Pages

9/2/13

Moment of Love

Halo apa kabarnya Lobrainers sekaliaaan! 

Maaf maaf maaf kami jarang update belakangan ini. Padahal kami ini ingin sekali posting macam-macam, bahkan beberapa artikel kontribusi juga masih menumpuk di desk kami. Ada yang menulis tentang Bali, ada yang menyumbang foto tentang Bromo dan Sumba, ada yang menulis opini tentang pariwisata dan lain sebagainya. Sekali lagi ampuni kami wahai Lobrainers sekalian yang budiman. 

Untuk itu, posting pertama di bulan September ini akan kami isi dengan highlight ringan saja ya. Berikut ini adalah beberapa berita yang pantas naik dalam postingan pembuka bulan: 

Pernikahan Kolega Hifatlobrain
Seperti kata Vina Panduwinata, "September ceria... September ceriaaa... milik kita berduaaa..." itu betul adanya. Bulan September sepertinya memiliki fengshui dan weton yang baik untuk memulai hidup baru. Maka kami ucapkan dua ucapan selamat kepada para kolega Hifatlobrain yang menikah dalam waktu lumayan dekat ini. 

 Mempelai wanita yang khilaf.

Yang pertama adalah Werdha Prasidha Wangsa. Dia adalah kameramen yang membantu beberapa produksi video Hifatlobrain. Baru saja ia menyelesaikan tugasnya sebagai kameraman di ekspedisi Ring Of Fire bagian Sumatera. Selama ekspedisi, tak bisa mungkir, hatinya justru jauh mengendap di Semarang. Tempat pacarnya berasal. Maka tanpa pikir panjang, setelah ekspedisi dilamarnya Ririn. Agar kehidupannya sebagai seorang pria makin lengkap dan enak. Ahiak. 

Syukron yang setelan wajahnya tak bisa santai.

Cerita lainnya datang dari kolega kami di Traveller Kaskus. Salah satu adminnya, Syukron, saat ini sudah tidak lajang lagi. Pada akhir Agustus lalu ia menikahi Wulan, pacarnya yang teramat pasrah dan setia. Jadi saat ini Syukron tidak bisa lagi #modus menyepik follower akun Traveller Kaskus yang berjumlah naujubilah itu. Dengan menikahnya Syukron ini semoga menjadi motivasi bagi pejalan lain bahwa mitos 'traveler dekil susah jodoh' itu sama sekali tidak valid.

Jadi selamat buat kalian berdua!  

Penghulu yang kebingungan.

Eh sebetulnya ada lagi kolega kami lainnya yang baru saja menikah, yaitu Vira Indohoy, tapi kejadiannya sudah agak lama sih. Hehehe. Meski begitu, doa kami juga terhatur untuk pasangan Vira dan Diyan. Semoga kalian bahagia sampai akhir! 

Masup Majalah Lagi

Bulan lalu Hifatlobrain masuk majalah Go Girl Magz edisi Agustus. Kami ditulis oleh seorang pembaca Go Girl bernama Savira Pratidina Lubis, dinominasikan bersama blog lainnya yang sangat keren seperti milik Agustinus Wibowo, Travel Junkie, Efenerr, dan Kinkin. Ya mereka adalah blog travel yang kami kagumi juga karena konsistensi dan konten yang bagus.

Err selain itu ada highlight apa lagi yaaa? Hmm kayaknya itu dulu deh masbro dan mbaksist sekalian. Semoga bulan September ini bisa kami penuhi lagi dengan postingan panjang penawar rindu! 

Salam hangat!
Hifatlobrain

5/29/13

The Almighty Travel Photographer

Photographer unknown

Setelah perayaan waisak kemarin, beredar foto-foto menarik yang menggambarkan hubungan antara fotografer dengan subyeknya. Dalam hal ini adalah fotografer wisata (turis) dan umat Buddha yang sedang melakukan ritual keagamaan (utamanya para biksu). Sebagian besar fotonya bernada nyinyir. Ada foto yang menggambarkan seorang biksu dikerubuti turis bak anak domba dikelilingi hyena. Secara artistik itu adalah foto yang menarik, karena warna jingga pakaian biksu menjadi empasis yang kuat secara visual. Namun sekaligus mengundang rasa miris karena imaji yang dihasilkan seakan-akan sang biksu adalah relik eksotis yang diperebutkan banyak orang.
  
Foto lainnya adalah karya Made Yudistira -kami unggah pada postingan berjudul Indeed sebelumnya- yang mengabadikan aksi seorang fotografer saat menyodorkan kamera di hadapan sekelompok umat Buddha yang sedang berdoa. Seakan tidak ada lagi batas etika yang membatasi keduanya. 

Tapi di antara berbagai foto yang beredar, tidak ada yang mampu mengalahkan foto di atas. Seorang cewek berbusana kasual menaiki stupa, mengambil posisi berhadapan dengan biksu yang sedang bersipuja di depannya. Sekilas saja, foto ini mengingatkan saya pada fragmen lukisan bertitel Perburuan karya Raden Saleh. Entah mengapa. Barangkali karena dua karya ini sama-sama menghadirkan elegi klasik tentang relasi kuasa dan penaklukan. Ada yang kuat ada yang lemah, ada yang menang ada yang kalah. Atau bisa jadi karena persamaan yang menarik bahwa hewan buas dan foto sama-sama didapat dengan cara berburu (hunting).

Perburuan sendiri mengandung unsur hasrat dan penaklukan. Berburu hewan eksotik seperti antelop misalnya, dikatakan sukses apabila si pemburu berhasil menembak jatuh hewan yang diinginkan, menyamak kulitnya untuk penghias interior, dan menyimpan kepala antelop sebagai bentuk pencapaian -atau pembuktian ras superior- yang dibanggakan. Pada taraf ideologis, kamera memiliki fungsi yang mirip dengan senapan buru. Kamera membantu penggunanya untuk membidik dan mengeksploitasi sebuah obyek yang dianggap eksotik. Mengabadikan imaji tentang obyek tersebut hingga menjadi sebuah realitas baru yang dapat dibentuk dan dikuasai.

Saya mencoba memahami turis cewek ini. Mengapa ia bersusah payah mengambil foto melalui sudut pandang tersebut? Apa gambar yang kira-kira ingin ia hasilkan?

Saya dapat membayangkan bahwa perayaan budaya seperti Waisak pasti ramai dan riuh karena dihadiri banyak orang. Hal ini merupakan petaka bagi setiap fotografer, karena kesempatan untuk menghasilkan gambar bersih tanpa ada gangguan elemen lain yang tidak dikehendaki menjadi sangat kecil. Apalagi dalam kondisi sesak berhimpit, tidak banyak sudut pandang yang bisa dieksplorasi. Pada kondisi seperti itu, maka seorang fotografer harus jeli memilih jenis lensa, sudut pandang pengambilan gambar, atau permainan komposisi melalui bentuk dan warna untuk menegaskan point of interest yang akan ditampilkan.

Nah, turis cewek dalam foto di atas tampaknya mengisolasi obyek dengan opsi pemilihan angle yang unik. Melalui sudut pandang mata burung seperti ini pengaturan komposisi lebih gampang dilakukan. Letak biksu dengan obyek lainnya pun mudah dipetakan secara visual.

Kreatifitas semacam ini tentu saja tidak salah dalam dunia fotografi. Apabila tujuannya untuk membuat foto yang indah secara estetika, maka usaha yang dilakukan turis cewek ini tidak bisa disalahkan. Secara teknik, ia benar. Tapi belum tentu benar bila dilihat dari kacamata yang lebih luas.

Dalam sebuah ritual keagamaan, ada tata krama dan kepatutan yang harus dipahami. Saya pernah mengikuti ritual kirab Makco yang diadakan oleh komunitas Konghucu Surabaya. Peristiwa ini sangat langka karena lebih dari setengah abad kirab ini tidak pernah dipraktekkan akibat represi rezim Orde Baru. Namun di tengah jalan upacara ini gagal. Iring-iringan patung Dewi Makco tak bisa masuk ke Klenteng Hok Tek Hian karena ada beberapa penonton mbeling yang melihat jalannya upacara dari lantai dua. Posisi manusia yang berada di atas patung dewa adalah pamali. Nah, pengetahuan seperti ini yang sebaiknya menjadi bekal, tidak hanya bagi fotografer perjalanan, tapi juga pelancong pada umumnya.          

Saya tidak mahir mengurai tanda-petanda pada sebuah foto melalui kajian semiotika yang canggih. Namun, foto di atas memiliki beberapa pola yang dengan mudah ditangkap sebagai simbol universal. Secara posisi, si cewek yang berada di atas melambangkan otoritas yang lebih kuat daripada biksu yang bersimpuh di bawah. Nilai berdasar oposisi biner seperti ini memang sungguh naif, seperti tangan kanan lebih baik dari tangan kiri, pria lebih kuat daripada wanita, atau posisi atas lebih mulia dari bawah. Namun dalam kajian visual tampaknya nilai seperti ini masih relevan digunakan sebagai salah satu pisau analisis.

Posisi yang idiosinkratis semacam ini menjadikan pembacaan hubungan turis-biksu dapat dikembangkan ke dalam benturan relasi baru yang lebih luas. Apalagi jika memperhatikan atribut yang melekat pada keduanya; wanita-pria, modern-tradisi, materialisme-idealisme, liberal-konservatif, profan-sakral, dan seterusnya.  

Gestur si cewek yang merentangkan pijakan -sebagai usaha menyetabilkan posisi kamera- dan biksu yang menangkupkan tangan untuk berdoa, sangat mungkin mewakili relasi imajiner antara yang berkuasa dan yang dikuasai. Coba letakkan seorang rentenir dan penghutang jatuh tempo pada posisi yang sama, maka Anda akan melihat relasi kuasa yang tak jauh berbeda. Bagi saya sendiri, secara semiotis foto ini istimewa. Begitu kaya simbol dan makna. Framingnya begitu ciamik. Rupanya sang fotografer mengamalkan ajaran eyang Henri Cartier-Bresson untuk menekan shutter di saat yang tepat (decisive moment).  

Eh, omong-omong kenapa saya malah membahas semiotika foto ya, hahaha! Sok tau deh saya. Maaf ya. Padahal kan bila menyangkut Waisak 2013 di sebagian blog lain justru membahas tentang etika fotografer; bagaimana mengembangkan empati terhadap obyek foto, bagaimana menempatkan diri pada sebuah destinasi, bagaimana tata krama seorang fotografer perjalanan agar penduduk lokal tak terintimidasi, bagaimana menghasilkan foto yang tidak saja indah tapi juga jujur dan memberikan nilai, and so forth...

Tentu saya sepakat bahwa pada prinsipnya seorang fotografer tidak saja dituntut untuk menghasilkan foto yang indah belaka, tapi juga harus baik. Baik yang saya maksud di sini terdapat dalam bingkai etika tentu saja. Etika sendiri memang subuah diskursus yang rumit. Tidak ada tolok ukur yang tepat saat membahas etika, karena nilai yang dipahami setiap manusia tentu saja berbeda-beda. Namun saya percaya bahwa pemahaman tentang etika dimulai dari pengetahuan. Oleh sebab itu, seorang fotografer perjalanan sepatutnya memperkaya diri dengan banyak membaca dan rajin melakukan riset sederhana. Terutama sebelum terjun ke lapangan.

Saya menuliskan catatan ini semata-mata karena kagum dengan hasil jepretan di atas. Sayangnya sejauh ini saya tidak mampu menemukan siapa fotografernya. Maka, tanpa bermaksud melanggar hak cipta, saya tulis saja fotografernya Unknown. Akan segera saya ubah bila sudah tahu siapa pembuatnya. Pun saya mendapatkan foto ini di internet dalam resolusi yang sangat rendah. Saya menduga foto di atas adalah hasil repro dari foto yang asli.

Maka kepada para sidang pembaca Lobrainers sekalian, bila ada yang sekiranya tahu atau mengenal fotografernya, silahkan kabari kami melalui kolom komentar di posting ini. Tabik! []

5/20/13

Eastern Blues



Teks dan foto oleh Prabhoto Satrio

Foto-foto ini merupakan bagian dari perjalanan saya di penghujung tahun 2011, saat berada di dataran timur Indonesia. Saya mengunjungi dan berkesempatan memotret kehidupan masyarakat Kupang, Alor, Rote Ndao, di sela-sela proyek dokumenter.

Di tengah kekeringan yang menjerit dari permukaan tanah tandus, jiwa masyarakat Indonesia timur yang hangat kepada pelancong seakan menjadi oase yang menyegarkan kalbu. Keramahan mereka menghembus di pucuk-pucuk pohon lontar, di permukaan gelas-gelas moke, di pantai dan lautan yang teduh, hingga di sela-sela tumpukkan kerakal yang disusun menjadi pagar-pagar. Keramahan yang menyebar di udara itu seperti sekam yang rapi menyimpan api. Dalam lubuk hati masyarakat Kupang, mereka masih memendam rasa sakit dan trauma akibat berpisahnya Indonesia dengan Timor-Timur di tahun 1999. Kejadian yang mengubah peri kehidupan dan memisahkan banyak keluarga tersebut berbuntut bara konflik yang tak kunjung usai seperti perebutan tanah, tempat tinggal, dan seterusnya.

Namun getir manisnya kehidupan masyarakat menjadi senandung romantika yang merasuk jiwa saat mata saya menjelajah luasnya saujana dari pelosok Kupang sampai pulau Ndana. Banyak kejutan yang tak sempat terbayangkan sebelumnya. Dan melalui kamera, saya merekam kejutan-kejutan selama perjalanan menjadi cerita lepas petualangan di bawah langit Indonesia Timur.

Selamat menikmati! 










5/17/13

Celebration of Mother Earth



Teks dan foto oleh Anggara Mahendra

Hujan, angin dan petir selalu menjadi pertanda datangnya Sasih Kapitu atau bulan ketujuh dalam sistem kalender Bali. Pada pertengahan bulan, masyarakat Desa Subaya, kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli mengadakan Usaba Sambah sebagai kelanjutan dari prosesi Usaba Desa yang dilakukan pada awal bulan. Sambah bermakna ayunan, dan untuk upacara ini dibuatkanlah sanggah ayunan setinggi hampir 20 meter di Pura Bale Agung. Upacara kali ini kebetulan bertepatan dengan hari raya Saraswati pada 12 Januari 2013.

Ketut Suar, Perbekel Desa Subaya menceritakan sejarahnya berdasarkan kisah para kamitua. Usaba Sambah berkaitan dengan persembahan kepada Ratu Ayu Mas Subandar yang beristana di Pura Pengubengan. Beliau merupakan putri bungsu dari Bhatara yang berstana di Pura Puncak Penulisan. Anak kesayangannya ini diberi tugas membagi-bagikan tanah pada masyarakat sekitar Puncak Penulisan. Tugas dilakukannya dengan baik, tapi Ratu Ayu Mas Subandar justru sedih karena tanah sisa pembagian yang diberikan untuknya berada di daerah berbatu dan sulit dijangkau, yaitu di Subaya.

Singkat cerita, untuk menghibur hati sang Ratu, masyarakat bergotong royong membuatkan sanggah berbentuk ayunan, dilengkapi dengan persembahan berupa hasil panen yang diletakkan di sisi kiri dan kanan ayunan. Diharapkan dengan ini, Ratu Ayu Mas Subandar bisa bahagia dan memberikan kesejahteraan, keselamatan, dan panen berlimpah pada masyarakat.

Bentuk sambah atau ayunan terbilang unik. Meski berukuran raksasa, tapi tidak ada satupun sambungannya menggunakan paku atau tali plastik. Semua dari bahan alam. Tempat dudukan ayunan dari kayu dadap tis yang dipercaya sebagai material yang disucikan. Kaki-kaki bambu setinggi 20 meteran berdiameter sekitar 13 centi didapat dari sekitar desa atau desa tetangga. Sedangkan bahan pengikat konstruksi bambu dan tali utama ayunan khusus menggunakan rotan titikan yang hanya bisa didapat di daerah sekitar sungai Samuh. Konon, ini merupakan tempat suci Ratu Sakti sebelum berstana di Pura Puseh yang ada di Desa Subaya. 


Tata cara pembuatan sambah diajarkan secara turun temurun tanpa petunjuk tertulis. Pengerjaan rata-rata membutuhkan waktu tiga sampai lima hari, tergantung berapa banyak penduduk desa yang datang membantu. Setiap warga mengerjakan tugasnya masing-masing. Ada yang kebagian tugas mendirikan tiang bambu, ada yang berkewajiban memasang hiasan, ada pula warga yang ditugaskan mencari bambu dan rotan.

Prosesi upacara dimulai sehari sebelum hari H, masyarakat berjalan dari desanya ke Pura Pengubengan membawa panji aneka warna, berbagai persembahan, sambil diiringi bebunyian musik gamelan. Defile agung ini berjalan menembus kabut tebal perbukitan Kintamani, ditemani hujan deras, angin kencang dan petir. Sesampainya di Pura, Jero Bayan sebagai pemimpin upacara meminta ijin menjemput Ratu Ayu Mas Subandar ke Pura Bale Agung. Seharusnya upacara ini dilakukan di Pura Pengubengan, tapi karena pelataran pura tidak cukup luas, maka dipindah ke Pura Bale Agung. Ritual berlangsung seharian penuh sampai hari malam dan berlangsung meriah dengan tari-tarian Baris khas Desa Subaya.




Puncak acara adalah hari yang panjang. Sejak pagi para warga terlihat sibuk menyiapkan uba rampe perlengkapan upacara, memilih hasil panen untuk diikat pada rotan di sisi kiri dan kanan ayunan dan membuat gebogan berisi buah-buahan dari hasil bumi.

Hujan turun hampir sepanjang hari. Kabut pun turun, membuat jarak pandang semakin terbatas. Cuaca seakan tidak lantas menyetop warga desa menunjukkan rasa baktinya. “Usaba Sambah memang harus hujan angin dan petir, karena itu ciri khas Ratu Bhatari” kata Budi, salah satu pecalang Desa Subaya. Sekitar jam tujuh malam kesibukan memuncak, para penari memakai kostum dan riasan sederhana, para sekaha gong mulai bekerja dengan instrumennya, pertanda upacara sudah dimulai. Tari-tarian sakral Baris Truna, Rejang Dewa, Baris Dadap, Jojor, Presi dan Tombak dibawakan dengan indah dibawah sambah berbentuk prisma.

Tiba saatnya Jero Kabayan membersihkan dudukan ayunan, dihiasnya dengan beberapa lembar daun pisang, beras dituangkan diatasnya beserta sarana upacara lainnya. Warga seperti berlomba–lomba mempersembahkan hasil panen mereka pada tali rotan ayunan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat karena sudah diberi hidup yang baik.

Bagus bagus kesunane, bungkil jahe wadah kisa. Dapin bagus terunane megae tuara bisa” artinya “Untuk apa berwajah tampan, kalau bekerja saja tidak bisa” ujar salah satu truni pada truna desa saat prosesi Cangkriman atau berbalas pantun. Tanah masih basah, hujan turun renyai-renyai, dan warga melanjutkan rangkaian usaba dengan memanjatkan doa-doa kepada Sang Pencipta, berharap upacara ini bisa diterima dengan baik dan memohon maaf untuk segala kekurangan yang ada. Desa Subaya tergolong dalam kategori Bali Mula atau Bali Aga yang dalam tata cara sembahyang tidak menggunakan Panca Sembah dan Tri Sandhya, melainkan langsung mengucapkan apa yang menjadi doa dan harapannya.



Rangkaian Usaba Sambah berlanjut. Waktu menunjukan jam 2 pagi. Banyak warga yang pulang ke rumah seusai sembahyang, beberapa masih tetap tinggal di Pura Bale Agung, menunggu Jero Kabayan dan Mangku Alit sebagai pemimpin spiritual menaiki ayunan pertama kali setelah selesai diupacarai. Setelahnya, warga pun bebas bisa menaiki ayunan sampai keesokan hari. Satu dua lelaki dewasa menaiki sambah dan mulai mengayun. Semakin lama semakin keras. Bahkan bila punya tenaga dan nyali yang cukup, sambah bisa diayun setinggi belasan meter. Wuuung wuuung. Di puncak, konstruksi bambu berbunyi kriyet-kriyet yang renyah. “Wih, rasanya seperti terbang, Bli” kata Budi. Dia juga bercerita bahwa pernah ada warga yang mengayun terlalu keras hingga terlempar belasan meter sampai ke luar Pura, tapi tidak ada satupun luka di tubuhnya. Lain halnya jika usai Usaba dan ada warga yang mencoba bermain di ayunan, bisa jadi cidera meski jatuh tidak terlalu keras.[]

5/11/13

Talkshow "Lets Travel and Document It"


Hifatlobrain turut berbahagia karena Explore Solo akan merayakan ulang tahunnya yang ke-3 pada akhir minggu nanti! Yeay! Selamat ulang tahun bro! 

Awalnya, pada tahun 2009 saya dipertemukan dengan Yusuf Solo dan Taufik Al Makmun melalui sebuah jejaring sosial untuk pejalan, Travelers For Travelers. Kebetulan dua orang ini adalah tipe anggota yang sangat aktif dan responsif di Forum TFT. Segala pertanyaan dan postingan dijawab dengan antusias. Hingga pada sebuah acara kopi darat, saya pun mengenal lebih jauh dua persona yang ternyata di kehidupan nyata juga sangat grapyak (mudah akrab). Sejak awal bertemu kami bisa langsung nyambung, ngobrol ngalor ngidul oke saja, padahal usia mereka terbilang cukup senior di atas saya. Lha bagaimana tidak senior, wong saat mereka sudah jadi aktivis kampus, saya masih mainan Tamiya dan tamagochi. Yusuf dan Taufiq adalah generasi Emilia Contessa, sedang saya generasi Britney Spears. Tapi tak apa, usia yang terpaut lumayan tak memadamkan gairah kami untuk saling nggojloki dan ngebully satu sama lain. Kami pun bisa mendadak kompak saat harus ngecroki Farida Arum. Siapakah Farida? Biarlah itu tetap menjadi misteri ilahi...

Pada tahun 2010, duet maut Yusuf dan Taufiq mengembangkan hobi berpelesir menjadi sebuah bisnis. Explore Solo pun lahir di bulan Mei. Saat itu paket perjalanan yang ditawarkan cuma satu, yaitu trip ke Karimunjawa. Untungnya waktu itu Karimunjawa termasuk tujuan wisata yang seksi, sehingga paket-paket yang mereka tawarkan selalu ludes dipesan pelanggan.

Melihat peluang terbuka semakin lebar, akhirnya Explore Solo menggandeng dua orang local chic dan seorang local dude untuk diajak bergabung: Feri seorang gadis mungil pemuja black metal, Imeh gadis berkulit eksotis asli Purwodadi, dan Kris seorang anak lanang yang sangat berbakti pada orang tua. Formasi awal inilah yang menjadi saksi hidup jatuh bangunnya Explore Solo di masa awal.  

Meski baru seumur jagung, tapi Explore Solo mudah sekali untuk terlihat menonjol. Selain karena pelayanan yang prima dan rajin menambah jumlah destinasi, mereka juga tak alfa mengedukasi peserta tur untuk menjadi pejalan yang berwawasan. Yusuf sendiri mengambil kuliah pascasarjana di bidang pariwisata. Sehingga ia paham betul bagaimana seharusnya memenej wisatawan dan dampak industri turisme terhadap sebuah destinasi.

Explore Solo juga terbukti mampu berinovasi dengan mengembangkan berbagai produk sampingan. Diantaranya adalah pembuatan peta, booklet, dan ebook tentang Karimunjawa; menyelenggarakan kontes penulisan perjalanan; turut aktif dalam forum pelaku pariwisata di Kota Solo; hingga yang terbaru adalah pembuatan playing card bertema pariwisata Indonesia. Daya inovasi seperti ini yang menjadikan Explore Solo mencapai tahap makrifat di saat travel agent lain masih bergulat dengan urusan syariat.    

Hingga hari ini hubungan kami masih sangat baik dan saling mendukung satu sama lain. Kalau anak Hifat ke Solo, pasti numpang nginep di basecamp Explore Solo. Kalau anak Explore Solo bertandang ke Surabaya, pasti mereka minta senthong anak Hifat. Hubungan kami berjalan cukup mesra. Bagaikan smartphone dengan chargernya.    

Nah persahabatan jugalah yang membuat Paguyuban Lobrainers harus datang pada saat ulang tahun Explore Solo nanti. Saya bersama Vira Indohoy akan membawakan sebuah talkshow tentang pendokumentasian perjalanan. Sedangkan Hafidz Novalsyah, mantan fotografer National Geographic Indonesia, akan membagi pengetahuan tentang travel photography

Maka bagi siapa saja Lobrainers yang memiliki waktu luang, kami persilakan untuk datang dan bergabung! 

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi akun twitter @exploresolo atau email ke info@exploresolo.com 

5/9/13

The City of Failure




Teks dan foto Tuhu Nugraha

Setiap perjalanan pasti punya cerita, bukan hanya tentang alam yang indah, budaya yang eksotis, atau kuliner yang maknyus untuk dipamerkan. Tapi perjalanan juga kadang membuka wawasan baru, perenungan, sekaligus membuat miris. Termasuk perjalanan saya tahun lalu ke Festival Erau di Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara yang lebih tersohor sebagai kabupaten terkaya di Indonesia. Saya sendiri sudah sejak lama penasaran, ingin tahu seperti apa sebenarnya wajah kota ini? 

Tekad saya semakin bulat untuk berkunjung ke Tenggarong setelah membaca iklan Festival Erau di sebuah majalah penerbangan.Saya pun segera mendaftar tur Gelar Nusantara, sebuah komunitas pecinta budaya, yang membuka paket perjalanan ke Festival Erau. Saya terpaksa mengambil paket ini karena informasi tentang Festival Erau dan Tenggarong sangat minim di internet. Bagaimana transportasinya? Nginep dimana? Dan lain sebagainya tidak tersedia dengan jelas. Tapi dalam tulisan ini saya lebih tertarik berkisah tentang Tenggarong, dibanding Erau. 

Sebelum berangkat, Tenggarong membangkitkan fantasi tentang sebuah kota modern yang dibangun dari kekayaan alam melimpah. Mulanya, Tenggarong hanya sebuah kampung kecil bernama Tepian Pandan yang berkembang di sempadan Sungai Mahakam. Di sinilah komunitas kecil Dayak Benuaq membangun pemukiman berupa rumah-rumah kayu yang dibangun di atas air. Bentuk huniannya menyerupai rumah betang, namun dengan ornamen yang lebih sederhana. Pada hutan-hutannya terdapat bekantan dan satwa asiatik lain khas hutan Borneo.

Tenggarong tempo dulu versi litografi karya C.F. Kelley, koleksi Tropenmuseum. 

Pada tahun 1782, Raja Kutai Kartanegara ke-15 memindahkan ibukota kerajaan dari Pemarangan ke Tepian Pandan yang lebih jauh masuk ke hulu. Namanya pun diubah menjadi Tangga Arung yang berarti "rumah raja", meskipun belakangan orang lebih suka melafalkannya sebagai Tenggarong saja. Hingga saat ini jejak kerajaan Kutai masih dapat ditemui di Tenggarong. Seperti makam raja-raja hingga berbagai koleksi benda pusaka yang tersimpan di Museum Mulawarman. Lembuswana, hewan mitos berupa singa bersayap dan berbelalai gajah, yang menjadi simbol Tenggarong juga merupakan warisan budaya dari Kerajaan Kutai.

Dalam beberapa dekade terakhir, batu bara mengubah Tenggarong menjadi kota modern. Mineral yang terbentuk selama jutaan tahun ini bisa ditemui hanya dengan menggali tanah sedalam lima meter saja. Kalimantan memang memiliki tanah yang kaya! Dan kekayaan alam inilah yang menyulap Tenggarong menjadi kota modern. Sama seperti Dubai yang maju karena minyak bumi. Saya berpikir pasti kota Tenggarong keren dan festivalnya dikemas menarik! Saya begitu bersemangat.

Ternyata dugaan saya meleset total. Perjalanan memasuki Tenggarong disambut dengan jalanan aspal yang rusak parah dan genangan air sebesar kolam lele. Saya mulai merasa kecewa, inikah jalan menuju kabupaten terkaya? Mengapa jalur transportasinya begini menyedihkan?

Ketika masuk ke tengah kota, gedung-gedung mewah memang bertebaran. Kantor Bupati dan legislatifnya begitu wah. Ketakjuban saya bertambah saat melihat kereta gantung mewah yang menghubungkan dua sisi kota dan stadion olah raga di seberang Pulau Kumala yang sejak tahun 2000 dibangun sebagai kawasan wisata. Tapi tunggu dulu sepertinya fasilitas publik ini sia-sia. Menurut penduduk sekitar, kereta gantungnya sudah lama terbengkalai, jembatan Kukar yang gagah menyerupai Ampera pun ambruk dua tahun lalu dan hanya menyisakan tiang pancang saja.

Bisa ditebak, korupsi adalah biang keladinya. Kereta gantung usang, jalanan berlubang, jembatan yang ambruk, dan stadion mangkrak jadi saksi keserakahan, nafsu pamer dari sebuah kota kecil yang mendadak kaya. Dari empat propinsi di Kalimantan yang pernah saya kunjungi, jalanan Tenggarong adalah yang paling mengenaskan. Padahal sepanjang sungai Mahakam conveyor belt tak henti memuntahkan batu bara ke tongkang-tongkang raksasa yang haus uang. Lebih miris dan ironis, walaupun jalanan jelek dan tergenang lumpur sana sini, di tengah kota Tenggarong ada dealer Piaggio.

Saya geleng-geleng, luar biasa memang masyarakat Tenggarong. Konsumtifnya sudah di luar akal. Masyarakat Tenggarong memang hidup makmur, tapi tidak semuanya. Lihatlah juga penduduk yang tinggal di pinggiran sungai tetap hidup kumuh, memandangi jalanan becek, dan berlumpur. Sementara di bagian lain ada yang hip hip hura mejeng naik Vespa berkeliling kota yang jalannya tidak mulus-mulus amat.

Perjalanan menuju Tenggarong, harus mendarat via Balikpapan. Inilah kesempatan Anda untuk membaca karakter antara dua kota ini. Ibarat manusia, Balikpapan adalah orang kaya lama dengan tampilan elegan. Sebaliknya Tenggarong adalah gadis muda bergincu tebal yang haus akan pembuktian berbau Soekarnoesque. Obsesinya sangat mirip dengan politik mercusuar era Soekarno yang memoles Jakarta dengan membangun Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia, Monas, dan lain-lain.

Tenggarong oh Tenggarong. Inilah cermin sisi kelam otonomi daerah, dimana komprador politik berkolaborasi cantik dengan kapitalis besar untuk mengeruk kekayaan alam demi kepentingan segelintir orang. Bila jenis kota seperti itu yang Anda cari, maka Tenggarong adalah destinasi yang paling tepat.

Dulu ketika belajar Hubungan Internasional di UNPAD, saya pikir kondisi seperti itu hanya dongeng masa lalu di negeri-negeri yang jauh. Ternyata saya dengan amat berat harus mengakui, itu ada dan begitu dekat...[]

5/2/13

Kembali Dari Perlawatan Ke Europa


Djamaluddin Adi Negoro adalah pelopor jurnalisme modern di Indonesia. Namun bisa jadi ia juga penulis perjalanan modern pertama yang dimiliki Indonesia. Hingga riset kami hari ini, belum ada karya lain yang lebih awal dibandingkan reportase perjalanan ke Eropa yang dilakukan Adi Negoro pada pertengahan tahun 1926. Saat itu ia berumur 22 tahun dan merantau ke Benua Biru untuk mendalami ilmu jurnalistik. 

Dalam laporan perjalanannya, Adi Negoro tidak hanya menulis laporan pandangan mata belaka, tapi juga mengaitkan pengalamannya dengan sejarah dunia dan membandingkannya dengan keadaan di tanah air. Ia berangkat naik kapal Tambora milik Rotterdamse Lloyd, Belanda, dari Pelabuhan Tanjung Priok. Dari sana, kapalnya sempat mampir singgah ke Singapura, Medan, Sabang, Kolombo, Aden, Port Said, hingga Marseille, Perancis. Tujuan Adi Negoro sebetulnya Jerman. Namun setiba di Marseille, dia lebih memilih jalur darat untuk melintas Eropa. 

Perlu diingat bahwa saat itu kondisi ekonomi dan sosial belum semakmur hari ini. Rakyat masih susah cari makan, tiwul dan gathot adalah panganan populer bagi wong cilik, Eropa baru saja bangkit dari kekacauan yang  tersisa akibat Perang Dunia I, dan bahkan pada masa itu imajinasi tentang Indonesia pun masih lumayan abstrak. Pemerintah kolonial memberlakukan peraturan yang sangat ketat bagi pribumi yang ingin ke luar negeri. Hanya  orang-orang tertentu saja seperti cendekiawan, anak ningrat, dan peziarah haji yang mendapatkan izin istimewa. Lha wong ngurus makan sehari-hari saja susah, apalagi ke pelesir ke luar negeri, alamakjang! Sungguh tak terpikirkan.  

Maka melalui tulisan-tulisannya yang terbit berkala, Adinegoro turut membuka wawasan rakyat Indonesia pada masa itu. Tulisannya yang ringan begitu digemari dan ditunggu-tunggu setiap terbitannya di harian Pandji Pustaka. 

Nah, beberapa waktu yang lalu kami mengunggah salah satu arsip tulisan perjalanan Adi Negoro. Booklet setebal 89 halaman ini berjudul "Kembali Dari Perlawatan Ke Europa" yang menjadi cikal bakal buku "Melawat Ke Barat" sebanyak tiga jilid. Silahkan dibaca, silahkan diunduh! Semoga di kemudian hari kami bisa menghadirkan arsip ketiga bukunya secara lengkap, sembari kami terus menambah koleksi sebagai bahan riset panjang kami. 

Selamat hari pendidikan nasional! 

Salam,
Hifatlobrain  

4/27/13

Tan Malaka Journey


Klik untuk memperbesar

Beberapa waktu lalu, saya melihat peta di dinding basecamp Tikungan, sebuah kelompok belajar paling syedap di Jember. Peta infografis perjalanan buatan TEMPO ini lantas mengingatkan saya pada sebuah buku berjudul Pacar Merah Indonesia karangan Matu Mona, nama alias dari Hasbullah Parinduri. Roman yang ditulis dalam dua jilid ini menceritakan petualangan Tan Malaka dalam menghindari kejaran polisi rahasia antarnegara. Saat itu, Tan yang merupakan wakil ketua Komintern dianggap terlalu berbahaya dan berpotensi menyebarkan virus komunisme di Asia Tenggara. 

Tapi bukan Tan Malaka namanya jika tak licin dan menjengkelkan seperti tiang panjat pinang. Meski dicekal di berbagai pelabuhan dan perbatasan, namun ia selalu berhasil meloloskan diri melalui berbagai siasat dan penyamaran. Di Thailand, ia dikenal sebagai Vichitra, di Singapura namanya berubah jadi Hasan Ghozali, di Filipina ia mencomot Alisio Riviera sebagai identitas samaran. Lukman Simbah selaku dewan syura Hifatlobrain berpendapat bahwa kisah pelarian Tan Malaka ini, "lebih epik dari serial Bourne Identity" dan yang lebih penting lagi adalah "petualangan asmaranya membuat Soekarno tampak cupu..." Harry A. Poeze, seorang Indonesianis yang mengkaji sepak terjang perjuangan Tan selama tiga dasawarsa, menyebut pria berdarah Minangkabau ini sebagai Che Guevara-nya Asia.

Perjalanan yang dilakukan Tan Malaka memang bukan pelancongan hura-hura, melainkan sebuah pengembaraan romantik yang hanya terjadi di alam revolusi saja. Tan Malaka menembus jarak ribuan kilometer untuk memperjuangan kemerdekaan Hindia Belanda dari tangan kolonial. Melalui perjalanan pula Tan Malaka mendapatkan sudut pandang keindonesiaan dari luar. Kekayaan perspektif inilah yang membantunya berimajinasi tentang sebuah komunitas besar cikal bakal sebuah bangsa. Gagasan yang kemudian berkembang menjadi sebuah karya penting berjudul Naar de Republiek Indonesia. Bukan sekian juta keliling dunia. [] 

Between Escapism and Lifestyle


Salah satu foto dalam serial High Hopes karya Wimo Ambala Bayang

Dalam sebuah acara bedah buku di Surabaya, Agustinus Wibowo mendapat sebuah pertanyaan menarik yang datang dari seorang ibu muda berjilbab: Apakah petualangannya merupakan sebuah pelarian?

Agustinus Wibowo pun bercerita panjang lebar tentang motivasi yang mengawali perjalanannya. Ia tidak menyangkal bahwa perjalanan yang dilakoninya bermula dari sebuah pelarian. "Saya jenuh dengan kehidupan yang hanya berada di depan komputer saja..." kata Agustinus. 

Saya menduga, setiap pelancongan memang dimulai dari sebuah pelarian. Silahkan tanya pada kaum weekender di Jakarta yang memiliki dua slogan mahapenting yaitu, "I hate Monday" dan  "thanks God it's Friday!". Sepertinya hanya ada dua hari itu saja di dalam setiap benak para pekerja kantoran. Hari kerja lainnya adalah hari biasa yang penuh dengan kemonotonan dalam ritme kerja ala nine-to-five. Dan akhir pekan adalah berkah yang selalu menimbulkan pertanyaan penuh gairah: Mau kemana weekend ini, Sist?

Berbeda dengan pegawai kantoran, Hippie berada pada kutub yang lebih ekstrim. Mereka melakukan perjalanan karena muak dengan kehidupan materialistik yang dianggap membelenggu pemikiran manusia modern. Hal ini tergambar jelas dalam kisah hidup Christopher Johnson McCandless dalam film Into The Wild. Perjalanan adalah pelarian yang ideal dalam menghindari kehidupan berwajah dua yang serba palsu. 

Eskapisme dari kesemrawutan sekaligus kehampaan kehidupan sosial menuntun orang untuk keluar darinya dan melakukan perjalanan ke latar-latar sosial lainnya. Disini perjalanan bukan sekedar hobi yang dilakukan pada waktu luang. Perjalanan adalah keperluan yang tidak terlalu mendesak tapi berarti penting untuk dilakukan. Dalam proses escaping tersebut, masyarakat sekaligus melakukan pencarian terhadap jati diri, makna kehidupan, atau menjalani rite de passage dalam hidupnya. (Sarani Pitor Pakan, 2013)

Tapi apa benar setiap perjalanan selalu dimulai dari perasaan yang depresif dan reflektif seperti ini? Bagaimana dengan para social climber yang memperbanyak stempel di paspor sebagai pendongkrak status sosial? Atau adakah tempat bagi pejalan yang memanggul ransel demi sebuah legitimasi seperti terserah-karepmu-pokmen-aku-ki-backpacker misalnya?

Maka silahkan baca makalah menarik yang ditulis oleh Sarani Pitor Pakan, seorang mahasiswa FISIP UI, yang mendedah tren perjalanan di Indonesia saat ini melalui sudut pandang sosiologi. Dan saya berharap makalah ini bisa memicu riset lainnya mengenai perjalanan di Indonesia!

