Pages

1/6/13

Along Kalimas








Kalimas, sungai yang membelah Kota Surabaya itu mengandung banyak kehidupan. Di sempadan sungai para penduduk membangun hunian komunal yang organik, berkembang tanpa perencanaan. Awalnya semi permanen tapi lambat laun berubah menjadi rumah beneran. Berpotensi untuk menjadi pemukiman kumuh.

Namun dalam beberapa tahun terakhir pemerintah kota memiliki program penaataan kembali hunian stren kali. Syaratnya setiap rumah harus menghadap sungai, menyediakan jalur hijau, dan tidak boleh membuang sampah di kali. Hasilnya sudah bisa dilihat, saat ini banyak kampung di wilayah bantaran Kalimas yang lebih tertata dan layak huni.

Sebagai pengguna motor, saya memang tidak banyak berinteraksi dengan Kalimas. Selain hanya selintas lewat dan mengintip dari atas motor saja. Tidak pernah menyusuri Kalimas dengan berjalan kaki. Tapi keinginan itu mengendap dalam pikiran. Terutama karena pengalaman asik dua tahun yang lalu saat melakukan kegiatan susur sungai hulu Ciliwung bersama Wanadri. Rasanya asik juga untuk menyusuri Kalimas dan melihat kehidupan di sekitarnya dari dekat.

Baru kemarin impian itu terlaksana. Bersama beberapa teman dan staf Hifatlobrain, sembari mempersiapkan program Traveler In Residence 2013, saya akhirnya bisa menyusuri Kalimas dengan jalan kaki. Kebetulan tema residensi tahun ini adalah kampung kota, sehingga kami perlu memberikan pembekalan pada peserta residensi untuk mengenalkan medan. Dan ternyata betul dugaan saya, dengan  metode jalan kaki seperti ini detail-detail Kalimas lebih bisa saya nikmati. 

Kami sempat mengunjungi instalasi Jasa Tirta yang mirip pulau di tengah sungai. Awalnya dibangun Belanda sebagai gerbang masuk kapal-kapal kecil yang ingin menyusuri Kalimas. Namun saat ini pulau tersebut hanya dipergunakan sebagai pintu air saja. Di sekitar pulau ini, banyak anak kecil yang mencari kerang remis dan ikan sakarmut (sapu-sapu) yang mirip Coelacanth. Bonek-bonek kecil ini mengaku berasal dari Kupang dan menuju Wonokromo dengan menumpang mobil bak terbuka yang lewat. Sejenak, saya merasa bahagia. Ternyata di Surabaya masih ada anak kecil yang mau bermain di tengah terik matahari. Tidak hanya mengurung diri di rumah dengan bermain Playstation saja. Padahal siang hari di Surabaya itu panasnya ampun dije

Anak-anak ini begitu antusias menunjukkan hasil buruan mereka. Tiga ekor ikan sapu-sapu dan seonggok kerang remis. "Iwake digowo mulih lek, iso digawe bakso!" kata salah seorang dari mereka. Membuat bakso dari ikan sapu-sapu? Saya baru tahu. Setahu saya bakso itu kalo nggak terbuat dari daging sapi ya tikus. Hahaha. [] 

4 comments:

jeri kusumaa said...

Ahh ga gaul kowe Yos...
Bakso daging ikan sapu-sapu udah banyak om, cm emng ga disebutin. kadang cuma buat tambahan campuran daging Sapi yang mahal.

tapi... (ada tapinya) Daging ikan sapu-sapu tidak baik dikonsumsi untuk kesehatan, karena kandungan logamnya yang terlalu banyak.

Demikian sekilas info :p

Kuz9 said...

ikan sapu-sapu itu apa sama dengan ikan pemebersih kaca?

Kang Eko said...

gak ikut sekalian slulup sama nak kanak children itu po mas, hahahahahaha

Tekno Bolang said...

Yos nek nganggo ojek tapi alon2 oleh rak? He he