Pages

1/28/13

Fish In Banda


Seorang teman menulis panjang lebar tentang kegelisahannya melihat banyak destinasi wisata yang rusak akibat serbuan para turis. Dan pendosa yang paling bertanggung jawab -menurut dia- adalah para penulis perjalanan, fotografer, dan juga blogger yang selalu menawarkan gambaran utopis sebuah tempat. Hifatlobrain menjadi sasaran tembak yang empuk karena pernah menulis kisah perjalanan ke Cagar Alam Pulau Sempu sebanyak dua kali. Kami akui memang 'dosa' itu pernah kami lakukan. Bukan karena lalai, tapi karena kurang ilmu. Sekarang saat pengetahuan kami bertambah, Hifatlobrain tidak lagi menerima dan menulis kisah perjalanan yang berpotensi mencederai kualitas alam. Kami belajar dan berproses kawan. 

Meski begitu, sebetulnya banyak juga penulis perjalanan yang sadar lingkungan dan sadar etika. Misalnya Norman Edwin yang getol menulis kisah petualangan alam bebas dan mengedukasi masyarakat tentang kawasan lestari. Tulisan-tulisannya muncul di berbagai media seperti majalah Mutiara dan Suara Alam. Sama seperti Agus Prijono yang saat ini sering menulis tentang wisata berkelanjutan di National Geographic Indonesia. Ada juga Don Hasman yang fokus memotret dan menjadi sahabat baik Suku Baduy selama lebih dari 30 tahun. Dedikasi mereka terhadap sebuah destinasi tidak perlu diragukan lagi. 

Slamet Suseno, mantan pimred Trubus, juga sering menuliskan kisah perlawatan dengan sudut flora fauna endemik sebuah destinasi. Pada beberapa artikel, Slamet menulis tentang konservasi penyu, menyusutnya populasi pesut mahakam, hingga perlindungan gajah di Lubuk Gadang, Solok, Sumatera Barat. Gaya menulisnya begitu cerdik dan segar. "Untuk penulisan fauna, aku pikir Slamet Suseno belum ada tandingannya di Indonesia," kata Bernard Wahyu Wiryanta, pendiri situs Wildlife Indonesia.  

Di sisi lain, ada Bondan Winarno yang sempat mengasuh blog Jalansutra untuk Kompas Cyber sejak tahun 2001. Sebagaimana Kamasutra, kolom tersebut dimaksudkan Bondan sebagai panduan etika para pelancong. Bila Kamasutra adalah panduan tentang Kama (hubungan jasmani perempuan dan lelaki), maka Jalansutra adalah pengetahuan tentang jalan-jalan. Bondan bermaksud membagi pengalaman kepada pembacanya agar menjadi pejalan cerdas (savvy traveler). Bagaimana memilih buku sebagai teman penerbangan lintas benua? Apa yang harus diperhatikan selama berwisata ziarah? Bagaimana memilih pijat sahih (tanpa plus-plus) di sebuah daerah? Semua tersaji ringan dalam kolom Bondan yang kelak berkembang menjadi milis kuliner yang sangat solid. 

Tapi itu kan penulis-penulis tua, ada nggak penulis perjalanan hari ini yang sadar lingkungan?

Tentu saja ada. Selain Agus Prijono yang disebut di awal, ada pula penulis wanita seperti Wiwik Mahandayani dan Ary Amhir. Wiwik menulis beberapa buku tentang ekowisata, salah satunya yang beredar luas adalah buku "The Green Traveler". Sedangkan Ary memberikan kontribusi sosial untuk anak-anak Banda Kepulauan sebagai hasil dari penjualan buku "Negeri Pala"-nya. 

Belakangan, Ary mengajak seorang mahasiswa pascasarjana Desain ITB, Ari Kurniawan, untuk merancang poster persebaran ikan di Banda. "Datanya kuambil dari TERANGI (Yayasan Terumbu Karang Indonesia), trus diolah Ari jadi infografis. Buat edukasi anak-anak lokal dan pelancong yang akan menyelam di Banda Kepulauan," kata Ari.

Dan inilah infografis "Fish in Banda" hasil karya duo Ari-Ary. Bagi yang ingin mengunduh versi besarya bisa masuk ke halaman Mediafire kami.

1 comment:

jasa translate said...

Wah Ikannya unik-unik ya. Jadi pingin kesana