Pages

4/27/13

Tan Malaka Journey


Klik untuk memperbesar

Beberapa waktu lalu, saya melihat peta di dinding basecamp Tikungan, sebuah kelompok belajar paling syedap di Jember. Peta infografis perjalanan buatan TEMPO ini lantas mengingatkan saya pada sebuah buku berjudul Pacar Merah Indonesia karangan Matu Mona, nama alias dari Hasbullah Parinduri. Roman yang ditulis dalam dua jilid ini menceritakan petualangan Tan Malaka dalam menghindari kejaran polisi rahasia antarnegara. Saat itu, Tan yang merupakan wakil ketua Komintern dianggap terlalu berbahaya dan berpotensi menyebarkan virus komunisme di Asia Tenggara. 

Tapi bukan Tan Malaka namanya jika tak licin dan menjengkelkan seperti tiang panjat pinang. Meski dicekal di berbagai pelabuhan dan perbatasan, namun ia selalu berhasil meloloskan diri melalui berbagai siasat dan penyamaran. Di Thailand, ia dikenal sebagai Vichitra, di Singapura namanya berubah jadi Hasan Ghozali, di Filipina ia mencomot Alisio Riviera sebagai identitas samaran. Lukman Simbah selaku dewan syura Hifatlobrain berpendapat bahwa kisah pelarian Tan Malaka ini, "lebih epik dari serial Bourne Identity" dan yang lebih penting lagi adalah "petualangan asmaranya membuat Soekarno tampak cupu..." Harry A. Poeze, seorang Indonesianis yang mengkaji sepak terjang perjuangan Tan selama tiga dasawarsa, menyebut pria berdarah Minangkabau ini sebagai Che Guevara-nya Asia.

Perjalanan yang dilakukan Tan Malaka memang bukan pelancongan hura-hura, melainkan sebuah pengembaraan romantik yang hanya terjadi di alam revolusi saja. Tan Malaka menembus jarak ribuan kilometer untuk memperjuangan kemerdekaan Hindia Belanda dari tangan kolonial. Melalui perjalanan pula Tan Malaka mendapatkan sudut pandang keindonesiaan dari luar. Kekayaan perspektif inilah yang membantunya berimajinasi tentang sebuah komunitas besar cikal bakal sebuah bangsa. Gagasan yang kemudian berkembang menjadi sebuah karya penting berjudul Naar de Republiek Indonesia. Bukan sekian juta keliling dunia. [] 

Between Escapism and Lifestyle


Salah satu foto dalam serial High Hopes karya Wimo Ambala Bayang

Dalam sebuah acara bedah buku di Surabaya, Agustinus Wibowo mendapat sebuah pertanyaan menarik yang datang dari seorang ibu muda berjilbab: Apakah petualangannya merupakan sebuah pelarian?

Agustinus Wibowo pun bercerita panjang lebar tentang motivasi yang mengawali perjalanannya. Ia tidak menyangkal bahwa perjalanan yang dilakoninya bermula dari sebuah pelarian. "Saya jenuh dengan kehidupan yang hanya berada di depan komputer saja..." kata Agustinus. 

Saya menduga, setiap pelancongan memang dimulai dari sebuah pelarian. Silahkan tanya pada kaum weekender di Jakarta yang memiliki dua slogan mahapenting yaitu, "I hate Monday" dan  "thanks God it's Friday!". Sepertinya hanya ada dua hari itu saja di dalam setiap benak para pekerja kantoran. Hari kerja lainnya adalah hari biasa yang penuh dengan kemonotonan dalam ritme kerja ala nine-to-five. Dan akhir pekan adalah berkah yang selalu menimbulkan pertanyaan penuh gairah: Mau kemana weekend ini, Sist?

Berbeda dengan pegawai kantoran, Hippie berada pada kutub yang lebih ekstrim. Mereka melakukan perjalanan karena muak dengan kehidupan materialistik yang dianggap membelenggu pemikiran manusia modern. Hal ini tergambar jelas dalam kisah hidup Christopher Johnson McCandless dalam film Into The Wild. Perjalanan adalah pelarian yang ideal dalam menghindari kehidupan berwajah dua yang serba palsu. 

Eskapisme dari kesemrawutan sekaligus kehampaan kehidupan sosial menuntun orang untuk keluar darinya dan melakukan perjalanan ke latar-latar sosial lainnya. Disini perjalanan bukan sekedar hobi yang dilakukan pada waktu luang. Perjalanan adalah keperluan yang tidak terlalu mendesak tapi berarti penting untuk dilakukan. Dalam proses escaping tersebut, masyarakat sekaligus melakukan pencarian terhadap jati diri, makna kehidupan, atau menjalani rite de passage dalam hidupnya. (Sarani Pitor Pakan, 2013)

Tapi apa benar setiap perjalanan selalu dimulai dari perasaan yang depresif dan reflektif seperti ini? Bagaimana dengan para social climber yang memperbanyak stempel di paspor sebagai pendongkrak status sosial? Atau adakah tempat bagi pejalan yang memanggul ransel demi sebuah legitimasi seperti terserah-karepmu-pokmen-aku-ki-backpacker misalnya?

Maka silahkan baca makalah menarik yang ditulis oleh Sarani Pitor Pakan, seorang mahasiswa FISIP UI, yang mendedah tren perjalanan di Indonesia saat ini melalui sudut pandang sosiologi. Dan saya berharap makalah ini bisa memicu riset lainnya mengenai perjalanan di Indonesia!

Salam,
Hifatlobrain 

4/19/13

[RIP] Pak Heru


Tadi pagi, Nuran memberikan kabar yang mengejutkan bahwa Pak Heru dari Bima meninggal dunia. Siapa itu Pak Heru, barangkali tidak ada orang yang tahu. Tapi dialah penolong saya dan Nuran saat melakukan perjalanan panjang menuju Flores pada tahun 2009 yang lalu. Kadangkala kenangan perjalanan atas sebuah tempat tidak muncul dari keindahan panorama belaka, namun justru meruap dari keramahan penduduknya. Tanpa Pak Heru, kota Bima tidaklah tampak istimewa di mata kami. Pak Heru justru menjadi jangkar penambat ingatan dan janji untuk kembali ke Bima.

Pak Heru bukanlah siapa-siapa. Pak Heru adalah personifikasi siapa saja yang mau membukakan pintu bagi para pelancong kemalaman dan ingin menumpang mandi. Dengan segala keramahan khas penduduk lokal Pak Heru bercerita kepada kami tentang kisah-kisah kuno. Tentang nostalgia masa muda. Tentang perasaan menjadi jagoan. Tentang emas dan kapal-kapal yang besar. Tentang pengelanaan dan pertaruhan di meja judi... Tapi manusia tetaplah manusia, Pak Tua yang matanya masih penuh dengan debur ombak dan senyum segar ala lunas kapal, akhirnya harus pulang juga. Sampai jumpa Pak Tua! 

Silakan baca juga obituari ala Nuran Wibisono. []    

4/14/13

Randomly Updates

Halo masbro dan mbaksis sekalian apa kabar di hari Minggu yang cerah ini? Stay cool, stay pekok ya! Okesip kami akan memberikan beberapa kabar acak yang datang dari balik desk redaksi Hifatlobrain.


Entah sadar atau khilaf, ternyata majalah JalanJalan sudi memuat profil Hifatlobrain pada edisi April 2013. Apalagi ditulis lengkap dengan gelar Travel Institute yang sejujurnya abal-abal, wuah opo ora hebat itu namanya! Artikel ini membuat harkat dan martabat kami sedikit terangkat. Lumayan lah diakui sebagai institut di majalah wisata yang kelasnya sungguh bonafide. Foto-fotonya pun menampilkan beberapa kegiatan saat kami memproduksi dokumenter pendek Gendang Beleq dan ketika melakukan love trip bersama kerabat Indohoy dan Explore Solo yang kami kasihi. Walaupun sebenarnya dalam artikel terdapat kerancuan karena Hifatlobrain disebut sebagai "komunitas", padahal format yang lebih tepat adalah "paguyuban". Paguyuban Lobrainers. Kece-kece gini kami ini cinta damai lho dab! Tapi ndak papa nevermind lah, tetap thank you spasiba mbak Sari Widiati yang sudah mau teleconference bersama kami! 


Beberapa waktu yang lalu, kira-kira di akhir bulan Maret, kami menerima kunjungan dari kawan-kawan Traveller Kaskus tercinta. Patut diketahui bahwa kedatangan mereka ke Surabaya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk meningkatkan amal jariyah dan ilmu kanuragan yang ditimba langsung dari padepokan Ki Lukman Simbah. Melalui tuntunan Sang Guru, anak-anak Traveller Kaskus juga sempat menghadiri acara Maiyahan, atau pengajiannya Cak Nun. Syukur alhamdulillah mereka akhirnya tobat juga. Kami sempat membahas tentang perkembangan tren perjalanan dan hubungannya dengan media sosial yang berkembang begitu pesat hari ini. Semoga dari kunjungan selama beberapa hari ini, ada inspirasi, konspirasi dan kolaborasi yang bisa digarap di masa yang akan datang. 


Video dokumenter singkat kami tentang kesenian Gendang Beleq ternyata kok ya dapat hoki di Malang Film Festival. Yeah! Sebetulnya video ini diproduksi pada pertengahan tahun 2012 dengan menggandeng Lombok Vacation sebagai partner. Saat itu kami membuat dokumenter tentang musik karena kami percaya bahwa musik adalah salah satu elemen penting dalam perjalanan. Nah melalui video pendek ini kami juga ingin menimbulkan optimisme bahwa masih ada anak-anak muda yang turut berperan untuk melanggengkan seni tradisi yang sudah berjalan selama ratusan tahun. Deri Elfiyan sebagai sutradara sendiri yang hadir saat awarding night. Semoga karya ini bisa menjadi standar baru bagi Hifatlobrain dalam berkarya.

Selanjutnya, hmm ini yang paling gress! Hifatlobrain mencoba membuat webseries sodara-sodara hehehe. Konten video memang menjadi bagian yang tak terelakkan hari ini. Tren tersebut menimbulkan gelombang baru para kreator video dengan perkembangan yang sungguh signifikan! Bila sebelumnya kami fokus bermain-main dengan gaya Vimean (para pengguna Vimeo), maka kali ini kami mencoba berkarya ala Youtubers yang sedang marak membuat webseries. Webseries sendiri adalah program rutin yang tayang di Youtube seperti kanal Vice yang sering menyajikan dokumenter seru atau kanal Layaria yang dikelola Dennis Adhiswara.

Kanal Hifatlobrain sendiri ingin fokus pada program jalan-jalan dan makan-makan. Nah untuk itu kami menggandeng kawan-kawan dari Hap-Hap.com untuk membuat webseries tentang street food berjudul Happy Belly on The Street. Presenternya adalah Deasy Esterina, gadis Ambarawa yang memiliki logat medhok notok jedhog! Silahkan saksikan videonya (kami baru aplot 4) untuk mengikuti perjalanan kami mencobai berbagai macam kuliner jalanan yang ada di Surabaya. 

4/10/13

Self-Image

Karya perupa Filipina, Yee I Lann dalam serial fotografi yang berjudul The Sulu Stories, mengungkapkan saling silang pengaruh yang membentuk identitas sebuah bangsa di Asia Tenggara. 

Bagaimana merumuskan sebuah komunitas? Tentu cara yang terbaik adalah melalui persamaan-persamaan. Sebuah komunitas barang antik muncul karena anggotanya adalah sesama kolektor barang antik. Geng motor ada, karena anggotanya memiliki motor bermerek sama. Persamaan mempermudah unifikasi, serta menyatukan perbedaan dalam sebuah benang merah identitas. Membedakan antara kami dan liyan.

Asia tenggara adalah sebuah komunitas besar yang dibentuk oleh catatan perjalanan para pengelana di masa lalu. Sebelumnya Asia Tenggara adalah sebuah terra incognita bagi pusat peradaban Barat. Namun segera menjadi beken akibat berbagai pembuatan peta dan laporan muhibah yang ditulis. Tidak kurang dari ratusan buku dan teks yang mendeskripsikan Asia Tenggara sebagai sebuah kawasan eksotis, kaya akan rempah, memiliki gunung-gunung api yang elok dan menawarkan imaji paling liar bagi para petualang.

Pada awalnya tentu saja Asia Tenggara adalah satu, tidak dipisahkan oleh batas-batas negara seperti saat ini. Salah satu buktinya adalah pola persebaran Suku Bajo yang memanjang dari sebelah barat Micronesia hingga selatan lepas pantai Myanmar, dari Samudera Hindia hingga kepulauan Filipina. Dengan menggunakan kapal kayu bercadik, suku Bajo menjelajahi pulau-pulau di Asia Tenggara dan menjadi penghubung komunitas besar ini selama berabad-abad. Bisa jadi suku Bajo adalah prototip yang paling awal tentang imajinasi komunitas ASEAN saat ini.


Sayangnya suku Bajo tidak menulis. Mereka tidak memiliki gua-gua untuk dilukis, tidak memiliki peninggalan berupa relief pada candi-candi yang indah, mereka pun jarang menyentuh lontar dan alat tulis. Kisah mereka menggema justru melalui budaya lisan dan nyanyian. Warisan itu pun tidak bisa bertahan dari gempuran perubahan karena memang sifat ingatan yang tidak tahan lama. 

Justru laporan paling lengkap tentang Asia Tenggara datang dari para sarjana Barat. Mereka menulis dan mencatat dengan sangat detail meliputi segala aspek kehidupan. Ada yang menulis tentang struktur geologi, berkas arkeologi, sistem pemerintahan masyarakat adat, bentuk rumah tradisional, upacara-upacara, senjata, jenis flora, berbagai macam fauna, dan sebagainya. Teks-teks ini yang kemudian diolah dan dirujuk sebagai salah satu sumber identitas yang membentuk Asia Tenggara. Yaitu identitas yang berpangkal pada eksotika impresionistik.

Menurut sejarawan Denys Lombard, sebagian besar buku yang dihasilkan penulis Barat saat itu memang berkelok di antara dua kutub yang meninabobokan: beku dalam keindahan warna-warni atau tempat mimpi romantis yang penuh nostalgia. Bahkan perasaan itu masih lestari dimana mitos tentang eksotika Asia Tenggara paling mutakhir dibangun melalui film (seperti The Beach-nya Danny Boyle) dan berbagai macam travel guide.

Di sinilah kekuatan travel blogger. Mereka, anak-anak muda dengan perangkat digital dan selalu terhubung pada komunitas global melalui sambungan internet 24/7 adalah sepasukan jurnalis partikelir paling ampuh saat ini. Tanpa dibayar pun, mereka siap berbagi dan memberitakan apa saja yang mereka temui. Sama seperti suku Bajo, anak-anak muda ini tak terkungkung oleh batas negara. Mereka saling terhubung dan bertukar informasi dengan cara yang tak pernah terpikirkan oleh pejalan masa lalu.

Melalui medium digital seperti blog, pejalan lokal pun berkesempatan untuk menuliskan Asia Tenggara menurut sudut pandangnya sendiri. Mereka mampu memproduksi pengetahuan tentang daerahnya sendiri, lantas menyebarkannya. Ternyata sangat menarik saat membaca apa yang dilihat orang Indonesia terhadap tanah airnya sendiri. Karena mereka tidak hanya melihat dan melaporkannya secara observatif, tetapi juga bisa memberi nilai dan harapan. Konsep seperti ini menurut fotografer senior Ed Zoelverdi adalah,"Memotret Indonesia melalui penglihatan orang Indonesia."

Begitu juga pandangan blogger lain di Asia Tenggara tentang negerinya sendiri atau negara tetangga. Misalnya saja travel blogger Malaysia menulis tentang Myanmar, atau turis Bangkok yang mengunjungi Bali. Pasti mereka memiliki perspektif yang berbeda dibanding para penulis Barat yang menganggap penduduk Asia Tenggara sebagai orang asing, liyan. Sehingga tulisan yang mereka hasilkan pun berjarak.  

Melalui mata dan tangan para travel blogger inilah konstruksi tentang komunitas ASEAN perlahan dibangun. Bukan lagi melalui sudut pandang orang luar, tapi dari dalam diri kita sendiri. []

*Ditulis sebagai prasyarat mengikuti ASEAN Blogger Festival 2013

Bincang Fiksi Bersama Yusi Avianto Pareanom


Bagi saya, catatan perjalanan adalah sebuah bentuk tulisan hibrida yang lahir dari persilangan antara jurnalisme dan sastra. Sudah sepantasnya catatan perjalanan mengandung sebuah kebenaran, karena itu ia menjadi penuntun dan inspirasi para pelancong sesudahnya untuk datang berkunjung. Atas nama kebenaran, sebuah catatan perjalanan layaknya ditulis dalam kaidah jurnalistik yang ketat. Penulisan nama dan tempat misalnya, ditulis sepresisi mungkin agar tak membuat orang lain tersesat. Hal ini terbukti dengan catatan para pejalan masa lalu seperti milik Ma Huan atau Raffles yang masih terasa aktual hingga hari ini.

