Pages

11/29/12

The First Descent


Teks oleh: Anita Petra dan Diana Suciawati

Beruntung. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kepindahanku ke Bali. Beberapa bulan lalu setelah menyelesaikan S2, aku langsung melamar kerja. Begitu diterima,  ternyata aku ditempatkan di kantor cabang Bali. Yeah! Walaupun tidak libur di hari Sabtu, namun ini merupakan suatu refreshment setelah lama tinggal di kota yang besar yang bingar.

Keberuntungan ini tentu tidak boleh disia-siakan. Aku bertekad untuk mencoba semua hal yang hampir mustahil dilakukan di kota besar semacam Jakarta. Aku ingin mencoba berbagai hal, termasuk belajar bermain surfing, menjelajah pantai-pantai indah di Bali, dan melakukan diving.

Sudah sejak lama aku ingin mencoba diving tapi belum juga kesampaian. Beruntung aku punya teman yang membuka dive center di Bali: Turtur Dive. Mereka adalah anak-anak muda yang sejak dulu memupuk passion di bidang diving. Mereka semua pindah ke Bali dari Jawa dan Sumatra, hanya karena satu tujuan, yaitu supaya bisa lebih sering diving.

Awalnya sedikit sulit untuk mengatur jadwal karena aku bekerja hingga Sabtu sore. Tapi itu tidak jadi penghalang. Teman-temanku memiliki jadwal yang fleksibel untuk disesuaikan dengan jadwal orang kantoran macam aku. Singkatnya, akhirnya disepakati tanggal 16 September 2012 yang lalu, untuk pertama kalinya aku merasakan yang namanya diving. Wohooo!

Sejak pagi, salah seorang dari tim mereka sudah menunggu di depan kos untuk menjemputku. Setelah memakan waktu kurang lebih 3 jam di perjalanan, akhirnya kami sampai di Tulamben, daerah Karangasem. Pantai ini, bila dilihat dari permukan, biasa-biasa saja. Namun menurut mereka, di dalam lautnya terdapat banyak sekali karang, ikan, bahkan ada bangkai kapal yang menjadi favorit para penyelam! Airnya yang tenang dan jernih pun membuat Tulamben patut diselami bagi pemula seperti aku.

Apakah ini benar? Mari kita lihat.

Pertama tiba, kami langsung diberikan pengarahan oleh instruktur mengenai fungsi peralatan menyelam, bagaimana cara memakainya, hingga teknik dasar diving, seperti: pentingnya teknik equalizing agar telinga kita tidak sakit ketika terkena tekanan di dalam laut. Diajari pula cara berenang yang benar, hingga bagaimana cara bernafas menggunakan regulator. Segala pengarahan dan persiapan memakai alat memakan waktu sekitar 45 menit.

Setelah itu, kami langsung memakai peralatan dan didampingi untuk praktek di laut! Gila, itu yang namanya tanki beratnya minta ampun. Salut deh sama cewek-cewek yang badannya kecil tapi kuat mengangkat tanki seberat karung beras ini.

Sesampainya di laut, aku sempat kekurangan pemberat sehingga tidak bisa turun dengan mudah. Namun setelah ditambah pemberat lagi, kami pun akhirnya bisa turun dan menyelam.

Ternyata, semua bukan bohong. Di dalam laut itu, pemandangannya indah banget... Aku sampai terkesima dengan ikan-ikan yang seumur-umur belum pernah aku lihat. Saking excitednya, aku sempat ditegur instruktur karena mau pegang-pegang semua yang ada di dalam laut. Ternyata, dari berbagai jenis tumbuhan dan hewan di laut, di antaranya bisa memberikan berbagai efek negatif pada manusia, mulai dari rasa gatal hingga yang mematikan. Selain itu, mereka juga bisa stress, bahkan tidak jarang dapat merusak ekosistem sendiri. Maka dari itu, kita sebaiknya tidak menyentuh apapun selama diving.


Setelah lebih dari setengah jam kami di bawah, kami lalu naik ke darat untuk makan siang dan beristirahat. Setelah kurang lebih satu jam, kami bersiap-siap untuk dive kedua. Kali ini, kami mau melihat bangkai kapal USAT Liberty yang karam di sini dan menjadi objek diving yang terkenal di Tulamben ini.

Pada dive kedua ini, masker yang kupakai kemasukan air. Walaupun sudah diberi pengarahan sebelumnya mengenai cara mengeluarkan air dari dalam masker, tapi ketika praktek tetap saja aku panik. Gawat. Rasanya aku ingin cepat-cepat naik ke permukaan. Tapi instruktur buru-buru menahan agar aku tidak naik terlalu cepat karena berbahaya. Tubuh butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan tekanan air laut, salah teknik sedikit saja jantung bisa pecah. Itulah mengapa kita tidak boleh naik terlalu cepat ke permukaan.

Setiba di permukaan, aku diberi wejangan agar jangan mudah panik saat diving. Rasa kalut membuat kita tidak dapat berpikir jernih, bahkan untuk melakukan hal yang paling sederhana sekalipun. Maka setelah diberi contoh lagi, akhirnya aku bisa melakukannya dengan baik! Horee.. Sekarang, kami turun lagi untuk melihat bangkai kapal tersebut.

Tidak terasa, dive kedua pun selesai dan diving kali ini benar-benar menimbulkan kesan yang menyenangkan. Aku juga sedang berpikir untuk mengambil sertifikasi diving, yang menjadi motivasiku untuk menabung saat ini.

Diving bersama teman-teman Turtur Dive sangat menyenangkan. Pelayanannya memang oke banget dan fun. Kami bahkan langsung dikirimi foto-foto dokumentasi bawah laut kami ketika diving. Aku jadi tidak sabar menunggu sesi menyelam berikutnya!

2 comments:

cumi said...

jangan panik ini jadi pembelajaran buat kita semua, terutama kalo dah diving.

Tulisan nya keren

made suwena said...

Nice article..

Go Turtur dive