Pages

3/19/13

Cross Java Walk


Teks dan foto oleh Anitha Silvia

Hanya 10 menit berjalan kaki dari kost saya ke ViaVia di Prawirotaman -sebuah jalan di Yogyakarta dengan banyak turis asing berkeliaran. ViaVia sendiri adalah restoran yang juga mengelola fair shop, kelas yoga, art space, guesthouse, dan paket city-walk tours. Menu utama malam ini di ViaVia adalah Walk-Talk, sebuah bagian dari pameran Cross Java Walk oleh Bert Sacre. 

Bert Sacre adalah pria Belgia setengah waras. Ia memiliki proyek pribadi yang disebut Cross Java Walk. Dan malam ini adalah pembukaan eksibisi dokumentasi perjalanannya berjalan kaki dari Semarang (Laut Jawa) hingga ke Parangtritis (Samara Hindia) melalui empat gunung vulkanik Ungaran, Telomoyo, Merbabu, dan Merapi. Total jalur sejauh 200 KM ditempuhnya selama 12 hari. 

Pameran digelar di area restoran. Sepanjang dinding ViaVia digambar peta perjalanan dengan memamerkan artefak berupa foto, diary grafis, mie instan yang dikonsumsi selama perjalanan, sepatu, dan bebatuan yang diambil dari gunung. Bert mengemasnya dengan caption yang menarik, sehingga tak bosan saya memandangi semua artefak perjalanannya. Foto lanskap Gunung Merapi, Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, Gunung Telemoyo, dan Rawa Pening memenuhi ujung dinding menyentuh langit-langit. 

Karena saya adalah penggiat jalan kaki, maka saya sangat menyukai pameran ini. Meski menurut saya ruang pamerannya kurang begitu pas dan tidak representatif untuk pameran, karena harus berbagi dengan pengunjung restoran yang sedang makan dan minum bir. Tapi sekaligus tetap pas karena ViaVia sendiri menjalankan city-walk tour.


Saya rela datang dari Surabaya khusus untuk menghadiri acara ini. Sebelum acara dimulai saya sempat ngobrol dengan Bert dan langsung nyambung karena sama sama suka dengan ide berjalan kaki (di dalam kota). Dan saya memberikan jawaban "iya" saat mereka bertanya apakah saya mau berjalan kaki dari Semarang ke Parangtritis seperti yang telah Bert lakukan. 

Bert membuka Walk-Talk dengan pertanyaan "Gunung mana yang sudah kalian daki?" Setiap orang yang datang memberikan jawaban, ada yang sering mendaki gunung, ada yang baru sekali mendaki gunung, ada juga yang belum pernah mendaki gunung. Bert mulai berbagi mengenai Cross Java Walk. Ide itu muncul saat dia berada di puncak Gunung Merbabu dengan pemandangan alam yang memukau, Bert melihat sejumlah gunung lainnya dan Laut Jawa. Maka terpikir di benaknya untuk berjalan kaki dari Laut Jawa melintas sejumlah gunung lalu kembali menyentuh laut, Samudra Hindia, pasti menyenangkan. 

Persiapan dilakukan, Bert mulai dari bersepeda di Yogyakarta untuk mencari setapak menuju Pantai Parangtritis, mencari data dengan Google Earth. Tapi yang paling membantunya adalah Wikimapia, karena lebih detil menampilkan desa yang akan dilalui. Petunjuk pendakian di empat gunung yang dituju sudah banyak tersedia, tapi yang paling susah adalah mencari informasi mengenai jalan antar-gunung, wikimapia sangat membantu memetakan perjalanannya. Situs lainnya yang sangat membantunya adalah http://www.gunungbagging.com/ 

Pemetaan selesai, Bert mencetak 12 peta dalam pecahan 200 KM yang akan ditempuhnya selama 12 hari. Jadi Bert memasang target menggunakan satu peta untuk satu hari perjalanan.

Rute perjalanan Bert

Selanjutnya tahap packing. Bert membeli ransum ala orang Indonesia, maksudnya adalah makanan instan dalam bentuk sachet di minimart yang menjamur di Yogyakarta. Salah satu artefak yang dipamerkan adalah satu bungkus mie instan yang ditulisi : Love and Hate

Berat ranselnya sekitar 20 kilogram berisi tenda sewaan dan dua botol besar air mineral. Pada akhir September 2012 dia berangkat dengan bis ke Semarang, menyentuh kumpulan air bernama Laut Jawa di Pelabuhan Tanjung Mas dan memulai Cross Java Walk.   

Yang paling menarik dari Cross Java Walk adalah berjalan kaki di bantaran sungai, masuk keluar kampung, mengikuti rel kereta api, bertemu kembali dengan jalan raya, menyusuri sawah, menembus hutan. Dengan keramahan orang Jawa, Bert mendapat tumpangan bermalam, makanan minuman gratis, dan juga pertanyaan-pertanyaan dari warga sekitar.