Namun, catatan perjalanan pun harus enak dibaca. Tulisannya boleh meliuk-liuk sesuai suasana hati si penulis. Itu mengapa pendekatan sastra sangat diperlukan dalam menulis catatan perjalanan, terutama untuk mendeskripsikan keindahan sebuah tempat atau keramahan para penduduk lokal. 

Saya pun mengamati, penulis perjalanan jempolan biasanya juga seorang sastrawan ulung. Contohnya banyak. Mulai dari Paul Theroux, V.S. Naipaul, Salman Rushdie, Mochtar Lubis hingga Sigit Susanto, pengarang trilogi "Menyusuri Lorong-Lorong Dunia" yang bergaya literary travel. Bahkan Bondan Winarno yang maknyus itu juga seorang wartawan investigatif dan rajin menulis cerita pendek di berbagai surat kabar. Sebagai pengantar untuk buku Jalansutra, kumpulan kolom perjalanannya, ia menulis: 

"Banyak orang bertanya, kenapa sudah beberapa tahun ini saya tidak menulis cerita pendek lagi? Salah satu sebabnya adalah karena saya tidak pernah diakui sebagai penulis cerpen. Padahal sudah puluhan cerpen saya dimuat Kompas, dan media-media terkemuka lainnya. Beberapa juga memenangkan sayembara. Tapi dalam ulasan-ulasan tentang cerpen Indonesia, saya tidak pernah disebut sebagai salah satu cerpenis."

Hahaha. Pak Bondan akhirnya lebih enjoy menulis catatan perjalanan karena ngambek tidak dianggap cerpenis. Tapi dalam menulis catatan perjalanan pun nuansa sastra itu tetap saja muncul dan justru memperkuat tulisan-tulisan Pak Bondan. 

Nah tipe penulis yang lengkap ini juga bisa ditemui dalam persona Yusi Avianto Pareanom. Ia paham bagaimana mengolah fakta menjadi berita, ia pun lihai dalam merangkai plot menjadi sebuah cerita. Kebetulan mas Yusi akan datang ke Surabaya. Maka atas dasar inisiatif mbak Ary Amhir dan kebaikan hati mbak Kathleen Azali akhirnya direncanakan sebuah acara sharing sederhana dengan penulis kumpulan cerpen "Rumah Kopi Singa Tertawa" ini. 

Acaranya gratis, digelar lesehan plus suguhan kopi yang -insyaallah- disediakan free flow. Materinya pun tidak melulu tentang fiksi, karena Anda pun berkesempatan menanyai mas Yusi perihal penulisan perjalanan. Hifatlobrain sendiri sempat mengarsipkan catatan perjalanan milik mas Yusi yang terbit di Garuda In-Flight Magazine dengan judul "Bertamu ke Buyat". Anda bisa membaca dan mengunduhnya melalui box di bawah ini. 

Kami tunggu kehadiran Anda!


4/5/13

The Nature Connection



Artikel panjang ini disumbangkan oleh Ary Amhir dengan judul asli "Danau-Danau di Bali; Antara Mistisme, Komersialisasi, dan Ekologi". Hasil pengamatan yang menarik. Selamat membaca! 

Pagi itu sudah bulat tekadku hendak menyusuri tiga danau dengan berjalan kaki. Pesona Bali ala brosur wisata yang dipamerkan agen-agen perjalanan kerap  membuatku mual. Keelokan tempat di pulau dewata ini jadi mirip barang dagangan yang hanya bisa dinikmati setelah merogoh kocek dalam-dalam. Separah itukah komersialisasi obyek wisata di Bali? Aku bertanya-tanya.

Bertahun sudah aku mengenal Bali. Belasan kali kuluangkan waktu buat menikmati panorama dan budaya setempat. Berbagai tempat sudah kujelajah. Mulai pantai-pantai sepanjang Kuta, Sanur, Tulamben, juga Ubud, Candi Dasa, Klungkung, Karangasem, Kintamani, hingga Bedugul. Satu yang kerap kurasakan ketika tinggal di Bali, sulit merasakan nuansa lokal di tempat-tempat yang sangat komersil. Sungguh berbeda jika aku mengunjungi Pariaman atau Maluku. Banyak kawanku merasa takut ke Bali karena menganggapnya ‘mahal’. Padahal kan tak selalu demikian. 

Kali ini kucoba menikmati Bali dengan cara lain. Dengan berjalan kaki. Siapa tahu kubisa lebih dekat menikmati eksotisme, magis, dan spiritualitas penduduknya. Bukankah dengan berjalan kaki aku bisa mengamati ‘semua’? 

Kawanku, Bli Tum, menawarkan diri untuk mengantarkanku sampai  batas atas Danau Tamblingan. Di sana ada pertigaan, yang menjadi batas antara Desa Munduk dan Gobleg. “Setelah itu jalan relatif datar, jadi enak ditempuh dengan berjalan kaki,” sarannya bijak. 

Kebaikan hati Bli Tum tak kusia-siakan. Kutahu jalan beraspal sepanjang Banjar Beji tempatku menginap di rumah Bli Tu hingga pertigaan, menanjak tajam. Jauhnya sekitar 5-6 km, dan pasti akan menguras banyak tenaga. Usai pertigaan, aku akan menempuh sekitar 6-7 km hingga mencapai pertigaan jalan besar menuju arah Bedugul atau Denpasar. Kawanku pun tak keberatan dengan keputusanku.

Sekitar pukul sembilan pagi kami berangkat. Beberapa menit kemudian kami menikmati pemandangan danau dari pertigaan. Pohon jeruk tumbuh menyubur di kelerengan lebih 60 derajat arah Danau Tamblingan. Pagi itu berkabut. Musim hujan masih menggayut. “Kita mesti berjalan cepat, jangan sampai kehujanan di jalan,” kataku kepada kawanku.

Usai mengucapkan salam pisah, aku dan kawan pun melaju. Masuki wilayah Desa Gobleg, baru beberapa ratus meter berjalan, tampaklah sebuah pura. Di sampingnya ada sebuah turunan menuju Danau Tamblingan. Tertulis jarak 700 meter. Dekat juga, pikirku. Kami pun memutuskan turun. Ingin merasakan air danau dari dekat.


Ada sebuah kisah yang dituturkan kawanku Bli Tum alias Putu Ardhana. Menurutnya muasal empat desa adat atau catur desa -Munduk, Gobleg, Gesing, dan Umejero- dari sekitar Danau Tamblingan, yaitu di Gunung Lesung. Karena sebuah alasan, mungkin bencana alam mirip letusan gunung atau gempa bumi, penduduknya lalu berpindah ke wilayah sekitar danau, membentuk empat desa tadi. Catur desa ini memiliki ikatan spiritual dengan danau. Mereka bertanggung jawab dan merasa wajib menjaga kesucian danau dan pura-pura di sekitarnya. 

Setidaknya ada belasam pura di sekitar Danau Tamblingan. Di antaranya : Pura Dalem, Pura Endek, Pura Ulun Danu dan Sang Hyang Kangin, Pura Sang Hyang Kawuh, Pura Gubug, Pura Tirta Mengening, Pura Naga Loka, Pura Pengukiran, Pengukusan, Pura Embang, Pura Tukang Timbang, dan Pura Batulepang. 

Paska melewati pura pinggir jalan, berjalan menurun beberapa ratus meter, kutemukan sebuah pura lagi. Pura Ulun Danu Tamblingan namanya. Pura ini tampak senyap, namun terpelihara. Beberapa puluh meter dari pura, menuruni undak-undakan yang berlumut dan sangat licin, muncullah permukaan air danau. Begitu hijau, hening, dan menenangkan. Tak jauh dari tempat kami berdiri, terlihat seorang pemancing.

Tamblingan berasal dari kata tamba alias obat, dan elingan atau ingat. Dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul dikisahkan, di masa lalu masyarakat sekitar danau pernah terserang wabah penyakit. Lalu seorang sakti turun ke danau kecil di bawah desa untuk mengambil airnya, memantrainya, dan menggunakannya sebagai obat. Air suci tersebut akhirnya menyembuhkan masyarakat desa yang terkena wabah. Sejak saat itu, Danau Tamblingan dianggap sakral.

Karena kepercayaan ini, ditambah banyaknya pura, maka Danau Tamblingan kemudian tidak dikembangkan sebagai obyek wisata yang komersil seperti Danau Bratan atau Danau Batur. Masyarakat keempat desa adat selalu menolak tiap kali pemerintah daerah mengajukan rancangan pembangunan wisata di daerah ini.

Belakangan muncul konflik yang berkaitan dengan rencana pemekaran Banjar (dusun) Tamblingan untuk menjadi sebuah desa. Banjar Tamblingan adalah satu dari empat banjar (Taman, Bulakan, Beji, dan Tamblingan) yang masuk dalam wilayah administrasi Desa Munduk. Jika Banjar Tamblingan dimekarkan menjadi sebuah desa, maka keputusan pengembangan wilayah sekitar Danau Tamblingan hanya bergantung kepada masyarakat Desa Tamblingan. Tak lagi dibutuhkan ijin dari ketiga banjar. Hal ini tentu saja membuat warga ketiga banjar lainnya marah. Apalagi ide pemekaran tidak murni berasal dari warga Dusun Tamblingan, melainkan ditunggangi oleh pihak luar.

Isu mencuat kala terkabar investor dari Cina hendak mengembangkan wisata air modern di Danau Tamblingan, dan Bupati Buleleng sudah memberi restu. Maka muncullah demo dan protes warga ketiga dusun di wilayah Desa Munduk. Tak hanya itu. Desa-desa adat yang masuk ke dalam catur desa  pun tak terima jika wilayah danau dikomersilkan. Selain bakal mencemari air danau dan tempat ibadah, jika ditelusur ketiga danau (Tamblingan, Buyan, dan Bratan) merupakan penyedia air tanah terbesar di wilayah Bali Utara. Kerusakan danau-danau ini tatkala dieksplorasi sebagai tempat wisata modern nantinya, ditakutkan akan mengganggu kehidupan warga Bali Utara, khususnya yang selama ini hidup dari pertanian.

Mengingat kembali keterangan Bli Tu, kupandang air danau yang kehijauan. Lalu  kusempatkan berhenti sejenak di Pura Ulun Danu. Takzim mengingat sang pencipta, sekaligus mengingatkan aku betapa harmonisnya dulu manusia menjaga hubungannya dengan alam semesta. 

Perjalanan naik dari danau rupanya tidak semudah ketika turun. Nafasku memburu. Ketika akhirnya sampai di tepi jalan beraspal, kulihat penjual bakso dengan rombongnya.

“Bakso Pak, satu,” pintaku.

“Ini bakso babi lho, Mbak,” seru si penjual mengingatkan. Adudududuh.. terpaksa kutahan perut yang lapar dan energi yang terkuras.

Beberapa ratus meter kemudian kutemukan sebuah warung. Niat membeli air mineral melebar menjadi memesan dua piring mi goreng dan dua gelas teh hangat. Udara yang sejuk, tenaga yang terkuras, membuat lapar perut berkali lipat. Ketika kubayar makan kami, aku tersipu. Cukup murah buat kawasan wisata seperti Bali. Semua, termasuk kue, coklat, air mineral dan jajanan, tak sampai Rp 15000.

Dari Danau Tamblingan kemudian kami menyusur Danau Buyan yang juga sunyi. Buyan kerap dianggap saudara kembar Danau Tamblingan. Berkesan mistis dan ‘terlalu hening’, nyaris sulit ditemukan perahu motor mengarungi danau ini. Justru kawanku melihat sebuah ‘gethek’, rakit dari bambu yang dikemudikan seorang lelaki, menyebrangkannya dari satu sisi danau ke desa di seberang. 

Sesekali tatkala melihat pesona Danau Buyan, muncul kera-kera dari gerumbul pepohonan. Kawanku menjerit ketakutan, aku tertawa. Aku yakin mereka kelompok kera liar. Takkan mengganggu mengingat lebatnya hutan sekitar danau. Hanya dengan sedikit gertakan, kera-kera itu pun lari sembunyi.

Ketika berjalan menyusuri danau-danau ini, hanya kulihat satu dua angkutan umum mirip L-300. Umumnya colt-colt itu menuju Seririt via Desa Pupuan. Jadi tidak melewati Munduk. Yang kerap lewat justru mobil pribadi dan motor. Lagi-lagi kuingat tutur kawanku, Bli Tum. 

“Dulu banyak angkutan umum dari Denpasar menuju Seririt dan sebaliknya yang lewat Munduk. Namun karena banyak warga yang memiliki motor dan mobil sendiri, kini langka dijumpai angkutan umum. Kalau pun ada, paling hanya satu dua, itu pun pagi sekali.”

Yah, angkutan umum menjadi barang mahal di Bali saat ini. Mahal ongkosnya, mahal pula keberadaannya. Penyebabnya apalagi kalau bukan kepemilikan kendaraan pribadi, baik mobil dan motor, yang membludak. Masih kuingat keluhan kondektur bus jurusan Gilimanuk-Singaraja kemarin. 

“Dulu, bus-bus selalu penuh. Entah yang mau ke Denpasar, Singaraja, atau ke Padang Bai. Tapi sekarang banyak bus kosong. Cari penumpang susah sekali. Terlalu banyak orang yang punya mobil dan motor sendiri.”

Kelak juga kutahu, ongkos sewa mobil di Bali ternyata paling murah di Indonesia. Bayangkan saja, untuk menyewa mobil sekelas Avanza hanya butuh Rp 135000 sehari. Di Surabaya atau Jogjakarta, setidaknya ongkos sewa mobil Rp300000, bahkan bisa mencapai Rp 500000 sehari saat liburan. Sedang sewa motor hanya Rp 35000 sehari. 

Sepanjang jalan turun menuju pertigaan ke arah Bedugul, kusaksikan rumah penginapan di mana-mana. Mulai yang kelas wah mirip hotel berbintang, hingga losmen sederhana bertarif Rp 75000- Rp 100000 per malam. Soal manajemen wisata, Bali memang nomor satu. Di sini, fasilitas untuk wisatawan berbagai kelas ada semua. Wisata Bali kini tampaknya didisain untuk dinikmati wisatawan kaya hingga backpacker. Peristiwa bom Bali mungkin punya andil.

Jelang pertigaan ke arah Bedugul, hujan tercurah dari langit. Lebat juga. Untung di sepanjang jalan mudah ditemui rumah-rumahan sebagai tempat berteduh. Lebih tengah hari. Cuaca tampaknya tak bakal bersahabat lagi. Kuputuskan segera menghadang angkutan umum ke Denpasar, dan melanjutkan pengembaraan ke Danau Bratan esok hari. Aku punya janji dengan seorang kawan di Denpasar sore nanti.


Ada sebuah teori tentang terbentuknya ketiga danau (Tamblingan, Buyan, Bratan) ini. Danau-danau ini terbentuk karena letusan gunung berapi yang sangat dahsyat dan ketiga danau ini sebetulnya kaldera raksasa. Terjadinya erosi memisahkan Bratan dengan Buyan dan Tamblingan. 

Berjalan sepanjang tepi Danau Bratan, kusaksikan air danau yang tercemar. Sampah, busa sabun, menepi dan membuat rusuh mata. Di beberapa sudut kujumpai tempat penyewaan perahu motor atau jetski bagi pengunjung yang hendak berolahraga air di Bratan. Bratan memang danau yang sangat luas. Namun pemandangannya tidak terlalu eksotis di siang hari. Entah sore atau malam.

Satu-satunya tempat yang nyaman dipandang adalah kawasan Pura Ulun Danu Bratan. Menjadi kawasan wisata yang enak dipandang, pura di tepi danau ini selalu dipenuhi turis asing. Menyenangkan juga mejeng, foto-foto narsis di sini.

Menurut kawanku, nama bratan berasal dari kata brata, yaitu pengendalian diri. Alkisah, dulu para Sri dan Mpu melakukan tapa brata di danau ini untuk mencapai moksa, yaitu keabadian. Masyarakay Hindu di Bali amat percaya kepada karma. Dengan menebus karma melalui reinkarnasi berkali-kali, maka seorang manusia akan mencapai moksa.

Kawanku Gde Wibisana Singgih Wilasa, punya pengalaman mistis kala berkendara melalui Danau Bratan suatu malam.

“Aku melihat seekor anjing menyebrang jalan. Tapi ekornya panjaaaaang nggak putus-putus. Jadi kumatikan mesinku, menunggu anjing dan ekornya itu lenyap.”

Bali penuh mistis, tentu aku percaya. Dari Leak, hal-hal gaib, atau apapun. Mistisme yang dipelihara dalam tradisi dan budaya spiritualisme tinggi. Yah, itulah ciri khas Bali, yang membuatnya berbeda dan menarik wisatawan asing tuk berkunjung. 

Soal mistisme, sempat kubaca kisah Danau Buyan di koran lokal. Disebutkan bahwa air danau paling tenang ini menyusut ratusan meter dari tepi danau. Penduduk sekitar danau percaya hal ini disebabkan karena diabaikannya perawatan pura-pura di sekitar danau. Penduduk lalu berinisiatif memperbaiki pura secara mandiri, disertai penanaman pohon di pinggir danau, dan pengerukan tepi danau. Mereka tak ingin danau sucinya menyusut airnya.

Pada saat melakukan pengerukan di tepi danau, ternyata muncul mata air baru. Entah sebuah kebetulan atau berkah, penduduk setempat lalu mensyukurinya dan melakukan upacara mendak tirta, sebagai rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi.

Penduduk sekitar Buyan juga menolak investor yang hendak membangun pariwisata air di tengah danau. Mereka menganggap pembangunan ini akan mencemari kesucian air danau. Danau pun tak lagi menjadi milik masyarakat, tapi milik privat alias investor. Ini yang mereka takutkan. Namun penduduk menyetujui pembangunan taman-taman  sederhana sebagai tempat rekreasi keluarga dengan karcis yang tak mahal. Walau pemasukan wisata kecil, namun lingkungan kawasan danau tetap terpelihara.

Menyusuri negeri tiga danau hari itu, aku belajar sesuatu. Janganlah keindahan dan kesuburan alam dikorbankan semata demi keuntungan wisata. Banyak kehidupan yang dipertaruhkan di atasnya. Tampaknya, aku harus belajar ‘berperilaku hijau’ dari masyarakat adat Bali. []

4/3/13

Racing The Bali Way



Teks dan foto Dwi Putri Ratnasari


“Put, aku beli roti dulu ya buat sarapan…”

Andi Fachri, lelaki yang asli Semarang itu, menyebrang jalan menuju mini market 24 jam. Saya merapatkan jaket sembari terkantuk-kantuk di pinggir jalan yang gelap. Fajar memang masih jauh. Namun kami sudah bersiap melaju menuju Jembrana. Pukul 04.00 WITA, Mas Andi menjemput saya di hotel. Lelaki yang baru beberapa bulan tinggal di Denpasar ini berbaik hati menjadi teman perjalanan saya. Karena masih nubie juga, dia mengandalkan peta digital untuk keluar dari pusat kota Denpasar. 

“Ada jalan tembusan…,” katanya saat kami agak sedikit berputar-putar mencari di mana jalan yang dimaksud. Mungkin ini efek karena jalan terlalu gelap. Mau tanya orang juga sepertinya mereka masih terlelap. Beruntung kami melewati sebuah pasar kecil yang sudah menunjukkan tanda-tanda kehidupan. 

Langit mulai berubah warna. Sementara motor masih terus melaju. Pantat saya yang sudah lama tidak merasakan berkendara jauh rasanya pegal dan kaku. Sesekali kami berhenti untuk mengecek peta lewat smartphone. Saya menghela nafas lega saat melintasi sebuah patung lelaki penunggang kerbau, salah satu ikon dari kota Jembrana. Perjalanan lebih dari tiga jam itu sepertinya akan segera mencapai tujuan.

Jembrana terletak di Bali bagian Barat. Jauh dari hiruk pikuk pariwisata yang hampir terpusat di Bali Selatan dan Tengah. Bagian Barat ini memang sebagian besar adalah tanah yang berstatus taman nasional. Wajar bila banyak hutan di kanan-kiri. Turis yang datang rata-rata penggemar wisata minat khusus. Meski pegal, saya terhibur dengan warna-warni pagi sepanjang perjalanan ini. Kabut, terasering, perbukitan, dan siluet gunung yang terlihat monokrom di kejauhan. Hal serupa mungkin sudah susah ditemukan di wilayah Bali lainnya yang turistik dan penuh bangunan tinggi menjulang.

Pagi itu kami memang berniat menonton balap kerbau atau biasa disebut Makepung. Sebuah perhelatan besar yang hanya bisa disaksikan di Jembrana saja. Makepung memang selalu berlangsung sedari pagi hari pukul 6 pagi. Ditambah tak terlalu banyak penginapan yang ada di Jembrana. Membuat para wisatawan dari Denpasar harus bangun pagi-pagi buta untuk mengejar acara tersebut. 

Makepung hari itu berlangsung di daerah Delod Berawah. Jalanan begitu lengang sepanjang menuju tempat tersebut. Kanan kiri hanya terdapat persawahan. Saya berharap tak salah melihat agenda Makepung di website pemerintah kabupaten Jembrana. Saya punya pengalaman tak enak berkaitan agenda acara budaya yang diinformasikan lewat internet. Pernah suatu saat jauh-jauh datang ke Bantul, Yogyakarta, untuk melihat sebuah festival, eh malah tidak ada acara apa-apa. Beberapa orang juga ikut kecele. Tidak lucu rasanya kalau kali ini pun bernasib sama.

“Kok sepi banget ya…” ujar Mas Andi menggumam. Membuat saya semakin was-was. Hingga akhirnya kami mulai melihat segerombolan kerbau memadati jalanan. Rupanya perjalanan sedari subuh ini tak sia-sia. Acara ini benar-benar tepat waktu. Tak beberapa lama setelah memarkir kendaraan, pasangan kerbau pertama yang dilombakan sudah dilepas. Riuh pun sontak terdengar. 



