Pages

1/13/13

Death in Toraja


Ini adalah sebuah artikel panjang yang dikirim oleh Abi Lulabi (@lulabeep) tentang perjalanannya ke Tana Toraja. Sudah jarang Hifatlobrain menerima kiriman travelogue panjang dan kontemplatif seperti ini. Selamat membaca!
  
"Kami orang Toraja lebih meriah dalam merayakan pesta kematian ketimbang kelahiran atau pernikahan!"

Begitu introduksi menakjubkan yang diucap oleh ibu pemilik rental motor di Rantepao pagi itu. Seketika membuat rasa lelah dari perjalanan darat Makassar-Toraja selama delapan jam berubah menjadi hasrat menggebu. Hasrat untuk segera menjelajahi daerah yang terkenal dengan aura magis yang kental ini. Beruntungnya lagi, karena ibu pemilik rental motor ini adalah mantan tour guide, sehingga saya diberi peta gratis beserta rekomendasi tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi selama dua hari.

Secara administratif, wilayah Tana Toraja terbagi menjadi dua; kabupaten Tana Toraja dengan ibukota Makale, serta kabupaten Toraja Utara dengan ibukota Rantepao. Di Rantepao inilah para turis biasanya menjejakkan kaki. Maklum, destinasi-destinasi menarik di Toraja lebih banyak tersebar di utara, sehingga lebih mudah untuk dicapai dari sini.

Setelah mendapat motor, kami segera bergegas mencari sarapan dan penginapan. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Kristen, mencari makanan halal di Rantepao bukanlah hal yang sulit. Telah banyak tersedia warung-warung makan berlabel halal di tiap sudutnya. Biasanya penjualnya adalah para perantau dari Jawa yang mencoba mencari peruntungan di kota yang dulu merupakan wilayah paling misterius di Sulawesi ini. Konon Belanda sempat mengacuhkan Toraja selama dua abad karena akses transportasi yang sangat sulit pada masa itu.

Daerah yang dikelilingi oleh gunung dan tebing-tebing curam ini baru benar-benar dikenal oleh dunia internasional pada tahun 1970-an setelah National Geographic mendokumentasikan upacara pemakaman bangsawan terakhir Toraja yang berdarah murni, Puang dari Sangalla.

Mencari penginapan di Toraja sangatlah mudah. Tersedia bermacam penginapan dengan harga dan fasilitas yang bervariasi. Tetapi bulan Desember adalah perkecualian. Pada pergantian tahun warga Toraja dari berbagai penjuru dunia akan mudik untuk merayakan natal bersama keluarga. Turis pun lebih banyak datang untuk menyaksikan upacara adat yang bakal lebih banyak dilaksanakan. Konsekuensinya jelas: hampir semua penginapan fully booked dan harga sewanya melonjak. Membuat saya dan tiga kawan harus berpuas mendapat satu-satunya kamar yang tersisa di sebuah homestay kelas dua. Setelah tawar-menawar, disepakati harga 250 ribu rupiah semalam untuk diisi berempat.

Hari pertama kami menuju utara, ke arah pegunungan. Motor sewaan bekerja keras untuk mendaki jalanan menanjak penuh lubang. Satu dua motor yang "membonceng" babi melewati kami. Melintas pula beberapa mobil pick-up yang mengangkut kerbau. Saya diberitahu sebelumnya, jika ada orang yang membawa babi atau kerbau di jalan, kemungkinan besar mereka sedang menuju tempat pesta. Ternyata benar, di daerah Bori sedang dilaksanakan pesta kematian.

Kami memarkir motor di pinggir jalan, berdampingan dengan motor-motor lain yang entah milik keluarga, kerabat, atau mungkin sama-sama orang asing seperti saya. Satu kata yang saya tangkap dalam pesta kematian orang Toraja: meriah.


Para pemuda menyembelih babi, menampung darahnya dalam batang-batang bambu, kemudian membakar bulunya hingga rontok menggunakan selang panjang yang terhubung dengan tabung gas. Beberapa ibu memasak daging yang telah siap diolah di dalam wajan-wajan besar. Anak-anak berlarian kesana-kemari. Sebagian besar sisanya asyik berbincang di bawah sederetan tongkonan (rumah adat Toraja) sambil mendengarkan semacam pidato, doa, serta mantra dari seorang tetua adat lewat pengeras suara. Sama sekali tidak ada aura duka. Belum lagi rangkaian adu kerbau dan pembantaian kerbau yang alih-alih mengundang kesedihan, tetapi malah mengundang sorak-sorai dari siapa pun yang hadir.

Saya bertanya dalam hati, “Apa yang dirasakan keluarga yang ditinggalkan dalam pesta semacam ini? Apakah mereka bahagia atau justru menyembunyikan kesedihannya di sela gelak tawa?” Jawaban datang dari seorang pemuda Toraja yang saya temui. Dia bilang, pada saat ada orang meninggal, orang-orang di sekitarnya pastilah sedih. Tapi adat adalah adat. Pesta tetap harus dilakukan. Akhirnya kesedihan terganti oleh kesibukan menyiapkan pesta.

Orang Toraja menganggap kematian adalah peristiwa yang sakral. Kematian bukanlah akhir dari hidup seseorang, namun justru awal dari perjalanan menuju tempat bernama Puya. Dan untuk memuluskan perjalanan arwah newbie tersebut, kerabat yang hidup akan mempersembahkan kerbau sebagai kendaraan dan babi sebagai makanannya.

Dari situ bisa dipahami mengapa keluarga yang ditinggalkan akan berusaha sekuat tenaga untuk mempersembahkan kerbau dan babi sebanyak mungkin. Selain untuk mempermudah perjalanan si arwah, kuantitas persembahan juga berpengaruh pada status sosial keluarga tersebut. Orang Toraja juga percaya, jika pesta kematian tidak dilakukan dengan "layak", maka keluarga yang ditinggal akan diselimuti nasib buruk.

Karena seorang kawan tidak tahan melihat darah babi yang menggenang di tanah, kami pun melanjutkan perjalanan. Destinasi berikutnya adalah Bori Parinding, sebuah komples kuburan untuk masyarakat dari desa sekitarnya. Harap diingat, orang Toraja tidak mengubur mayat di dalam tanah, tetapi di dalam batu. Mereka menganggap tanah adalah elemen suci yang menumbuhkan kehidupan, sehingga mayat lebih baik disimpan dalam batu. Kondisi geografis Tana Toraja yang dikelilingi oleh batu-batu granit raksasa memungkinkan budaya itu ada. Di Bori Parinding, selain terdapat batu-batu besar yang telah diisi dengan peti mati, foto-foto almarhum yang dibingkai rapi serta keranda-keranda mayat dalam berbagai bentu, juga terdapat banyak sekali batu menhir berbentuk phallus.

Batu-batu menhir dengan berbagai ukuran itu merupakan buatan masyarakat sekitar sebagai penanda jika ada pemuka masyarakat yang meninggal. Tradisi unik tersebut telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Saya tidak tahu apa alasan orang Toraja membuat menhir-menhir ini. Namun sependek pengetahuan saya simbol phallus ini juga hadir di berbagai budaya kuno dunia. Dipercaya merupakan simbol oposisi biner yang jika dikawinkan akan menumbuhkan kehidupan baru. Ada yang mati, ada yang dilahirkan. Genesis. Dan kehidupan pun berjalan.

Di antara menhir-menhir tersebut terdapat semacam rumah pohon bernama lakian yang merupakan tempat untuk membagikan daging kerbau dan babi yang telah dipotong. Kemudian semua yang hadir akan makan bersama di salah satu tongkonan bernama balai kayam.


Perjalanan ke Pana merupakan pengalaman yang breathtaking, karena melewati sebuah daerah yang luar biasa indah bernama Batutumonga. Daerah ini merupakan dataran tinggi di mana kita bisa melihat kota Rantepao dan hampir keseluruhan Tana Toraja dengan begitu jelas. Sungai-sungai kecil yang mengairi areal persawahan, yang sebenarnya merupakan pemandangan yang biasa ditemui di Jawa, menjadi tampak sangat istimewa dengan kehadiran kerbau dan burung jalak yang mencari kutu di atasnya, serta beberapa atap tongkonan yang menyembul dari kejauhan. Sungguh ganjil pikir saya, kehidupan justru terasa lebih meriah di daerah yang identik dengan kematian ini.

Satu hal yang kurang dari Toraja Utara adalah minimnya papan penunjuk arah. Jika pun ada, itu adalah buatan mahasiswa KKN yang seringkali malah membingungkan.

Untuk sampai ke kuburan bayi di Pana, kami harus berkali-kali bertanya kepada warga sekitar. Tempatnya tersembunyi di sebuah tebing di balik kebun dan pepohonan. Tebing setinggi belasan meter dilubangi untuk dimasukkan peti-peti mungil berisi jenazah bayi. Di dasar tebing terlihat beberapa tengkorak dan belulang yang terkumpul dalam peti panjang. Entah jatuh atau sengaja diletakkan di sana. Karena ada pula tradisi menaruh peti berisi jenazah bayi di atas pohon, bukan di dalam batu. Mungkin karena tempatnya yang tersembunyi dari keramaian dan lembab oleh embun dan pepohonan, suasana di kuburan bayi itu terasa sunyi dan dingin, sangat dingin. Tapaknya alam sengaja mendesain tempat yang nyaman untuk para arwah bayi itu agar mereka lelap dalam tidur panjangnya.

Hari itu kami habiskan dengan berkeliling kota karena hujan tak lama turun dengan derasnya. Esoknya kami berkendara menuju selatan yang destinasi wisatanya lebih mudah ditemukan. Jalan menuju selatan sangat lebar dan mulus, berbanding terbalik dengan akses jalan menuju utara yang sempit dan berlubang. Maklum, ini adalah jalan penghubung Rantepao dan Makele yang selalu ramai. Pengaruhnya jelas: objek-objek wisata di selatan Rantepao begitu mudah didatangi. Apalagi tersedia billboard raksasa obyek-obyek wisata yang disponsori oleh satu satu perusahaan operator selular. Pengelolaannya pun lebih bagus. Lebih bersih, tertata, dan rapi.

Awalnya kami mendatangi Londa, kuburan di dalam goa. Di dinding luar goa, terdapat jajaran boneka-boneka kayu berbentuk manusia yang mewakili orang-orang mati. Boneka-boneka itu bernama tau-tau, dan tidak dibuat untuk sembarang orang. Boneka yang terbuat dari kayu pohon nangka ini hanya dibuat untuk para bangsawan.

Untuk masuk ke dalam goa, kita membutuhkan jasa guide yang merangkap sebagai juru terang pembawa petromaks. Menurut guide kami, kuburan goa ini khusus digunakan oleh keluarga Tongkele. Pertama jenazah akan diawetkan dengan balsem agar tidak berbau. Kemudian dimasukkan ke dalam peti dan ditaruh begitu saja di sudut-sudut goa yang cukup panjang ini. Peti-peti yang sudah lapuk akan hancur dan tengkorak serta tulang-belulang si jenazah akan dikumpulkan di satu tempat.

"Kenapa tidak dimasukkan ke peti yang baru?" tanya saya.

"Karena untuk mengganti peti harus melalui upacara lagi, biayanya sangat besar," jawab guide kami.

Di salah satu sudut goa terdapat sepasang tengkorak yang diletakkan berdampingan. Masyarakat sekitar sini menyebut mereka sebagai Romeo Juliet-nya Toraja. Semasa hidup, mereka adalah sepasang kekasih yang hubungannya tidak direstui oleh orangtua lantaran masih berkerabat dekat. Karena cinta sehidup mereka tak direstui, maka sepasang kekasih ini memilih cinta semati. Keduanya gantung diri bersama. Saya tersenyum, kematian justru malah membuat sejoli ini berdampingan happily ever after.


Lemo adalah tujuan kami berikutnya. Di sini kuburan terletak pada tebing-tebing curam. Ketika pertama melangkahkan kaki, puluhan tau-tau berdiri memandang saya dari atas tebing. Tangan mereka terentang ke depan, seolah sedang menyambut kawan lama yang sudah lama tidak berkunjung ke rumahnya. Secara keseluruhan, Lemo adalah kompleks kuburan yang indah dengan areal persawahan yang luas di hadapannya. Di areal persawahan itu terdapat beberapa saung yang menjual tau-tau untuk souvenir. Saya masuk ke dalam salah satu saung yang tidak berpenjaga. Tau-tau dengan berbagai rupa tersedia di sana.

Dari cerita yang saya dengar, semenjak Tana Toraja makin sering didatangi oleh turis, semakin banyak tau-tau yang dicuri untuk dijual ke museum atau sekedar dijadikan benda koleksi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, tau-tau yang masih tersedia di kuburan biasanya dipasangi pagar atau bahkan teralis besi agar tidak dicuri. Satu hal yang ironis, tau-tau yang dipercaya dapat melindungi keluarga yang masih hidup malah harus dilindungi dari para pencuri.


Sebelum pulang, kami mengunjungi tempat paling populer di Tana Toraja, Kete Kesu. Di sana bisa diibaratkan sebagai miniatur Toraja, karena memiliki semua hal yang merupakan daya tarik Tana Toraja secara keseluruhan. Di tempat ini terdapat berbagai bentuk tongkonan, kuburan batu, tengkorak, goa, kerbau, sampai toko souvenir. Tapi jujur saja, saya justru tidak betah di sini. Bagi saya Kete Kesu terasa begitu artifisial. Di sekitar kuburannya pun para turis sibuk berfoto dengan gayanya masing-masing. Beberapa bahkan ada yang menggunakan tengkorak dan tulang-belulang sebagai properti foto. Entah bagaimana reaksi para arwah itu ketika tengkorak mereka dimainkan oleh para turis untuk kemudian terpajang di jejaring sosial.

***

Berakhirlah perjalanan saya di Toraja, tempat kearifan lokal dan doktrin Kristiani dapat menyatu dengan indah. Di mana masyarakatnya memiliki pride yang tinggi. Tempat di mana aroma kematian begitu terasa dekat, sebagai entitas yang perlu diakrabi, bahkan dirayakan dalam upacara yang meriah. Saya dulu bercita-cita jika meninggal tubuh saya dikremasi kemudian abunya dibuang ke laut. Tapi sekarang saya berpikir, dikubur di dalam batu sepertinya asyik juga...[]

1 comment:

galih s putro said...

aiihh...lama gak mampir HFLB ada liputan ttg Toraja
pertengahan 2012 kemarin aku jg abis dr Toraja..bertepatan dg rame2 upacara pemakaman..tp aq lebih tertarik dengan bus Makassar-Rantepao daripada upacara pemakaman...hahahaha