Pages

3/20/13

Taste of the Wild



Teks dan foto Lisa Virgiano 

Minggu lalu saya mengadakan sebuah perjalanan kuliner yang sangat berkesan di Jawa Timur. Saya mengunjungi berbagai macam tempat dan mencobai berbagai makanan khas dengan citarasa yang otentik. 

Di Gresik saya mencoba es Siwalan dengan gula aren, Bubur Rumo yang dihidangkan bersama daun kecapi, dan Dadar Kampat, omelet ala Gresik yang tersaji dengan ikan Janjan. Ikan Janjan sendiri banyak ditemui di pesisir utara Jawa.  Bentuk tubuhnya kecil panjang berdiameter seukuran jari orang dewasa. Saat menggoreng biasanya ditusuk lidi agar tidak mlungker, menggulung tubuh. Rasanya gurih. 

Saat menyeberang ke Madura, saya dan kawan-kawan mencoba Topak Ladeh (kue beras ala Madura yang dilapisi kustad santan, srundeng, rempah, dan cabai), Soto Jagung (paha sapi yang dikukus dalam kaldu pedas bersama jagung goreng), dan Rawon Madura yang tersohor.

Namun dari semua destinasi yang saya kunjungi, tidak ada yang lebih berkesan daripada Desa Galengdowo di Jombang. Ada sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di sebuah desa nan asri di kaki Gunung Anjasmoro ini, dimana menjadi liar adalah sebuah kebiasaan baik.

Desa Galengdowo terdapat di Kecamatan Wonosalam, Jombang. Sebagain besar masyarakatnya hidup dari hasil pertanian. Petak-petak sawah terhampar luas, air terjun Tretes mengalir di sudut desa, semilir angin gunung menyejukkan hati. Kualitas alam Desa Galengdowo masih begitu prima. 

Berbagai macam buah-buahan yang tumbuh dibudidayakan tanpa pupuk kimia. Saat saya tiba, duren Bido Wonosalam yang menjadi favorit para penikmat buah karena dagingnya yang legit sedang berada pada musim puncaknya, dimulai dari bulan Januari atau Februari. Bayangkan Anda bisa menikmati buah durian yang matang di pohon, memetik rambutan yang ranum di pekarangan rumah, atau menyesap kopi jenis liberica yang tumbuh subur di desa ini. Tuhan memberkati penduduk Galengdowo dengan sumberdaya alam melimpah. 

Saya mengenal desa ini dari Hayu Dyah Patria, teman saya pengelola komunitas Mantasa yang bergerak di bidang pemberdayaan panganan alternatif. Sejak beberapa tahun yang lalu, Hayu mengajak ibu-ibu di Desa Galengdowo untuk mengolah aneka tumbuhan liar yang banyak tumbuh di pematang sawah, pekarangan, tepi jalan, dan pinggir sungai sebagai bahan baku panganan tradisional. 

Ternyata, bila ditangani dengan benar, tumbuhan marjinal seperti krokot, tempuyung, rempi, kastuba, dan pegagan mampu memberikan sumbangsih citarasa yang elegan pada sebuah makanan.

Daun krokot yang memiliki rasa asam segar dapat diolah menjadi selai lezat dan dijadikan sebagai isian kue nastar? Anak-anak pun suka. Daun krokot kaya akan Omega3, sehingga baik dikonsumsi untuk mengurangi resiko penyakit jantung dan menjaga kadar kolestrol dalam darah karena meningkatkan kinerja pembuluh darah.

Daun kastuba, atau lebih dikenal sebagai daun racun, ternyata bisa juga diolah sebagai hidangan lauk yang maknyus. Sayur kastuba cocok sekali bersanding dengan nasi jagung, dan lauk tempe tahu. Kastuba sendiri memiliki karakter rasa yang netral dan warna hijau alami yang menawan. Itu sebabnya ibu-ibu Galengdowo juga mengolah Kastuba sebagai bahan baku dawet dan kue putu ayu.



Pohon bambu yang banyak tumbuh liar di pinggir sungai membuat kringking menjadi hidangan lokal andalan. Kringking adalah rebung yang diawetkan, dengan cara pengasapan alami dan juga pengeringan sinar matahari. Kringking hanya dapat ditemukan di Galengdowo dan nikmat disantap sebagai pengganti daging sapi, dengan bumbu pedas manis maupun ala gulai. Sedap!

Apalagi yang bisa saya ceritakan untuk menggelitik jiwa petualangan kuliner Anda? Oh ya, ada juga peternakan sapi mandiri yang menghasilkan susu segar setiap pagi! Di Galengdowo, eksotika kuliner bersatu dengan ritme alam raya. Memberikan pengalaman citarasa yang tidak ada bandingannya. 

Melalui kuliner Galengdowo saya belajar bahwa menjadi liar itu baik, bergizi, dan penuh selera!

______________________________________________

Kontributor











Lisa Virgiano menyukai wisata kuliner sejak SMA dan mendengarkan Anang Hermansyah entah sejak kapan. Setelah menyelesaikan pendidikan master di Malmo University, Swedia, Lisa mendirikan Azanaya, sebuah social business yang memperkenalkan ragam budaya kuliner Nusantara.   
  
Temui mbak satu ini di situs http://www.azanaya.com/
______________________________________________

Bonga Bonga Bersama Rahung



“Beta Pattiradjawane penjaga hutan pala // Beta api di pantai, siapa mendekat // Tiga kali menyebut beta punya nama // Dalam sunyi malam ganggang menari // Menurut beta punya tifa // Pohon pala, badan perawan jadi // Hidup sampai pagi tiba.”
(Cerita Buat Dien Tamaela – Chairil Anwar)

Lepas dari kebesaran dan kepopuleran nama Indonesia di mata pelancong internasional karena keindahan alam dan budayanya, kita tentu saja tidak bisa mengesampingkan khazanah rasa yang dimiliki Indonesia. Keberagaman atas jenis rempah sebagai bumbu utama telah menjadikan Nusantara sebagai tujuan eksplorasi para penjelajah dari barat maupun timur tengah. Ini adalah sebuah wawancara pendek ala Lukman Simbah yang santai, sedikit liar dan banal, tentang perayaan kehidupan sang pelancong sosial: Rahung Nasution.

HFLB: Bung.. posisi dimana?

Rahung: Di rumah, kenapa bro?

HFLB: Kau sibuk ga? Mumpung online mau wawancara nih..

Rahung: Busyet, wawancara apaan neh? Hahaha gue lagi ngedit.

HFLB: Kan sudah kubilang, pengen interview kamu. Ya wis kabari kalau kau sudah senggang.

Rahung: Asuuu, iki Hifatlobrain tho! Preeet. Hahancuuuk. 

HFLB: Hohoho yowis langsung tunjepoin wae lah cuk, apa yang mendasari kamu membuat video Pelancong Sosial? Sebuah video pendek yang ciamik itu.

Rahung: Idenya sederhana saja bro. Pergi ke beberapa tempat, ke pelosok-pelosok negeri ini. Sungguh indah, tapi sungguh tragis juga. Ironi. Ketidakadilan sosial. Itu saja yg mendasarinya.

HFLB: Sudah berapa lamakah kamu mengumpulkan footage dari perjalananmu tersebut?

Rahung: Footage yang terangkum dalam "Pelancong Sosial" awalnya memang aku tidak merencakan untuk membuat dokumenter perjalanan. Dari melancong ke beberapa tempat, untuk kepentingan pekerjaan selama 2 tahun lebih itulah kemudian muncul ide ini. Baru menemukan bentuknya.

HFLB: Oh I see… Aku sangat menyukai ide pelancong sosial ini, mengambil angle rempah dan kemudian masuk ke ranah sosial kemasyarakatannya. Tapi kenapa sih rempah? 

Rahung: Kenapa rempah? Karena selama berabad-abad, nusantara telah menjadi rebutan dan menjadi negeri taklukan bangsa Barat. Rempah telah merubah peradaban dunia modern, merubah cita-rasa, menyebabkan ribuan ekspedisi dan perang... bahkan menginspirasi syair-syair, juga rempah berdampak pada kehidupan ranjang :p

HFLB: Apa itu juga terjadi di kehidupan ranjangmu? Sehingga kamu mencari bahan-bahan aprodisiac  Nusantara? Hahaha…

Rahung: Hahaha! Aku menyukai bunga Pala. Baunya seksi. Juga bikin ngantuk. Lebih akrab dengan ranjang.

HFLB: Kamu kan sudah melancong ke berbagai tempat di Indonesia sebagai koki gadungan. Menurutmu, apakah makanan sebuah tempat bisa menggambarkan keadaan sosial politik di masyarakatnya?

Rahung: Secara langsung tidak bisa. Tetapi kalau kita nyemplung ke dalamnya pasti bisa. Misalnya soal ketergantungan masyarakat Indonesia Timur pada beras. Inikan hal yang baru. Ini soal kebijakan politik perut yang salah kaprah dari negara. Makanan itu produk budaya, tradisi dan kebiasaan. Jadi erat kaitannya dengan politik perut.

HFLB: Okay, tentang permasalahan unsur beras sebagai bahan makanan pokok di Indonesia Timur. Seandainya masyarakat di sana kembali ke bahan makanan pokok semula seperti umbi-umbian. Apakah hal itu bisa mengatasi permasalahan kekurangan bahan pangan disana?

Rahung: Kita tidak bisa memaksa orang untuk "kembali memakan" umbi-umbian, karena sudah ada ketergantungan pada beras. Dan pemaksaan itu sesuatu yang buruk. Yang perlu kita lakukan adalah kembali mempopulerkan berbagai sumber pangan selain beras. Dan negeri ini kaya. 

Kita juga membutuhkan edukasi tentang pangan, bahwa padi itu tanaman yang manja, butuh air yang banyak, lahan yang luas. sementara ada banyak sumber karbohidrat yang baik dan bisa didapatkan dari umbi-umbian... Konon katanya sukun memiliki karbo yang baik.

HFLB: Dulu ketika di Taring Padi denger-denger katanya Bung sering memasak. Makanan apa yg sering kamu hidangkan untuk kawan-kawan waktu itu?

Rahung: Di markas Taring Padi ketika masih jaman okupasi di eks-Asri Gampingan, menu utama dan hampir setiap hari adalah bunga pepaya dan daun ubi rebus, dimakan dengan ikan asin dan tempe. Sesekali bikin sop ayam. Itu daun ubi dan daun pepaya dari kebun Taring Padi sendiri

HFLB: Wah sangat berdikari ya!

Rahung: Maklum bung, waktu itu kami miskin dan revolusioner, hahaha. Yang kami beli biasanya tempe dan ikan asin. Kalau untuk tomat, cabai dan sayur-mayur, biasanya kami menanam di kebun.

HFLB: Oh ya, di video Pelancong Sosial itu di scene sebuah pasar, kamu memegang potongan tubuh phyton. Itu pasar di daerah mana bung? 

Rahung: Itu di pasar Tomohon, Manado. Salah satu pasar tradisonal paling keren yang pernah aku lihat!

HFLB: Berapa harga per kilo untuk daging ular saat itu?

Rahung: Di sana daging ular lebih mahal dari daging sapi maupun babi. Saat itu per kilonya mencapai 50 sampai dengan 60 ribu rupiah.

HFLB: Wah... masih lebih murah dibanding daging sapi…



Pelancong Sosial dan #BongaBonga

HFLB: Perbedaan pelancong sosial sama pelancong biasa itu apa yah? Dan kenapa kamu menyebut dirimu sebagai pelancong sosial?

Rahung: Aku juga tak tau lah bedanya apa. Mungkin sama saja, tapi dengan tambahan embel-embel sosial. Aku ingin setiap pelancong membuka mata pada persoalan sekitar. bukan sekedar menjadi "tamu" yang menikmati keindahan, numpang tidur kemudian makan, kentut dan beol

HFLB: Apa yang kamu dapat dan harapkan dari sebuah perjalanan yang seperti itu? Dan pasti kau akan menjawab untuk melabuhkan hatimu kepada para gadis lokal hehehe… 

Rahung: Selain jatuh cinta pada nona-nona setempat, pastinya kita mendapatkan banyak hal. Mencoba memahami budaya mereka, lebih dekat dengan mereka dan tidak menempatkan diri sebagai tamu. Konon di negeri ini tamu dianggap raja. Kita mestinya menjadi teman, bukan tamu.

HFLB: Teman ranjang maksudnya?

Rahung: Teman di dapur lah, alangkah baiknya juga kalau ketemu teman di ranjang, asu koen cuk! Hahaha

HFLB: Siapa figur pelancong sosial yang menjadi idolamu? Apakah Snouck Hurgronje? Ibnu Battutah? Tan Malaka? Atau ada nama lain? Karena kupikir. seorang pelancong pada jaman dulu kala juga merangkap sebagai observer ulung. Mereka membuat catatan sospol, ekonomi dan budaya.

Rahung: Untuk hal ini aku belum memiliki idola bro. Snouck Hurgronje itu kan antropolog sesat yang hanya memanfaatkan Aceh untuk kepentingan Belanda. Kalau Tan Malaka, dia bukan pelancong sosial, dia penggagas revolusi. Hidupnya untuk revolusi dan dia menikahi revolusi, hahahaha. Mereka membuat catatan untuk ilmu pengetahuan atau pengabdian pada imperialisme. Kalau aku karena pengabdian pada dapur dan perut saja bro. Misi yang sederhana, hahaha.

HFLB: Misimu mulia sekali bung. Kau layak memasak buat kami! Omong-omong, apa sih yang kau maksud dengan bonga-bonga? Karena susah menemukan artinya melalui pencarian Google dengan kata kunci tersebut.

Rahung: Bonga-bonga itu semacam revitalisasi dari spritualisme yang pernah berkembang di Nusantara. Realisasi dari ajaran ini dapat kita temukan di relief-relief candi. Seperti di candi Borobudur, Candi Bahal di Portibi, Padang Lawas dan berbagai candi lainnya. Ajaran ini pernah marak dan berkembang kira-kira abad ke-9 dan 11. Di relief-relief itu bisa kita melihat pertemuan antara lingga dan yoni, pesta pora merayakan hidup dengan kenikmatan, itulah bonga-bonga.

HFLB: Semacam bentuk syukuran ya seperti di kampung?

Rahung: Nah itu sudah! Hahaha.

HFLB: Tolong Bung beri pesan untuk pembaca Hifatlobrain yang pekok dan bonga-bonga.

Rahung: Tempat tujuan bukan hal yang penting, yang paling penting adalah bagaimana kita berbonga-bonga dengan masyarakatnya dan merayakan keberagaman kehidupan! Hail bonga-bonga!


Rahung Nasution bisa disapa pada akun twitter @rahung atau bisa juga menengok http://cokiliciouz.tumblr.com/  

  

3/19/13

Cross Java Walk


Teks dan foto oleh Anitha Silvia

Hanya 10 menit berjalan kaki dari kost saya ke ViaVia di Prawirotaman -sebuah jalan di Yogyakarta dengan banyak turis asing berkeliaran. ViaVia sendiri adalah restoran yang juga mengelola fair shop, kelas yoga, art space, guesthouse, dan paket city-walk tours. Menu utama malam ini di ViaVia adalah Walk-Talk, sebuah bagian dari pameran Cross Java Walk oleh Bert Sacre. 

Bert Sacre adalah pria Belgia setengah waras. Ia memiliki proyek pribadi yang disebut Cross Java Walk. Dan malam ini adalah pembukaan eksibisi dokumentasi perjalanannya berjalan kaki dari Semarang (Laut Jawa) hingga ke Parangtritis (Samara Hindia) melalui empat gunung vulkanik Ungaran, Telomoyo, Merbabu, dan Merapi. Total jalur sejauh 200 KM ditempuhnya selama 12 hari. 

Pameran digelar di area restoran. Sepanjang dinding ViaVia digambar peta perjalanan dengan memamerkan artefak berupa foto, diary grafis, mie instan yang dikonsumsi selama perjalanan, sepatu, dan bebatuan yang diambil dari gunung. Bert mengemasnya dengan caption yang menarik, sehingga tak bosan saya memandangi semua artefak perjalanannya. Foto lanskap Gunung Merapi, Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, Gunung Telemoyo, dan Rawa Pening memenuhi ujung dinding menyentuh langit-langit. 

Karena saya adalah penggiat jalan kaki, maka saya sangat menyukai pameran ini. Meski menurut saya ruang pamerannya kurang begitu pas dan tidak representatif untuk pameran, karena harus berbagi dengan pengunjung restoran yang sedang makan dan minum bir. Tapi sekaligus tetap pas karena ViaVia sendiri menjalankan city-walk tour.


Saya rela datang dari Surabaya khusus untuk menghadiri acara ini. Sebelum acara dimulai saya sempat ngobrol dengan Bert dan langsung nyambung karena sama sama suka dengan ide berjalan kaki (di dalam kota). Dan saya memberikan jawaban "iya" saat mereka bertanya apakah saya mau berjalan kaki dari Semarang ke Parangtritis seperti yang telah Bert lakukan. 

