Pages

1/28/13

Travel Writing Workshop with Ary Amhir



TRAVEL WRITING WORKSHOP
by Hifatlobrain Travel Institute

24 Februari 2013 
08.00 WIB - selesai
di c2o Library
Jl. Cipto 20 Surabaya

Biaya SPP Rp 50.000,-

Dosen
Ary Amhir
Jurnalis lepas, penulis buku perjalanan "30 Hari Keliling Sumatera" dan "Negeri Pala". 

Mata kuliah
Narrative Writing
In-Depth Reporting
Recording Local People Story

Pendaftaran rencana studi

Konsultasi
ayos@hifatlobrain.net

TEMPAT TERBATAS UNTUK 20 ORANG SAHAJA.

Fish In Banda


Seorang teman menulis panjang lebar tentang kegelisahannya melihat banyak destinasi wisata yang rusak akibat serbuan para turis. Dan pendosa yang paling bertanggung jawab -menurut dia- adalah para penulis perjalanan, fotografer, dan juga blogger yang selalu menawarkan gambaran utopis sebuah tempat. Hifatlobrain menjadi sasaran tembak yang empuk karena pernah menulis kisah perjalanan ke Cagar Alam Pulau Sempu sebanyak dua kali. Kami akui memang 'dosa' itu pernah kami lakukan. Bukan karena lalai, tapi karena kurang ilmu. Sekarang saat pengetahuan kami bertambah, Hifatlobrain tidak lagi menerima dan menulis kisah perjalanan yang berpotensi mencederai kualitas alam. Kami belajar dan berproses kawan. 

Meski begitu, sebetulnya banyak juga penulis perjalanan yang sadar lingkungan dan sadar etika. Misalnya Norman Edwin yang getol menulis kisah petualangan alam bebas dan mengedukasi masyarakat tentang kawasan lestari. Tulisan-tulisannya muncul di berbagai media seperti majalah Mutiara dan Suara Alam. Sama seperti Agus Prijono yang saat ini sering menulis tentang wisata berkelanjutan di National Geographic Indonesia. Ada juga Don Hasman yang fokus memotret dan menjadi sahabat baik Suku Baduy selama lebih dari 30 tahun. Dedikasi mereka terhadap sebuah destinasi tidak perlu diragukan lagi. 

Slamet Suseno, mantan pimred Trubus, juga sering menuliskan kisah perlawatan dengan sudut flora fauna endemik sebuah destinasi. Pada beberapa artikel, Slamet menulis tentang konservasi penyu, menyusutnya populasi pesut mahakam, hingga perlindungan gajah di Lubuk Gadang, Solok, Sumatera Barat. Gaya menulisnya begitu cerdik dan segar. "Untuk penulisan fauna, aku pikir Slamet Suseno belum ada tandingannya di Indonesia," kata Bernard Wahyu Wiryanta, pendiri situs Wildlife Indonesia.  

Di sisi lain, ada Bondan Winarno yang sempat mengasuh blog Jalansutra untuk Kompas Cyber sejak tahun 2001. Sebagaimana Kamasutra, kolom tersebut dimaksudkan Bondan sebagai panduan etika para pelancong. Bila Kamasutra adalah panduan tentang Kama (hubungan jasmani perempuan dan lelaki), maka Jalansutra adalah pengetahuan tentang jalan-jalan. Bondan bermaksud membagi pengalaman kepada pembacanya agar menjadi pejalan cerdas (savvy traveler). Bagaimana memilih buku sebagai teman penerbangan lintas benua? Apa yang harus diperhatikan selama berwisata ziarah? Bagaimana memilih pijat sahih (tanpa plus-plus) di sebuah daerah? Semua tersaji ringan dalam kolom Bondan yang kelak berkembang menjadi milis kuliner yang sangat solid. 

Tapi itu kan penulis-penulis tua, ada nggak penulis perjalanan hari ini yang sadar lingkungan?

