Pages

12/29/12

Bloom

Foto oleh Swiss Winasis

Pada penghujung tahun, kita beramai-ramai membuat resolusi, sebagai panduan untuk menjalani hidup setahun yang akan datang. Di akhir tahun, segala resolusi biasanya diteropong kembali dalam sebuah retrospeksi. Ada target yang meleset, ada yang bahkan melebihi mimpi. Gagal menggending anak pak Camat eh tahu-tahunya dijodohkan dengan tetangga sebelah yang seorang model Victoria Secret. Wah! Kadang memang hidup itu punya alur yang misterius kawan.

Di awal tahun 2012, Hifatlobrain juga punya berbagai rencana. Ada yang tercapai, ada juga yang tidak. Tapi lumayan alhamdulillah kami masih bisa berkarya. Upaya mengubah tampilan situs supaya lebih terlihat canggih ternyata harus tertunda begitu lama. Akhirnya wajah Hifatlobrain yang masih begini-begini saja. Tidak berubah sejak zaman pleistocene. Tapi sesegera mungkin di awal tahun nanti kami bakal facelift. Karena kami percaya perwajahan yang segar membawa semangat dan hoki yang lebih besar. Seperti remaja yang baru keluar dari spa. Amien. 

Setahun belakangan, kami akui jarang sekali mengupdate blog. Konten Hifatlobrain turun sebanyak limapuluh persen dibanding dua tahun sebelumnya. Kami juga bingung kenapa. Tapi lagi-lagi syukur alhamdulillah karena ada beberapa kontributor yang mempercayakan karyanya untuk terbit di Hifatlobrain dan para pembaca yang masih setia untuk mampir. Hatur nuhun sadayana. Berkat kalian blog ini masih setia mengudara pada tahun keenam pada Januari tahun depan. 

Enam tahun ngeblog bukanlah prestasi luar biasa. Itu semua terjadi berkat ramalan suku Maya yang meleset. Sebab kalau ternyata jitu, maka Hifatlobrain hanya berumur lima tahun. 

Selama setahun terakhir kami memang lebih fokus bikin video perjalanan. Tidak kurang dari delapan video kami buat pada 2012. Ada yang kerja komisi, ada juga yang suka-suka. Itu berarti hampir setiap dua bulan kami bikin video. Tahun depan semoga bisa membuat lebih banyak dan lebih bermutu. 

Di sisi lain, kami senang karena lanskap video perjalanan sedang tumbuh subur di Indonesia. Banyak videografer muda yang muncul dengan karya yang mengejutkan. Kami berharap keadaan ini masih terus berkembang di tahun-tahun yang akan datang. 

Pada awal tahun 2013 kami tidak sempat lagi membuat resolusi karena beberapa agenda sudah menghadang di depan mata. Pada pertengahan Januari, kami kembali mengadakan program Traveler in Residence dengan mengajak Rendy Hendrawan, seorang arsitek muda sebagai peserta. Pada minggu terakhir bulan Februari kami juga akan mengadakan sebuah kelas penulisan perjalanan yang diinisiasi oleh mbak Ary Amhir, penulis buku Negeri Pala. Pelatihan ini akan membahas travel writing bergaya naratif. Siapa saja yang berminat silakan ikut. Pengumuman lebih lanjut baru kami sebar pada awal tahun. 

Oke itu saja sedikit retrospeksi dari kami. Selamat tahun baru! Keep love. []

12/19/12

Kalender Libur 2013

Click to enlarge! 

Setiap penghujung tahun, kami selalu memposting jadwal libur untuk setahun ke depan. Ini semua dilakukan demi menjaga semangat Lobrainers sekalian agar tetap istiqomah dalam berjalan-jalan. Siapkan jadwal setahun ke depan guna mengantisipasi ranjau-ranjau harpitnas agar liburan makin lega.

Simpan kalender liburan 2013 ini baik-baik. Tetapkan sebagai wallpaper PC, unggah di Evernote, masukkan dalam ponsel pintar, atau segera sinkronkan dengan Google Calendar! 

Almanak ini dibuat oleh rekan Catperku, yang juga sudah memiliki jadwal liburan setahun ke depan. Terimakasih bung! Dan jangan lupa selalu mendokumentasikan perjalanan kalian, karena cerita adalah oleh-oleh paling murah yang bisa dibawa pulang setelah berpetualang :) 

12/18/12

Eiger Flagship Store


[Bukan Advertorial]

Baru-baru ini kami menyambangi gerai Eiger terbaru di Jalan Sumatera, Bandung. Arsitekturnya unik dan sangat maskulin. Nuansa kayu mendominasi flagship store ini.  Mulai dari pintu, tangga, hingga parkit lantainya berbahan kayu. Menimbulkan kesan natural.

Di dalamnya tidak saja dipajang barang dagangan Eiger, tapi juga beberapa memorabilia petualangan yang unik. Seperti sepeda angin legendaris milik Bambang "Paimo" Hertadi Mas yang sudah keliling dunia dan baju pendakian khusus yang dipakai oleh tim 7 Summit. Kedua benda itu dipajang di sudut terdepan. Di sebelahnya ada satu rak besar yang menunjukkan evolusi produk Eiger sejak tahun 1998. Menarik!

Di lantai dua terdapat kafe Khatulistiwa yang cukup oke dengan furniture berlapis cushion batik. Menu "Tahu Jeletot" yang pedas juga terasa enak dimakan saat hujan. 

Bagi yang sedang berkunjung ke Bandung, barangkali Eiger Flagship Store bisa menjadi alternatif wisata belanja yang asik.[] 

12/14/12

Lukki Rawk

Foto oleh Audit Yulardi

Kami mengucapkan selamat untuk Lukki! Karena masuk dalam 50 Youth Woman Netizen versi majalah Marketeers. Lukki dianggap pantas masuk ke dalam jajaran prestis ini karena Homeland yang ia sutradarai setahun yang lalu. You get what you deserve, Kik...

Seorang kawan pernah bilang, Homeland itu bisa dikerjakan oleh dua orang saja. Satu kameramen, satu music composer. Beres. Pandangan tersebut barangkali ada benarnya, tapi tampak betul bahwa ia kurang paham etos kerja kolaboratif. Homeland ada, juga karena Luki sebagai seorang sutradara. Tanpa imajinasinya, mustahil karya ini pernah ada. Saya masih ingat, saat curah pendapat kali kedua di Warung Cirkel, Lukki datang dengan dua ide cerita. Satu tentang traveler pria ke gunung Bromo. Satu lagi kisah pelancong wanita naik kereta. 

Karena Homeland adalah karya suka-suka dan didanai patungan, membuat dua produksi sekaligus terasa berat di kantong. Akhirnya kami fokus menggarap cerita yang pertama. Sedangkan embrio cerita tentang pelancong wanita tidak terbuang percuma, ide tersebut berkembang menjadi Vaastu.

Lukki bisa dianggap ibu dari dua karya tersebut.

Congratulation Lukki! We love you.

12/9/12

Backpacking 101


Satu per satu, sahabat Hifatlobrain menulis buku. Diawali mbak Ary Amhir, lalu mas Yudasmoro, dan belakangan mbak Herajeng Gustiayu. Syukur alhamdulillah tidak ada satu pun dari mereka yang menulis dalam genre "sekian juta keliling semesta", jadi kami bisa menulis resensinya di blog ini dengan hati lapang. Hehehe.

Buku, adalah kunci ampuh yang mampu memantik seseorang untuk pergi berkelana. Gegara keranjingan Ulysses, Sigit Susanto menziarahi James Joyce di Dublin. Begitu juga Ambar Briastuti ngebet mengunjungi Inggris karena masa kecilnya gemar membaca kisah Lima Sekawan. Dan untuk para traveler yang besar di tahun 1980-an sebagian mengaku tidak bisa lepas dari pengaruh Balada Si Roy.

Lantas bagaimana para calon pejalan yang besar di era 2000-an? Barangkali pengaruh mereka adalah berbagai milis perjalanan, buku-buku travelogue Trinity, atau kolom Jalansutra yang diasuh Bondan Winarno. Berbagai pengaruh ini akan melahirkan pejalan yang stereotipikal, sesuai dengan titizaman yang selalu berubah.

Bila pada zaman Si Roy, petualang yang keren itu bersifat rebel, menggunakan jeans belel, dan setia mendengarkan rock n roll. Maka bisa jadi pandangan seperti itu tidak lagi payu hari ini. Traveler di era aquarian sudah pasti lebih wangi dan rajin mandi. Setia pada buku panduan perjalanan dan musik post-rock (boleh juga mendengarkan Vampire Weekend atau Deadmau5). Dan satu lagi yang paling utama: tidak pernah lupa pamit orang tua.

"Mam, kayaknya tahun ini aku bakal lebih sering jalan-jalan deh. Insya Allah akhir tahun ini mau ke Thailand. Boleh yaa. Hehe..."

"Boleh aja," jawab Ibu saya singkat sambil tersenyum, matanya masih tak lepas dari majalah yang sedang dibacanya.

Selang beberapa minggu kemudian,

...

"Mam, rencana jalan-jalannya udah fixed yaa... Jadi nanti rencananya aku ke Singapura, malaysia, Vietnam, sama Thailand..."

Hening sesaat...

"Lho? Udah beli tiket, toh?" tanya Ibu saya seketika tersadar dan terkejut, pandangannya beralih dari Kiky ke arah saya.

(hal. 37-38)

Ini adalah pelajaran mahapenting yang saya catat dari buku "Backpacking 101" karya Herajeng Gustiayu. Bahwa bagaimanapun pejalan masih butuh rumah dan orang tua untuk pulang. Bayangkan bila saya berpelesir tidak pamit, lantas ibu bapak tak lagi menganggap saya anak. Alangkah cilaka! Dan perkara pamit orang tua ini dibahas begitu serius dalam tiga halaman di buku Ajeng. Kredonya berjudul Menenangkan Orang Terdekat yang "Ditinggalkan" di Rumah, terdiri dari sepuluh pasal yang sangat taktis. Mulai dari soft warning hingga emotional farewell yang menguras perasaan.

Tapi itu baru satu bagian. Bab lain yang paling saya sukai adalah kiat melakukan perjalanan seorang diri (solo traveling) yang di dalamnya terdapat satu trik baru yang saya pelajari, yaitu seni mencuri dengar atau yang disebut Ajeng sebagai "The Fine Art of Eavesdropping". Wohoho. Ini baru seru! Curi dengar adalah cara lama bagi para wartawan dan detektif untuk mengulik informasi tertutup. Namun merupakan trik baru bagi para pejalan untuk mempelajari esensi sebuah daerah tanpa harus tertipu brosur wisata dan ramah tamah pemandu perjalanan. Tapi masalahnya; bagaimana jika saya pergi ke Ulan Bator dan tidak mengerti bahasa Mongolia? Apakah trik eavesdropping ini masih berlaku?

Pada bagian lain, di awal buku, Ajeng sempat menyinggung masalah klasik tentang label pejalan. Ia menyadari bahwa hari ini pelabelan begitu marak dilakukan. Tidak ada yang mau disebut turis, semua maunya disebut traveler atau backpacker biar terlihat gahar. Hari ini tampaknya kata 'turis' mengalami peyorasi -penurunan makna- yang begitu akut. Turis berkonotasi dengan pejalan yang dangkal dan tidak mandiri. Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu. Apalagi jika Anda membaca buku "Jalansutra"-nya Bondan Winarno.

Salah kaprah pelabelan seperti ini membuat kita mudah tersesat dalam kejumawaan sesaat. Tidak selamanya backpacking itu murah. Ada kok travel operator yang mencatut nama 'backpack' tapi harga paketnya selangit. Dimana akhirnya pelabelan itu hanya baju yang bersifat fana. Bisa diganti dan dilapisi apa saja. "The anti-tourist only delude himself. We are all tourist now, and there is no escape," kata Paul Fussell.

JJ Rizal, seorang resi di Komunitas Bambu, juga pernah mengungkap dalam sebuah sesi wedhangan asik dengan Hifatlobrain bahwa,"Ruh pejalan di Indonesia hari ini masih dipengaruhi oleh pandangan kolonial, yang melihat Indonesia sebagai sebuah eksotika. Semangat leisure-nya belum berubah selama satu abad..."

Maka saya akan menyitir satu paragraf menarik yang ditulis Ajeng:

"Daripada sibuk mengotak-kotakkan diri dalam sebuah label identitas dan mendebatkan mana gaya perjalanan yang terbaik, lebih baik kita sibuk memikirkan apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan kualitas traveling kita sendiri."
(hal. 10)

Wah top! Terdengar sangat filosofis ya. Padahal tidak semua isinya berat, dan buku Ajeng ini merupakan panduan umum bagi anak muda yang ingin segera memanggul ransel dan mengunjungi tempat-tempat asik di muka bumi. Ajeng berkomunikasi dalam bahasa yang populer dengan gaya storytelling yang sangat Backpacker Notes, khas Ajeng. Bersemangat, komikal, akrab, kadang malu-maluin, dan penuh dengan tanda seru, yeay!

Tanda seru dalam buku ini memang banyak sekali. Seakan-akan Ajeng ingin bilang bahwa melakukan perjalanan itu lebih seru daripada main online game. Optimisme itu terasa hingga perwajahan dan ilustrasi di dalam bukunya. Kover buku Backpacking 101 berwarna kuning jeruk, lengkap dengan ilustrasi ceria buatan Nita Darsono, salah satu ilustrator kawakan Surabaya. Ilustrasi Nita dapat ditemui di sepanjang pembuka bab buku ini. Sebuah kolaborasi yang cantik! Dan pilihan Ajeng untuk mengajak Nita memang tepat, membuat mood buku ini terasa solid.

Saya pribadi senang karena Ajeng tak lupa menyisipkan pesan kepada pembacanya untuk senantiasa mendokumentasikan perjalanan dalam berbagai media. Mulai dari yang konvensional berupa foto dan tulisan, hingga dokumentasi berupa video dan ilustrasi. Sama seperti Ajeng, kami percaya bahwa semakin marak bentuk dokumentasi perjalanan, maka semakin berwarna dunia traveling di Indonesia.

***

Saya membayangkan, bagaimana para traveler Indonesia sepuluh tahun lagi? Mereka-mereka yang pernah besar di dasawarsa kedua milenium ketiga. Mereka yang sudah mengakses ponsel pintar sejak SMA dan menggemari serial Modern Family atau Breaking Bad. Barangkali sebagian dari mereka terpengaruh oleh buku Backpacking 101 ini. Mengamalkan apa yang ditulis Ajeng untuk menjadi pelancong cerdik dan akhirnya kecanduan.


Tak lupa saat mengirim bukunya, Ajeng menitipkan sebuah sun signature untuk kru Hifatlobrain yang menurut Ajeng unyu-unyu. Ahiak![] 

12/8/12

Negeri Pala


Oleh: Ayos Purwoaji

Apa saya sudah pernah mengenalkan Ary Amhir kepada kalian semua, wahai sidang pembaca Hifatlobrain yang terhormat? Jika belum, maka saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Ary Amhir adalah salah satu penulis perjalanan lokal favorit saya. Hidupnya cukup bohemian. Untuk menulis bukunya yang pertama tentang TKI ilegal ia rela menjadi buruh wanita di Malaysia selama empat tahun. Sebelumnya ia bekerja sebagai programmer di Dili sana. Pada suatu masa, Ary pun sempat bergonta-ganti profesi sebagai wartawan di beberapa media Ibukota. Padahal wanita ini adalah sarjana Teknik Nuklir UGM.

Barangkali Ary memahami bahwa pengembaraan tidak hanya sebatas garis batas destinasi. Lebih dari itu, ia mengembara dalam hidup. Berganti-ganti profesi dan gaya hidup bagai sebuah pelancongan saja.

Ia memiliki modal otak cemerlang sebagai seorang ilmuan, ia juga memiliki kesempatan masuk dalam lingkaran sosialita saat bekerja pada majalah wanita kelas A. Tapi Ary tetaplah Amhir, ia memiliki kehidupannya sendiri sebagai seorang pengembara.

"Duit di kantong ada sepuluh ribu atau sejuta yang aku beli tetap sama; nasi pecel lele lima ribuan," katanya suatu saat.

"Haha kuwi cirine uwong sing wis mencapai tahap makrifat, mbak."

"Weleh, yen aku ki nglenthu, nothing..."

Di antara tujuh milyar manusia di bumi, kita memang bukan siapa-siapa mbak. Dan menjadi nothing itu memang laku seorang pengembara."Traveling is about losing your ego," kata Agustinus Wibowo. Dengan menjadi nothing, kita baru siap untuk menjadi pejalan yang mau menerima sari pati hidup dari mana saja.

Semangat menjadi nothing inilah yang menguar dalam buku terbaru Ary Amhir, "Negeri Pala". Sebuah travelogue yang menceritakan pengalamannya berkeliling Kepulauan Banda selama dua bulan.

Pada dasarnya, Ary memang seorang pejalan yang selow. Setahun sebelumnya, ia menerbitkan buku yang menceritakan kisahnya melintas Sumatera selama sebulan. Sedangkan baru-baru ini ia menggelar perjalanan ke beberapa negara Asia Tenggara selama dua bulan. Dan saat ini sedang mengatur strategi untuk melakukan traveling dalam jangka waktu yang lebih lama.

Dengan waktu observasi yang longgar, pantas bila Ary berkesempatan untuk menyelami sebuah kisah lebih dalam. Ini yang membuat saya jatuh cinta pada laporan-laporan perjalanan yang dibuat Ary. Sementara penulis perjalanan lain (dan termasuk saya) masih silap dan berkutat pada deskripsi sebuah destinasi, Ary justru menulis kisah tentang manusia dan masalahnya yang selalu bergolak.

Buku "Negeri Pala" justru menjadi kaya dengan adanya narasi-narasi kecil tentang kehidupan manusia di Kepulauan Banda. Mengamini kata-kata pakdhe Paul Theroux; When something human is recorded, good travel writing happens.

Kisah tentang rumah bu guru Netty yang layak disinggahi, pak guru Ali yang bercita-cita tinggi, Mama Jawa yang mahir membuat manisan pala, kecanggihan nenek Simani dalam mengobati pasien sekali tiup, hingga Pongki yang masih menyimpan duka kerusuhan agama belasan tahun lalu ditulis Ary dengan baik dalam gaya yang sedikit nyastra.

"...Kapal hendak berangkat, peluit panjang dibunyikan. Manisan pala kutelan pelan-pelan. Menembus kerongkongan, menuju lambung. Merangsang enzim pencernaan, menebar rasa ringan. Seringan seringai Mama Jawa tadi." (hal. 110)

Serangkaian kalimat di atas adalah salah satu favorit saya. Terasa puitis tanpa perlu menjadi berlebihan. Nyastra namun tetap faktual. Bagaimana ia bisa menemukan frasa seringan seringai itu?

Entah kesurupan apa, Ary memang sedang keluar dari zona nyamannya. Pada buku "30 Hari Keliling Sumatra" masih jelas gaya feature-jurnalistik yang selalu ia pakai. Tapi untuk buku terbaru ini ia lebih luwes untuk menembus sekat genre. Ary meramu berbagai diksi dan gaya seenaknya sendiri. Menjadikan "Negeri Pala" sebuah buku perjalanan yang bersifat hibrida. Sependek pengetahuan kami, belum ada yang mengupayakan hal serupa. Dan kelak akan kami catat sebagai sebuah milestone baru dalam penerbitan buku perjalanan di Indonesia. Maknyus. 

Hal itu tampak jelas di bab paling belakang dimana Ary memasukkan enam cerpen sebagai penutup. "Bagian terakhir itu mix antara imajinasi dan fakta. Meski sering dikira fakta oleh pembaca," kata Ary. Dengan semangat fiksi, Ary lebih bebas menghidupkan masa lalu dan memberi ruang bagi hantu-hantu untuk menemani perjalanannya. Bagi saya sendiri, ini merupakan rangkaian dessert -makanan penutup- yang lembut tapi mengandung daya kejut!

Meskipun akhirnya harus dimaklumi, gaya sastrawi yang kali ini ia pakai ternyata tidak juga memperlembut keberpihakan Ary terhadap isu marjinal. Ary masih tetap gahar saat mengolah berbagai persoalan sosial yang ia temui di jalan. Tentang pembagian untung pala antara perusahaan daerah dan petani, sentimen agama yang masih tersisa, penjualan bangunan-bangunan bersejarah, atau kondisi transportasi antar pulau kecil yang jauh dari perhatian pemerintah, semua itu ia tulis lengkap dengan aspirasi masyarakat lokal yang kerap dipinggirkan.

Rupanya Ary masih memiliki sepasang mata jurnalis yang awas setiap kali melihat masalah. Sama seperti insting wartawan infotainment yang getap melihat prahara rumah tangga selebriti. Hehehe.

***

Dilihat dari sudut manapun, saya menilai buku "Negeri Pala" jauh lebih inovatif tinimbang "30 Hari Keliling Sumatera". Ukurannya jauh lebih kompak, memapras tiga puluh persen dimensi buku Sumatra. Mudah dibawa dan membuat  mata pembaca tak lekas lelah untuk menyusuri alinea demi alinea. "Negeri Pala" juga hadir efisien karena tak menyediakan gimmick yang berlebihan.


Tapi yang paling menonjol sebetulnya adalah cara pembabakan buku yang menjauhi gaya linier. Ary membagi "Negeri Pala" dalam lima bab menurut tema tulisannya. Membuat saya bebas membuka halaman mana saja tanpa harus mengikuti perjalanan Ary secara sekuensial dari A-Z. Dibaca urut enak, diacak pun tetap sedap.

Tapi dari sekian banyak pujian, saya harus menyelipkan catatan buat Ary. Yang pertama, meski saya cukup terkesan dengan gaya bahasanya yang aduhai, tapi lantas mendadak ilfil begitu melihat tulisan berjudul "Surga Itu Bernama Neilaka". Menggunakan kata 'surga' sebagai judul, sebenarnya sudah lama kami hindari. Ini adalah klise penulisan perjalanan yang tak dapat diampuni! Saya jadi bertanya dalam hati; apakah seorang Ary Amhir kekurangan diksi di tengah jalan? Atau hanya kealpaan yang tak pernah sempat dikoreksi?

Masih berkutat pada judul. Bila diperhatikan, maka terjadi pengecilan besar-besaran untuk desain judul artikel di dua buku perjalanan Ary. Dalam "Negeri Pala" huruf judul disulap sedemikian rupa hingga (nyaris) sulit dibaca. Seharusnya Ary memberikan ukuran dan jenis huruf yang lebih lega.

Dua catatan ini memang sungguh remeh. Dibandingkan kerja keras Ary merampungkan buku Negeri Pala secara single fighter. Saya salut dengan usahanya yang sangat independen dalam menerbitkan buku. Ia menulis, mengedit, melayout, dan mengusahakan perwajahan secara mandiri. Bahkan ia memilih jalur PoD (print on demand) dan distribusi bawah tanah daripada harus berlutut di hadapan penerbit besar.

Ary membuktikan bahwa buku yang dicetak berdikari juga bisa bermutu tinggi. Meski tanpa balutan kover glossy dan paper book yang harganya bikin gigit jari.

Di blognya, walau Ary mati-matian membela diri bahwa "buku ini tak saya maksudkan sebagai panduan wisata", tapi tetap saja menggoda orang untuk pergi ke Banda. Jadi, saya merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang ingin berziarah ke tanah Pala, atau bagi siapa saja yang haus akan buku perjalanan yang bagus dan segar dan maknyus dan muasuk dan ngeri.[]


NB: 
Saya nggak tahu Ary mencetak buku ini berapa eksemplar. Tapi sila layangkan pemesanan di blognya: http://othervisions.wordpress.com