Pages

3/20/13

Bonga Bonga Bersama Rahung



“Beta Pattiradjawane penjaga hutan pala // Beta api di pantai, siapa mendekat // Tiga kali menyebut beta punya nama // Dalam sunyi malam ganggang menari // Menurut beta punya tifa // Pohon pala, badan perawan jadi // Hidup sampai pagi tiba.”
(Cerita Buat Dien Tamaela – Chairil Anwar)

Lepas dari kebesaran dan kepopuleran nama Indonesia di mata pelancong internasional karena keindahan alam dan budayanya, kita tentu saja tidak bisa mengesampingkan khazanah rasa yang dimiliki Indonesia. Keberagaman atas jenis rempah sebagai bumbu utama telah menjadikan Nusantara sebagai tujuan eksplorasi para penjelajah dari barat maupun timur tengah. Ini adalah sebuah wawancara pendek ala Lukman Simbah yang santai, sedikit liar dan banal, tentang perayaan kehidupan sang pelancong sosial: Rahung Nasution.

HFLB: Bung.. posisi dimana?

Rahung: Di rumah, kenapa bro?

HFLB: Kau sibuk ga? Mumpung online mau wawancara nih..

Rahung: Busyet, wawancara apaan neh? Hahaha gue lagi ngedit.

HFLB: Kan sudah kubilang, pengen interview kamu. Ya wis kabari kalau kau sudah senggang.

Rahung: Asuuu, iki Hifatlobrain tho! Preeet. Hahancuuuk. 

HFLB: Hohoho yowis langsung tunjepoin wae lah cuk, apa yang mendasari kamu membuat video Pelancong Sosial? Sebuah video pendek yang ciamik itu.

Rahung: Idenya sederhana saja bro. Pergi ke beberapa tempat, ke pelosok-pelosok negeri ini. Sungguh indah, tapi sungguh tragis juga. Ironi. Ketidakadilan sosial. Itu saja yg mendasarinya.

HFLB: Sudah berapa lamakah kamu mengumpulkan footage dari perjalananmu tersebut?

Rahung: Footage yang terangkum dalam "Pelancong Sosial" awalnya memang aku tidak merencakan untuk membuat dokumenter perjalanan. Dari melancong ke beberapa tempat, untuk kepentingan pekerjaan selama 2 tahun lebih itulah kemudian muncul ide ini. Baru menemukan bentuknya.

HFLB: Oh I see… Aku sangat menyukai ide pelancong sosial ini, mengambil angle rempah dan kemudian masuk ke ranah sosial kemasyarakatannya. Tapi kenapa sih rempah? 

Rahung: Kenapa rempah? Karena selama berabad-abad, nusantara telah menjadi rebutan dan menjadi negeri taklukan bangsa Barat. Rempah telah merubah peradaban dunia modern, merubah cita-rasa, menyebabkan ribuan ekspedisi dan perang... bahkan menginspirasi syair-syair, juga rempah berdampak pada kehidupan ranjang :p

HFLB: Apa itu juga terjadi di kehidupan ranjangmu? Sehingga kamu mencari bahan-bahan aprodisiac  Nusantara? Hahaha…

Rahung: Hahaha! Aku menyukai bunga Pala. Baunya seksi. Juga bikin ngantuk. Lebih akrab dengan ranjang.

HFLB: Kamu kan sudah melancong ke berbagai tempat di Indonesia sebagai koki gadungan. Menurutmu, apakah makanan sebuah tempat bisa menggambarkan keadaan sosial politik di masyarakatnya?

Rahung: Secara langsung tidak bisa. Tetapi kalau kita nyemplung ke dalamnya pasti bisa. Misalnya soal ketergantungan masyarakat Indonesia Timur pada beras. Inikan hal yang baru. Ini soal kebijakan politik perut yang salah kaprah dari negara. Makanan itu produk budaya, tradisi dan kebiasaan. Jadi erat kaitannya dengan politik perut.

HFLB: Okay, tentang permasalahan unsur beras sebagai bahan makanan pokok di Indonesia Timur. Seandainya masyarakat di sana kembali ke bahan makanan pokok semula seperti umbi-umbian. Apakah hal itu bisa mengatasi permasalahan kekurangan bahan pangan disana?

Rahung: Kita tidak bisa memaksa orang untuk "kembali memakan" umbi-umbian, karena sudah ada ketergantungan pada beras. Dan pemaksaan itu sesuatu yang buruk. Yang perlu kita lakukan adalah kembali mempopulerkan berbagai sumber pangan selain beras. Dan negeri ini kaya. 

Kita juga membutuhkan edukasi tentang pangan, bahwa padi itu tanaman yang manja, butuh air yang banyak, lahan yang luas. sementara ada banyak sumber karbohidrat yang baik dan bisa didapatkan dari umbi-umbian... Konon katanya sukun memiliki karbo yang baik.

HFLB: Dulu ketika di Taring Padi denger-denger katanya Bung sering memasak. Makanan apa yg sering kamu hidangkan untuk kawan-kawan waktu itu?

Rahung: Di markas Taring Padi ketika masih jaman okupasi di eks-Asri Gampingan, menu utama dan hampir setiap hari adalah bunga pepaya dan daun ubi rebus, dimakan dengan ikan asin dan tempe. Sesekali bikin sop ayam. Itu daun ubi dan daun pepaya dari kebun Taring Padi sendiri

HFLB: Wah sangat berdikari ya!

Rahung: Maklum bung, waktu itu kami miskin dan revolusioner, hahaha. Yang kami beli biasanya tempe dan ikan asin. Kalau untuk tomat, cabai dan sayur-mayur, biasanya kami menanam di kebun.

HFLB: Oh ya, di video Pelancong Sosial itu di scene sebuah pasar, kamu memegang potongan tubuh phyton. Itu pasar di daerah mana bung? 

Rahung: Itu di pasar Tomohon, Manado. Salah satu pasar tradisonal paling keren yang pernah aku lihat!

HFLB: Berapa harga per kilo untuk daging ular saat itu?

Rahung: Di sana daging ular lebih mahal dari daging sapi maupun babi. Saat itu per kilonya mencapai 50 sampai dengan 60 ribu rupiah.

HFLB: Wah... masih lebih murah dibanding daging sapi…



Pelancong Sosial dan #BongaBonga

HFLB: Perbedaan pelancong sosial sama pelancong biasa itu apa yah? Dan kenapa kamu menyebut dirimu sebagai pelancong sosial?

Rahung: Aku juga tak tau lah bedanya apa. Mungkin sama saja, tapi dengan tambahan embel-embel sosial. Aku ingin setiap pelancong membuka mata pada persoalan sekitar. bukan sekedar menjadi "tamu" yang menikmati keindahan, numpang tidur kemudian makan, kentut dan beol

HFLB: Apa yang kamu dapat dan harapkan dari sebuah perjalanan yang seperti itu? Dan pasti kau akan menjawab untuk melabuhkan hatimu kepada para gadis lokal hehehe… 

Rahung: Selain jatuh cinta pada nona-nona setempat, pastinya kita mendapatkan banyak hal. Mencoba memahami budaya mereka, lebih dekat dengan mereka dan tidak menempatkan diri sebagai tamu. Konon di negeri ini tamu dianggap raja. Kita mestinya menjadi teman, bukan tamu.

HFLB: Teman ranjang maksudnya?

Rahung: Teman di dapur lah, alangkah baiknya juga kalau ketemu teman di ranjang, asu koen cuk! Hahaha

HFLB: Siapa figur pelancong sosial yang menjadi idolamu? Apakah Snouck Hurgronje? Ibnu Battutah? Tan Malaka? Atau ada nama lain? Karena kupikir. seorang pelancong pada jaman dulu kala juga merangkap sebagai observer ulung. Mereka membuat catatan sospol, ekonomi dan budaya.

Rahung: Untuk hal ini aku belum memiliki idola bro. Snouck Hurgronje itu kan antropolog sesat yang hanya memanfaatkan Aceh untuk kepentingan Belanda. Kalau Tan Malaka, dia bukan pelancong sosial, dia penggagas revolusi. Hidupnya untuk revolusi dan dia menikahi revolusi, hahahaha. Mereka membuat catatan untuk ilmu pengetahuan atau pengabdian pada imperialisme. Kalau aku karena pengabdian pada dapur dan perut saja bro. Misi yang sederhana, hahaha.

HFLB: Misimu mulia sekali bung. Kau layak memasak buat kami! Omong-omong, apa sih yang kau maksud dengan bonga-bonga? Karena susah menemukan artinya melalui pencarian Google dengan kata kunci tersebut.

Rahung: Bonga-bonga itu semacam revitalisasi dari spritualisme yang pernah berkembang di Nusantara. Realisasi dari ajaran ini dapat kita temukan di relief-relief candi. Seperti di candi Borobudur, Candi Bahal di Portibi, Padang Lawas dan berbagai candi lainnya. Ajaran ini pernah marak dan berkembang kira-kira abad ke-9 dan 11. Di relief-relief itu bisa kita melihat pertemuan antara lingga dan yoni, pesta pora merayakan hidup dengan kenikmatan, itulah bonga-bonga.

HFLB: Semacam bentuk syukuran ya seperti di kampung?

Rahung: Nah itu sudah! Hahaha.

HFLB: Tolong Bung beri pesan untuk pembaca Hifatlobrain yang pekok dan bonga-bonga.

Rahung: Tempat tujuan bukan hal yang penting, yang paling penting adalah bagaimana kita berbonga-bonga dengan masyarakatnya dan merayakan keberagaman kehidupan! Hail bonga-bonga!


Rahung Nasution bisa disapa pada akun twitter @rahung atau bisa juga menengok http://cokiliciouz.tumblr.com/