Pages

3/12/13

Living in the Shadow



Teks dan foto Ayos Purwoaji


“Mau menyeberang ke Trunyan. Bli?” sapa seorang “calo” kapal di dermaga Kedisan, Kintamani.

Saya mengangguk pelan, seketika itu juga ia menunjukkan arah menuju kapal yang siap berangkat. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, saya manut saja. Di atas kapal sudah ada rombongan yang sudah duduk rapi memakai life vest. Seorang pria gondrong dengan kamera besar tergantung di leher, tiga gadis cantik berparas ibukota, seorang ibu paruh baya berjilbab, dan dua bapak-bapak di kursi paling belakang.  Saya mengambil posisi di tengah mereka. 

Brrrm. Mesin dinyalakan dan kapal mulai bertolak pada tengah hari. Membelah Danau Batur dalam kecepatan yang konstan. Di tengah perjalanan, sesekali ombak kecil membentur lambung kapal. Riak air membuncah, membasahi tubuh dan wajah para penumpang yang ingin berwisata ziarah ke Desa Trunyan, sebuah kampung adat yang masih menjaga erat tradisi leluhurnya selama ribuan tahun. 

Berkunjung ke Trunyan adalah menatap masa lalu, melihat sisa-sisa Bali pada masa pra-Hindu. Menimbulkan fantasi dan getar-getar magis yang akan dikenang oleh para pelancong setelah datang berkunjung. 


Desa kecil ini terletak di bawah bayang-bayang Gunung Batur, berada di ketinggian 1.038 meter dari permukaan laut. Lokasinya cukup terpencil dan di sekelilingnya terdapat batas alam berupa tebing batu yang sulit ditembus transportasi hingga hari ini. Jalan satu-satunya untuk menuju desa Trunyan adalah melintasi Danau Batur sepanjang 9 kilometer menggunakan perahu bermesin tunggal dari dermaga Kedisan dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. 

Meski hari ini Trunyan dikenal sebagai daerah wisata, namun eksistensinya sudah ada sejak tahun 833 caka atau 912 masehi, merunut pada sebuah prasasti yang ditemukan di desa tersebut. Sedangkan Majapahit, yang dipercaya menyisakan peradaban Hindu Bali saat ini, baru muncul pada tahun 1293 masehi. Desa ini juga pernah nyaris lenyap tertimbun abu saat Gunung Agung meletus hebat pada tahun 1963. 

Umpama seorang resi tua, tentu Trunyan menyimpan sejarah kehidupan yang kuno. Dan karena kekunoan menjadi salah satu komoditas yang diminati oleh pelancong masa kini, maka Trunyan pun menjadi aset yang berharga bagi dunia pariwisata.

Namun harapan saya kandas karena kekunoan Desa Trunyan hampir hilang tak berbekas. 

Sampai di dermaga, saya disambut dengan sebuah plang kayu bertuliskan “Welcome to Kuburan Terunyan”, tanpa ada pengimbang berupa aksara Bali yang membuatnya terasa lebih membumi.  Saya juga heran melihat candi bentar di dermaga yang berdiri manis dalam balutan cat tembok modern. Seakan-akan modernitas adalah sebuah kewajiban musti hadir demi menyambut datangnya turis internasional.

Saya pun bergegas menuju kuburan Trunyan (sema wayah) yang terkenal itu. Sejak lama saya ingin segera melihat dengan mata sendiri bagaimana metode penguburan ala Trunyan yang sudah melegenda itu. Di gapura komplek pesarean saya melihat sepasang tengkorak yang dipajang bersama sebuah patung penjaga, sebungkus mie instan, dan sebuah jeruk Kintamani yang sudah masak. Sontak aura pun berubah menjadi creepy, singup kalau kata orang Jawa. 