Bagi Bert yang paling indah dalam perjalanan ini adalah berada di puncak Merbabu. Saat itu hanya dia manusia yang ada disana. Dalam kesendirian Bert menikmati pemandangan yang memukau, mendengarkan alam, dan diberkati matahari terbit yang sangat indah. Bert bilang itu memang cheesy. Tapi ya memang itu yang ia rasakan. 

Satu lagi yang berkesan yaitu di Jawa ia masih menemukan hutan tropis bagaikan taman Jurassic, hutan lebat dengan burung besar yang melintas, membuatnya merinding. Pulau Jawa menurut Bert adalah unik. Dengan populasi penduduk terpadat dan perkembangan kota-kota yang pesat, namun dalam jarak 1 kilometer dari jalan raya Bert bisa menemukan pedesaan, alam yang menenangkan jiwa, candi, dan hutan rimba! Gunung di Jawa juga belum dipatenkan jalur pendakiannya, jadi terasa lebih seru.  

Tiga gunung sudah ia jejaki. Memasuki teritori Gunung Merapi, Bert mengajak dua kawannya ikut serta karena Merapi terbilang berbahaya. Gunung vulkano yang masih aktif membuatnya cemas, maka ia mengajak dua kawan supaya hatinya lebih tenang. Mereka berhasil mendaki dan menikmati fenomena alam yang ajaib yaitu melihat matahari dan bulan dalam satu pandangan. Bert lebih suka menikmati alam dengan diam, mendengar suara alam, dan sempat terganggu dengan sebuah grup pendaki yang menyetel keras keras musik dan bersahut-sahutan.

Apakah kamu mendapatkan pengalaman spiritual karena pulau Jawa penuh dengan kisah mistis? tanya seorang peserta. Bert menjawab tidak, setelah melamun sejenak Bert menambahkan bahwa dia merasakan pikirannya kosong selama perjalanan, dia lupa hari dan jam. Bert hanya berjalan tanpa pikiran yang berat (seperti tuntutan untuk menyelesaikan perjalanan dengan selamat dan tepat waktu), dia menyebutnya sebagai meditation walking

Bert mengajak kami untuk keluar, mengetahui dunia, tidak perlu dengan jarak yang jauh, dia menyarankan untuk jalan kaki di sekitar rumah, di kota dimana kita tinggal. Mengenal kota dengan berjalan kaki adalah hal yang menyenangkan. Ajakan Bert disambut oleh seorang peserta yang berbagi cerita betapa dia terkejut dengan fenomena yang ia temui saat melancong berjalan kaki di kawasan Glodok, Jakarta, kawasan kota tua yang menarik. Peserta lainnya berbagi pengalaman menarik saat ia berjalan kaki di Jepara yang dikelilingi pantai dan bukit. Saya juga berbagi pengalaman berjalan kaki yang membuat saya lebih mencintai Surabaya. Meskipun kota ini masih belum ramah untuk pejalan kaki, tapi kita tidak perlu menunggu fasilitas umum untuk pejalan kaki bukan? 

"Bagaimana kamu menjaga kesehatan selama perjalanan?" saya melontarkan pertanyaan terakhir. 

"Berjalan kaki adalah sehat", jawab Bert dengan santai. 

Menurut Bert, tubuh manusia didesain untuk berjalan kaki. Kita mampu untuk berjalan kaki untuk jarak yang jauh. Bert tidak makan daging, makan sayur dan minum air putih menjaga kestabilan tubuhnya, dia juga selalu makan snack kesukaannya: Snickers. Walking is healthy and cheap, Bert (hanya) menghabiskan 500.000 rupiah selama perjalanannya. The talk about the walk was a success as well. It's good to see people leave with fresh walking plans!

Walk-Talk ditutup dengan video screening Cross Java Walk yang Bert sendiri kerjakan, silakan cek situsnya:

http://www.bertorama.net/en/content/cross-java-walk


______________________________________________

Kontributor













Anitha Silvia adalah penggerak kelompok pejalan kaki yang berbasis di Surabaya, Manic Street Walker. Tahun lalu ia mengelola sebuah zine perjalanan berjudul Halimun yang terbit sebanyak 12 edisi saja. Wanita yang hobi membaca buku dan mendengarkan rilisan netlabel ini sedang memetakan rencana untuk berjalan kaki menyusuri Kali Brantas. 
  
Temui mbak satu ini di akun twitternya: @anithasilvia.
______________________________________________

2 comments:

Hasan zakaria said...

Luar Biasa,,tantangan buat anak bangsa untuk menjelajahi dan mengenal negeri lebih dari siapapun,,,

pinjaman tanpa agunan said...

hebat, beliau yang dari negara lain aja begitu antusiasnya mengajak warga pribumi (kita-kita ini) untuk membangun kesadaran berjalan kaki sambil mengenal alam budaya sendiri.