Pages

9/24/12

Matah Ati Return


Teks dan foto: Lelaki Budiman

Malam itu (8/9) langit Solo sedikit mendung. Ratusan orang memenuhi lapangan Pamedan, Mangkunegaran, tempat digelarnya pertunjukan Matah Ati. Panggung raksasa, yang sengaja dibuat miring, dengan latar replika Gedung Kavaleri berangka tahun 1874 menimbulkan rasa penasaran tersendiri.

Ada rasa damai dalam hati saya berada di tengah antusiasme penonton yang memadati lapangan Pamedan. Saya amati wajah ratusan penonton di depan panggung yang sebagian besar warga Solo, mereka nampak begitu tenang. Tak sedikitpun terlihat sisa kecemasan. Padahal beberapa waktu sebelumnya kota Solo Hadiningrat sempat diguncang isu lama; terorisme.

Tak sedikit pemberitaan media yang mengaitkan kota seni budaya ini dengan terorisme. Kegelisahan itu dirasakan betul oleh Atilah Soeryadjaya selaku penggagas pertunjukan Matah Ati. Maka setelah sebelumnya Matah Ati sukses dipentaskan di Jakarta dan Singapura, Atilah membawanya pulang ke asal muasal cerita, Solo.

Sekitar pukul 20.30, lewat dari waktu yang dijadwalkan, pertunjukan pun dimulai. Arak-arakan puluhan orang dalam balutan busana tradisional Jawa membelah penonton yang duduk lesehan di depan panggung. Di antara mereka ada yang membawa berbagai macam sesaji dan persembahan. Tak ketinggalan beberapa gadis berkemben yang membawa dupa. Aroma sakral pun meruap di udara malam.

Selesai prosesi pembuka, seorang kerabat dari Puri Mangkunegaran memberikan sambutan singkat. Kelar pidato sambutan, gamelan pun ditabuh mengantarkan adegan pembuka.

Adegan pertama mempertunjukkan seorang perempuan yang menari. Adegan ini  mengenalkan tokoh utama cerita bernama Rubiyah. Ia adalah seorang penari dari dusun Matah, yang memiliki angan-angan untuk menjadi seorang ningrat. Selanjutnya penonton pun dibuat larut dalam adegan demi adegan kisah Matah Ati.

Terdiri dari delapan babak, pertunjukan Matah Ati mengacu pada Langendriyan (Opera Jawa) yang diciptakan oleh Mangkoenagoro IV dari Puri Mangkunegaran, Surakarta. Mengangkat cerita tentang kesetiaan dan perjuangan seorang perempuan bernama Rubiyah, seorang gadis dari desa Matah. Di balik kelembutannya sebagai seorang penari, Rubiyah memimpin barisan prajurit perempuan untuk berperang melawan penjajah.

Melibatkan ratusan penari, Matah Ati memberi pengalaman visual tak terlupakan. Sebuah pertunjukan kolosal luar ruang yang begitu memanjakan mata. Hal ini tak lepas dari tata busana, koreografi serta tata cahaya yang luar biasa. Ketiganya berpadu sedemikian apik dalam membangun dan menjaga keseluruhan cerita. Penonton seperti terhipnotis, berdecak kagum sepanjang pertunjukan.


Secara visual, pertunjukan ini jelas berhasil. Jay Subiakto, selaku penata artistik, membuat pertunjukan ini benar-benar memanjakan mata penonton. Simak bagaimana adegan pernikahan Raden Mas Sahid dengan Rubiyah. Dari depan panggung, berjalan beriringan dua tandu raksasa yang mengusung sang “pengantin“. Puluhan orang berpakaian Jawa mengiringnya. Tentu saja lengkap dengan berbagai uba rampe pernikahan ala kraton. Penonton yang duduk lesehan seperti menyaksikan sebuah kirab pernikahan yang melintas di tengah kota.

Kemegahan dan kemewahan visual dalam keseluruhan pertunjukan tak lepas dari riset yang dilakukan selama dua tahun lebih. Riset tersebut meliputi pemilihan cerita, bentuk tarian, aransemen musik hingga detail kostum yang dikenakan para penari.

Sayang sekali pengalaman visual tersebut tak dibarengi dengan pemahaman yang cukup. Saya sebagai penonton sempat tersesat di tengah alur cerita. Saya kira tak sedikit dari penonton yang mengalami kebingungan seperti saya, dan kasak-kusuk bertanya tentang alur cerita pada penonton lain di sampingnya. Tanpa dialog dan narasi yang jelas, perpindahan adegan demi adegan berlalu begitu saja. Penonton, khususnya saya, hanya merasa disuguhi pertunjukan musik dan tari dalam balutan simbol yang kolosal.

Atau mungkin saya yang berharap terlalu banyak? Karena memang pertunjukan Matah Ati adalah sebuah pertunjukan tari, bukan sebuah pertunjukan teater. Sebagaimana ditulis dalam buku program, bahwa pertunjukan yang melibatkan tiga koreografer ini memang lebih mengutamakan detil visual.

Beruntung sebelum pertunjukan dimulai saya sempat membeli buku program seharga Rp 50.000,-. Setidaknya setelah membaca buku tersebut memudahkan saya untuk memahami keseluruhan alur cerita dalam delapan babak pertunjukan.

Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali, saya pikir ungkapan itu tepat untuk menggambarkan apa yang saya alami. Pemahaman terhadap keseluruhan cerita justru saya dapatkan setelah pertunjukan selesai karena buku tersebut baru bisa saya baca sesampainya di penginapan.[]

______________________________________________
Kontributor











Namanya sungguh inosens dan membuat guru tak kuasa menghukum; Lelaki Budiman. Seorang dosen dan penikmat teh. Waktu luangnya diisi dengan pergi ke stasiun, kemudian membeli tiket kereta tujuan mana saja dan berangkat saat itu juga. Sungguh selo. Beberapa saat lalu, pria yang tinggal di Jogja ini meluncurkan sebuah antologi puisi berjudul "Percakapan Diam-Diam". 

Temui pria ini di akun twitternya: @lelakibudiman.
______________________________________________

1 comment:

Kuz9 said...

kereen banget pentas ini