Pages

4/10/13

Self-Image

Karya perupa Filipina, Yee I Lann dalam serial fotografi yang berjudul The Sulu Stories, mengungkapkan saling silang pengaruh yang membentuk identitas sebuah bangsa di Asia Tenggara. 

Bagaimana merumuskan sebuah komunitas? Tentu cara yang terbaik adalah melalui persamaan-persamaan. Sebuah komunitas barang antik muncul karena anggotanya adalah sesama kolektor barang antik. Geng motor ada, karena anggotanya memiliki motor bermerek sama. Persamaan mempermudah unifikasi, serta menyatukan perbedaan dalam sebuah benang merah identitas. Membedakan antara kami dan liyan.

Asia tenggara adalah sebuah komunitas besar yang dibentuk oleh catatan perjalanan para pengelana di masa lalu. Sebelumnya Asia Tenggara adalah sebuah terra incognita bagi pusat peradaban Barat. Namun segera menjadi beken akibat berbagai pembuatan peta dan laporan muhibah yang ditulis. Tidak kurang dari ratusan buku dan teks yang mendeskripsikan Asia Tenggara sebagai sebuah kawasan eksotis, kaya akan rempah, memiliki gunung-gunung api yang elok dan menawarkan imaji paling liar bagi para petualang.

Pada awalnya tentu saja Asia Tenggara adalah satu, tidak dipisahkan oleh batas-batas negara seperti saat ini. Salah satu buktinya adalah pola persebaran Suku Bajo yang memanjang dari sebelah barat Micronesia hingga selatan lepas pantai Myanmar, dari Samudera Hindia hingga kepulauan Filipina. Dengan menggunakan kapal kayu bercadik, suku Bajo menjelajahi pulau-pulau di Asia Tenggara dan menjadi penghubung komunitas besar ini selama berabad-abad. Bisa jadi suku Bajo adalah prototip yang paling awal tentang imajinasi komunitas ASEAN saat ini.


Sayangnya suku Bajo tidak menulis. Mereka tidak memiliki gua-gua untuk dilukis, tidak memiliki peninggalan berupa relief pada candi-candi yang indah, mereka pun jarang menyentuh lontar dan alat tulis. Kisah mereka menggema justru melalui budaya lisan dan nyanyian. Warisan itu pun tidak bisa bertahan dari gempuran perubahan karena memang sifat ingatan yang tidak tahan lama. 

Justru laporan paling lengkap tentang Asia Tenggara datang dari para sarjana Barat. Mereka menulis dan mencatat dengan sangat detail meliputi segala aspek kehidupan. Ada yang menulis tentang struktur geologi, berkas arkeologi, sistem pemerintahan masyarakat adat, bentuk rumah tradisional, upacara-upacara, senjata, jenis flora, berbagai macam fauna, dan sebagainya. Teks-teks ini yang kemudian diolah dan dirujuk sebagai salah satu sumber identitas yang membentuk Asia Tenggara. Yaitu identitas yang berpangkal pada eksotika impresionistik.

Menurut sejarawan Denys Lombard, sebagian besar buku yang dihasilkan penulis Barat saat itu memang berkelok di antara dua kutub yang meninabobokan: beku dalam keindahan warna-warni atau tempat mimpi romantis yang penuh nostalgia. Bahkan perasaan itu masih lestari dimana mitos tentang eksotika Asia Tenggara paling mutakhir dibangun melalui film (seperti The Beach-nya Danny Boyle) dan berbagai macam travel guide.

Di sinilah kekuatan travel blogger. Mereka, anak-anak muda dengan perangkat digital dan selalu terhubung pada komunitas global melalui sambungan internet 24/7 adalah sepasukan jurnalis partikelir paling ampuh saat ini. Tanpa dibayar pun, mereka siap berbagi dan memberitakan apa saja yang mereka temui. Sama seperti suku Bajo, anak-anak muda ini tak terkungkung oleh batas negara. Mereka saling terhubung dan bertukar informasi dengan cara yang tak pernah terpikirkan oleh pejalan masa lalu.

Melalui medium digital seperti blog, pejalan lokal pun berkesempatan untuk menuliskan Asia Tenggara menurut sudut pandangnya sendiri. Mereka mampu memproduksi pengetahuan tentang daerahnya sendiri, lantas menyebarkannya. Ternyata sangat menarik saat membaca apa yang dilihat orang Indonesia terhadap tanah airnya sendiri. Karena mereka tidak hanya melihat dan melaporkannya secara observatif, tetapi juga bisa memberi nilai dan harapan. Konsep seperti ini menurut fotografer senior Ed Zoelverdi adalah,"Memotret Indonesia melalui penglihatan orang Indonesia."

Begitu juga pandangan blogger lain di Asia Tenggara tentang negerinya sendiri atau negara tetangga. Misalnya saja travel blogger Malaysia menulis tentang Myanmar, atau turis Bangkok yang mengunjungi Bali. Pasti mereka memiliki perspektif yang berbeda dibanding para penulis Barat yang menganggap penduduk Asia Tenggara sebagai orang asing, liyan. Sehingga tulisan yang mereka hasilkan pun berjarak.  

Melalui mata dan tangan para travel blogger inilah konstruksi tentang komunitas ASEAN perlahan dibangun. Bukan lagi melalui sudut pandang orang luar, tapi dari dalam diri kita sendiri. []

*Ditulis sebagai prasyarat mengikuti ASEAN Blogger Festival 2013

No comments: