Pages

3/20/13

Taste of the Wild



Teks dan foto Lisa Virgiano 

Minggu lalu saya mengadakan sebuah perjalanan kuliner yang sangat berkesan di Jawa Timur. Saya mengunjungi berbagai macam tempat dan mencobai berbagai makanan khas dengan citarasa yang otentik. 

Di Gresik saya mencoba es Siwalan dengan gula aren, Bubur Rumo yang dihidangkan bersama daun kecapi, dan Dadar Kampat, omelet ala Gresik yang tersaji dengan ikan Janjan. Ikan Janjan sendiri banyak ditemui di pesisir utara Jawa.  Bentuk tubuhnya kecil panjang berdiameter seukuran jari orang dewasa. Saat menggoreng biasanya ditusuk lidi agar tidak mlungker, menggulung tubuh. Rasanya gurih. 

Saat menyeberang ke Madura, saya dan kawan-kawan mencoba Topak Ladeh (kue beras ala Madura yang dilapisi kustad santan, srundeng, rempah, dan cabai), Soto Jagung (paha sapi yang dikukus dalam kaldu pedas bersama jagung goreng), dan Rawon Madura yang tersohor.

Namun dari semua destinasi yang saya kunjungi, tidak ada yang lebih berkesan daripada Desa Galengdowo di Jombang. Ada sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di sebuah desa nan asri di kaki Gunung Anjasmoro ini, dimana menjadi liar adalah sebuah kebiasaan baik.

Desa Galengdowo terdapat di Kecamatan Wonosalam, Jombang. Sebagain besar masyarakatnya hidup dari hasil pertanian. Petak-petak sawah terhampar luas, air terjun Tretes mengalir di sudut desa, semilir angin gunung menyejukkan hati. Kualitas alam Desa Galengdowo masih begitu prima. 

Berbagai macam buah-buahan yang tumbuh dibudidayakan tanpa pupuk kimia. Saat saya tiba, duren Bido Wonosalam yang menjadi favorit para penikmat buah karena dagingnya yang legit sedang berada pada musim puncaknya, dimulai dari bulan Januari atau Februari. Bayangkan Anda bisa menikmati buah durian yang matang di pohon, memetik rambutan yang ranum di pekarangan rumah, atau menyesap kopi jenis liberica yang tumbuh subur di desa ini. Tuhan memberkati penduduk Galengdowo dengan sumberdaya alam melimpah. 

Saya mengenal desa ini dari Hayu Dyah Patria, teman saya pengelola komunitas Mantasa yang bergerak di bidang pemberdayaan panganan alternatif. Sejak beberapa tahun yang lalu, Hayu mengajak ibu-ibu di Desa Galengdowo untuk mengolah aneka tumbuhan liar yang banyak tumbuh di pematang sawah, pekarangan, tepi jalan, dan pinggir sungai sebagai bahan baku panganan tradisional. 

Ternyata, bila ditangani dengan benar, tumbuhan marjinal seperti krokot, tempuyung, rempi, kastuba, dan pegagan mampu memberikan sumbangsih citarasa yang elegan pada sebuah makanan.

Daun krokot yang memiliki rasa asam segar dapat diolah menjadi selai lezat dan dijadikan sebagai isian kue nastar? Anak-anak pun suka. Daun krokot kaya akan Omega3, sehingga baik dikonsumsi untuk mengurangi resiko penyakit jantung dan menjaga kadar kolestrol dalam darah karena meningkatkan kinerja pembuluh darah.

Daun kastuba, atau lebih dikenal sebagai daun racun, ternyata bisa juga diolah sebagai hidangan lauk yang maknyus. Sayur kastuba cocok sekali bersanding dengan nasi jagung, dan lauk tempe tahu. Kastuba sendiri memiliki karakter rasa yang netral dan warna hijau alami yang menawan. Itu sebabnya ibu-ibu Galengdowo juga mengolah Kastuba sebagai bahan baku dawet dan kue putu ayu.



Pohon bambu yang banyak tumbuh liar di pinggir sungai membuat kringking menjadi hidangan lokal andalan. Kringking adalah rebung yang diawetkan, dengan cara pengasapan alami dan juga pengeringan sinar matahari. Kringking hanya dapat ditemukan di Galengdowo dan nikmat disantap sebagai pengganti daging sapi, dengan bumbu pedas manis maupun ala gulai. Sedap!

Apalagi yang bisa saya ceritakan untuk menggelitik jiwa petualangan kuliner Anda? Oh ya, ada juga peternakan sapi mandiri yang menghasilkan susu segar setiap pagi! Di Galengdowo, eksotika kuliner bersatu dengan ritme alam raya. Memberikan pengalaman citarasa yang tidak ada bandingannya. 

Melalui kuliner Galengdowo saya belajar bahwa menjadi liar itu baik, bergizi, dan penuh selera!

______________________________________________

Kontributor











Lisa Virgiano menyukai wisata kuliner sejak SMA dan mendengarkan Anang Hermansyah entah sejak kapan. Setelah menyelesaikan pendidikan master di Malmo University, Swedia, Lisa mendirikan Azanaya, sebuah social business yang memperkenalkan ragam budaya kuliner Nusantara.   
  
Temui mbak satu ini di situs http://www.azanaya.com/
______________________________________________

4 comments:

Neala Alaika said...

jadi laper ngeliatnya..hehe
eitt yang suka travelling beli perlengkapnya di sini aja ya : http://www.travelova.com

thanks hatur nuhun...

Kuz9 said...

saya juga pernah coba bubur rumo khas gresik. rasanya memang benar-benar otenik.

abu said...

wuiih saya ke gerrsik malah gak coba bubur rump..haaah nyesel jadinya..

Fahmi said...

kue putu ayu nya itu favorit saya~~ :3 udah jarang banget nemu kue itu -,-