Tentu saja ada. Selain Agus Prijono yang disebut di awal, ada pula penulis wanita seperti Wiwik Mahandayani dan Ary Amhir. Wiwik menulis beberapa buku tentang ekowisata, salah satunya yang beredar luas adalah buku "The Green Traveler". Sedangkan Ary memberikan kontribusi sosial untuk anak-anak Banda Kepulauan sebagai hasil dari penjualan buku "Negeri Pala"-nya. 

Belakangan, Ary mengajak seorang mahasiswa pascasarjana Desain ITB, Ari Kurniawan, untuk merancang poster persebaran ikan di Banda. "Datanya kuambil dari TERANGI (Yayasan Terumbu Karang Indonesia), trus diolah Ari jadi infografis. Buat edukasi anak-anak lokal dan pelancong yang akan menyelam di Banda Kepulauan," kata Ari.

Dan inilah infografis "Fish in Banda" hasil karya duo Ari-Ary. Bagi yang ingin mengunduh versi besarya bisa masuk ke halaman Mediafire kami.

1/13/13

Death in Toraja


Ini adalah sebuah artikel panjang yang dikirim oleh Abi Lulabi (@lulabeep) tentang perjalanannya ke Tana Toraja. Sudah jarang Hifatlobrain menerima kiriman travelogue panjang dan kontemplatif seperti ini. Selamat membaca!
  
"Kami orang Toraja lebih meriah dalam merayakan pesta kematian ketimbang kelahiran atau pernikahan!"

Begitu introduksi menakjubkan yang diucap oleh ibu pemilik rental motor di Rantepao pagi itu. Seketika membuat rasa lelah dari perjalanan darat Makassar-Toraja selama delapan jam berubah menjadi hasrat menggebu. Hasrat untuk segera menjelajahi daerah yang terkenal dengan aura magis yang kental ini. Beruntungnya lagi, karena ibu pemilik rental motor ini adalah mantan tour guide, sehingga saya diberi peta gratis beserta rekomendasi tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi selama dua hari.

Secara administratif, wilayah Tana Toraja terbagi menjadi dua; kabupaten Tana Toraja dengan ibukota Makale, serta kabupaten Toraja Utara dengan ibukota Rantepao. Di Rantepao inilah para turis biasanya menjejakkan kaki. Maklum, destinasi-destinasi menarik di Toraja lebih banyak tersebar di utara, sehingga lebih mudah untuk dicapai dari sini.

Setelah mendapat motor, kami segera bergegas mencari sarapan dan penginapan. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Kristen, mencari makanan halal di Rantepao bukanlah hal yang sulit. Telah banyak tersedia warung-warung makan berlabel halal di tiap sudutnya. Biasanya penjualnya adalah para perantau dari Jawa yang mencoba mencari peruntungan di kota yang dulu merupakan wilayah paling misterius di Sulawesi ini. Konon Belanda sempat mengacuhkan Toraja selama dua abad karena akses transportasi yang sangat sulit pada masa itu.

Daerah yang dikelilingi oleh gunung dan tebing-tebing curam ini baru benar-benar dikenal oleh dunia internasional pada tahun 1970-an setelah National Geographic mendokumentasikan upacara pemakaman bangsawan terakhir Toraja yang berdarah murni, Puang dari Sangalla.

Mencari penginapan di Toraja sangatlah mudah. Tersedia bermacam penginapan dengan harga dan fasilitas yang bervariasi. Tetapi bulan Desember adalah perkecualian. Pada pergantian tahun warga Toraja dari berbagai penjuru dunia akan mudik untuk merayakan natal bersama keluarga. Turis pun lebih banyak datang untuk menyaksikan upacara adat yang bakal lebih banyak dilaksanakan. Konsekuensinya jelas: hampir semua penginapan fully booked dan harga sewanya melonjak. Membuat saya dan tiga kawan harus berpuas mendapat satu-satunya kamar yang tersisa di sebuah homestay kelas dua. Setelah tawar-menawar, disepakati harga 250 ribu rupiah semalam untuk diisi berempat.