Bert membuka Walk-Talk dengan pertanyaan "Gunung mana yang sudah kalian daki?" Setiap orang yang datang memberikan jawaban, ada yang sering mendaki gunung, ada yang baru sekali mendaki gunung, ada juga yang belum pernah mendaki gunung. Bert mulai berbagi mengenai Cross Java Walk. Ide itu muncul saat dia berada di puncak Gunung Merbabu dengan pemandangan alam yang memukau, Bert melihat sejumlah gunung lainnya dan Laut Jawa. Maka terpikir di benaknya untuk berjalan kaki dari Laut Jawa melintas sejumlah gunung lalu kembali menyentuh laut, Samudra Hindia, pasti menyenangkan. 

Persiapan dilakukan, Bert mulai dari bersepeda di Yogyakarta untuk mencari setapak menuju Pantai Parangtritis, mencari data dengan Google Earth. Tapi yang paling membantunya adalah Wikimapia, karena lebih detil menampilkan desa yang akan dilalui. Petunjuk pendakian di empat gunung yang dituju sudah banyak tersedia, tapi yang paling susah adalah mencari informasi mengenai jalan antar-gunung, wikimapia sangat membantu memetakan perjalanannya. Situs lainnya yang sangat membantunya adalah http://www.gunungbagging.com/ 

Pemetaan selesai, Bert mencetak 12 peta dalam pecahan 200 KM yang akan ditempuhnya selama 12 hari. Jadi Bert memasang target menggunakan satu peta untuk satu hari perjalanan.

Rute perjalanan Bert

Selanjutnya tahap packing. Bert membeli ransum ala orang Indonesia, maksudnya adalah makanan instan dalam bentuk sachet di minimart yang menjamur di Yogyakarta. Salah satu artefak yang dipamerkan adalah satu bungkus mie instan yang ditulisi : Love and Hate

Berat ranselnya sekitar 20 kilogram berisi tenda sewaan dan dua botol besar air mineral. Pada akhir September 2012 dia berangkat dengan bis ke Semarang, menyentuh kumpulan air bernama Laut Jawa di Pelabuhan Tanjung Mas dan memulai Cross Java Walk.   

Yang paling menarik dari Cross Java Walk adalah berjalan kaki di bantaran sungai, masuk keluar kampung, mengikuti rel kereta api, bertemu kembali dengan jalan raya, menyusuri sawah, menembus hutan. Dengan keramahan orang Jawa, Bert mendapat tumpangan bermalam, makanan minuman gratis, dan juga pertanyaan-pertanyaan dari warga sekitar.



Bagi Bert yang paling indah dalam perjalanan ini adalah berada di puncak Merbabu. Saat itu hanya dia manusia yang ada disana. Dalam kesendirian Bert menikmati pemandangan yang memukau, mendengarkan alam, dan diberkati matahari terbit yang sangat indah. Bert bilang itu memang cheesy. Tapi ya memang itu yang ia rasakan. 

Satu lagi yang berkesan yaitu di Jawa ia masih menemukan hutan tropis bagaikan taman Jurassic, hutan lebat dengan burung besar yang melintas, membuatnya merinding. Pulau Jawa menurut Bert adalah unik. Dengan populasi penduduk terpadat dan perkembangan kota-kota yang pesat, namun dalam jarak 1 kilometer dari jalan raya Bert bisa menemukan pedesaan, alam yang menenangkan jiwa, candi, dan hutan rimba! Gunung di Jawa juga belum dipatenkan jalur pendakiannya, jadi terasa lebih seru.  

Tiga gunung sudah ia jejaki. Memasuki teritori Gunung Merapi, Bert mengajak dua kawannya ikut serta karena Merapi terbilang berbahaya. Gunung vulkano yang masih aktif membuatnya cemas, maka ia mengajak dua kawan supaya hatinya lebih tenang. Mereka berhasil mendaki dan menikmati fenomena alam yang ajaib yaitu melihat matahari dan bulan dalam satu pandangan. Bert lebih suka menikmati alam dengan diam, mendengar suara alam, dan sempat terganggu dengan sebuah grup pendaki yang menyetel keras keras musik dan bersahut-sahutan.

Apakah kamu mendapatkan pengalaman spiritual karena pulau Jawa penuh dengan kisah mistis? tanya seorang peserta. Bert menjawab tidak, setelah melamun sejenak Bert menambahkan bahwa dia merasakan pikirannya kosong selama perjalanan, dia lupa hari dan jam. Bert hanya berjalan tanpa pikiran yang berat (seperti tuntutan untuk menyelesaikan perjalanan dengan selamat dan tepat waktu), dia menyebutnya sebagai meditation walking

Bert mengajak kami untuk keluar, mengetahui dunia, tidak perlu dengan jarak yang jauh, dia menyarankan untuk jalan kaki di sekitar rumah, di kota dimana kita tinggal. Mengenal kota dengan berjalan kaki adalah hal yang menyenangkan. Ajakan Bert disambut oleh seorang peserta yang berbagi cerita betapa dia terkejut dengan fenomena yang ia temui saat melancong berjalan kaki di kawasan Glodok, Jakarta, kawasan kota tua yang menarik. Peserta lainnya berbagi pengalaman menarik saat ia berjalan kaki di Jepara yang dikelilingi pantai dan bukit. Saya juga berbagi pengalaman berjalan kaki yang membuat saya lebih mencintai Surabaya. Meskipun kota ini masih belum ramah untuk pejalan kaki, tapi kita tidak perlu menunggu fasilitas umum untuk pejalan kaki bukan? 

"Bagaimana kamu menjaga kesehatan selama perjalanan?" saya melontarkan pertanyaan terakhir. 

"Berjalan kaki adalah sehat", jawab Bert dengan santai. 

Menurut Bert, tubuh manusia didesain untuk berjalan kaki. Kita mampu untuk berjalan kaki untuk jarak yang jauh. Bert tidak makan daging, makan sayur dan minum air putih menjaga kestabilan tubuhnya, dia juga selalu makan snack kesukaannya: Snickers. Walking is healthy and cheap, Bert (hanya) menghabiskan 500.000 rupiah selama perjalanannya. The talk about the walk was a success as well. It's good to see people leave with fresh walking plans!

Walk-Talk ditutup dengan video screening Cross Java Walk yang Bert sendiri kerjakan, silakan cek situsnya:

http://www.bertorama.net/en/content/cross-java-walk


______________________________________________

Kontributor













Anitha Silvia adalah penggerak kelompok pejalan kaki yang berbasis di Surabaya, Manic Street Walker. Tahun lalu ia mengelola sebuah zine perjalanan berjudul Halimun yang terbit sebanyak 12 edisi saja. Wanita yang hobi membaca buku dan mendengarkan rilisan netlabel ini sedang memetakan rencana untuk berjalan kaki menyusuri Kali Brantas. 
  
Temui mbak satu ini di akun twitternya: @anithasilvia.
______________________________________________

3/15/13

Mutiara Nusantara Hajjah Assabariah



Resensi oleh Nurwahid Budiono

Siapa saja traveler yang menginspirasi Anda? Pejalan klasik seperti Jack Kerouac atau Ernesto Guevara? Atau dari dalam negeri seperti Bondan Winarno, Gol A Gong, Sigit Susanto, atau pun Agustinus Wibowo? Mereka adalah sederetan pejalan yang menuliskan kisah tentang tempat-tempat dan juga tak alpa menyigi sisi kemanusiaan beriringan dengan eksotisme sebuah destinasi. Bila tipe pejalan yang demikian merupakan penyulut gejolak kelana Anda, maka sungguh patut menambahkan satu lagi nama avonturir yang selama ini luput dari daftar tersebut.

Lobrainers, sebelum saya mengulas lebih jauh, ijinkan saya berbasa-basi dengan mengutip sebuah frasa yang diucapkan oleh eyang G. K. Chesterton dalam The Riddle Of The Ivy; The whole object of travel is not to set foot on foreign land; it is at last to set foot on one’s own country as a foreign land.

Saya memaknai bahwa setiap destinasi pada dasarnya tak akan pernah selesai untuk dikulik jika pejalan selalu memperbaiki sisi telisik yang dimilikinya. Atau kalau dalam bahasa populer, bukan jumlah destinasi yang kita kunjungi melainkan yang terpenting adalah seberapa banyak pelajaran yang kita dapat. Sembari menegaskan bahwa keliling negeri sendiri pun tetap keren.

***

Hajjah Assabariah merupakan nama underrated -bila tak mau disebut “tak dikenal”- bagi pegiat perjalanan negeri ini. Tentu masih sedikit dari kita yang memasukkannya dalam daftar traveler idola. Google pun ternyata melempem untuk mencari lema Hajjah Assabariah dalam kolom pencariannya. (Duh, maaf saya memang korban kedigdayaan Google nih, jadi saya terlanjur menilai popularitas seseorang berdasar seberapa banyak namanya matched dengan hasil pencarian).

Saya baru tahu kisah perjalanan nyonya Assabariah setelah membaca buku “Mutiara Nusantara” yang disumbangkan oleh Nody Arizona sebagai koleksi pustaka Hifatlobrain. Wanita ini melakoni trip jalan kaki seorang diri menjelajahi Indonesia dari Sabang sampai Merauke selama 16 tahun. Saya ulangi lagi; jalan kaki seorang diri! Dahsyat lagi karena saat memulai perjalanan panjang ini usia beliau menginjak 49 tahun dan memiliki empat buah hati yang ditinggalkan di rumah. 

Mungkin ahli jiwa dari jaman apapun akan menyudutkannya dengan sebutan masokis. Melakoni perjalanan keliling Indonesia sejauh ribuan kilometer hanya untuk… sebuah kepuasan batiniah? Saya tak yakin betul ada orang yang benar benar melakukannya. Barangkali yang bisa menyamai rekor Hajjah Assabariah hanyalah Forest Gump yang bolak balik melintas Amerika dengan berlari. Iya, Anda sudah tahu arah tulisan ini adalah glorifikasi. Karena memang saya tak menemukan sisi lain yang tak pantas diglorifikasi.

Tak ayal bila banyak pihak termasuk Presiden Soeharto menyarankan kisah perjalanan Assabariah ditulis sebagai warisan generasi setelahnya. Dan beruntunglah saya sebagai generasi hari ini bisa membaca kisah epik yang nyaris terlupakan ini. 

Adalah Yayasan Bhakti Sarinah Jakarta (YBS) yang akhirnya merangkul Assabariah dan menunjuk Sugiono MP sebagai perenda cerita. YBS menyetujui untuk menerbitkan seri catatan perjalanan ini dengan tajuk Mutiara Nusantara. Tuntas ditulis oleh Sugiono MP berdasar penuturan Hajjah Assabariah dan diterbitkan pada tahun 1989. Lawas sekali bukan!

Buku ini istimewa karena kisah yang ditulis Sugiono menggunakan kata ganti ‘Aku’ untuk merujuk pada Hajjah Assabariah. Bahasanya gemulai indah khas melayu klasik namun juga sekaligus baku. “Menuliskan pengalaman orang lain dengan gaya tuturan (aku) tidaklah mudah. Antara pelaku dan penulis terdapat jarak usia, pengalaman batin, dan visi yang disebabkan oleh bentukan latar kehidupan yang berbeda pula,” kata Sugiono dalam pengantarnya.

Kenyataannya Sugiono mampu melebur menjadi ‘Aku’ bagi Hajjah Assabariah. Sehingga cerita yang sampai pada pembaca pun terasa intim.

...Kini, pada malam hari bulan Juli, aku tegak di tengah Lapangan Merdeka (Medan, pen), siap melanglang Nusantara. Seorang diri. Berjalan kaki.
Itu niatku.
Itu tekadku
Itu yang kumau...” (hal 5)

Bekalnya berupa ransel gendong berisi buku catatan dan buku sejarah, topi, kaos oblong, dan sepatu olahraga. Lalu Hajjah Assabariah menapakkan kaki menyisir jalan yang dikelilingi hutan-hutan. Bertemu kawanan gajah mengamuk. Kehabisan bekal makan dan minum di pesisir barat Aceh. Beserta kisah menggetarkan lainnya.

Membacanya membuat saya merinding berkali-kali. Beliau memang pernah ikut dalam garda depan pejuang kemerdekaan. Sehingga getihnya telah memerah penuh api untuk urusan semangat juang. Perjalanan yang ajegile itu merupakan nazar yang beliau pendam semenjak umur belasan. Sebuah janji untuk berkeliling negeri dan melihat secara langsung eloknya ibu pertiwi.

Muatan tulisan lebih didominasi oleh paparan sejarah tentang tempat-tempat yang disambangi beliau. Kampung-kampung yang pernah menjadi basis pertahanan bersama teman-teman seperjuangan semasa perang. Berlatar profesi sebagai seorang pengajar, Hajjah Assabariah mampu menutur riwayat demi riwayat secara teratur. Bila dibuat prosentase, mungkin 45 persen berupa sejarah arkipelago, 35 persen nilai-nilai kebijaksanaan, dan 20 persen pengalaman jejalan.

Dari buku ini saya baru tau bahwa di Aceh terdapat kerajaan Islam yang telah berdiri sebelum Samudera Pasai. Kerajaan Peureulak berada di sisi selatan Aceh  dengan nama daerah yang sama. Sekitar era 840-1292 Masehi Kesultanan Peureulak mulai berkembang. Sehingga dinobatkanlah sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara. Padahal seingat saya yang pertama adalah Samudera Pasai. Bahkan menurut ceritera, Kerajaan Peureulak telah mendirikan perguruan tinggi bernama Zawiyah Cotkala. Bila sas-sus sejarah ini valid, maka Zawiyah Cotkala barang pasti merupakan perguruan tinggi pertama di Asia Tenggara. Edan!

Sesungguhnya buku ini mendapat endorsement yang luar biasa dari pejabat tinggi negara pada masanya. Mulai Presiden Soeharto beserta Ibu Tien, hingga ketua DPRD Aceh era 80’an. Juga disertai foto-foto tempat yang pernah dilalui beliau. Namun nampaknya buku ini tidak mendapat anemo dari masyarakat saat itu. Selain sulit ditemukan bahkan melalui Google, buku yang semula direncanakan berseri (mulai Aceh dan seterusnya) tak lagi saya dapatkan informasi keberlanjutan serialnya. Mungkin memang penerbit tak melihat sisi suksesnya di pasaran. Atau malah barangkali Hajjah Assabariah telah berpulang ke sisi Tuhan setelah buku pertama terbit. 

Bagi yang memiliki informasi detailnya, saya persilahkan berbagi disini.

***

Perkenankan saya untuk kembali mengutil bait-bait tuah Hj. Assabariah:

“Sepi, tanpa saksi.
Sepi, tiada upacara hura-hura.
Sepi, aku sendiri, tanpa pamrih.
Tapi tekadku mengeras laksana baja.
Aku akan memulai. Di sini, di Lapangan Merdeka, kujadikan langkah awal.”

Siapa dari kita yang mampu semembumi ini? Melipir dari saksi-saksi perjalanan kita. Menyesaki setiap jengkal kalbu dengan gumambang tekad. Melarung waspada berlebihan dan segala hura pada jagad raya.

Bandingkan dengan ritus pejalan hari ini yang sesak akan ekshibisi dan snobisme multimedia sebelum keberangkatan. Atau justru terlalu sibuk menunggu ‘like-this-click’ dan komentar “Wah lagi di A ya, gue juga pengen banget kesitu, tempatnya bagus ya! (plus emoticon mupeng)”. Dengan foto terumbu karang yang diunggah setelah dicolek sana-sini. Lalu merasa bangga jika telah mampu mengintervensi kebiasaan masyarakat adat yang mengakar sejak nenek moyang mereka.

Tentu perbandingan yang saya ajukan cukup berlebihan. Dan saya tahu ini mulai keluar dari fokus. Epos Hajjah Assabariah memang semakin sulit dicari tandingannya hari ini. Mengingat kondisi lingkungan yang tak lagi memungkinkan mendapat makanan dari alam setiap saat, waktu bertahun-tahun yang hilang di perjalanan serta pengaruh cyber-culture yang menghendaki kehidupan serba cepat dan orgasmik. 

Namun setidaknya ada satu pelajaran yang bisa diambil. Bahwa yang membuat beliau mencapai tahap makrifatul traveling adalah karena niat dan tujuan beliau melebihi batas bernama “tempat”. Keindahan daratan dan lautan Indonesia hanyalah rambatan. Jauh dari itu ada sebuah dorongan luar biasa bernama upaya mencinta. Mencinta pada alam, mencinta pada manusia, mencinta pada Tuhan yang telah memberi begitu banyak kehidupan pada negerinya. Dan ritus perjalanan pun berubah menjadi sebuah pengalaman yang meditatif. 