Salam,
Hifatlobrain 

4/19/13

[RIP] Pak Heru


Tadi pagi, Nuran memberikan kabar yang mengejutkan bahwa Pak Heru dari Bima meninggal dunia. Siapa itu Pak Heru, barangkali tidak ada orang yang tahu. Tapi dialah penolong saya dan Nuran saat melakukan perjalanan panjang menuju Flores pada tahun 2009 yang lalu. Kadangkala kenangan perjalanan atas sebuah tempat tidak muncul dari keindahan panorama belaka, namun justru meruap dari keramahan penduduknya. Tanpa Pak Heru, kota Bima tidaklah tampak istimewa di mata kami. Pak Heru justru menjadi jangkar penambat ingatan dan janji untuk kembali ke Bima.

Pak Heru bukanlah siapa-siapa. Pak Heru adalah personifikasi siapa saja yang mau membukakan pintu bagi para pelancong kemalaman dan ingin menumpang mandi. Dengan segala keramahan khas penduduk lokal Pak Heru bercerita kepada kami tentang kisah-kisah kuno. Tentang nostalgia masa muda. Tentang perasaan menjadi jagoan. Tentang emas dan kapal-kapal yang besar. Tentang pengelanaan dan pertaruhan di meja judi... Tapi manusia tetaplah manusia, Pak Tua yang matanya masih penuh dengan debur ombak dan senyum segar ala lunas kapal, akhirnya harus pulang juga. Sampai jumpa Pak Tua! 

Silakan baca juga obituari ala Nuran Wibisono. []    

4/14/13

Randomly Updates

Halo masbro dan mbaksis sekalian apa kabar di hari Minggu yang cerah ini? Stay cool, stay pekok ya! Okesip kami akan memberikan beberapa kabar acak yang datang dari balik desk redaksi Hifatlobrain.


Entah sadar atau khilaf, ternyata majalah JalanJalan sudi memuat profil Hifatlobrain pada edisi April 2013. Apalagi ditulis lengkap dengan gelar Travel Institute yang sejujurnya abal-abal, wuah opo ora hebat itu namanya! Artikel ini membuat harkat dan martabat kami sedikit terangkat. Lumayan lah diakui sebagai institut di majalah wisata yang kelasnya sungguh bonafide. Foto-fotonya pun menampilkan beberapa kegiatan saat kami memproduksi dokumenter pendek Gendang Beleq dan ketika melakukan love trip bersama kerabat Indohoy dan Explore Solo yang kami kasihi. Walaupun sebenarnya dalam artikel terdapat kerancuan karena Hifatlobrain disebut sebagai "komunitas", padahal format yang lebih tepat adalah "paguyuban". Paguyuban Lobrainers. Kece-kece gini kami ini cinta damai lho dab! Tapi ndak papa nevermind lah, tetap thank you spasiba mbak Sari Widiati yang sudah mau teleconference bersama kami! 


Beberapa waktu yang lalu, kira-kira di akhir bulan Maret, kami menerima kunjungan dari kawan-kawan Traveller Kaskus tercinta. Patut diketahui bahwa kedatangan mereka ke Surabaya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk meningkatkan amal jariyah dan ilmu kanuragan yang ditimba langsung dari padepokan Ki Lukman Simbah. Melalui tuntunan Sang Guru, anak-anak Traveller Kaskus juga sempat menghadiri acara Maiyahan, atau pengajiannya Cak Nun. Syukur alhamdulillah mereka akhirnya tobat juga. Kami sempat membahas tentang perkembangan tren perjalanan dan hubungannya dengan media sosial yang berkembang begitu pesat hari ini. Semoga dari kunjungan selama beberapa hari ini, ada inspirasi, konspirasi dan kolaborasi yang bisa digarap di masa yang akan datang. 


Video dokumenter singkat kami tentang kesenian Gendang Beleq ternyata kok ya dapat hoki di Malang Film Festival. Yeah! Sebetulnya video ini diproduksi pada pertengahan tahun 2012 dengan menggandeng Lombok Vacation sebagai partner. Saat itu kami membuat dokumenter tentang musik karena kami percaya bahwa musik adalah salah satu elemen penting dalam perjalanan. Nah melalui video pendek ini kami juga ingin menimbulkan optimisme bahwa masih ada anak-anak muda yang turut berperan untuk melanggengkan seni tradisi yang sudah berjalan selama ratusan tahun. Deri Elfiyan sebagai sutradara sendiri yang hadir saat awarding night. Semoga karya ini bisa menjadi standar baru bagi Hifatlobrain dalam berkarya.

Selanjutnya, hmm ini yang paling gress! Hifatlobrain mencoba membuat webseries sodara-sodara hehehe. Konten video memang menjadi bagian yang tak terelakkan hari ini. Tren tersebut menimbulkan gelombang baru para kreator video dengan perkembangan yang sungguh signifikan! Bila sebelumnya kami fokus bermain-main dengan gaya Vimean (para pengguna Vimeo), maka kali ini kami mencoba berkarya ala Youtubers yang sedang marak membuat webseries. Webseries sendiri adalah program rutin yang tayang di Youtube seperti kanal Vice yang sering menyajikan dokumenter seru atau kanal Layaria yang dikelola Dennis Adhiswara.

Kanal Hifatlobrain sendiri ingin fokus pada program jalan-jalan dan makan-makan. Nah untuk itu kami menggandeng kawan-kawan dari Hap-Hap.com untuk membuat webseries tentang street food berjudul Happy Belly on The Street. Presenternya adalah Deasy Esterina, gadis Ambarawa yang memiliki logat medhok notok jedhog! Silahkan saksikan videonya (kami baru aplot 4) untuk mengikuti perjalanan kami mencobai berbagai macam kuliner jalanan yang ada di Surabaya. 

4/10/13

Self-Image

Karya perupa Filipina, Yee I Lann dalam serial fotografi yang berjudul The Sulu Stories, mengungkapkan saling silang pengaruh yang membentuk identitas sebuah bangsa di Asia Tenggara. 

Bagaimana merumuskan sebuah komunitas? Tentu cara yang terbaik adalah melalui persamaan-persamaan. Sebuah komunitas barang antik muncul karena anggotanya adalah sesama kolektor barang antik. Geng motor ada, karena anggotanya memiliki motor bermerek sama. Persamaan mempermudah unifikasi, serta menyatukan perbedaan dalam sebuah benang merah identitas. Membedakan antara kami dan liyan.

Asia tenggara adalah sebuah komunitas besar yang dibentuk oleh catatan perjalanan para pengelana di masa lalu. Sebelumnya Asia Tenggara adalah sebuah terra incognita bagi pusat peradaban Barat. Namun segera menjadi beken akibat berbagai pembuatan peta dan laporan muhibah yang ditulis. Tidak kurang dari ratusan buku dan teks yang mendeskripsikan Asia Tenggara sebagai sebuah kawasan eksotis, kaya akan rempah, memiliki gunung-gunung api yang elok dan menawarkan imaji paling liar bagi para petualang.

Pada awalnya tentu saja Asia Tenggara adalah satu, tidak dipisahkan oleh batas-batas negara seperti saat ini. Salah satu buktinya adalah pola persebaran Suku Bajo yang memanjang dari sebelah barat Micronesia hingga selatan lepas pantai Myanmar, dari Samudera Hindia hingga kepulauan Filipina. Dengan menggunakan kapal kayu bercadik, suku Bajo menjelajahi pulau-pulau di Asia Tenggara dan menjadi penghubung komunitas besar ini selama berabad-abad. Bisa jadi suku Bajo adalah prototip yang paling awal tentang imajinasi komunitas ASEAN saat ini.


Sayangnya suku Bajo tidak menulis. Mereka tidak memiliki gua-gua untuk dilukis, tidak memiliki peninggalan berupa relief pada candi-candi yang indah, mereka pun jarang menyentuh lontar dan alat tulis. Kisah mereka menggema justru melalui budaya lisan dan nyanyian. Warisan itu pun tidak bisa bertahan dari gempuran perubahan karena memang sifat ingatan yang tidak tahan lama. 

Justru laporan paling lengkap tentang Asia Tenggara datang dari para sarjana Barat. Mereka menulis dan mencatat dengan sangat detail meliputi segala aspek kehidupan. Ada yang menulis tentang struktur geologi, berkas arkeologi, sistem pemerintahan masyarakat adat, bentuk rumah tradisional, upacara-upacara, senjata, jenis flora, berbagai macam fauna, dan sebagainya. Teks-teks ini yang kemudian diolah dan dirujuk sebagai salah satu sumber identitas yang membentuk Asia Tenggara. Yaitu identitas yang berpangkal pada eksotika impresionistik.

Menurut sejarawan Denys Lombard, sebagian besar buku yang dihasilkan penulis Barat saat itu memang berkelok di antara dua kutub yang meninabobokan: beku dalam keindahan warna-warni atau tempat mimpi romantis yang penuh nostalgia. Bahkan perasaan itu masih lestari dimana mitos tentang eksotika Asia Tenggara paling mutakhir dibangun melalui film (seperti The Beach-nya Danny Boyle) dan berbagai macam travel guide.

Di sinilah kekuatan travel blogger. Mereka, anak-anak muda dengan perangkat digital dan selalu terhubung pada komunitas global melalui sambungan internet 24/7 adalah sepasukan jurnalis partikelir paling ampuh saat ini. Tanpa dibayar pun, mereka siap berbagi dan memberitakan apa saja yang mereka temui. Sama seperti suku Bajo, anak-anak muda ini tak terkungkung oleh batas negara. Mereka saling terhubung dan bertukar informasi dengan cara yang tak pernah terpikirkan oleh pejalan masa lalu.

Melalui medium digital seperti blog, pejalan lokal pun berkesempatan untuk menuliskan Asia Tenggara menurut sudut pandangnya sendiri. Mereka mampu memproduksi pengetahuan tentang daerahnya sendiri, lantas menyebarkannya. Ternyata sangat menarik saat membaca apa yang dilihat orang Indonesia terhadap tanah airnya sendiri. Karena mereka tidak hanya melihat dan melaporkannya secara observatif, tetapi juga bisa memberi nilai dan harapan. Konsep seperti ini menurut fotografer senior Ed Zoelverdi adalah,"Memotret Indonesia melalui penglihatan orang Indonesia."

Begitu juga pandangan blogger lain di Asia Tenggara tentang negerinya sendiri atau negara tetangga. Misalnya saja travel blogger Malaysia menulis tentang Myanmar, atau turis Bangkok yang mengunjungi Bali. Pasti mereka memiliki perspektif yang berbeda dibanding para penulis Barat yang menganggap penduduk Asia Tenggara sebagai orang asing, liyan. Sehingga tulisan yang mereka hasilkan pun berjarak.  

Melalui mata dan tangan para travel blogger inilah konstruksi tentang komunitas ASEAN perlahan dibangun. Bukan lagi melalui sudut pandang orang luar, tapi dari dalam diri kita sendiri. []

*Ditulis sebagai prasyarat mengikuti ASEAN Blogger Festival 2013

Bincang Fiksi Bersama Yusi Avianto Pareanom


Bagi saya, catatan perjalanan adalah sebuah bentuk tulisan hibrida yang lahir dari persilangan antara jurnalisme dan sastra. Sudah sepantasnya catatan perjalanan mengandung sebuah kebenaran, karena itu ia menjadi penuntun dan inspirasi para pelancong sesudahnya untuk datang berkunjung. Atas nama kebenaran, sebuah catatan perjalanan layaknya ditulis dalam kaidah jurnalistik yang ketat. Penulisan nama dan tempat misalnya, ditulis sepresisi mungkin agar tak membuat orang lain tersesat. Hal ini terbukti dengan catatan para pejalan masa lalu seperti milik Ma Huan atau Raffles yang masih terasa aktual hingga hari ini.

Namun, catatan perjalanan pun harus enak dibaca. Tulisannya boleh meliuk-liuk sesuai suasana hati si penulis. Itu mengapa pendekatan sastra sangat diperlukan dalam menulis catatan perjalanan, terutama untuk mendeskripsikan keindahan sebuah tempat atau keramahan para penduduk lokal. 

Saya pun mengamati, penulis perjalanan jempolan biasanya juga seorang sastrawan ulung. Contohnya banyak. Mulai dari Paul Theroux, V.S. Naipaul, Salman Rushdie, Mochtar Lubis hingga Sigit Susanto, pengarang trilogi "Menyusuri Lorong-Lorong Dunia" yang bergaya literary travel. Bahkan Bondan Winarno yang maknyus itu juga seorang wartawan investigatif dan rajin menulis cerita pendek di berbagai surat kabar. Sebagai pengantar untuk buku Jalansutra, kumpulan kolom perjalanannya, ia menulis: 

"Banyak orang bertanya, kenapa sudah beberapa tahun ini saya tidak menulis cerita pendek lagi? Salah satu sebabnya adalah karena saya tidak pernah diakui sebagai penulis cerpen. Padahal sudah puluhan cerpen saya dimuat Kompas, dan media-media terkemuka lainnya. Beberapa juga memenangkan sayembara. Tapi dalam ulasan-ulasan tentang cerpen Indonesia, saya tidak pernah disebut sebagai salah satu cerpenis."

Hahaha. Pak Bondan akhirnya lebih enjoy menulis catatan perjalanan karena ngambek tidak dianggap cerpenis. Tapi dalam menulis catatan perjalanan pun nuansa sastra itu tetap saja muncul dan justru memperkuat tulisan-tulisan Pak Bondan. 

Nah tipe penulis yang lengkap ini juga bisa ditemui dalam persona Yusi Avianto Pareanom. Ia paham bagaimana mengolah fakta menjadi berita, ia pun lihai dalam merangkai plot menjadi sebuah cerita. Kebetulan mas Yusi akan datang ke Surabaya. Maka atas dasar inisiatif mbak Ary Amhir dan kebaikan hati mbak Kathleen Azali akhirnya direncanakan sebuah acara sharing sederhana dengan penulis kumpulan cerpen "Rumah Kopi Singa Tertawa" ini. 

Acaranya gratis, digelar lesehan plus suguhan kopi yang -insyaallah- disediakan free flow. Materinya pun tidak melulu tentang fiksi, karena Anda pun berkesempatan menanyai mas Yusi perihal penulisan perjalanan. Hifatlobrain sendiri sempat mengarsipkan catatan perjalanan milik mas Yusi yang terbit di Garuda In-Flight Magazine dengan judul "Bertamu ke Buyat". Anda bisa membaca dan mengunduhnya melalui box di bawah ini. 

Kami tunggu kehadiran Anda!


4/5/13

The Nature Connection



Artikel panjang ini disumbangkan oleh Ary Amhir dengan judul asli "Danau-Danau di Bali; Antara Mistisme, Komersialisasi, dan Ekologi". Hasil pengamatan yang menarik. Selamat membaca! 

Pagi itu sudah bulat tekadku hendak menyusuri tiga danau dengan berjalan kaki. Pesona Bali ala brosur wisata yang dipamerkan agen-agen perjalanan kerap  membuatku mual. Keelokan tempat di pulau dewata ini jadi mirip barang dagangan yang hanya bisa dinikmati setelah merogoh kocek dalam-dalam. Separah itukah komersialisasi obyek wisata di Bali? Aku bertanya-tanya.

Bertahun sudah aku mengenal Bali. Belasan kali kuluangkan waktu buat menikmati panorama dan budaya setempat. Berbagai tempat sudah kujelajah. Mulai pantai-pantai sepanjang Kuta, Sanur, Tulamben, juga Ubud, Candi Dasa, Klungkung, Karangasem, Kintamani, hingga Bedugul. Satu yang kerap kurasakan ketika tinggal di Bali, sulit merasakan nuansa lokal di tempat-tempat yang sangat komersil. Sungguh berbeda jika aku mengunjungi Pariaman atau Maluku. Banyak kawanku merasa takut ke Bali karena menganggapnya ‘mahal’. Padahal kan tak selalu demikian. 

Kali ini kucoba menikmati Bali dengan cara lain. Dengan berjalan kaki. Siapa tahu kubisa lebih dekat menikmati eksotisme, magis, dan spiritualitas penduduknya. Bukankah dengan berjalan kaki aku bisa mengamati ‘semua’? 

Kawanku, Bli Tum, menawarkan diri untuk mengantarkanku sampai  batas atas Danau Tamblingan. Di sana ada pertigaan, yang menjadi batas antara Desa Munduk dan Gobleg. “Setelah itu jalan relatif datar, jadi enak ditempuh dengan berjalan kaki,” sarannya bijak. 

Kebaikan hati Bli Tum tak kusia-siakan. Kutahu jalan beraspal sepanjang Banjar Beji tempatku menginap di rumah Bli Tu hingga pertigaan, menanjak tajam. Jauhnya sekitar 5-6 km, dan pasti akan menguras banyak tenaga. Usai pertigaan, aku akan menempuh sekitar 6-7 km hingga mencapai pertigaan jalan besar menuju arah Bedugul atau Denpasar. Kawanku pun tak keberatan dengan keputusanku.

Sekitar pukul sembilan pagi kami berangkat. Beberapa menit kemudian kami menikmati pemandangan danau dari pertigaan. Pohon jeruk tumbuh menyubur di kelerengan lebih 60 derajat arah Danau Tamblingan. Pagi itu berkabut. Musim hujan masih menggayut. “Kita mesti berjalan cepat, jangan sampai kehujanan di jalan,” kataku kepada kawanku.

Usai mengucapkan salam pisah, aku dan kawan pun melaju. Masuki wilayah Desa Gobleg, baru beberapa ratus meter berjalan, tampaklah sebuah pura. Di sampingnya ada sebuah turunan menuju Danau Tamblingan. Tertulis jarak 700 meter. Dekat juga, pikirku. Kami pun memutuskan turun. Ingin merasakan air danau dari dekat.


Ada sebuah kisah yang dituturkan kawanku Bli Tum alias Putu Ardhana. Menurutnya muasal empat desa adat atau catur desa -Munduk, Gobleg, Gesing, dan Umejero- dari sekitar Danau Tamblingan, yaitu di Gunung Lesung. Karena sebuah alasan, mungkin bencana alam mirip letusan gunung atau gempa bumi, penduduknya lalu berpindah ke wilayah sekitar danau, membentuk empat desa tadi. Catur desa ini memiliki ikatan spiritual dengan danau. Mereka bertanggung jawab dan merasa wajib menjaga kesucian danau dan pura-pura di sekitarnya. 

Setidaknya ada belasam pura di sekitar Danau Tamblingan. Di antaranya : Pura Dalem, Pura Endek, Pura Ulun Danu dan Sang Hyang Kangin, Pura Sang Hyang Kawuh, Pura Gubug, Pura Tirta Mengening, Pura Naga Loka, Pura Pengukiran, Pengukusan, Pura Embang, Pura Tukang Timbang, dan Pura Batulepang. 

Paska melewati pura pinggir jalan, berjalan menurun beberapa ratus meter, kutemukan sebuah pura lagi. Pura Ulun Danu Tamblingan namanya. Pura ini tampak senyap, namun terpelihara. Beberapa puluh meter dari pura, menuruni undak-undakan yang berlumut dan sangat licin, muncullah permukaan air danau. Begitu hijau, hening, dan menenangkan. Tak jauh dari tempat kami berdiri, terlihat seorang pemancing.

Tamblingan berasal dari kata tamba alias obat, dan elingan atau ingat. Dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul dikisahkan, di masa lalu masyarakat sekitar danau pernah terserang wabah penyakit. Lalu seorang sakti turun ke danau kecil di bawah desa untuk mengambil airnya, memantrainya, dan menggunakannya sebagai obat. Air suci tersebut akhirnya menyembuhkan masyarakat desa yang terkena wabah. Sejak saat itu, Danau Tamblingan dianggap sakral.