Hari pertama kami menuju utara, ke arah pegunungan. Motor sewaan bekerja keras untuk mendaki jalanan menanjak penuh lubang. Satu dua motor yang "membonceng" babi melewati kami. Melintas pula beberapa mobil pick-up yang mengangkut kerbau. Saya diberitahu sebelumnya, jika ada orang yang membawa babi atau kerbau di jalan, kemungkinan besar mereka sedang menuju tempat pesta. Ternyata benar, di daerah Bori sedang dilaksanakan pesta kematian.

Kami memarkir motor di pinggir jalan, berdampingan dengan motor-motor lain yang entah milik keluarga, kerabat, atau mungkin sama-sama orang asing seperti saya. Satu kata yang saya tangkap dalam pesta kematian orang Toraja: meriah.


Para pemuda menyembelih babi, menampung darahnya dalam batang-batang bambu, kemudian membakar bulunya hingga rontok menggunakan selang panjang yang terhubung dengan tabung gas. Beberapa ibu memasak daging yang telah siap diolah di dalam wajan-wajan besar. Anak-anak berlarian kesana-kemari. Sebagian besar sisanya asyik berbincang di bawah sederetan tongkonan (rumah adat Toraja) sambil mendengarkan semacam pidato, doa, serta mantra dari seorang tetua adat lewat pengeras suara. Sama sekali tidak ada aura duka. Belum lagi rangkaian adu kerbau dan pembantaian kerbau yang alih-alih mengundang kesedihan, tetapi malah mengundang sorak-sorai dari siapa pun yang hadir.

Saya bertanya dalam hati, “Apa yang dirasakan keluarga yang ditinggalkan dalam pesta semacam ini? Apakah mereka bahagia atau justru menyembunyikan kesedihannya di sela gelak tawa?” Jawaban datang dari seorang pemuda Toraja yang saya temui. Dia bilang, pada saat ada orang meninggal, orang-orang di sekitarnya pastilah sedih. Tapi adat adalah adat. Pesta tetap harus dilakukan. Akhirnya kesedihan terganti oleh kesibukan menyiapkan pesta.

Orang Toraja menganggap kematian adalah peristiwa yang sakral. Kematian bukanlah akhir dari hidup seseorang, namun justru awal dari perjalanan menuju tempat bernama Puya. Dan untuk memuluskan perjalanan arwah newbie tersebut, kerabat yang hidup akan mempersembahkan kerbau sebagai kendaraan dan babi sebagai makanannya.

Dari situ bisa dipahami mengapa keluarga yang ditinggalkan akan berusaha sekuat tenaga untuk mempersembahkan kerbau dan babi sebanyak mungkin. Selain untuk mempermudah perjalanan si arwah, kuantitas persembahan juga berpengaruh pada status sosial keluarga tersebut. Orang Toraja juga percaya, jika pesta kematian tidak dilakukan dengan "layak", maka keluarga yang ditinggal akan diselimuti nasib buruk.

Karena seorang kawan tidak tahan melihat darah babi yang menggenang di tanah, kami pun melanjutkan perjalanan. Destinasi berikutnya adalah Bori Parinding, sebuah komples kuburan untuk masyarakat dari desa sekitarnya. Harap diingat, orang Toraja tidak mengubur mayat di dalam tanah, tetapi di dalam batu. Mereka menganggap tanah adalah elemen suci yang menumbuhkan kehidupan, sehingga mayat lebih baik disimpan dalam batu. Kondisi geografis Tana Toraja yang dikelilingi oleh batu-batu granit raksasa memungkinkan budaya itu ada. Di Bori Parinding, selain terdapat batu-batu besar yang telah diisi dengan peti mati, foto-foto almarhum yang dibingkai rapi serta keranda-keranda mayat dalam berbagai bentu, juga terdapat banyak sekali batu menhir berbentuk phallus.

Batu-batu menhir dengan berbagai ukuran itu merupakan buatan masyarakat sekitar sebagai penanda jika ada pemuka masyarakat yang meninggal. Tradisi unik tersebut telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Saya tidak tahu apa alasan orang Toraja membuat menhir-menhir ini. Namun sependek pengetahuan saya simbol phallus ini juga hadir di berbagai budaya kuno dunia. Dipercaya merupakan simbol oposisi biner yang jika dikawinkan akan menumbuhkan kehidupan baru. Ada yang mati, ada yang dilahirkan. Genesis. Dan kehidupan pun berjalan.

Di antara menhir-menhir tersebut terdapat semacam rumah pohon bernama lakian yang merupakan tempat untuk membagikan daging kerbau dan babi yang telah dipotong. Kemudian semua yang hadir akan makan bersama di salah satu tongkonan bernama balai kayam.


Perjalanan ke Pana merupakan pengalaman yang breathtaking, karena melewati sebuah daerah yang luar biasa indah bernama Batutumonga. Daerah ini merupakan dataran tinggi di mana kita bisa melihat kota Rantepao dan hampir keseluruhan Tana Toraja dengan begitu jelas. Sungai-sungai kecil yang mengairi areal persawahan, yang sebenarnya merupakan pemandangan yang biasa ditemui di Jawa, menjadi tampak sangat istimewa dengan kehadiran kerbau dan burung jalak yang mencari kutu di atasnya, serta beberapa atap tongkonan yang menyembul dari kejauhan. Sungguh ganjil pikir saya, kehidupan justru terasa lebih meriah di daerah yang identik dengan kematian ini.

Satu hal yang kurang dari Toraja Utara adalah minimnya papan penunjuk arah. Jika pun ada, itu adalah buatan mahasiswa KKN yang seringkali malah membingungkan.

Untuk sampai ke kuburan bayi di Pana, kami harus berkali-kali bertanya kepada warga sekitar. Tempatnya tersembunyi di sebuah tebing di balik kebun dan pepohonan. Tebing setinggi belasan meter dilubangi untuk dimasukkan peti-peti mungil berisi jenazah bayi. Di dasar tebing terlihat beberapa tengkorak dan belulang yang terkumpul dalam peti panjang. Entah jatuh atau sengaja diletakkan di sana. Karena ada pula tradisi menaruh peti berisi jenazah bayi di atas pohon, bukan di dalam batu. Mungkin karena tempatnya yang tersembunyi dari keramaian dan lembab oleh embun dan pepohonan, suasana di kuburan bayi itu terasa sunyi dan dingin, sangat dingin. Tapaknya alam sengaja mendesain tempat yang nyaman untuk para arwah bayi itu agar mereka lelap dalam tidur panjangnya.

Hari itu kami habiskan dengan berkeliling kota karena hujan tak lama turun dengan derasnya. Esoknya kami berkendara menuju selatan yang destinasi wisatanya lebih mudah ditemukan. Jalan menuju selatan sangat lebar dan mulus, berbanding terbalik dengan akses jalan menuju utara yang sempit dan berlubang. Maklum, ini adalah jalan penghubung Rantepao dan Makele yang selalu ramai. Pengaruhnya jelas: objek-objek wisata di selatan Rantepao begitu mudah didatangi. Apalagi tersedia billboard raksasa obyek-obyek wisata yang disponsori oleh satu satu perusahaan operator selular. Pengelolaannya pun lebih bagus. Lebih bersih, tertata, dan rapi.

Awalnya kami mendatangi Londa, kuburan di dalam goa. Di dinding luar goa, terdapat jajaran boneka-boneka kayu berbentuk manusia yang mewakili orang-orang mati. Boneka-boneka itu bernama tau-tau, dan tidak dibuat untuk sembarang orang. Boneka yang terbuat dari kayu pohon nangka ini hanya dibuat untuk para bangsawan.

Untuk masuk ke dalam goa, kita membutuhkan jasa guide yang merangkap sebagai juru terang pembawa petromaks. Menurut guide kami, kuburan goa ini khusus digunakan oleh keluarga Tongkele. Pertama jenazah akan diawetkan dengan balsem agar tidak berbau. Kemudian dimasukkan ke dalam peti dan ditaruh begitu saja di sudut-sudut goa yang cukup panjang ini. Peti-peti yang sudah lapuk akan hancur dan tengkorak serta tulang-belulang si jenazah akan dikumpulkan di satu tempat.

"Kenapa tidak dimasukkan ke peti yang baru?" tanya saya.

"Karena untuk mengganti peti harus melalui upacara lagi, biayanya sangat besar," jawab guide kami.

Di salah satu sudut goa terdapat sepasang tengkorak yang diletakkan berdampingan. Masyarakat sekitar sini menyebut mereka sebagai Romeo Juliet-nya Toraja. Semasa hidup, mereka adalah sepasang kekasih yang hubungannya tidak direstui oleh orangtua lantaran masih berkerabat dekat. Karena cinta sehidup mereka tak direstui, maka sepasang kekasih ini memilih cinta semati. Keduanya gantung diri bersama. Saya tersenyum, kematian justru malah membuat sejoli ini berdampingan happily ever after.


Lemo adalah tujuan kami berikutnya. Di sini kuburan terletak pada tebing-tebing curam. Ketika pertama melangkahkan kaki, puluhan tau-tau berdiri memandang saya dari atas tebing. Tangan mereka terentang ke depan, seolah sedang menyambut kawan lama yang sudah lama tidak berkunjung ke rumahnya. Secara keseluruhan, Lemo adalah kompleks kuburan yang indah dengan areal persawahan yang luas di hadapannya. Di areal persawahan itu terdapat beberapa saung yang menjual tau-tau untuk souvenir. Saya masuk ke dalam salah satu saung yang tidak berpenjaga. Tau-tau dengan berbagai rupa tersedia di sana.

Dari cerita yang saya dengar, semenjak Tana Toraja makin sering didatangi oleh turis, semakin banyak tau-tau yang dicuri untuk dijual ke museum atau sekedar dijadikan benda koleksi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, tau-tau yang masih tersedia di kuburan biasanya dipasangi pagar atau bahkan teralis besi agar tidak dicuri. Satu hal yang ironis, tau-tau yang dipercaya dapat melindungi keluarga yang masih hidup malah harus dilindungi dari para pencuri.


Sebelum pulang, kami mengunjungi tempat paling populer di Tana Toraja, Kete Kesu. Di sana bisa diibaratkan sebagai miniatur Toraja, karena memiliki semua hal yang merupakan daya tarik Tana Toraja secara keseluruhan. Di tempat ini terdapat berbagai bentuk tongkonan, kuburan batu, tengkorak, goa, kerbau, sampai toko souvenir. Tapi jujur saja, saya justru tidak betah di sini. Bagi saya Kete Kesu terasa begitu artifisial. Di sekitar kuburannya pun para turis sibuk berfoto dengan gayanya masing-masing. Beberapa bahkan ada yang menggunakan tengkorak dan tulang-belulang sebagai properti foto. Entah bagaimana reaksi para arwah itu ketika tengkorak mereka dimainkan oleh para turis untuk kemudian terpajang di jejaring sosial.

***

Berakhirlah perjalanan saya di Toraja, tempat kearifan lokal dan doktrin Kristiani dapat menyatu dengan indah. Di mana masyarakatnya memiliki pride yang tinggi. Tempat di mana aroma kematian begitu terasa dekat, sebagai entitas yang perlu diakrabi, bahkan dirayakan dalam upacara yang meriah. Saya dulu bercita-cita jika meninggal tubuh saya dikremasi kemudian abunya dibuang ke laut. Tapi sekarang saya berpikir, dikubur di dalam batu sepertinya asyik juga...[]

1/8/13

Traveler In Residence 2013


Yup setelah setahun, akhirnya kami menyelenggarakan program Traveler in Residence lagi, yeah! Kali ini kami mengajak Rendy Hendrawan sebagai partisipan dan akan tinggal selama sebulan di Kampung Keputran, Surabaya. Tema residensi kali ini memang agak lebih dalam membahas kampung kota. Rendy dengan perangkat digitalnya akan merekam kehidupan di kampung, menandai warung paling enak, mewawancarai jagoan lokal, hingga memetakan kehidupan sosial dengan jalur yang populer: Instagram!

Ikuti penjelajahan Rendy dan silahkan berkolaborasi! 

1/6/13

Along Kalimas








Kalimas, sungai yang membelah Kota Surabaya itu mengandung banyak kehidupan. Di sempadan sungai para penduduk membangun hunian komunal yang organik, berkembang tanpa perencanaan. Awalnya semi permanen tapi lambat laun berubah menjadi rumah beneran. Berpotensi untuk menjadi pemukiman kumuh.

Namun dalam beberapa tahun terakhir pemerintah kota memiliki program penaataan kembali hunian stren kali. Syaratnya setiap rumah harus menghadap sungai, menyediakan jalur hijau, dan tidak boleh membuang sampah di kali. Hasilnya sudah bisa dilihat, saat ini banyak kampung di wilayah bantaran Kalimas yang lebih tertata dan layak huni.

Sebagai pengguna motor, saya memang tidak banyak berinteraksi dengan Kalimas. Selain hanya selintas lewat dan mengintip dari atas motor saja. Tidak pernah menyusuri Kalimas dengan berjalan kaki. Tapi keinginan itu mengendap dalam pikiran. Terutama karena pengalaman asik dua tahun yang lalu saat melakukan kegiatan susur sungai hulu Ciliwung bersama Wanadri. Rasanya asik juga untuk menyusuri Kalimas dan melihat kehidupan di sekitarnya dari dekat.

Baru kemarin impian itu terlaksana. Bersama beberapa teman dan staf Hifatlobrain, sembari mempersiapkan program Traveler In Residence 2013, saya akhirnya bisa menyusuri Kalimas dengan jalan kaki. Kebetulan tema residensi tahun ini adalah kampung kota, sehingga kami perlu memberikan pembekalan pada peserta residensi untuk mengenalkan medan. Dan ternyata betul dugaan saya, dengan  metode jalan kaki seperti ini detail-detail Kalimas lebih bisa saya nikmati. 

Kami sempat mengunjungi instalasi Jasa Tirta yang mirip pulau di tengah sungai. Awalnya dibangun Belanda sebagai gerbang masuk kapal-kapal kecil yang ingin menyusuri Kalimas. Namun saat ini pulau tersebut hanya dipergunakan sebagai pintu air saja. Di sekitar pulau ini, banyak anak kecil yang mencari kerang remis dan ikan sakarmut (sapu-sapu) yang mirip Coelacanth. Bonek-bonek kecil ini mengaku berasal dari Kupang dan menuju Wonokromo dengan menumpang mobil bak terbuka yang lewat. Sejenak, saya merasa bahagia. Ternyata di Surabaya masih ada anak kecil yang mau bermain di tengah terik matahari. Tidak hanya mengurung diri di rumah dengan bermain Playstation saja. Padahal siang hari di Surabaya itu panasnya ampun dije

Anak-anak ini begitu antusias menunjukkan hasil buruan mereka. Tiga ekor ikan sapu-sapu dan seonggok kerang remis. "Iwake digowo mulih lek, iso digawe bakso!" kata salah seorang dari mereka. Membuat bakso dari ikan sapu-sapu? Saya baru tahu. Setahu saya bakso itu kalo nggak terbuat dari daging sapi ya tikus. Hahaha. []