Pages

3/5/13

Early Morning Rhapsody



Teks dan foto Rangga Aditya

Bandung memiliki udara yang menghembuskan perasaan malas. Meski tak sedingin dulu, tapi biusnya masih terasa ampuh. Sudah beberapa hari saya di kota kembang, yang saya lakukan hanya tiduran saja. Kaki seperti digandoli pemberat batu berton-ton. Malas sekali rasanya mau keluar. Padahal niat awal mau hunting foto eksotik bidadari-bidadari tanah Sunda, melepas lelah beban kerja ibukota. Aih tak tahunya saya malah jadi kerbau yang nyaman berkubang di lumpur kemalasan. 

Hoaahm. 

Pada akhir minggu begini, Bandung memang seperti mangkuk cendol yang penuh manusia. Macet di mana-mana. Hampir separuh penduduk Jakarta suka menghabiskan weekend di Bandung. Tentu saja untuk shopping sana, shopping sini. Padahal obyek wisatanya juga masih itu-itu saja. Mall, distro, resto, dan beberapa spot wisata sejarah. Tak banyak berubah. 

Kali ini saya ke Bandung bersama teman-teman semasa SMA. Sudah sembilan tahun berteman dan rasanya kami tidak pernah segera dewasa. Komposisi guyonan dan olok-oloknya memang terasa old skool, tapi kami tak pernah bosan. Kami memang tipe pria-pria yang setia. Uhukk.  

Tapi di antara kami, barangkali hanya Arief Ananda saja yang bisa jadi suami super. Pria yang lebih akrab saya panggil Barip ini memang salah satu chef muda yang berbakat. Masakan buatannya sungguh lezat. Ia memasak kami yang menyantap. Sungguh nikmat. 


Suatu pagi buta, Barip mengajak saya untuk ikut berbelanja di salah satu pasar tradisional di Jalan Pusdai, Bandung. Ayam-ayam masih belum bangun, muazin masih sholat tahajud, dan jalanan masih sangat sepi. Tapi riuh kehidupan sudah sangat terasa di Pusdai.  

"Punten A', numpang foto boleh?"

"Ah mangga mangga…"

Para penjual sangat ramah dan mempersilahkan saya memotret kegiatan mereka. Ada yang berjualan buah-buahan segar, potongan daging sapi, ayam, ikan, bahkan bumbu-bumbu siap saji.

Kelima indera saya langsung diserang rangsangan bertubi-tubi. Segala bau berebutan masuk melalui dua lubang hidung saya. Sesekali saya mencium harum buah matang, aroma semerbak rempah-rempah, dan tidak jarang bau pesing dan anyir yang menyelinap dari kolong-kolong meja. Indera penglihatan saya dihadapkan oleh segala bentuk dan warna sayur, buah dan cahaya lampu neon yang jatuh di atas permukaan jalan. Sangat meriah.

Di pasar tradisional seperti Pusdai ini kita bisa menemukan transaksi dengan tawar menawar. Tidak seperti di convenience store atau mall yang menawarkan harga paten pada label-label yang dingin dan menipu. Saya memperhatikan para penjual dan pembeli saling melempar harga dalam bahasa Sunda sehari-hari. Mencoba menemukan kata sepakat yang bisa jadi sulit didapat. Tapi tidak mengapa, toh hidup itu bukan tentang menemukan kesepakatan. 

Setelah puas berkeliling saya mencari Barip. Dari kejauhan saya melihatnya sudah membawa beberapa bahan masakan dalam kantong-kantong plastik beragam ukuran. Wah saya tidak bisa menebak apa yang akan dimasaknya, tapi satu hal yang pasti; hari ini kami bakal makan besar! [] 

No comments: