Pages

12/8/12

Negeri Pala


Oleh: Ayos Purwoaji

Apa saya sudah pernah mengenalkan Ary Amhir kepada kalian semua, wahai sidang pembaca Hifatlobrain yang terhormat? Jika belum, maka saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Ary Amhir adalah salah satu penulis perjalanan lokal favorit saya. Hidupnya cukup bohemian. Untuk menulis bukunya yang pertama tentang TKI ilegal ia rela menjadi buruh wanita di Malaysia selama empat tahun. Sebelumnya ia bekerja sebagai programmer di Dili sana. Pada suatu masa, Ary pun sempat bergonta-ganti profesi sebagai wartawan di beberapa media Ibukota. Padahal wanita ini adalah sarjana Teknik Nuklir UGM.

Barangkali Ary memahami bahwa pengembaraan tidak hanya sebatas garis batas destinasi. Lebih dari itu, ia mengembara dalam hidup. Berganti-ganti profesi dan gaya hidup bagai sebuah pelancongan saja.

Ia memiliki modal otak cemerlang sebagai seorang ilmuan, ia juga memiliki kesempatan masuk dalam lingkaran sosialita saat bekerja pada majalah wanita kelas A. Tapi Ary tetaplah Amhir, ia memiliki kehidupannya sendiri sebagai seorang pengembara.

"Duit di kantong ada sepuluh ribu atau sejuta yang aku beli tetap sama; nasi pecel lele lima ribuan," katanya suatu saat.

"Haha kuwi cirine uwong sing wis mencapai tahap makrifat, mbak."

"Weleh, yen aku ki nglenthu, nothing..."

Di antara tujuh milyar manusia di bumi, kita memang bukan siapa-siapa mbak. Dan menjadi nothing itu memang laku seorang pengembara."Traveling is about losing your ego," kata Agustinus Wibowo. Dengan menjadi nothing, kita baru siap untuk menjadi pejalan yang mau menerima sari pati hidup dari mana saja.

Semangat menjadi nothing inilah yang menguar dalam buku terbaru Ary Amhir, "Negeri Pala". Sebuah travelogue yang menceritakan pengalamannya berkeliling Kepulauan Banda selama dua bulan.

Pada dasarnya, Ary memang seorang pejalan yang selow. Setahun sebelumnya, ia menerbitkan buku yang menceritakan kisahnya melintas Sumatera selama sebulan. Sedangkan baru-baru ini ia menggelar perjalanan ke beberapa negara Asia Tenggara selama dua bulan. Dan saat ini sedang mengatur strategi untuk melakukan traveling dalam jangka waktu yang lebih lama.

Dengan waktu observasi yang longgar, pantas bila Ary berkesempatan untuk menyelami sebuah kisah lebih dalam. Ini yang membuat saya jatuh cinta pada laporan-laporan perjalanan yang dibuat Ary. Sementara penulis perjalanan lain (dan termasuk saya) masih silap dan berkutat pada deskripsi sebuah destinasi, Ary justru menulis kisah tentang manusia dan masalahnya yang selalu bergolak.

Buku "Negeri Pala" justru menjadi kaya dengan adanya narasi-narasi kecil tentang kehidupan manusia di Kepulauan Banda. Mengamini kata-kata pakdhe Paul Theroux; When something human is recorded, good travel writing happens.

Kisah tentang rumah bu guru Netty yang layak disinggahi, pak guru Ali yang bercita-cita tinggi, Mama Jawa yang mahir membuat manisan pala, kecanggihan nenek Simani dalam mengobati pasien sekali tiup, hingga Pongki yang masih menyimpan duka kerusuhan agama belasan tahun lalu ditulis Ary dengan baik dalam gaya yang sedikit nyastra.

"...Kapal hendak berangkat, peluit panjang dibunyikan. Manisan pala kutelan pelan-pelan. Menembus kerongkongan, menuju lambung. Merangsang enzim pencernaan, menebar rasa ringan. Seringan seringai Mama Jawa tadi." (hal. 110)

Serangkaian kalimat di atas adalah salah satu favorit saya. Terasa puitis tanpa perlu menjadi berlebihan. Nyastra namun tetap faktual. Bagaimana ia bisa menemukan frasa seringan seringai itu?

Entah kesurupan apa, Ary memang sedang keluar dari zona nyamannya. Pada buku "30 Hari Keliling Sumatra" masih jelas gaya feature-jurnalistik yang selalu ia pakai. Tapi untuk buku terbaru ini ia lebih luwes untuk menembus sekat genre. Ary meramu berbagai diksi dan gaya seenaknya sendiri. Menjadikan "Negeri Pala" sebuah buku perjalanan yang bersifat hibrida. Sependek pengetahuan kami, belum ada yang mengupayakan hal serupa. Dan kelak akan kami catat sebagai sebuah milestone baru dalam penerbitan buku perjalanan di Indonesia. Maknyus. 

Hal itu tampak jelas di bab paling belakang dimana Ary memasukkan enam cerpen sebagai penutup. "Bagian terakhir itu mix antara imajinasi dan fakta. Meski sering dikira fakta oleh pembaca," kata Ary. Dengan semangat fiksi, Ary lebih bebas menghidupkan masa lalu dan memberi ruang bagi hantu-hantu untuk menemani perjalanannya. Bagi saya sendiri, ini merupakan rangkaian dessert -makanan penutup- yang lembut tapi mengandung daya kejut!

Meskipun akhirnya harus dimaklumi, gaya sastrawi yang kali ini ia pakai ternyata tidak juga memperlembut keberpihakan Ary terhadap isu marjinal. Ary masih tetap gahar saat mengolah berbagai persoalan sosial yang ia temui di jalan. Tentang pembagian untung pala antara perusahaan daerah dan petani, sentimen agama yang masih tersisa, penjualan bangunan-bangunan bersejarah, atau kondisi transportasi antar pulau kecil yang jauh dari perhatian pemerintah, semua itu ia tulis lengkap dengan aspirasi masyarakat lokal yang kerap dipinggirkan.

Rupanya Ary masih memiliki sepasang mata jurnalis yang awas setiap kali melihat masalah. Sama seperti insting wartawan infotainment yang getap melihat prahara rumah tangga selebriti. Hehehe.

***

Dilihat dari sudut manapun, saya menilai buku "Negeri Pala" jauh lebih inovatif tinimbang "30 Hari Keliling Sumatera". Ukurannya jauh lebih kompak, memapras tiga puluh persen dimensi buku Sumatra. Mudah dibawa dan membuat  mata pembaca tak lekas lelah untuk menyusuri alinea demi alinea. "Negeri Pala" juga hadir efisien karena tak menyediakan gimmick yang berlebihan.


Tapi yang paling menonjol sebetulnya adalah cara pembabakan buku yang menjauhi gaya linier. Ary membagi "Negeri Pala" dalam lima bab menurut tema tulisannya. Membuat saya bebas membuka halaman mana saja tanpa harus mengikuti perjalanan Ary secara sekuensial dari A-Z. Dibaca urut enak, diacak pun tetap sedap.

Tapi dari sekian banyak pujian, saya harus menyelipkan catatan buat Ary. Yang pertama, meski saya cukup terkesan dengan gaya bahasanya yang aduhai, tapi lantas mendadak ilfil begitu melihat tulisan berjudul "Surga Itu Bernama Neilaka". Menggunakan kata 'surga' sebagai judul, sebenarnya sudah lama kami hindari. Ini adalah klise penulisan perjalanan yang tak dapat diampuni! Saya jadi bertanya dalam hati; apakah seorang Ary Amhir kekurangan diksi di tengah jalan? Atau hanya kealpaan yang tak pernah sempat dikoreksi?

Masih berkutat pada judul. Bila diperhatikan, maka terjadi pengecilan besar-besaran untuk desain judul artikel di dua buku perjalanan Ary. Dalam "Negeri Pala" huruf judul disulap sedemikian rupa hingga (nyaris) sulit dibaca. Seharusnya Ary memberikan ukuran dan jenis huruf yang lebih lega.

Dua catatan ini memang sungguh remeh. Dibandingkan kerja keras Ary merampungkan buku Negeri Pala secara single fighter. Saya salut dengan usahanya yang sangat independen dalam menerbitkan buku. Ia menulis, mengedit, melayout, dan mengusahakan perwajahan secara mandiri. Bahkan ia memilih jalur PoD (print on demand) dan distribusi bawah tanah daripada harus berlutut di hadapan penerbit besar.

Ary membuktikan bahwa buku yang dicetak berdikari juga bisa bermutu tinggi. Meski tanpa balutan kover glossy dan paper book yang harganya bikin gigit jari.

Di blognya, walau Ary mati-matian membela diri bahwa "buku ini tak saya maksudkan sebagai panduan wisata", tapi tetap saja menggoda orang untuk pergi ke Banda. Jadi, saya merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang ingin berziarah ke tanah Pala, atau bagi siapa saja yang haus akan buku perjalanan yang bagus dan segar dan maknyus dan muasuk dan ngeri.[]


NB: 
Saya nggak tahu Ary mencetak buku ini berapa eksemplar. Tapi sila layangkan pemesanan di blognya: http://othervisions.wordpress.com

4 comments:

Nuran Wibisono said...

Tulisanmu pancet renyah Yos, koyok krupuk sing sektas digoreng. Ayo, April awake dewe nang Sumatera karo CB. Romantika lelaki boi!

Ayos Purwoaji said...

Sip ran! Kita harus menyusur jalan dan menulis, setidaknya sekali lagi, sebelum kelak menjadi tua dan mati :)

jeri kusumaa said...

Boncengan bertiga dongs... :3

fawaizzah said...

Yeah, saya sudah pesan bukunya!