Pages

4/10/13

Bincang Fiksi Bersama Yusi Avianto Pareanom


Bagi saya, catatan perjalanan adalah sebuah bentuk tulisan hibrida yang lahir dari persilangan antara jurnalisme dan sastra. Sudah sepantasnya catatan perjalanan mengandung sebuah kebenaran, karena itu ia menjadi penuntun dan inspirasi para pelancong sesudahnya untuk datang berkunjung. Atas nama kebenaran, sebuah catatan perjalanan layaknya ditulis dalam kaidah jurnalistik yang ketat. Penulisan nama dan tempat misalnya, ditulis sepresisi mungkin agar tak membuat orang lain tersesat. Hal ini terbukti dengan catatan para pejalan masa lalu seperti milik Ma Huan atau Raffles yang masih terasa aktual hingga hari ini.

Namun, catatan perjalanan pun harus enak dibaca. Tulisannya boleh meliuk-liuk sesuai suasana hati si penulis. Itu mengapa pendekatan sastra sangat diperlukan dalam menulis catatan perjalanan, terutama untuk mendeskripsikan keindahan sebuah tempat atau keramahan para penduduk lokal. 

Saya pun mengamati, penulis perjalanan jempolan biasanya juga seorang sastrawan ulung. Contohnya banyak. Mulai dari Paul Theroux, V.S. Naipaul, Salman Rushdie, Mochtar Lubis hingga Sigit Susanto, pengarang trilogi "Menyusuri Lorong-Lorong Dunia" yang bergaya literary travel. Bahkan Bondan Winarno yang maknyus itu juga seorang wartawan investigatif dan rajin menulis cerita pendek di berbagai surat kabar. Sebagai pengantar untuk buku Jalansutra, kumpulan kolom perjalanannya, ia menulis: 

"Banyak orang bertanya, kenapa sudah beberapa tahun ini saya tidak menulis cerita pendek lagi? Salah satu sebabnya adalah karena saya tidak pernah diakui sebagai penulis cerpen. Padahal sudah puluhan cerpen saya dimuat Kompas, dan media-media terkemuka lainnya. Beberapa juga memenangkan sayembara. Tapi dalam ulasan-ulasan tentang cerpen Indonesia, saya tidak pernah disebut sebagai salah satu cerpenis."

Hahaha. Pak Bondan akhirnya lebih enjoy menulis catatan perjalanan karena ngambek tidak dianggap cerpenis. Tapi dalam menulis catatan perjalanan pun nuansa sastra itu tetap saja muncul dan justru memperkuat tulisan-tulisan Pak Bondan. 

Nah tipe penulis yang lengkap ini juga bisa ditemui dalam persona Yusi Avianto Pareanom. Ia paham bagaimana mengolah fakta menjadi berita, ia pun lihai dalam merangkai plot menjadi sebuah cerita. Kebetulan mas Yusi akan datang ke Surabaya. Maka atas dasar inisiatif mbak Ary Amhir dan kebaikan hati mbak Kathleen Azali akhirnya direncanakan sebuah acara sharing sederhana dengan penulis kumpulan cerpen "Rumah Kopi Singa Tertawa" ini. 

Acaranya gratis, digelar lesehan plus suguhan kopi yang -insyaallah- disediakan free flow. Materinya pun tidak melulu tentang fiksi, karena Anda pun berkesempatan menanyai mas Yusi perihal penulisan perjalanan. Hifatlobrain sendiri sempat mengarsipkan catatan perjalanan milik mas Yusi yang terbit di Garuda In-Flight Magazine dengan judul "Bertamu ke Buyat". Anda bisa membaca dan mengunduhnya melalui box di bawah ini. 

Kami tunggu kehadiran Anda!


1 comment:

a.m. said...

Nice.. artike hifatlobrain memang mantap...