Pages

4/5/13

The Nature Connection



Artikel panjang ini disumbangkan oleh Ary Amhir dengan judul asli "Danau-Danau di Bali; Antara Mistisme, Komersialisasi, dan Ekologi". Hasil pengamatan yang menarik. Selamat membaca! 

Pagi itu sudah bulat tekadku hendak menyusuri tiga danau dengan berjalan kaki. Pesona Bali ala brosur wisata yang dipamerkan agen-agen perjalanan kerap  membuatku mual. Keelokan tempat di pulau dewata ini jadi mirip barang dagangan yang hanya bisa dinikmati setelah merogoh kocek dalam-dalam. Separah itukah komersialisasi obyek wisata di Bali? Aku bertanya-tanya.

Bertahun sudah aku mengenal Bali. Belasan kali kuluangkan waktu buat menikmati panorama dan budaya setempat. Berbagai tempat sudah kujelajah. Mulai pantai-pantai sepanjang Kuta, Sanur, Tulamben, juga Ubud, Candi Dasa, Klungkung, Karangasem, Kintamani, hingga Bedugul. Satu yang kerap kurasakan ketika tinggal di Bali, sulit merasakan nuansa lokal di tempat-tempat yang sangat komersil. Sungguh berbeda jika aku mengunjungi Pariaman atau Maluku. Banyak kawanku merasa takut ke Bali karena menganggapnya ‘mahal’. Padahal kan tak selalu demikian. 

Kali ini kucoba menikmati Bali dengan cara lain. Dengan berjalan kaki. Siapa tahu kubisa lebih dekat menikmati eksotisme, magis, dan spiritualitas penduduknya. Bukankah dengan berjalan kaki aku bisa mengamati ‘semua’? 

Kawanku, Bli Tum, menawarkan diri untuk mengantarkanku sampai  batas atas Danau Tamblingan. Di sana ada pertigaan, yang menjadi batas antara Desa Munduk dan Gobleg. “Setelah itu jalan relatif datar, jadi enak ditempuh dengan berjalan kaki,” sarannya bijak. 

Kebaikan hati Bli Tum tak kusia-siakan. Kutahu jalan beraspal sepanjang Banjar Beji tempatku menginap di rumah Bli Tu hingga pertigaan, menanjak tajam. Jauhnya sekitar 5-6 km, dan pasti akan menguras banyak tenaga. Usai pertigaan, aku akan menempuh sekitar 6-7 km hingga mencapai pertigaan jalan besar menuju arah Bedugul atau Denpasar. Kawanku pun tak keberatan dengan keputusanku.

Sekitar pukul sembilan pagi kami berangkat. Beberapa menit kemudian kami menikmati pemandangan danau dari pertigaan. Pohon jeruk tumbuh menyubur di kelerengan lebih 60 derajat arah Danau Tamblingan. Pagi itu berkabut. Musim hujan masih menggayut. “Kita mesti berjalan cepat, jangan sampai kehujanan di jalan,” kataku kepada kawanku.

Usai mengucapkan salam pisah, aku dan kawan pun melaju. Masuki wilayah Desa Gobleg, baru beberapa ratus meter berjalan, tampaklah sebuah pura. Di sampingnya ada sebuah turunan menuju Danau Tamblingan. Tertulis jarak 700 meter. Dekat juga, pikirku. Kami pun memutuskan turun. Ingin merasakan air danau dari dekat.


Ada sebuah kisah yang dituturkan kawanku Bli Tum alias Putu Ardhana. Menurutnya muasal empat desa adat atau catur desa -Munduk, Gobleg, Gesing, dan Umejero- dari sekitar Danau Tamblingan, yaitu di Gunung Lesung. Karena sebuah alasan, mungkin bencana alam mirip letusan gunung atau gempa bumi, penduduknya lalu berpindah ke wilayah sekitar danau, membentuk empat desa tadi. Catur desa ini memiliki ikatan spiritual dengan danau. Mereka bertanggung jawab dan merasa wajib menjaga kesucian danau dan pura-pura di sekitarnya. 

Setidaknya ada belasam pura di sekitar Danau Tamblingan. Di antaranya : Pura Dalem, Pura Endek, Pura Ulun Danu dan Sang Hyang Kangin, Pura Sang Hyang Kawuh, Pura Gubug, Pura Tirta Mengening, Pura Naga Loka, Pura Pengukiran, Pengukusan, Pura Embang, Pura Tukang Timbang, dan Pura Batulepang. 

Paska melewati pura pinggir jalan, berjalan menurun beberapa ratus meter, kutemukan sebuah pura lagi. Pura Ulun Danu Tamblingan namanya. Pura ini tampak senyap, namun terpelihara. Beberapa puluh meter dari pura, menuruni undak-undakan yang berlumut dan sangat licin, muncullah permukaan air danau. Begitu hijau, hening, dan menenangkan. Tak jauh dari tempat kami berdiri, terlihat seorang pemancing.

Tamblingan berasal dari kata tamba alias obat, dan elingan atau ingat. Dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul dikisahkan, di masa lalu masyarakat sekitar danau pernah terserang wabah penyakit. Lalu seorang sakti turun ke danau kecil di bawah desa untuk mengambil airnya, memantrainya, dan menggunakannya sebagai obat. Air suci tersebut akhirnya menyembuhkan masyarakat desa yang terkena wabah. Sejak saat itu, Danau Tamblingan dianggap sakral.

Karena kepercayaan ini, ditambah banyaknya pura, maka Danau Tamblingan kemudian tidak dikembangkan sebagai obyek wisata yang komersil seperti Danau Bratan atau Danau Batur. Masyarakat keempat desa adat selalu menolak tiap kali pemerintah daerah mengajukan rancangan pembangunan wisata di daerah ini.

Belakangan muncul konflik yang berkaitan dengan rencana pemekaran Banjar (dusun) Tamblingan untuk menjadi sebuah desa. Banjar Tamblingan adalah satu dari empat banjar (Taman, Bulakan, Beji, dan Tamblingan) yang masuk dalam wilayah administrasi Desa Munduk. Jika Banjar Tamblingan dimekarkan menjadi sebuah desa, maka keputusan pengembangan wilayah sekitar Danau Tamblingan hanya bergantung kepada masyarakat Desa Tamblingan. Tak lagi dibutuhkan ijin dari ketiga banjar. Hal ini tentu saja membuat warga ketiga banjar lainnya marah. Apalagi ide pemekaran tidak murni berasal dari warga Dusun Tamblingan, melainkan ditunggangi oleh pihak luar.

Isu mencuat kala terkabar investor dari Cina hendak mengembangkan wisata air modern di Danau Tamblingan, dan Bupati Buleleng sudah memberi restu. Maka muncullah demo dan protes warga ketiga dusun di wilayah Desa Munduk. Tak hanya itu. Desa-desa adat yang masuk ke dalam catur desa  pun tak terima jika wilayah danau dikomersilkan. Selain bakal mencemari air danau dan tempat ibadah, jika ditelusur ketiga danau (Tamblingan, Buyan, dan Bratan) merupakan penyedia air tanah terbesar di wilayah Bali Utara. Kerusakan danau-danau ini tatkala dieksplorasi sebagai tempat wisata modern nantinya, ditakutkan akan mengganggu kehidupan warga Bali Utara, khususnya yang selama ini hidup dari pertanian.

Mengingat kembali keterangan Bli Tu, kupandang air danau yang kehijauan. Lalu  kusempatkan berhenti sejenak di Pura Ulun Danu. Takzim mengingat sang pencipta, sekaligus mengingatkan aku betapa harmonisnya dulu manusia menjaga hubungannya dengan alam semesta. 

Perjalanan naik dari danau rupanya tidak semudah ketika turun. Nafasku memburu. Ketika akhirnya sampai di tepi jalan beraspal, kulihat penjual bakso dengan rombongnya.

“Bakso Pak, satu,” pintaku.

“Ini bakso babi lho, Mbak,” seru si penjual mengingatkan. Adudududuh.. terpaksa kutahan perut yang lapar dan energi yang terkuras.

Beberapa ratus meter kemudian kutemukan sebuah warung. Niat membeli air mineral melebar menjadi memesan dua piring mi goreng dan dua gelas teh hangat. Udara yang sejuk, tenaga yang terkuras, membuat lapar perut berkali lipat. Ketika kubayar makan kami, aku tersipu. Cukup murah buat kawasan wisata seperti Bali. Semua, termasuk kue, coklat, air mineral dan jajanan, tak sampai Rp 15000.

Dari Danau Tamblingan kemudian kami menyusur Danau Buyan yang juga sunyi. Buyan kerap dianggap saudara kembar Danau Tamblingan. Berkesan mistis dan ‘terlalu hening’, nyaris sulit ditemukan perahu motor mengarungi danau ini. Justru kawanku melihat sebuah ‘gethek’, rakit dari bambu yang dikemudikan seorang lelaki, menyebrangkannya dari satu sisi danau ke desa di seberang. 

Sesekali tatkala melihat pesona Danau Buyan, muncul kera-kera dari gerumbul pepohonan. Kawanku menjerit ketakutan, aku tertawa. Aku yakin mereka kelompok kera liar. Takkan mengganggu mengingat lebatnya hutan sekitar danau. Hanya dengan sedikit gertakan, kera-kera itu pun lari sembunyi.

Ketika berjalan menyusuri danau-danau ini, hanya kulihat satu dua angkutan umum mirip L-300. Umumnya colt-colt itu menuju Seririt via Desa Pupuan. Jadi tidak melewati Munduk. Yang kerap lewat justru mobil pribadi dan motor. Lagi-lagi kuingat tutur kawanku, Bli Tum. 

“Dulu banyak angkutan umum dari Denpasar menuju Seririt dan sebaliknya yang lewat Munduk. Namun karena banyak warga yang memiliki motor dan mobil sendiri, kini langka dijumpai angkutan umum. Kalau pun ada, paling hanya satu dua, itu pun pagi sekali.”

Yah, angkutan umum menjadi barang mahal di Bali saat ini. Mahal ongkosnya, mahal pula keberadaannya. Penyebabnya apalagi kalau bukan kepemilikan kendaraan pribadi, baik mobil dan motor, yang membludak. Masih kuingat keluhan kondektur bus jurusan Gilimanuk-Singaraja kemarin. 

“Dulu, bus-bus selalu penuh. Entah yang mau ke Denpasar, Singaraja, atau ke Padang Bai. Tapi sekarang banyak bus kosong. Cari penumpang susah sekali. Terlalu banyak orang yang punya mobil dan motor sendiri.”

Kelak juga kutahu, ongkos sewa mobil di Bali ternyata paling murah di Indonesia. Bayangkan saja, untuk menyewa mobil sekelas Avanza hanya butuh Rp 135000 sehari. Di Surabaya atau Jogjakarta, setidaknya ongkos sewa mobil Rp300000, bahkan bisa mencapai Rp 500000 sehari saat liburan. Sedang sewa motor hanya Rp 35000 sehari. 

Sepanjang jalan turun menuju pertigaan ke arah Bedugul, kusaksikan rumah penginapan di mana-mana. Mulai yang kelas wah mirip hotel berbintang, hingga losmen sederhana bertarif Rp 75000- Rp 100000 per malam. Soal manajemen wisata, Bali memang nomor satu. Di sini, fasilitas untuk wisatawan berbagai kelas ada semua. Wisata Bali kini tampaknya didisain untuk dinikmati wisatawan kaya hingga backpacker. Peristiwa bom Bali mungkin punya andil.

Jelang pertigaan ke arah Bedugul, hujan tercurah dari langit. Lebat juga. Untung di sepanjang jalan mudah ditemui rumah-rumahan sebagai tempat berteduh. Lebih tengah hari. Cuaca tampaknya tak bakal bersahabat lagi. Kuputuskan segera menghadang angkutan umum ke Denpasar, dan melanjutkan pengembaraan ke Danau Bratan esok hari. Aku punya janji dengan seorang kawan di Denpasar sore nanti.


Ada sebuah teori tentang terbentuknya ketiga danau (Tamblingan, Buyan, Bratan) ini. Danau-danau ini terbentuk karena letusan gunung berapi yang sangat dahsyat dan ketiga danau ini sebetulnya kaldera raksasa. Terjadinya erosi memisahkan Bratan dengan Buyan dan Tamblingan. 

Berjalan sepanjang tepi Danau Bratan, kusaksikan air danau yang tercemar. Sampah, busa sabun, menepi dan membuat rusuh mata. Di beberapa sudut kujumpai tempat penyewaan perahu motor atau jetski bagi pengunjung yang hendak berolahraga air di Bratan. Bratan memang danau yang sangat luas. Namun pemandangannya tidak terlalu eksotis di siang hari. Entah sore atau malam.

Satu-satunya tempat yang nyaman dipandang adalah kawasan Pura Ulun Danu Bratan. Menjadi kawasan wisata yang enak dipandang, pura di tepi danau ini selalu dipenuhi turis asing. Menyenangkan juga mejeng, foto-foto narsis di sini.

Menurut kawanku, nama bratan berasal dari kata brata, yaitu pengendalian diri. Alkisah, dulu para Sri dan Mpu melakukan tapa brata di danau ini untuk mencapai moksa, yaitu keabadian. Masyarakay Hindu di Bali amat percaya kepada karma. Dengan menebus karma melalui reinkarnasi berkali-kali, maka seorang manusia akan mencapai moksa.

Kawanku Gde Wibisana Singgih Wilasa, punya pengalaman mistis kala berkendara melalui Danau Bratan suatu malam.

“Aku melihat seekor anjing menyebrang jalan. Tapi ekornya panjaaaaang nggak putus-putus. Jadi kumatikan mesinku, menunggu anjing dan ekornya itu lenyap.”

Bali penuh mistis, tentu aku percaya. Dari Leak, hal-hal gaib, atau apapun. Mistisme yang dipelihara dalam tradisi dan budaya spiritualisme tinggi. Yah, itulah ciri khas Bali, yang membuatnya berbeda dan menarik wisatawan asing tuk berkunjung. 

Soal mistisme, sempat kubaca kisah Danau Buyan di koran lokal. Disebutkan bahwa air danau paling tenang ini menyusut ratusan meter dari tepi danau. Penduduk sekitar danau percaya hal ini disebabkan karena diabaikannya perawatan pura-pura di sekitar danau. Penduduk lalu berinisiatif memperbaiki pura secara mandiri, disertai penanaman pohon di pinggir danau, dan pengerukan tepi danau. Mereka tak ingin danau sucinya menyusut airnya.

Pada saat melakukan pengerukan di tepi danau, ternyata muncul mata air baru. Entah sebuah kebetulan atau berkah, penduduk setempat lalu mensyukurinya dan melakukan upacara mendak tirta, sebagai rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi.

Penduduk sekitar Buyan juga menolak investor yang hendak membangun pariwisata air di tengah danau. Mereka menganggap pembangunan ini akan mencemari kesucian air danau. Danau pun tak lagi menjadi milik masyarakat, tapi milik privat alias investor. Ini yang mereka takutkan. Namun penduduk menyetujui pembangunan taman-taman  sederhana sebagai tempat rekreasi keluarga dengan karcis yang tak mahal. Walau pemasukan wisata kecil, namun lingkungan kawasan danau tetap terpelihara.

Menyusuri negeri tiga danau hari itu, aku belajar sesuatu. Janganlah keindahan dan kesuburan alam dikorbankan semata demi keuntungan wisata. Banyak kehidupan yang dipertaruhkan di atasnya. Tampaknya, aku harus belajar ‘berperilaku hijau’ dari masyarakat adat Bali. []

2 comments:

sunday morning said...

Blogwalking dan akhirnya menemukan tulisan sebagus ini (^__^) setuju banget kalau tempat wisata Bali dikomersilkan sehingga terkesan "Mahal" . Berjalan kaki menyusuri Bali memang menyenangkan kak !
Danau Buyan akan menjadi salah satu tempat yg akan aku kunjungi ketika berlibur di Bali bulan depan. Ohya,kalau ke Bali lagi jalan-jalan ke Pulau Serangan kak ! Bagus banget tempat itu~

Salam @Upitsyalala

korep said...

Salam Kenal,... tulisannya sangat menarik.. setuju, bukan hanya di Bali saja, disemua daerah kebanyakan tempat wisata yang dikomersilkan ekologinya rusak. penanggung jawab wisata hanya mementingkan keuntungan saja..

salam kenal..