Pagi itu tercatat hampir 250 pasang kerbau yang memperebutkan piala bergilir Jembrana Cup. Peserta terbagi dalam dua grup yakni Blok Ijogading Timur dan Barat. Lintasan balap yang digunakan adalah sebuah jalan desa yang bentuknya melingkar. Di bagian tengah lintasan terdapat beberapa petak sawah. Lebar jalan lintasan lebih kurang hanya tiga meter saja. Di sini tantangannya, saat sepasang kerbau harus mendahului pasangan di depan. Setiap kali peluit ditiupkan, ada dua pasang kerbau dari grup berbeda yang adu balap. Begitu seterusnya, hingga mendapatkan nama-nama pemenang untuk mengikuti putaran final yang diadakan siang itu juga. 

Tapi ingat, jangan abaikan keselamatan diri sebab terlena atmosfer pacu kerbau ini. Tak jarang ada kerbau yang mengamuk dan berusaha keluar dari lintasan. Beberapa orang tampak ambil jalan aman: menikmati perlombaan dengan duduk di atap rumah. 

Semakin siang, aura persaingan semakin terasa. Teriakan-teriakan joki terdengar bersahutan demi memacu tenaga kerbau-kerbau. Setiap detik terasa begitu berarti. Dan penonton pun bersorak-sorai saat jagoannya berhasil mencapai garis finish

Bosan berada di lintasan, saya memutuskan untuk keluar dan melihat lebih dekat di garis finish. Saya berjalan berjingkat di tepian agar tak tertabrak gerobak kerbau. Seorang kameramen TV lokal bahkan hampir kehilangan gadget-nya karena terlalu menjorok tengah lintasan. Dia mengelus dada, memeluk kameranya yang hampir wassalam

Di garis finish, rupanya masih ada PR yang menanti para anggota tim balap, yaitu menghentikan laju kerbau. Bayangkan, kerbau yang sudah dalam keadaan on-fire lari gradak-gruduk harus dihentikan begitu mencapai garis akhir. Kalau tidak kuat, bisa saja anggota tim ini terseret atau bahkan mencelat akibat srudukan kepala kerbau.

Saya lantas bergerak ke arah pantai. Kebetulan lintas balap ini tak jauh dari Pantai Delod Berawah. Hanya perlu berjalan beberapa meter saja. Pantai ini tak setenar pantai-pantai lain di Bali. Dari segi pemandangan dan fasilitas, Pantai Delod Berawah memang jauh kalah dengan yang lain. Di bawah pohon-pohon rindang di tepian pantai, berjejer kerbau yang telah berlomba. Saya bergidik ngeri saat berjalan di samping hewan-hewan itu. Nafas mereka masih ngos-ngosan. Debaran jantungnya terlihat jelas di permukaan kulit. Dag dug dag dug… Seorang lelaki nampak mengguyurkan air dingin di bagian pantat dua kerbaunya yang berdarah. Entah mengapa, saya jadi ikutan merasa perih.

"Ini luka akibat tungket, mbak…," kata Pak Nyoman sembari mengangkat sebuah tongkat sepanjang 40 cm yang diselimuti paku-paku kecil. Alhasil, banyak darah berceceran di bagian pantat hewan-hewan tersebut. Bagi yang merasa mual melihat darah, sebaiknya jangan pernah nonton Makepung atau Karapan Sapi. Tungket mengingatkan saya pada alat serupa yang dipakai pada tradisi karapan sapi di Madura. Meski fungsinya sama, yaitu untuk memacu sapi-sapi agar berlari lebih kencang, namun di Jembrana ukuran tongkatnya lebih kecil. 

Mungkin kesakitan inilah yang harus dibayar hewan-hewan ini setelah melewati masa penuh kenyamanan. Pada perkembangannya, sapi karapan maupun kerbau makepung ini memang sengaja dibesarkan untuk menjadi pembalap. Tentu saja biaya perawatan kerbau balap tak semurah dengan yang dipekerjakan di sawah. Beberapa majikan ada yang menggunakan ramuan tradisional dan berbagai suplemen untuk meningkatkan vitalitas kerbau aduan. Mereka begitu dimanja seperti merawat seorang bayi.

Pak Nyoman dan sang joki mengajak kerbau-kerbau balapnya berlatih dua minggu menjelang pertandingan. "Saya latih di medan lumpur, karena lebih berat," ujarnya yang kerap kali mengganti kata joki dengan sebutan 'sopir'. 

Penunggang kerbau ternyata juga harus memiliki stamina yang prima. Beberapa kali saya melihat joki-joki yang menggelepar pingsan setelah memacu kerbau-kerbaunya di lintasan pacu. Tampaknya mereka kehabisan tenaga. Mengontrol laju hewan agar presisi sembari berteriak-teriak bukanlah perkerjaan yang enteng. Apalagi final dilaksanakan menjelang tengah hari, di mana sengatan matahari sangat menguras energi.



Konon, zaman dahulu kala, Makepung memang dilakukan di tengah sawah basah. Para penunggangnya mengenakan pakaian tradisional laiknya prajurit kerajaan. Kegiatan ini awalnya memang bertujuan untuk membajak lahan sebelum ditanami padi agar menjadi gembur. Karena sapi hewan yang disucikan di Bali, maka pekerjaan bajak sawah tradisional ini dilakukan oleh kawanan kerbau.

Tak jauh dari arena balap, saya melihat segerombol lelaki mengenakan pakaian tradisional Bali berwarna merah jambu. Mereka adalah para pemain Jegog, kesenian musik khas dari Jembrana yang semua instrumennya terbuat dari bambu. Pada tahun 2012 lalu, konon Jegog telah mencapai usia 100 tahun sejak pertama kali dibuat oleh seorang petani setempat. Kesenian ini tak tersedia di daerah lain di Bali. Untuk dapat menikmati atau belajar pada ahlinya, wisatawan dapat mengunjungi Desa Sekar Agung, Jembrana. []