Komplek sema wayah ini terpisah dengan desa induk Trunyan, jaraknya sekitar sepuluh menit jika ditempuh dengan jukung kayu. Lebarnya hanya sekitar satu hektar saja. Pada pusatnya terdapat sekelompok  pohon menyan (benzoin), atau taru menyan yang menjadi asal mula kata Trunyan. Sekilas, bentuk pohon menyan serupa beringin. Akar-akarnya seperti otot yang menjurai, menembus lapisan tanah. Di bawah pohon raksasa yang menyerupai hewan purba ini jenazah manusia digeletakkan begitu saja. Tak perlu dikubur atau diaben. Masyarakat lokal menyebut tata cara penguburan ini sebagai mepasah


Syahdan mepasah dilakukan untuk menolak bala. Karena menurut kisah para tetua, pada zaman dahulu Trunyan diserang oleh berbagai kerajaan besar seperti Gelgel dan Majapahit karena bau harum taru menyan menimbulkan perasaan ingin menguasai. Maka ditaruhlah jenazah orang mati di bawah pohon menyan agar bau busuknya menetralisir keharuman taru menyan

Prosesi mepasah ini memang tak lazim ditemui di tempat lain. Awalnya keluarga jenazah harus membeli petak tanah secara ritual. Ini penting, karena di sema wayah hanya ada tujuh petak tempat jenazah, sehingga mayat baru secara de facto akan menggantikan petak yang berisi mayat paling tua. Nah mayat yang paling tua pun disingkirkan dari pekuburan dan tulang-tulangnya digeletakkan saja di luar petak. Tengkoraknya disusun sedemikian rupa bersama para pendahulu menjadi dinding mengerikan yang sering dijadikan backdrop foto narsis para wisatawan.  

Entah sudah berapa lama tengkorak-tengkorak ini bertengger. Lima tahun, sepuluh tahun, setengah abad, siapa yang tahu? Sebagian besar tengkorak sudah berlumut dan gumpalan debu menutupi rongga mata. Ada tengkorak yang masih  menyisakan gigi, namun sebagian besar lainnya sudah benar-benar ompong.     

Tubuh mayat baru diselimuti kain sukla, atau kain yang belum pernah dipakai sama sekali. Baru dibeli dari toko. Sedangkan wajahnya dibiarkan terbuka. Kemudian dinding petak yang terbuat dari batang-batang bambu (tancak saji) diperbarui. Di sekeliling petak terdapat piring enamel dan wadah anyaman bambu yang berisi uang receh. Wisatawan biasanya mengira ada sebuah keharusan untuk menaruh koin rupiah di sekitar piring dan wadah tersebut.

Wayan Budiase dengan lancar menerangkan tahapan prosesi mepasah kepada para turis. Pria berumur 53 tahun ini sudah menjadi guide sejak tahun 90’an. 

“Kalau musim hujan mayatnya lebih cepat terurai. Hanya sekitar seminggu saja. Kalau musim kemarau bisa sebulan lebih…” kata Wayan. 

Saya tak sanggup membayangkannya.

Wayan pun menunjukkan mayat paling gres yang berada di petak paling ujung. Sulit untuk melakukan identifikasi karena batang-batang tancak saji menutupi mayat dengan rapat. Tapi serapat-rapatnya batang bambu masih juga ada celahnya. Saya memicingkan mata dan melihat kulit wajah yang menghitam dan hidung yang semakin keropos. Wayan bilang umurnya baru sekitar dua minggu. Tapi karena musim kemarau, mayatnya jadi lumayan awet. Saya mencoba mendekatkan hidung ke batang bambu untuk membaui jenazah yang mulai terurai ini. Anehnya tidak berbau. Barangkali bau busuk mayat dan bau harum pohon saling menisbikan sehingga tak tercium bau apa pun. 

Sebelum pulang, saya disarankan untuk mengisi buku tamu oleh pemuda karang taruna setempat. Sambil mengisi biodata, pemuda tersebut menyodorkan sebuah kotak donasi sambil berucap; “Sir, jangan lupa sumbangannya, Sir…” []

No comments: