Pages

12/9/12

Backpacking 101


Satu per satu, sahabat Hifatlobrain menulis buku. Diawali mbak Ary Amhir, lalu mas Yudasmoro, dan belakangan mbak Herajeng Gustiayu. Syukur alhamdulillah tidak ada satu pun dari mereka yang menulis dalam genre "sekian juta keliling semesta", jadi kami bisa menulis resensinya di blog ini dengan hati lapang. Hehehe.

Buku, adalah kunci ampuh yang mampu memantik seseorang untuk pergi berkelana. Gegara keranjingan Ulysses, Sigit Susanto menziarahi James Joyce di Dublin. Begitu juga Ambar Briastuti ngebet mengunjungi Inggris karena masa kecilnya gemar membaca kisah Lima Sekawan. Dan untuk para traveler yang besar di tahun 1980-an sebagian mengaku tidak bisa lepas dari pengaruh Balada Si Roy.

Lantas bagaimana para calon pejalan yang besar di era 2000-an? Barangkali pengaruh mereka adalah berbagai milis perjalanan, buku-buku travelogue Trinity, atau kolom Jalansutra yang diasuh Bondan Winarno. Berbagai pengaruh ini akan melahirkan pejalan yang stereotipikal, sesuai dengan titizaman yang selalu berubah.

Bila pada zaman Si Roy, petualang yang keren itu bersifat rebel, menggunakan jeans belel, dan setia mendengarkan rock n roll. Maka bisa jadi pandangan seperti itu tidak lagi payu hari ini. Traveler di era aquarian sudah pasti lebih wangi dan rajin mandi. Setia pada buku panduan perjalanan dan musik post-rock (boleh juga mendengarkan Vampire Weekend atau Deadmau5). Dan satu lagi yang paling utama: tidak pernah lupa pamit orang tua.

"Mam, kayaknya tahun ini aku bakal lebih sering jalan-jalan deh. Insya Allah akhir tahun ini mau ke Thailand. Boleh yaa. Hehe..."

"Boleh aja," jawab Ibu saya singkat sambil tersenyum, matanya masih tak lepas dari majalah yang sedang dibacanya.

Selang beberapa minggu kemudian,

...

"Mam, rencana jalan-jalannya udah fixed yaa... Jadi nanti rencananya aku ke Singapura, malaysia, Vietnam, sama Thailand..."

Hening sesaat...

"Lho? Udah beli tiket, toh?" tanya Ibu saya seketika tersadar dan terkejut, pandangannya beralih dari Kiky ke arah saya.

(hal. 37-38)

Ini adalah pelajaran mahapenting yang saya catat dari buku "Backpacking 101" karya Herajeng Gustiayu. Bahwa bagaimanapun pejalan masih butuh rumah dan orang tua untuk pulang. Bayangkan bila saya berpelesir tidak pamit, lantas ibu bapak tak lagi menganggap saya anak. Alangkah cilaka! Dan perkara pamit orang tua ini dibahas begitu serius dalam tiga halaman di buku Ajeng. Kredonya berjudul Menenangkan Orang Terdekat yang "Ditinggalkan" di Rumah, terdiri dari sepuluh pasal yang sangat taktis. Mulai dari soft warning hingga emotional farewell yang menguras perasaan.

Tapi itu baru satu bagian. Bab lain yang paling saya sukai adalah kiat melakukan perjalanan seorang diri (solo traveling) yang di dalamnya terdapat satu trik baru yang saya pelajari, yaitu seni mencuri dengar atau yang disebut Ajeng sebagai "The Fine Art of Eavesdropping". Wohoho. Ini baru seru! Curi dengar adalah cara lama bagi para wartawan dan detektif untuk mengulik informasi tertutup. Namun merupakan trik baru bagi para pejalan untuk mempelajari esensi sebuah daerah tanpa harus tertipu brosur wisata dan ramah tamah pemandu perjalanan. Tapi masalahnya; bagaimana jika saya pergi ke Ulan Bator dan tidak mengerti bahasa Mongolia? Apakah trik eavesdropping ini masih berlaku?

Pada bagian lain, di awal buku, Ajeng sempat menyinggung masalah klasik tentang label pejalan. Ia menyadari bahwa hari ini pelabelan begitu marak dilakukan. Tidak ada yang mau disebut turis, semua maunya disebut traveler atau backpacker biar terlihat gahar. Hari ini tampaknya kata 'turis' mengalami peyorasi -penurunan makna- yang begitu akut. Turis berkonotasi dengan pejalan yang dangkal dan tidak mandiri. Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu. Apalagi jika Anda membaca buku "Jalansutra"-nya Bondan Winarno.

Salah kaprah pelabelan seperti ini membuat kita mudah tersesat dalam kejumawaan sesaat. Tidak selamanya backpacking itu murah. Ada kok travel operator yang mencatut nama 'backpack' tapi harga paketnya selangit. Dimana akhirnya pelabelan itu hanya baju yang bersifat fana. Bisa diganti dan dilapisi apa saja. "The anti-tourist only delude himself. We are all tourist now, and there is no escape," kata Paul Fussell.

JJ Rizal, seorang resi di Komunitas Bambu, juga pernah mengungkap dalam sebuah sesi wedhangan asik dengan Hifatlobrain bahwa,"Ruh pejalan di Indonesia hari ini masih dipengaruhi oleh pandangan kolonial, yang melihat Indonesia sebagai sebuah eksotika. Semangat leisure-nya belum berubah selama satu abad..."

Maka saya akan menyitir satu paragraf menarik yang ditulis Ajeng:

"Daripada sibuk mengotak-kotakkan diri dalam sebuah label identitas dan mendebatkan mana gaya perjalanan yang terbaik, lebih baik kita sibuk memikirkan apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan kualitas traveling kita sendiri."
(hal. 10)

Wah top! Terdengar sangat filosofis ya. Padahal tidak semua isinya berat, dan buku Ajeng ini merupakan panduan umum bagi anak muda yang ingin segera memanggul ransel dan mengunjungi tempat-tempat asik di muka bumi. Ajeng berkomunikasi dalam bahasa yang populer dengan gaya storytelling yang sangat Backpacker Notes, khas Ajeng. Bersemangat, komikal, akrab, kadang malu-maluin, dan penuh dengan tanda seru, yeay!

Tanda seru dalam buku ini memang banyak sekali. Seakan-akan Ajeng ingin bilang bahwa melakukan perjalanan itu lebih seru daripada main online game. Optimisme itu terasa hingga perwajahan dan ilustrasi di dalam bukunya. Kover buku Backpacking 101 berwarna kuning jeruk, lengkap dengan ilustrasi ceria buatan Nita Darsono, salah satu ilustrator kawakan Surabaya. Ilustrasi Nita dapat ditemui di sepanjang pembuka bab buku ini. Sebuah kolaborasi yang cantik! Dan pilihan Ajeng untuk mengajak Nita memang tepat, membuat mood buku ini terasa solid.

Saya pribadi senang karena Ajeng tak lupa menyisipkan pesan kepada pembacanya untuk senantiasa mendokumentasikan perjalanan dalam berbagai media. Mulai dari yang konvensional berupa foto dan tulisan, hingga dokumentasi berupa video dan ilustrasi. Sama seperti Ajeng, kami percaya bahwa semakin marak bentuk dokumentasi perjalanan, maka semakin berwarna dunia traveling di Indonesia.

***

Saya membayangkan, bagaimana para traveler Indonesia sepuluh tahun lagi? Mereka-mereka yang pernah besar di dasawarsa kedua milenium ketiga. Mereka yang sudah mengakses ponsel pintar sejak SMA dan menggemari serial Modern Family atau Breaking Bad. Barangkali sebagian dari mereka terpengaruh oleh buku Backpacking 101 ini. Mengamalkan apa yang ditulis Ajeng untuk menjadi pelancong cerdik dan akhirnya kecanduan.


Tak lupa saat mengirim bukunya, Ajeng menitipkan sebuah sun signature untuk kru Hifatlobrain yang menurut Ajeng unyu-unyu. Ahiak![] 

8 comments:

jeri kusumaa said...

ihh mimin dapet sun dari Ajeng :3,

Nahh akhirnya ada bbrp resensi buku lagi nih... tp jujur lebih tertarik beli negeri pala di postingan sebelumnya. maap ya jeng :D

Tekno Bolang said...

saya nanti mau buat buku sekian milyar buat bulan madu keliling indonesia ah, pasti Laki kali ya :) Ajeng sampe ketemu sabtu sore yaaa *kedipkedip

Herajeng Gustiayu said...

@Mas Jeri: Huahahaha, no problemo Mas!! Ih iya nih dikerjain Ayos, katanya semua yang ngasi buku ke HFLB musti kasi cap bibir. Ciih, jadi trauma mo ngasi sun signature lagi deh. :)))

@Mas Tekno: See you soon, Mas Tekno! :D

Herajeng Gustiayu said...

*Oia* Terimakasih banyak wahai Hifatlobrain yang telah mengulas buku saya dengan luar biasa. :">

Cheers,
Ajeng

http://cumilebay.com said...

suka banget baca yg tetep pamit ortu .... rasa nya wajib buat yg masih lajang hehehehe

Cumi MzToro said...

baca yg pamit ama ortu ini rasa nya tetep penting yaaa ... hukum nya wajib kalo masih lajang

Adi Prakoso said...

penasaran mau nanya nih, apakah salah kl dlm liburan kita 'berkiblat' pada eksotisme? pemberian cap kolonial sangat gegabah mnrt saya :D

Ayos Purwoaji said...

Saya pikir tidak ada yang salah mas Adi :) Bukankan prinsip pelancong itu leisure? Suka yang eksotis-eksotis? Tapi memang yang dikatakan JJ Rizal ada benarnya, sedikit banyak pandangan kita tentang pelancongan dewasa ini dibentuk oleh pemikiran zaman kolonial. Dan hal tersebut tidak bisa dihindari...

Salam.