Karena kepercayaan ini, ditambah banyaknya pura, maka Danau Tamblingan kemudian tidak dikembangkan sebagai obyek wisata yang komersil seperti Danau Bratan atau Danau Batur. Masyarakat keempat desa adat selalu menolak tiap kali pemerintah daerah mengajukan rancangan pembangunan wisata di daerah ini.

Belakangan muncul konflik yang berkaitan dengan rencana pemekaran Banjar (dusun) Tamblingan untuk menjadi sebuah desa. Banjar Tamblingan adalah satu dari empat banjar (Taman, Bulakan, Beji, dan Tamblingan) yang masuk dalam wilayah administrasi Desa Munduk. Jika Banjar Tamblingan dimekarkan menjadi sebuah desa, maka keputusan pengembangan wilayah sekitar Danau Tamblingan hanya bergantung kepada masyarakat Desa Tamblingan. Tak lagi dibutuhkan ijin dari ketiga banjar. Hal ini tentu saja membuat warga ketiga banjar lainnya marah. Apalagi ide pemekaran tidak murni berasal dari warga Dusun Tamblingan, melainkan ditunggangi oleh pihak luar.

Isu mencuat kala terkabar investor dari Cina hendak mengembangkan wisata air modern di Danau Tamblingan, dan Bupati Buleleng sudah memberi restu. Maka muncullah demo dan protes warga ketiga dusun di wilayah Desa Munduk. Tak hanya itu. Desa-desa adat yang masuk ke dalam catur desa  pun tak terima jika wilayah danau dikomersilkan. Selain bakal mencemari air danau dan tempat ibadah, jika ditelusur ketiga danau (Tamblingan, Buyan, dan Bratan) merupakan penyedia air tanah terbesar di wilayah Bali Utara. Kerusakan danau-danau ini tatkala dieksplorasi sebagai tempat wisata modern nantinya, ditakutkan akan mengganggu kehidupan warga Bali Utara, khususnya yang selama ini hidup dari pertanian.

Mengingat kembali keterangan Bli Tu, kupandang air danau yang kehijauan. Lalu  kusempatkan berhenti sejenak di Pura Ulun Danu. Takzim mengingat sang pencipta, sekaligus mengingatkan aku betapa harmonisnya dulu manusia menjaga hubungannya dengan alam semesta. 

Perjalanan naik dari danau rupanya tidak semudah ketika turun. Nafasku memburu. Ketika akhirnya sampai di tepi jalan beraspal, kulihat penjual bakso dengan rombongnya.

“Bakso Pak, satu,” pintaku.

“Ini bakso babi lho, Mbak,” seru si penjual mengingatkan. Adudududuh.. terpaksa kutahan perut yang lapar dan energi yang terkuras.

Beberapa ratus meter kemudian kutemukan sebuah warung. Niat membeli air mineral melebar menjadi memesan dua piring mi goreng dan dua gelas teh hangat. Udara yang sejuk, tenaga yang terkuras, membuat lapar perut berkali lipat. Ketika kubayar makan kami, aku tersipu. Cukup murah buat kawasan wisata seperti Bali. Semua, termasuk kue, coklat, air mineral dan jajanan, tak sampai Rp 15000.

Dari Danau Tamblingan kemudian kami menyusur Danau Buyan yang juga sunyi. Buyan kerap dianggap saudara kembar Danau Tamblingan. Berkesan mistis dan ‘terlalu hening’, nyaris sulit ditemukan perahu motor mengarungi danau ini. Justru kawanku melihat sebuah ‘gethek’, rakit dari bambu yang dikemudikan seorang lelaki, menyebrangkannya dari satu sisi danau ke desa di seberang. 

Sesekali tatkala melihat pesona Danau Buyan, muncul kera-kera dari gerumbul pepohonan. Kawanku menjerit ketakutan, aku tertawa. Aku yakin mereka kelompok kera liar. Takkan mengganggu mengingat lebatnya hutan sekitar danau. Hanya dengan sedikit gertakan, kera-kera itu pun lari sembunyi.

Ketika berjalan menyusuri danau-danau ini, hanya kulihat satu dua angkutan umum mirip L-300. Umumnya colt-colt itu menuju Seririt via Desa Pupuan. Jadi tidak melewati Munduk. Yang kerap lewat justru mobil pribadi dan motor. Lagi-lagi kuingat tutur kawanku, Bli Tum. 

“Dulu banyak angkutan umum dari Denpasar menuju Seririt dan sebaliknya yang lewat Munduk. Namun karena banyak warga yang memiliki motor dan mobil sendiri, kini langka dijumpai angkutan umum. Kalau pun ada, paling hanya satu dua, itu pun pagi sekali.”

Yah, angkutan umum menjadi barang mahal di Bali saat ini. Mahal ongkosnya, mahal pula keberadaannya. Penyebabnya apalagi kalau bukan kepemilikan kendaraan pribadi, baik mobil dan motor, yang membludak. Masih kuingat keluhan kondektur bus jurusan Gilimanuk-Singaraja kemarin. 

“Dulu, bus-bus selalu penuh. Entah yang mau ke Denpasar, Singaraja, atau ke Padang Bai. Tapi sekarang banyak bus kosong. Cari penumpang susah sekali. Terlalu banyak orang yang punya mobil dan motor sendiri.”

Kelak juga kutahu, ongkos sewa mobil di Bali ternyata paling murah di Indonesia. Bayangkan saja, untuk menyewa mobil sekelas Avanza hanya butuh Rp 135000 sehari. Di Surabaya atau Jogjakarta, setidaknya ongkos sewa mobil Rp300000, bahkan bisa mencapai Rp 500000 sehari saat liburan. Sedang sewa motor hanya Rp 35000 sehari. 

Sepanjang jalan turun menuju pertigaan ke arah Bedugul, kusaksikan rumah penginapan di mana-mana. Mulai yang kelas wah mirip hotel berbintang, hingga losmen sederhana bertarif Rp 75000- Rp 100000 per malam. Soal manajemen wisata, Bali memang nomor satu. Di sini, fasilitas untuk wisatawan berbagai kelas ada semua. Wisata Bali kini tampaknya didisain untuk dinikmati wisatawan kaya hingga backpacker. Peristiwa bom Bali mungkin punya andil.

Jelang pertigaan ke arah Bedugul, hujan tercurah dari langit. Lebat juga. Untung di sepanjang jalan mudah ditemui rumah-rumahan sebagai tempat berteduh. Lebih tengah hari. Cuaca tampaknya tak bakal bersahabat lagi. Kuputuskan segera menghadang angkutan umum ke Denpasar, dan melanjutkan pengembaraan ke Danau Bratan esok hari. Aku punya janji dengan seorang kawan di Denpasar sore nanti.


Ada sebuah teori tentang terbentuknya ketiga danau (Tamblingan, Buyan, Bratan) ini. Danau-danau ini terbentuk karena letusan gunung berapi yang sangat dahsyat dan ketiga danau ini sebetulnya kaldera raksasa. Terjadinya erosi memisahkan Bratan dengan Buyan dan Tamblingan. 

Berjalan sepanjang tepi Danau Bratan, kusaksikan air danau yang tercemar. Sampah, busa sabun, menepi dan membuat rusuh mata. Di beberapa sudut kujumpai tempat penyewaan perahu motor atau jetski bagi pengunjung yang hendak berolahraga air di Bratan. Bratan memang danau yang sangat luas. Namun pemandangannya tidak terlalu eksotis di siang hari. Entah sore atau malam.

Satu-satunya tempat yang nyaman dipandang adalah kawasan Pura Ulun Danu Bratan. Menjadi kawasan wisata yang enak dipandang, pura di tepi danau ini selalu dipenuhi turis asing. Menyenangkan juga mejeng, foto-foto narsis di sini.

Menurut kawanku, nama bratan berasal dari kata brata, yaitu pengendalian diri. Alkisah, dulu para Sri dan Mpu melakukan tapa brata di danau ini untuk mencapai moksa, yaitu keabadian. Masyarakay Hindu di Bali amat percaya kepada karma. Dengan menebus karma melalui reinkarnasi berkali-kali, maka seorang manusia akan mencapai moksa.

Kawanku Gde Wibisana Singgih Wilasa, punya pengalaman mistis kala berkendara melalui Danau Bratan suatu malam.

“Aku melihat seekor anjing menyebrang jalan. Tapi ekornya panjaaaaang nggak putus-putus. Jadi kumatikan mesinku, menunggu anjing dan ekornya itu lenyap.”

Bali penuh mistis, tentu aku percaya. Dari Leak, hal-hal gaib, atau apapun. Mistisme yang dipelihara dalam tradisi dan budaya spiritualisme tinggi. Yah, itulah ciri khas Bali, yang membuatnya berbeda dan menarik wisatawan asing tuk berkunjung. 

Soal mistisme, sempat kubaca kisah Danau Buyan di koran lokal. Disebutkan bahwa air danau paling tenang ini menyusut ratusan meter dari tepi danau. Penduduk sekitar danau percaya hal ini disebabkan karena diabaikannya perawatan pura-pura di sekitar danau. Penduduk lalu berinisiatif memperbaiki pura secara mandiri, disertai penanaman pohon di pinggir danau, dan pengerukan tepi danau. Mereka tak ingin danau sucinya menyusut airnya.

Pada saat melakukan pengerukan di tepi danau, ternyata muncul mata air baru. Entah sebuah kebetulan atau berkah, penduduk setempat lalu mensyukurinya dan melakukan upacara mendak tirta, sebagai rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi.

Penduduk sekitar Buyan juga menolak investor yang hendak membangun pariwisata air di tengah danau. Mereka menganggap pembangunan ini akan mencemari kesucian air danau. Danau pun tak lagi menjadi milik masyarakat, tapi milik privat alias investor. Ini yang mereka takutkan. Namun penduduk menyetujui pembangunan taman-taman  sederhana sebagai tempat rekreasi keluarga dengan karcis yang tak mahal. Walau pemasukan wisata kecil, namun lingkungan kawasan danau tetap terpelihara.

Menyusuri negeri tiga danau hari itu, aku belajar sesuatu. Janganlah keindahan dan kesuburan alam dikorbankan semata demi keuntungan wisata. Banyak kehidupan yang dipertaruhkan di atasnya. Tampaknya, aku harus belajar ‘berperilaku hijau’ dari masyarakat adat Bali. []

4/3/13

Racing The Bali Way



Teks dan foto Dwi Putri Ratnasari


“Put, aku beli roti dulu ya buat sarapan…”

Andi Fachri, lelaki yang asli Semarang itu, menyebrang jalan menuju mini market 24 jam. Saya merapatkan jaket sembari terkantuk-kantuk di pinggir jalan yang gelap. Fajar memang masih jauh. Namun kami sudah bersiap melaju menuju Jembrana. Pukul 04.00 WITA, Mas Andi menjemput saya di hotel. Lelaki yang baru beberapa bulan tinggal di Denpasar ini berbaik hati menjadi teman perjalanan saya. Karena masih nubie juga, dia mengandalkan peta digital untuk keluar dari pusat kota Denpasar. 

“Ada jalan tembusan…,” katanya saat kami agak sedikit berputar-putar mencari di mana jalan yang dimaksud. Mungkin ini efek karena jalan terlalu gelap. Mau tanya orang juga sepertinya mereka masih terlelap. Beruntung kami melewati sebuah pasar kecil yang sudah menunjukkan tanda-tanda kehidupan. 

Langit mulai berubah warna. Sementara motor masih terus melaju. Pantat saya yang sudah lama tidak merasakan berkendara jauh rasanya pegal dan kaku. Sesekali kami berhenti untuk mengecek peta lewat smartphone. Saya menghela nafas lega saat melintasi sebuah patung lelaki penunggang kerbau, salah satu ikon dari kota Jembrana. Perjalanan lebih dari tiga jam itu sepertinya akan segera mencapai tujuan.

Jembrana terletak di Bali bagian Barat. Jauh dari hiruk pikuk pariwisata yang hampir terpusat di Bali Selatan dan Tengah. Bagian Barat ini memang sebagian besar adalah tanah yang berstatus taman nasional. Wajar bila banyak hutan di kanan-kiri. Turis yang datang rata-rata penggemar wisata minat khusus. Meski pegal, saya terhibur dengan warna-warni pagi sepanjang perjalanan ini. Kabut, terasering, perbukitan, dan siluet gunung yang terlihat monokrom di kejauhan. Hal serupa mungkin sudah susah ditemukan di wilayah Bali lainnya yang turistik dan penuh bangunan tinggi menjulang.

Pagi itu kami memang berniat menonton balap kerbau atau biasa disebut Makepung. Sebuah perhelatan besar yang hanya bisa disaksikan di Jembrana saja. Makepung memang selalu berlangsung sedari pagi hari pukul 6 pagi. Ditambah tak terlalu banyak penginapan yang ada di Jembrana. Membuat para wisatawan dari Denpasar harus bangun pagi-pagi buta untuk mengejar acara tersebut. 

Makepung hari itu berlangsung di daerah Delod Berawah. Jalanan begitu lengang sepanjang menuju tempat tersebut. Kanan kiri hanya terdapat persawahan. Saya berharap tak salah melihat agenda Makepung di website pemerintah kabupaten Jembrana. Saya punya pengalaman tak enak berkaitan agenda acara budaya yang diinformasikan lewat internet. Pernah suatu saat jauh-jauh datang ke Bantul, Yogyakarta, untuk melihat sebuah festival, eh malah tidak ada acara apa-apa. Beberapa orang juga ikut kecele. Tidak lucu rasanya kalau kali ini pun bernasib sama.

“Kok sepi banget ya…” ujar Mas Andi menggumam. Membuat saya semakin was-was. Hingga akhirnya kami mulai melihat segerombolan kerbau memadati jalanan. Rupanya perjalanan sedari subuh ini tak sia-sia. Acara ini benar-benar tepat waktu. Tak beberapa lama setelah memarkir kendaraan, pasangan kerbau pertama yang dilombakan sudah dilepas. Riuh pun sontak terdengar. 



Pagi itu tercatat hampir 250 pasang kerbau yang memperebutkan piala bergilir Jembrana Cup. Peserta terbagi dalam dua grup yakni Blok Ijogading Timur dan Barat. Lintasan balap yang digunakan adalah sebuah jalan desa yang bentuknya melingkar. Di bagian tengah lintasan terdapat beberapa petak sawah. Lebar jalan lintasan lebih kurang hanya tiga meter saja. Di sini tantangannya, saat sepasang kerbau harus mendahului pasangan di depan. Setiap kali peluit ditiupkan, ada dua pasang kerbau dari grup berbeda yang adu balap. Begitu seterusnya, hingga mendapatkan nama-nama pemenang untuk mengikuti putaran final yang diadakan siang itu juga. 

Tapi ingat, jangan abaikan keselamatan diri sebab terlena atmosfer pacu kerbau ini. Tak jarang ada kerbau yang mengamuk dan berusaha keluar dari lintasan. Beberapa orang tampak ambil jalan aman: menikmati perlombaan dengan duduk di atap rumah. 

Semakin siang, aura persaingan semakin terasa. Teriakan-teriakan joki terdengar bersahutan demi memacu tenaga kerbau-kerbau. Setiap detik terasa begitu berarti. Dan penonton pun bersorak-sorai saat jagoannya berhasil mencapai garis finish

Bosan berada di lintasan, saya memutuskan untuk keluar dan melihat lebih dekat di garis finish. Saya berjalan berjingkat di tepian agar tak tertabrak gerobak kerbau. Seorang kameramen TV lokal bahkan hampir kehilangan gadget-nya karena terlalu menjorok tengah lintasan. Dia mengelus dada, memeluk kameranya yang hampir wassalam

Di garis finish, rupanya masih ada PR yang menanti para anggota tim balap, yaitu menghentikan laju kerbau. Bayangkan, kerbau yang sudah dalam keadaan on-fire lari gradak-gruduk harus dihentikan begitu mencapai garis akhir. Kalau tidak kuat, bisa saja anggota tim ini terseret atau bahkan mencelat akibat srudukan kepala kerbau.

Saya lantas bergerak ke arah pantai. Kebetulan lintas balap ini tak jauh dari Pantai Delod Berawah. Hanya perlu berjalan beberapa meter saja. Pantai ini tak setenar pantai-pantai lain di Bali. Dari segi pemandangan dan fasilitas, Pantai Delod Berawah memang jauh kalah dengan yang lain. Di bawah pohon-pohon rindang di tepian pantai, berjejer kerbau yang telah berlomba. Saya bergidik ngeri saat berjalan di samping hewan-hewan itu. Nafas mereka masih ngos-ngosan. Debaran jantungnya terlihat jelas di permukaan kulit. Dag dug dag dug… Seorang lelaki nampak mengguyurkan air dingin di bagian pantat dua kerbaunya yang berdarah. Entah mengapa, saya jadi ikutan merasa perih.

"Ini luka akibat tungket, mbak…," kata Pak Nyoman sembari mengangkat sebuah tongkat sepanjang 40 cm yang diselimuti paku-paku kecil. Alhasil, banyak darah berceceran di bagian pantat hewan-hewan tersebut. Bagi yang merasa mual melihat darah, sebaiknya jangan pernah nonton Makepung atau Karapan Sapi. Tungket mengingatkan saya pada alat serupa yang dipakai pada tradisi karapan sapi di Madura. Meski fungsinya sama, yaitu untuk memacu sapi-sapi agar berlari lebih kencang, namun di Jembrana ukuran tongkatnya lebih kecil. 

Mungkin kesakitan inilah yang harus dibayar hewan-hewan ini setelah melewati masa penuh kenyamanan. Pada perkembangannya, sapi karapan maupun kerbau makepung ini memang sengaja dibesarkan untuk menjadi pembalap. Tentu saja biaya perawatan kerbau balap tak semurah dengan yang dipekerjakan di sawah. Beberapa majikan ada yang menggunakan ramuan tradisional dan berbagai suplemen untuk meningkatkan vitalitas kerbau aduan. Mereka begitu dimanja seperti merawat seorang bayi.

Pak Nyoman dan sang joki mengajak kerbau-kerbau balapnya berlatih dua minggu menjelang pertandingan. "Saya latih di medan lumpur, karena lebih berat," ujarnya yang kerap kali mengganti kata joki dengan sebutan 'sopir'. 

Penunggang kerbau ternyata juga harus memiliki stamina yang prima. Beberapa kali saya melihat joki-joki yang menggelepar pingsan setelah memacu kerbau-kerbaunya di lintasan pacu. Tampaknya mereka kehabisan tenaga. Mengontrol laju hewan agar presisi sembari berteriak-teriak bukanlah perkerjaan yang enteng. Apalagi final dilaksanakan menjelang tengah hari, di mana sengatan matahari sangat menguras energi.



Konon, zaman dahulu kala, Makepung memang dilakukan di tengah sawah basah. Para penunggangnya mengenakan pakaian tradisional laiknya prajurit kerajaan. Kegiatan ini awalnya memang bertujuan untuk membajak lahan sebelum ditanami padi agar menjadi gembur. Karena sapi hewan yang disucikan di Bali, maka pekerjaan bajak sawah tradisional ini dilakukan oleh kawanan kerbau.

Tak jauh dari arena balap, saya melihat segerombol lelaki mengenakan pakaian tradisional Bali berwarna merah jambu. Mereka adalah para pemain Jegog, kesenian musik khas dari Jembrana yang semua instrumennya terbuat dari bambu. Pada tahun 2012 lalu, konon Jegog telah mencapai usia 100 tahun sejak pertama kali dibuat oleh seorang petani setempat. Kesenian ini tak tersedia di daerah lain di Bali. Untuk dapat menikmati atau belajar pada ahlinya, wisatawan dapat mengunjungi Desa Sekar Agung, Jembrana. []