, mengingat sebelumnya tari Onomi Foimoy digelar di situ. Namun masyarakat Danau Sentani punya rahasia terkait ini. Mereka menyebutnya: kayu besi. Kayu jenis ini digunakan oleh seluruh desa adat sebagai pondasi bangunan di pinggiran pulau. Disebut kayu besi karena sifatnya yang sangat kuat layaknya besi. Semakin lama terkena air, kayu ini semakin keras.

Seperti pulau-pulau lain di Danau Sentani, Desa Yobeh punya gereja peninggalan kolonial Belanda. Gereja Bethel Yobeh ini masih digunakan sebagai tempat beribadat masyarakat setempat, terutama pada Minggu pagi. Petualangan dimulai dari sini.

Di pelataran gereja terdapat Batu Begal, terletak di sebuah ceruk yang tampak sengaja dibuat. Batu itu terbelah dua, mewakili kaki kiri dan kanan. Konon, batu ini adalah tempat pemimpin perang meniup triton (alat musik tiup yang terbuat dari cangkang kerang). Siulan panjang triton adalah pertanda bagi para pria untuk bersiap terjun ke medan perang.

Syahdan, masyarakat Danau Sentani akrab dengan perang. Para pria menjunjung tinggi konsep perang. Mereka membuat senjata dan menyesuaikan beragam hal untuk keperluan perang. Hal ini terbawa hingga sekarang, dapat dilihat dari desain perahu milik pria berukuran lebih kecil agar bergerak lebih lincah saat perang.

Foto tifa dari Desa Babrongko (Ayos Purwoaji)

Bergerak ke tengah desa, terdapat batu sakral lain bernama Ondi Fnarkoi. Batu ini berfungsi sebagai altar penobatan Ondofolo, kepala suku. Setelah mengambil beberapa gambar, saya mendapati seluruh rombongan mengerubungi sang Ondofolo. Rupanya ia sedang berkisah seru, tentang tifa berumur ratusan tahun. Tifa adalah gendang tradisional yang banyak ditemui di Sentani.

"Tifa dibuat menggunakan kulit manusia. Umurnya dua ratus tahun. Dulu ada dua, tifa laki-laki dan perempuan. Yang perempuan dibawa ke Belanda, dimuseumkan di sana. Di sini, tinggal tifa laki-laki," jelas sang Kepala Suku, dengan bahasa Indonesia yang sungguh lancar.

Mendengar penjelasan sang Kepala Suku, seluruh rombongan penasaran. Kami lalu dibolehkan masuk ke dalam sebuah rumah tempat Tifa itu disimpan. Sebelum masuk ruangan, kami wajib mengucap salam. Permisi...

Ada dua Tifa yang menggantung di langit-langit. Warnanya hitam, mungkin termakan usia. Sejepret-dua jepret kamera dan saya pun keluar untuk ganti giliran dengan pengunjung lainnya. Di pintu rumah, Ondofolo angkat bicara.

"Tifa ini sebagai pertanda kalau ada warga yang mau meninggal. Yang rambutnya sudah memutih, yang sudah ada bercak-bercak di wajahnya. Malam hari, Tifa akan bunyi sendiri. Pertanda besoknya dia akan meninggal."

Astaga! Ini adalah hal paling mistis yang saya temui sepanjang FDS 2012. Tapi rupanya Kepala Suku belum selesai cerita.

"Kalau Tifa ini bunyi, yang di Belanda sana juga bunyi. Bersamaan."

Setelah tercekat beberapa detik, dua warga lokal yang berdiri tak jauh dari situ mengalihkan perhatian saya. Mereka membawa tombak panjang, memegangnya dengan hati-hati dan mengelusnya dengan cermat. Itu adalah tombak keramat.

"Ini juga tombak laki-laki dan tombak perempuan. Digunakan untuk perang. Tidak bisa digunakan sembarang orang, harus yang sudah tua atau punya kedudukan," tutur salah seorang warga Yobeh.

Seperti pondasi bangunan, tombak itu juga terbuat dari kayu besi. Tombak laki-laki sekitar 3 meter tingginya, sementara yang perempuan sekitar 3,5 meter. Motif khas Papua terukir di tiap bagian tombak itu, dari pangkal sampai ujung. Seperti tifa keramat itu, tombak ini juga usianya tak tanggung-tanggung. "Lima belas keturunan," ujar Ondofolo,"dan sampai sekarang masih digunakan untuk acara pelantikan," tambahnya.

Saya bertanya, apa nama tombak itu? Sang Ondofolo tersenyum dan menjawab, kalau nama tombaknya tak boleh disebut. Terlalu sakral.

Tak sampai satu jam kami singgah di Desa Yobeh. Masih dengan senyum mengembang, warga setempat mengantar kepergian kami ke dermaga. Melambaikan tangan lama sekali hingga kapal tak terlihat.

***

Di dalam kapal, Andre bicara kepada segelintir orang termasuk saya. Kata-katanya tersendat, pandangannya resah. Namun kata-katanya bisa ditangkap oleh siapa pun yang kebetulan sedang berada di dekatnya.

"Saya dekat sekali dengan kepala suku. Sudah biasa menginap di rumahnya beberapa hari. Tapi selama bertahun-tahun saya nggak pernah tahu sama sekali tentang batu, tombak, apalagi Tifa. Mereka sembunyikan itu rapat-rapat," tuturnya.

Lanjut Andre, ini adalah kali pertama Desa Yobeh membuka diri untuk wisatawan. Dari 24 desa adat di Danau Sentani, tak lebih dari 5 desa yang membuka wajah untuk pariwisata. Tampaknya masyarakat Desa Yobeh sudah mulai mengetahui dampak positif pariwisata, terutama untuk aspek ekonomi dan kesejahteraan.

"Banyak sekali desa Danau Sentani yang minta didatangi wisatawan. Tapi nggak semuanya memungkinkan, soalnya jarak pulaunya ada yang jauh sekali dekat hilir," tambah Andre.

Saya pun merinding. Sulit membayangkan kalau hampir seluruh desa adat di sini merongrong untuk dikenal turis, membuka pintu lebar-lebar terhadap dunia pariwisata. Mereka mengungkapkan apa yang telah disimpan beratus-ratus tahun lamanya.

Desa Yobeh adalah "the next" Baduy, Tana Toraja, atau Lembah Baliem. Di masa-masa yang akan datang, wisatawan akan berbondong-bondong menyambangi desa ini untuk memotret tifa keramat atau memegang tombak sakral. Desa Yobeh telah membuka cadarnya.

Satu hal yang sangat kentara saat kedatangan kami ke Desa Yobeh adalah keterbukaan masyarakat setempat. Mereka percaya sepenuhnya kepada turis yang bisa ikut melestarikan peninggalan dan budaya mereka. Setelah ini dan seterusnya, untuk jangka waktu yang tak terbatas, semoga wisatawan menggunakan kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya.[]


______________________________________________
Kontributor














Sri Anindiati Nursastri adalah jurnalis di Detik Travel. Suka mendengarkan musik Mew, Weezer dan Sigur Rós. Menganut falsafat 'traveling without moving' ala Jamiroquai. Menggemari tulisan Remy Sylado dan pssst hati-hati, sudah ada yang punya bro.

Twitter @saastrii
______________________________________________

1 comment:

agustinriosteris said...

hal ini mirip sekali dengan mulai terbukanya baduy daleum terhadap masyarakat luar