Sebagai penutup review, akan saya sitirkan sebuah motto yang melekat kuat di setiap botol scotch whisky Johnnie Walker; keep walking! []

PS: Ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada Nody Arizona yang mau menyumbangkan koleksi berharga ini.

3/12/13

Living in the Shadow



Teks dan foto Ayos Purwoaji


“Mau menyeberang ke Trunyan. Bli?” sapa seorang “calo” kapal di dermaga Kedisan, Kintamani.

Saya mengangguk pelan, seketika itu juga ia menunjukkan arah menuju kapal yang siap berangkat. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, saya manut saja. Di atas kapal sudah ada rombongan yang sudah duduk rapi memakai life vest. Seorang pria gondrong dengan kamera besar tergantung di leher, tiga gadis cantik berparas ibukota, seorang ibu paruh baya berjilbab, dan dua bapak-bapak di kursi paling belakang.  Saya mengambil posisi di tengah mereka. 

Brrrm. Mesin dinyalakan dan kapal mulai bertolak pada tengah hari. Membelah Danau Batur dalam kecepatan yang konstan. Di tengah perjalanan, sesekali ombak kecil membentur lambung kapal. Riak air membuncah, membasahi tubuh dan wajah para penumpang yang ingin berwisata ziarah ke Desa Trunyan, sebuah kampung adat yang masih menjaga erat tradisi leluhurnya selama ribuan tahun. 

Berkunjung ke Trunyan adalah menatap masa lalu, melihat sisa-sisa Bali pada masa pra-Hindu. Menimbulkan fantasi dan getar-getar magis yang akan dikenang oleh para pelancong setelah datang berkunjung. 


Desa kecil ini terletak di bawah bayang-bayang Gunung Batur, berada di ketinggian 1.038 meter dari permukaan laut. Lokasinya cukup terpencil dan di sekelilingnya terdapat batas alam berupa tebing batu yang sulit ditembus transportasi hingga hari ini. Jalan satu-satunya untuk menuju desa Trunyan adalah melintasi Danau Batur sepanjang 9 kilometer menggunakan perahu bermesin tunggal dari dermaga Kedisan dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. 

Meski hari ini Trunyan dikenal sebagai daerah wisata, namun eksistensinya sudah ada sejak tahun 833 caka atau 912 masehi, merunut pada sebuah prasasti yang ditemukan di desa tersebut. Sedangkan Majapahit, yang dipercaya menyisakan peradaban Hindu Bali saat ini, baru muncul pada tahun 1293 masehi. Desa ini juga pernah nyaris lenyap tertimbun abu saat Gunung Agung meletus hebat pada tahun 1963. 

Umpama seorang resi tua, tentu Trunyan menyimpan sejarah kehidupan yang kuno. Dan karena kekunoan menjadi salah satu komoditas yang diminati oleh pelancong masa kini, maka Trunyan pun menjadi aset yang berharga bagi dunia pariwisata.

Namun harapan saya kandas karena kekunoan Desa Trunyan hampir hilang tak berbekas. 

Sampai di dermaga, saya disambut dengan sebuah plang kayu bertuliskan “Welcome to Kuburan Terunyan”, tanpa ada pengimbang berupa aksara Bali yang membuatnya terasa lebih membumi.  Saya juga heran melihat candi bentar di dermaga yang berdiri manis dalam balutan cat tembok modern. Seakan-akan modernitas adalah sebuah kewajiban musti hadir demi menyambut datangnya turis internasional.

Saya pun bergegas menuju kuburan Trunyan (sema wayah) yang terkenal itu. Sejak lama saya ingin segera melihat dengan mata sendiri bagaimana metode penguburan ala Trunyan yang sudah melegenda itu. Di gapura komplek pesarean saya melihat sepasang tengkorak yang dipajang bersama sebuah patung penjaga, sebungkus mie instan, dan sebuah jeruk Kintamani yang sudah masak. Sontak aura pun berubah menjadi creepy, singup kalau kata orang Jawa. 

Komplek sema wayah ini terpisah dengan desa induk Trunyan, jaraknya sekitar sepuluh menit jika ditempuh dengan jukung kayu. Lebarnya hanya sekitar satu hektar saja. Pada pusatnya terdapat sekelompok  pohon menyan (benzoin), atau taru menyan yang menjadi asal mula kata Trunyan. Sekilas, bentuk pohon menyan serupa beringin. Akar-akarnya seperti otot yang menjurai, menembus lapisan tanah. Di bawah pohon raksasa yang menyerupai hewan purba ini jenazah manusia digeletakkan begitu saja. Tak perlu dikubur atau diaben. Masyarakat lokal menyebut tata cara penguburan ini sebagai mepasah


Syahdan mepasah dilakukan untuk menolak bala. Karena menurut kisah para tetua, pada zaman dahulu Trunyan diserang oleh berbagai kerajaan besar seperti Gelgel dan Majapahit karena bau harum taru menyan menimbulkan perasaan ingin menguasai. Maka ditaruhlah jenazah orang mati di bawah pohon menyan agar bau busuknya menetralisir keharuman taru menyan

Prosesi mepasah ini memang tak lazim ditemui di tempat lain. Awalnya keluarga jenazah harus membeli petak tanah secara ritual. Ini penting, karena di sema wayah hanya ada tujuh petak tempat jenazah, sehingga mayat baru secara de facto akan menggantikan petak yang berisi mayat paling tua. Nah mayat yang paling tua pun disingkirkan dari pekuburan dan tulang-tulangnya digeletakkan saja di luar petak. Tengkoraknya disusun sedemikian rupa bersama para pendahulu menjadi dinding mengerikan yang sering dijadikan backdrop foto narsis para wisatawan.  

Entah sudah berapa lama tengkorak-tengkorak ini bertengger. Lima tahun, sepuluh tahun, setengah abad, siapa yang tahu? Sebagian besar tengkorak sudah berlumut dan gumpalan debu menutupi rongga mata. Ada tengkorak yang masih  menyisakan gigi, namun sebagian besar lainnya sudah benar-benar ompong.     

Tubuh mayat baru diselimuti kain sukla, atau kain yang belum pernah dipakai sama sekali. Baru dibeli dari toko. Sedangkan wajahnya dibiarkan terbuka. Kemudian dinding petak yang terbuat dari batang-batang bambu (tancak saji) diperbarui. Di sekeliling petak terdapat piring enamel dan wadah anyaman bambu yang berisi uang receh. Wisatawan biasanya mengira ada sebuah keharusan untuk menaruh koin rupiah di sekitar piring dan wadah tersebut.

Wayan Budiase dengan lancar menerangkan tahapan prosesi mepasah kepada para turis. Pria berumur 53 tahun ini sudah menjadi guide sejak tahun 90’an. 

“Kalau musim hujan mayatnya lebih cepat terurai. Hanya sekitar seminggu saja. Kalau musim kemarau bisa sebulan lebih…” kata Wayan. 

Saya tak sanggup membayangkannya.

Wayan pun menunjukkan mayat paling gres yang berada di petak paling ujung. Sulit untuk melakukan identifikasi karena batang-batang tancak saji menutupi mayat dengan rapat. Tapi serapat-rapatnya batang bambu masih juga ada celahnya. Saya memicingkan mata dan melihat kulit wajah yang menghitam dan hidung yang semakin keropos. Wayan bilang umurnya baru sekitar dua minggu. Tapi karena musim kemarau, mayatnya jadi lumayan awet. Saya mencoba mendekatkan hidung ke batang bambu untuk membaui jenazah yang mulai terurai ini. Anehnya tidak berbau. Barangkali bau busuk mayat dan bau harum pohon saling menisbikan sehingga tak tercium bau apa pun. 

Sebelum pulang, saya disarankan untuk mengisi buku tamu oleh pemuda karang taruna setempat. Sambil mengisi biodata, pemuda tersebut menyodorkan sebuah kotak donasi sambil berucap; “Sir, jangan lupa sumbangannya, Sir…” []

3/5/13

Early Morning Rhapsody



Teks dan foto Rangga Aditya

Bandung memiliki udara yang menghembuskan perasaan malas. Meski tak sedingin dulu, tapi biusnya masih terasa ampuh. Sudah beberapa hari saya di kota kembang, yang saya lakukan hanya tiduran saja. Kaki seperti digandoli pemberat batu berton-ton. Malas sekali rasanya mau keluar. Padahal niat awal mau hunting foto eksotik bidadari-bidadari tanah Sunda, melepas lelah beban kerja ibukota. Aih tak tahunya saya malah jadi kerbau yang nyaman berkubang di lumpur kemalasan. 

Hoaahm. 

Pada akhir minggu begini, Bandung memang seperti mangkuk cendol yang penuh manusia. Macet di mana-mana. Hampir separuh penduduk Jakarta suka menghabiskan weekend di Bandung. Tentu saja untuk shopping sana, shopping sini. Padahal obyek wisatanya juga masih itu-itu saja. Mall, distro, resto, dan beberapa spot wisata sejarah. Tak banyak berubah. 

Kali ini saya ke Bandung bersama teman-teman semasa SMA. Sudah sembilan tahun berteman dan rasanya kami tidak pernah segera dewasa. Komposisi guyonan dan olok-oloknya memang terasa old skool, tapi kami tak pernah bosan. Kami memang tipe pria-pria yang setia. Uhukk.  

Tapi di antara kami, barangkali hanya Arief Ananda saja yang bisa jadi suami super. Pria yang lebih akrab saya panggil Barip ini memang salah satu chef muda yang berbakat. Masakan buatannya sungguh lezat. Ia memasak kami yang menyantap. Sungguh nikmat. 


Suatu pagi buta, Barip mengajak saya untuk ikut berbelanja di salah satu pasar tradisional di Jalan Pusdai, Bandung. Ayam-ayam masih belum bangun, muazin masih sholat tahajud, dan jalanan masih sangat sepi. Tapi riuh kehidupan sudah sangat terasa di Pusdai.  

"Punten A', numpang foto boleh?"

"Ah mangga mangga…"

Para penjual sangat ramah dan mempersilahkan saya memotret kegiatan mereka. Ada yang berjualan buah-buahan segar, potongan daging sapi, ayam, ikan, bahkan bumbu-bumbu siap saji.

Kelima indera saya langsung diserang rangsangan bertubi-tubi. Segala bau berebutan masuk melalui dua lubang hidung saya. Sesekali saya mencium harum buah matang, aroma semerbak rempah-rempah, dan tidak jarang bau pesing dan anyir yang menyelinap dari kolong-kolong meja. Indera penglihatan saya dihadapkan oleh segala bentuk dan warna sayur, buah dan cahaya lampu neon yang jatuh di atas permukaan jalan. Sangat meriah.

Di pasar tradisional seperti Pusdai ini kita bisa menemukan transaksi dengan tawar menawar. Tidak seperti di convenience store atau mall yang menawarkan harga paten pada label-label yang dingin dan menipu. Saya memperhatikan para penjual dan pembeli saling melempar harga dalam bahasa Sunda sehari-hari. Mencoba menemukan kata sepakat yang bisa jadi sulit didapat. Tapi tidak mengapa, toh hidup itu bukan tentang menemukan kesepakatan. 

Setelah puas berkeliling saya mencari Barip. Dari kejauhan saya melihatnya sudah membawa beberapa bahan masakan dalam kantong-kantong plastik beragam ukuran. Wah saya tidak bisa menebak apa yang akan dimasaknya, tapi satu hal yang pasti; hari ini kami bakal makan besar! []