Pages

10/18/12

In The Making of Surya

Foto dokumentasi Tim Epic Java

Kemarin Hifatlobrain bertemu dengan tim di balik Epic Java, sebuah film perjalanan bergenre non-naratif yang digarap dengan pendekatan fotografis yang kental. Febian, inisiator video ini datang bersama Deni, Galih, dan Edo. Kami menemui mereka di Plaza Tunjungan sambil menyeruput teh tarik. Tim Epic Java melakoni trip di Jawa Timur selama empat hari, mengunjungi Kawah Ijen, Savana Raya Baluran, dan Pantai Papuma. "Alamnya Jawa Timur memang rock n roll!" kata Deni, sang music composer dalam proyek Epic Java, "Di Ijen dingin banget, di Baluran panasnya minta ampun..."

Dalam proses pengambilan footage, tidak semua berjalan mulus. Mereka harus menghadapi kabut tebal saat mengambil gambar di Papuma dan sulitnya bertemu hewan di Baluran. "Kami cuma ketemu monyet, padahal tengah malam ambil footage di Pos Bekol bikin kami bergidik karena denger suara-suara aneh hewan..." kata Deni.

Sedangkan di Ijen sendiri mereka harus rela diterpa angin gunung saat mengambil gambar kawah di malam hari. Meski mengaku hampir mati beku di puncak gunung, tapi tim Epic Java merasa gembira karena mendapatkan gambar milyaran bintang dalam footage timelapse mereka. "Bintangnya udah kayak ketombe, banyak banget! Hahaha," kata Deni.


Proyek Epic Java sendiri dimulai oleh Febian sejak akhir 2011 dan diperkirakan baru selesai pada pertengahan tahun 2013. Sebuah proyek panjang yang membutuhkan ketekunan dan kerja keras yang persisten. Ia dan timnya harus berkeliling menelusuri tempat-tempat paling fotografis di Jawa dan menyusunnya dalam sebuah film (yang direncanakan) berdurasi 20 menit. Semacam film-film buatan Ron Fricke atau Tom Lowe. "Aku sendiri begitu terinspirasi Timescapes-nya Tom Lowe, sedangkan Ron Fricke sendiri saya baru tau setelah banyak yang bilang kalo Epic Java serupa dengan Baraka," kata Febian.

Lantas bagaimana kalian bisa setia mengerjakan proyek jangka lama? "Kami melihat proyek ini sebagai sebuah momen refreshing sih," kata Galih, screenwriter yang memberikan ruh konsep pada Epic Java. Sebagai seorang pekerja, Galih mengaku bahwa proses pengambilan gambar Epic Java yang membawanya ke tempat-tempat baru adalah sebuah pelepasan dari beban kerja sehari-hari. "Jujur saja kami begitu menikmati prosesnya. Mengerjakan proyek jangka panjang membuat kami bertemu dengan orang-orang baru juga, itu sangat menarik!" kata Galih yang juga bercerita tentang sebuah keluarga di Desa Sumberbendo, Probolinggo yang menjamu mereka. "Dari situ kami baru tahu rasanya nasi jagung, hehehe," kata Galih.

Menikmati proses adalah sebuah ekstase yang umum dirasakan oleh orang yang memiliki passion di bidang tertentu. Mencintai apa yang dilakukan sehingga menghargai setiap detil proses yang terjadi. Passion dalam bidang yang sama juga yang menyatukan para jejaka Bandung ini untuk membuat sebuah karya besar. Meskipun mereka tahu harus berkorban banyak untuk melakoninya. "Semoga kamera saya nggak rusak sebelum proyek ini selesai," kata Febian. Ia memang sedikit mengkhawatirkan kamera DSLR-nya yang diperkosa untuk membuat ribuan foto setiap kali syuting. Seandainya kameranya bisa mengadu, mungkin sudah lapor ke Komnas HAM sejak lama karena penganiayaan tim Epic Java.


Tapi memang Tuhan tidak tidur, kawan. Kerja keras untuk membuat Epic Java ini mendapatkan apresiasi yang besar dari masyarakat. Sebagian memberi dukungan moral, sebagian lagi mendukung secara finansial melalui sistem pendanaan-massa (crowd-funding) yang diadakan oleh situs wujudkan[dot]com. "Alhamdulillah bisa terealisasi, awalnya kami mematok 10 juta, tapi malah tembus 15 juta," kata Febian bangga. Sistem crowd-funding memang barang baru di Indonesia. Di Amerika sendiri sudah ada Kickstarter yang sudah mendanai ribuan proyek independen, sedangkan di Indonesia sistem ini belum teruji efektifitasnya. Tembusnya pendanaan Epic Java membuktikan bahwa sistem ini ternyata bisa dijalankan. Masyakat pun bisa ikut aktif dalam mendukung proyek-proyek berbasis kreatif yang banyak dilakukan oleh anak muda.

"Jadi nanti credit title Epic Java bakal lebih dari sepuluh menit! Hahaha," kata Febian yang mengaku berterimakasih pada banyak orang yang mendukung pembuatan film ini. 

Dukungan lain dari masyarakat yang terkait dengan Epic Java adalah ide. Febian sendiri mengaku bahwa konsep Epic Java sudah banyak berubah sejak pertama kali muncul di benaknya. Seperti halnya lanskap bumi yang senantiasa berubah akibat gerusan air dan tiupan angin. "Akhirnya konsepnya berkembang seiring proses yang mengalir. Organik," kata Febian. Sama organiknya dengan bongkar pasang tim Epic Java. "Sedih juga ditinggal mas Arie (produser) untuk studi ke Jepang," kata Febian. Di sisi lain energi tambahan datang dari teman-teman yang masuk belakangan.

Secara umum skenario Epic Java memiliki tema berdasarkan garis geografis. Jawa bagian timur bertema Surya, Jawa bagian tengah bertema Sakral, dan Jawa bagian barat bertema Priangan. Ini adalah konsep yang digodok Febian bersama Arie sejak awal. 

Tapi sebentar, ada yang aneh? Yep betul! Kenapa nggak semua temanya berawal dari huruf "S"? Barangkali "Priangan" bisa diganti "Sorak" misalnya, mewakili hati yang senang karena melihat mojang priangan yang geulis dan aduhai. Atau mewakili kehidupan Bandung-Jakarta yang kelap-kelip semarak, banyak gigs, dan tempat nongkrong. Hehehe.

Sebelum pulang, Hifatlobrain memberikan sebuah pertanyaan yang epic kepada tim Epic Java; manakah yang lebih epic antara Jupe dan Depe?

Tak disangka mereka serentak menjawab Jupe! WTF. "Aku pernah makan paha Jupe," kata Febian yang memang suka nongkrong di warung Jupe Fried Chicken (JFC) di Ciumbuleuit, Bandung.

Hifatlobrain tentu saja banyak belajar dari tim Epic Java. Kami belajar bagaimana caranya menjadi pelari marathon yang mampu mencapai garis finis dan tidak lekas lunglai di tengah-tengah perlombaan. Terimakasih!

Postcard from Tokyo

Foto oleh Farchan Noor Rachman

Sebagai seorang nayapraja pajak, sehari-hari Farchan pasti pusing berurusan dengan laporan pajak dan undang-undang yang jumlahnya naudzubillah. Untuk itu ia menabung mimpi dan duit untuk plesir ke Jepang, sebuah tanah impian bagi para penggemar manga dan Maria Ozawa. Dan inilah laporan visual dari Farchan, tepat sesaat setelah turun dari pesawat. Fresh from the oven. "Ini foto Tokyo hari pertama... Spesial buat Hifatobrain..." begitu tulis Farchan dalam emailnya. 

Sembari menunggu travelogue lengkapnya bolehlah kita melihat-lihat Tokyo dari sudut pandang lensa Farchan. Arigatou gozaimasu!

10/10/12

East Java Signature


Ehemm, barangkali ada yang belum lihat video terbaru yang kami aplot di Vimeo. Ini dia East Java Signature, video kedua hasil kerja sama Hifatlobrain dengan Wego Indonesia setelah Vaastu. Video ini bercerita tentang impresi seseorang yang lahir dan tumbuh dewasa di Jawa Timur, tentang kemegahan gunung gunungnya, bau laut yang dibawa angin, embun pagi yang menggantung di ujung daun, dan segala keramahan penduduknya. Sebuah kenikmatan yang kelak ingin ia wariskan pada generasi selanjutnya.

Produksi East Java Signature dilakukan pada beberapa lokasi di Jawa Timur seperti Pacitan, Jember, Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dengan sedikit sentuhan folksong dari daerah Banyuwangi. Thanks for watching! :)

Travel Writer by Yudasmoro




"For travel writers, traveling is a business not a vacation"

(Yudasmoro, 2012)

Dunia penulisan perjalanan makin hari tampaknya makin bergairah saja. Setelah terbit buku karya Gol A Gong, sekarang muncul buku serupa (dengan judul yang sama) yang ditulis oleh Yudasmoro. Seorang pewarta perjalanan yang karyanya banyak menghiasi majalah Garuda Inflight dan JalanJalan. Yudasmoro sendiri adalah sahabat dekat kami, para pengurus Hifatlobrain. Pada pertengahan tahun ini, kami sempat membuat workshop penulisan perjalanan dan menerbitkan ebook tentang travel writing yang merupakan intisari dari materi workshopnya.

Sejak tahun 2009 saya menjadi pembaca setia karya-karya Yudasmoro, dan sudah menunggu lama penerbitan buku ini. Tampaknya dulu Yudasmoro harus bergetih-getih untuk menawarkan konsep bukunya ke beberapa penerbit. Bukunya memang unik, mengandung sentilan-sentilan tajam buat para penulis perjalanan atau yang sedang tekun mempelajarinya. Barangkali ini yang membuat draft buku Yudasmoro banyak ditolak penerbit yang ingin main aman. 

Terpujilah penerbit Metagraf (lini penerbitan kreatif milik Tiga Serangkai, Solo) yang akhirnya mencetak buku Yudasmoro. Saya melihat keseriusan Metagraf ini hingga taraf yang paling krusial; kualitas penyuntingan, desain perwajahan dan layout buku yang ciamik. Saya menaruh penghargaan besar bagi Metagraf yang mau bersusah payah mengusahakan buku ini terlihat indah, dan tidak berakhir seperti diktat menulis pada umumnya. Membosankan. 

Sebagai seorang pemuja visual, tentu saja saya menilai buku pertama kali dari sampulnya.  Itu tidak mungkin dihindari. Dan buku Travel Writer milik Yudasmoro ini membuat saya jatuh cinta sejak dari kulitnya. 

Sampulnya terlihat eye catching; seorang pria berkacamata bertopi fedora duduk bersila di Stasiun Gambir. Wajahnya tenang seperti seorang praktisi Zen yang abai dari hiruk pikuk dunia yang bergerak cepat. 

"Yang motret gue tuh, soalnya pihak penerbit minta foto sebagai bahan kover," ujar Novani Nugrahani, partner setia Yudasmoro. 

Secara umum sampul buku ini mengandung warna kuning dan biru yang mewakili panas dan dingin. Seimbang. Penggunaan judul dengan jenis huruf sejenis Helvetica Neue dan elemen visual berupa lingkaran memberikan kesan tegas, bulat dan tidak ragu-ragu. Semoga Yudasmoro memiliki keteguhan yang serupa untuk melakoni jalan sunyi sebagai seorang freelance travel writer.

Tapi kerenyahan visual seperti itu saja tidak cukup. Perwajahan hanya memenuhi prasyarat belaka. Seperti seorang calon menantu, ganteng saja tidak cukup tapi juga harus ada bibit-bebet-bobot yang oke. Syarat utama sebuah buku tentu saja mengandung konten yang juga tak kalah impresif.

Membaca halaman demi halaman dari buku Yudasmoro mengingatkan pada buku "Andai Saya Wartawan Tempo" yang dahulu menjadi kitab suci saya saat belajar menulis feature. Isinya padat dan jelas. Straight to the point! Ini adalah buku yang ringkas untuk memulai pelajaran sebagai penulis perjalanan lepas. 

Terlepas dari kepraktisannya, melalui buku ini Yudasmoro memberikan perspektif paling realistis dalam menjalani profesi sebagai seorang penulis perjalanan. Pada beberapa titik bahkan Yudasmoro mengetengahkan pemikiran radikal yang tidak banyak dielaborasi; yaitu penulis perjalanan sebagai seorang pengusaha yang mandiri. Pandangan ini tentu saja menghancurkan pemikiran tentang profesi travel writer yang dilakoni sebagai pekerjaan sampingan. Setengah-setengah. Weekday sebagai pekerja kantoran dan weekend sebagai travel writer.



"Layaknya pengusaha, travel writer juga harus memiliki visi dan misi dalam bidangnya. Target yang jelas, ide, kemampuan menyusun jadwal, dan kedisiplinan mengejar target adalah beberapa kunci yang wajib dimiliki (seorang travel writer -pen.)." (hal. 16)

Di bagian lain, Yudasmoro secara blak-blakan menyoal honor yang dibayarkan oleh media kepada para penulis perjalanan. Padahal bagi sebagian orang tema ini berpotensi menjadi conversation killer dan hanya layak diperbincangkan dalam kasak-kusuk rahasia antar sesama kontributor lepas. 



"Nah, jujur deh. Sekarang ini masih ada beberapa media di Indonesia yang kurang menghargai posisi kontributor. Honor yang tidak kunjung dibayar, (jumlah) honor yang tidak layak, atau bahkan sama sekali tidak diberi reward apa pun meski sudah dijanjikan…" (hal. 11)

Itu yang saya suka dari buku Yudasmoro. Ia tidak menawarkan euforia dan harapan utopis, justru menjadi sebuah cermin besar tempat kita bertanya pada diri sendiri: apa betul saya ingin jadi penulis perjalanan sungguhan

Dalam hal ini Yudasmoro tidak hanya jago berargumen, ia membuktikan pemikirannya ini dengan kinerja yang presisten dan disiplin ketat selama bertahun-tahun. Sedikit banyak saya tahu itu. Menjadi travel writer baginya bukan lagi sekedar bersenang-senang dapat uang, tapi adalah profesi yang harus diperjuangkan dan dilakoni sepenuh hati. 

Tapi itu tidak lantas membuat buku Travel Writer menjadi berat wacana dan membuat kening pembaca semakin berkerut. Yudasmoro membawakan materinya dengan bahasa yang segar. Sehari-hari. Apalagi di tengah bagian Yudasmoro memberikan kuliah tentang foto perjalanan yang cukup menyegarkan karena disertai contoh-contoh  berwarna. 

Bagi saya, hadirnya buku ini membawa penanda baru dalam studi tentang penulisan perjalanan di Indonesia. Meskipun masih sebatas buku "how to", namun semoga pijakan dasar ini akan menggiring pembaca pada pemikiran selanjutnya: bagaimana perkembangan travel writing di Indonesia? Apa batas tipis antara penulisan perjalanan dengan jurnalisme? Bagaimanakah bentuk penulisan perjalanan yang bertanggung jawab? 

Studi semacam itulah yang kami harap akan berkembang di masa yang akan datang. Bukan hanya memperbanyak penerbitan buku-buku bergenre budget travel yang cheesy, tapi juga membangun iklim travel writing yang lebih baik di Indonesia. 

Semoga buku ini menjadi penyemangat bagi Yudasmoro untuk selalu berbagi ilmu dan pengalaman. Proficiat


PS: 
Terimakasih atas special mention yang diberikan oleh Yudasmoro terhadap Hifatlobrain di muka buku ini. Membuat kami terharu dan bikin tumpeng tujuh hari tujuh malam. Ihikk.