Pages

10/10/12

Travel Writer by Yudasmoro




"For travel writers, traveling is a business not a vacation"

(Yudasmoro, 2012)

Dunia penulisan perjalanan makin hari tampaknya makin bergairah saja. Setelah terbit buku karya Gol A Gong, sekarang muncul buku serupa (dengan judul yang sama) yang ditulis oleh Yudasmoro. Seorang pewarta perjalanan yang karyanya banyak menghiasi majalah Garuda Inflight dan JalanJalan. Yudasmoro sendiri adalah sahabat dekat kami, para pengurus Hifatlobrain. Pada pertengahan tahun ini, kami sempat membuat workshop penulisan perjalanan dan menerbitkan ebook tentang travel writing yang merupakan intisari dari materi workshopnya.

Sejak tahun 2009 saya menjadi pembaca setia karya-karya Yudasmoro, dan sudah menunggu lama penerbitan buku ini. Tampaknya dulu Yudasmoro harus bergetih-getih untuk menawarkan konsep bukunya ke beberapa penerbit. Bukunya memang unik, mengandung sentilan-sentilan tajam buat para penulis perjalanan atau yang sedang tekun mempelajarinya. Barangkali ini yang membuat draft buku Yudasmoro banyak ditolak penerbit yang ingin main aman. 

Terpujilah penerbit Metagraf (lini penerbitan kreatif milik Tiga Serangkai, Solo) yang akhirnya mencetak buku Yudasmoro. Saya melihat keseriusan Metagraf ini hingga taraf yang paling krusial; kualitas penyuntingan, desain perwajahan dan layout buku yang ciamik. Saya menaruh penghargaan besar bagi Metagraf yang mau bersusah payah mengusahakan buku ini terlihat indah, dan tidak berakhir seperti diktat menulis pada umumnya. Membosankan. 

Sebagai seorang pemuja visual, tentu saja saya menilai buku pertama kali dari sampulnya.  Itu tidak mungkin dihindari. Dan buku Travel Writer milik Yudasmoro ini membuat saya jatuh cinta sejak dari kulitnya. 

Sampulnya terlihat eye catching; seorang pria berkacamata bertopi fedora duduk bersila di Stasiun Gambir. Wajahnya tenang seperti seorang praktisi Zen yang abai dari hiruk pikuk dunia yang bergerak cepat. 

"Yang motret gue tuh, soalnya pihak penerbit minta foto sebagai bahan kover," ujar Novani Nugrahani, partner setia Yudasmoro. 

Secara umum sampul buku ini mengandung warna kuning dan biru yang mewakili panas dan dingin. Seimbang. Penggunaan judul dengan jenis huruf sejenis Helvetica Neue dan elemen visual berupa lingkaran memberikan kesan tegas, bulat dan tidak ragu-ragu. Semoga Yudasmoro memiliki keteguhan yang serupa untuk melakoni jalan sunyi sebagai seorang freelance travel writer.

Tapi kerenyahan visual seperti itu saja tidak cukup. Perwajahan hanya memenuhi prasyarat belaka. Seperti seorang calon menantu, ganteng saja tidak cukup tapi juga harus ada bibit-bebet-bobot yang oke. Syarat utama sebuah buku tentu saja mengandung konten yang juga tak kalah impresif.

Membaca halaman demi halaman dari buku Yudasmoro mengingatkan pada buku "Andai Saya Wartawan Tempo" yang dahulu menjadi kitab suci saya saat belajar menulis feature. Isinya padat dan jelas. Straight to the point! Ini adalah buku yang ringkas untuk memulai pelajaran sebagai penulis perjalanan lepas. 

Terlepas dari kepraktisannya, melalui buku ini Yudasmoro memberikan perspektif paling realistis dalam menjalani profesi sebagai seorang penulis perjalanan. Pada beberapa titik bahkan Yudasmoro mengetengahkan pemikiran radikal yang tidak banyak dielaborasi; yaitu penulis perjalanan sebagai seorang pengusaha yang mandiri. Pandangan ini tentu saja menghancurkan pemikiran tentang profesi travel writer yang dilakoni sebagai pekerjaan sampingan. Setengah-setengah. Weekday sebagai pekerja kantoran dan weekend sebagai travel writer.



"Layaknya pengusaha, travel writer juga harus memiliki visi dan misi dalam bidangnya. Target yang jelas, ide, kemampuan menyusun jadwal, dan kedisiplinan mengejar target adalah beberapa kunci yang wajib dimiliki (seorang travel writer -pen.)." (hal. 16)

Di bagian lain, Yudasmoro secara blak-blakan menyoal honor yang dibayarkan oleh media kepada para penulis perjalanan. Padahal bagi sebagian orang tema ini berpotensi menjadi conversation killer dan hanya layak diperbincangkan dalam kasak-kusuk rahasia antar sesama kontributor lepas. 



"Nah, jujur deh. Sekarang ini masih ada beberapa media di Indonesia yang kurang menghargai posisi kontributor. Honor yang tidak kunjung dibayar, (jumlah) honor yang tidak layak, atau bahkan sama sekali tidak diberi reward apa pun meski sudah dijanjikan…" (hal. 11)

Itu yang saya suka dari buku Yudasmoro. Ia tidak menawarkan euforia dan harapan utopis, justru menjadi sebuah cermin besar tempat kita bertanya pada diri sendiri: apa betul saya ingin jadi penulis perjalanan sungguhan

Dalam hal ini Yudasmoro tidak hanya jago berargumen, ia membuktikan pemikirannya ini dengan kinerja yang presisten dan disiplin ketat selama bertahun-tahun. Sedikit banyak saya tahu itu. Menjadi travel writer baginya bukan lagi sekedar bersenang-senang dapat uang, tapi adalah profesi yang harus diperjuangkan dan dilakoni sepenuh hati. 

Tapi itu tidak lantas membuat buku Travel Writer menjadi berat wacana dan membuat kening pembaca semakin berkerut. Yudasmoro membawakan materinya dengan bahasa yang segar. Sehari-hari. Apalagi di tengah bagian Yudasmoro memberikan kuliah tentang foto perjalanan yang cukup menyegarkan karena disertai contoh-contoh  berwarna. 

Bagi saya, hadirnya buku ini membawa penanda baru dalam studi tentang penulisan perjalanan di Indonesia. Meskipun masih sebatas buku "how to", namun semoga pijakan dasar ini akan menggiring pembaca pada pemikiran selanjutnya: bagaimana perkembangan travel writing di Indonesia? Apa batas tipis antara penulisan perjalanan dengan jurnalisme? Bagaimanakah bentuk penulisan perjalanan yang bertanggung jawab? 

Studi semacam itulah yang kami harap akan berkembang di masa yang akan datang. Bukan hanya memperbanyak penerbitan buku-buku bergenre budget travel yang cheesy, tapi juga membangun iklim travel writing yang lebih baik di Indonesia. 

Semoga buku ini menjadi penyemangat bagi Yudasmoro untuk selalu berbagi ilmu dan pengalaman. Proficiat


PS: 
Terimakasih atas special mention yang diberikan oleh Yudasmoro terhadap Hifatlobrain di muka buku ini. Membuat kami terharu dan bikin tumpeng tujuh hari tujuh malam. Ihikk.   

1 comment:

vira said...

pengen (beli dan) baca buku ini!!