Pages

4/27/13

Between Escapism and Lifestyle


Salah satu foto dalam serial High Hopes karya Wimo Ambala Bayang

Dalam sebuah acara bedah buku di Surabaya, Agustinus Wibowo mendapat sebuah pertanyaan menarik yang datang dari seorang ibu muda berjilbab: Apakah petualangannya merupakan sebuah pelarian?

Agustinus Wibowo pun bercerita panjang lebar tentang motivasi yang mengawali perjalanannya. Ia tidak menyangkal bahwa perjalanan yang dilakoninya bermula dari sebuah pelarian. "Saya jenuh dengan kehidupan yang hanya berada di depan komputer saja..." kata Agustinus. 

Saya menduga, setiap pelancongan memang dimulai dari sebuah pelarian. Silahkan tanya pada kaum weekender di Jakarta yang memiliki dua slogan mahapenting yaitu, "I hate Monday" dan  "thanks God it's Friday!". Sepertinya hanya ada dua hari itu saja di dalam setiap benak para pekerja kantoran. Hari kerja lainnya adalah hari biasa yang penuh dengan kemonotonan dalam ritme kerja ala nine-to-five. Dan akhir pekan adalah berkah yang selalu menimbulkan pertanyaan penuh gairah: Mau kemana weekend ini, Sist?

Berbeda dengan pegawai kantoran, Hippie berada pada kutub yang lebih ekstrim. Mereka melakukan perjalanan karena muak dengan kehidupan materialistik yang dianggap membelenggu pemikiran manusia modern. Hal ini tergambar jelas dalam kisah hidup Christopher Johnson McCandless dalam film Into The Wild. Perjalanan adalah pelarian yang ideal dalam menghindari kehidupan berwajah dua yang serba palsu. 

Eskapisme dari kesemrawutan sekaligus kehampaan kehidupan sosial menuntun orang untuk keluar darinya dan melakukan perjalanan ke latar-latar sosial lainnya. Disini perjalanan bukan sekedar hobi yang dilakukan pada waktu luang. Perjalanan adalah keperluan yang tidak terlalu mendesak tapi berarti penting untuk dilakukan. Dalam proses escaping tersebut, masyarakat sekaligus melakukan pencarian terhadap jati diri, makna kehidupan, atau menjalani rite de passage dalam hidupnya. (Sarani Pitor Pakan, 2013)

Tapi apa benar setiap perjalanan selalu dimulai dari perasaan yang depresif dan reflektif seperti ini? Bagaimana dengan para social climber yang memperbanyak stempel di paspor sebagai pendongkrak status sosial? Atau adakah tempat bagi pejalan yang memanggul ransel demi sebuah legitimasi seperti terserah-karepmu-pokmen-aku-ki-backpacker misalnya?

Maka silahkan baca makalah menarik yang ditulis oleh Sarani Pitor Pakan, seorang mahasiswa FISIP UI, yang mendedah tren perjalanan di Indonesia saat ini melalui sudut pandang sosiologi. Dan saya berharap makalah ini bisa memicu riset lainnya mengenai perjalanan di Indonesia!

Salam,
Hifatlobrain 

No comments: