Pages

5/29/13

The Almighty Travel Photographer

Photographer unknown

Setelah perayaan waisak kemarin, beredar foto-foto menarik yang menggambarkan hubungan antara fotografer dengan subyeknya. Dalam hal ini adalah fotografer wisata (turis) dan umat Buddha yang sedang melakukan ritual keagamaan (utamanya para biksu). Sebagian besar fotonya bernada nyinyir. Ada foto yang menggambarkan seorang biksu dikerubuti turis bak anak domba dikelilingi hyena. Secara artistik itu adalah foto yang menarik, karena warna jingga pakaian biksu menjadi empasis yang kuat secara visual. Namun sekaligus mengundang rasa miris karena imaji yang dihasilkan seakan-akan sang biksu adalah relik eksotis yang diperebutkan banyak orang.
  
Foto lainnya adalah karya Made Yudistira -kami unggah pada postingan berjudul Indeed sebelumnya- yang mengabadikan aksi seorang fotografer saat menyodorkan kamera di hadapan sekelompok umat Buddha yang sedang berdoa. Seakan tidak ada lagi batas etika yang membatasi keduanya. 

Tapi di antara berbagai foto yang beredar, tidak ada yang mampu mengalahkan foto di atas. Seorang cewek berbusana kasual menaiki stupa, mengambil posisi berhadapan dengan biksu yang sedang bersipuja di depannya. Sekilas saja, foto ini mengingatkan saya pada fragmen lukisan bertitel Perburuan karya Raden Saleh. Entah mengapa. Barangkali karena dua karya ini sama-sama menghadirkan elegi klasik tentang relasi kuasa dan penaklukan. Ada yang kuat ada yang lemah, ada yang menang ada yang kalah. Atau bisa jadi karena persamaan yang menarik bahwa hewan buas dan foto sama-sama didapat dengan cara berburu (hunting).

Perburuan sendiri mengandung unsur hasrat dan penaklukan. Berburu hewan eksotik seperti antelop misalnya, dikatakan sukses apabila si pemburu berhasil menembak jatuh hewan yang diinginkan, menyamak kulitnya untuk penghias interior, dan menyimpan kepala antelop sebagai bentuk pencapaian -atau pembuktian ras superior- yang dibanggakan. Pada taraf ideologis, kamera memiliki fungsi yang mirip dengan senapan buru. Kamera membantu penggunanya untuk membidik dan mengeksploitasi sebuah obyek yang dianggap eksotik. Mengabadikan imaji tentang obyek tersebut hingga menjadi sebuah realitas baru yang dapat dibentuk dan dikuasai.

Saya mencoba memahami turis cewek ini. Mengapa ia bersusah payah mengambil foto melalui sudut pandang tersebut? Apa gambar yang kira-kira ingin ia hasilkan?

Saya dapat membayangkan bahwa perayaan budaya seperti Waisak pasti ramai dan riuh karena dihadiri banyak orang. Hal ini merupakan petaka bagi setiap fotografer, karena kesempatan untuk menghasilkan gambar bersih tanpa ada gangguan elemen lain yang tidak dikehendaki menjadi sangat kecil. Apalagi dalam kondisi sesak berhimpit, tidak banyak sudut pandang yang bisa dieksplorasi. Pada kondisi seperti itu, maka seorang fotografer harus jeli memilih jenis lensa, sudut pandang pengambilan gambar, atau permainan komposisi melalui bentuk dan warna untuk menegaskan point of interest yang akan ditampilkan.

Nah, turis cewek dalam foto di atas tampaknya mengisolasi obyek dengan opsi pemilihan angle yang unik. Melalui sudut pandang mata burung seperti ini pengaturan komposisi lebih gampang dilakukan. Letak biksu dengan obyek lainnya pun mudah dipetakan secara visual.

Kreatifitas semacam ini tentu saja tidak salah dalam dunia fotografi. Apabila tujuannya untuk membuat foto yang indah secara estetika, maka usaha yang dilakukan turis cewek ini tidak bisa disalahkan. Secara teknik, ia benar. Tapi belum tentu benar bila dilihat dari kacamata yang lebih luas.

Dalam sebuah ritual keagamaan, ada tata krama dan kepatutan yang harus dipahami. Saya pernah mengikuti ritual kirab Makco yang diadakan oleh komunitas Konghucu Surabaya. Peristiwa ini sangat langka karena lebih dari setengah abad kirab ini tidak pernah dipraktekkan akibat represi rezim Orde Baru. Namun di tengah jalan upacara ini gagal. Iring-iringan patung Dewi Makco tak bisa masuk ke Klenteng Hok Tek Hian karena ada beberapa penonton mbeling yang melihat jalannya upacara dari lantai dua. Posisi manusia yang berada di atas patung dewa adalah pamali. Nah, pengetahuan seperti ini yang sebaiknya menjadi bekal, tidak hanya bagi fotografer perjalanan, tapi juga pelancong pada umumnya.          

Saya tidak mahir mengurai tanda-petanda pada sebuah foto melalui kajian semiotika yang canggih. Namun, foto di atas memiliki beberapa pola yang dengan mudah ditangkap sebagai simbol universal. Secara posisi, si cewek yang berada di atas melambangkan otoritas yang lebih kuat daripada biksu yang bersimpuh di bawah. Nilai berdasar oposisi biner seperti ini memang sungguh naif, seperti tangan kanan lebih baik dari tangan kiri, pria lebih kuat daripada wanita, atau posisi atas lebih mulia dari bawah. Namun dalam kajian visual tampaknya nilai seperti ini masih relevan digunakan sebagai salah satu pisau analisis.

Posisi yang idiosinkratis semacam ini menjadikan pembacaan hubungan turis-biksu dapat dikembangkan ke dalam benturan relasi baru yang lebih luas. Apalagi jika memperhatikan atribut yang melekat pada keduanya; wanita-pria, modern-tradisi, materialisme-idealisme, liberal-konservatif, profan-sakral, dan seterusnya.  

Gestur si cewek yang merentangkan pijakan -sebagai usaha menyetabilkan posisi kamera- dan biksu yang menangkupkan tangan untuk berdoa, sangat mungkin mewakili relasi imajiner antara yang berkuasa dan yang dikuasai. Coba letakkan seorang rentenir dan penghutang jatuh tempo pada posisi yang sama, maka Anda akan melihat relasi kuasa yang tak jauh berbeda. Bagi saya sendiri, secara semiotis foto ini istimewa. Begitu kaya simbol dan makna. Framingnya begitu ciamik. Rupanya sang fotografer mengamalkan ajaran eyang Henri Cartier-Bresson untuk menekan shutter di saat yang tepat (decisive moment).  

Eh, omong-omong kenapa saya malah membahas semiotika foto ya, hahaha! Sok tau deh saya. Maaf ya. Padahal kan bila menyangkut Waisak 2013 di sebagian blog lain justru membahas tentang etika fotografer; bagaimana mengembangkan empati terhadap obyek foto, bagaimana menempatkan diri pada sebuah destinasi, bagaimana tata krama seorang fotografer perjalanan agar penduduk lokal tak terintimidasi, bagaimana menghasilkan foto yang tidak saja indah tapi juga jujur dan memberikan nilai, and so forth...

Tentu saya sepakat bahwa pada prinsipnya seorang fotografer tidak saja dituntut untuk menghasilkan foto yang indah belaka, tapi juga harus baik. Baik yang saya maksud di sini terdapat dalam bingkai etika tentu saja. Etika sendiri memang subuah diskursus yang rumit. Tidak ada tolok ukur yang tepat saat membahas etika, karena nilai yang dipahami setiap manusia tentu saja berbeda-beda. Namun saya percaya bahwa pemahaman tentang etika dimulai dari pengetahuan. Oleh sebab itu, seorang fotografer perjalanan sepatutnya memperkaya diri dengan banyak membaca dan rajin melakukan riset sederhana. Terutama sebelum terjun ke lapangan.

Saya menuliskan catatan ini semata-mata karena kagum dengan hasil jepretan di atas. Sayangnya sejauh ini saya tidak mampu menemukan siapa fotografernya. Maka, tanpa bermaksud melanggar hak cipta, saya tulis saja fotografernya Unknown. Akan segera saya ubah bila sudah tahu siapa pembuatnya. Pun saya mendapatkan foto ini di internet dalam resolusi yang sangat rendah. Saya menduga foto di atas adalah hasil repro dari foto yang asli.

Maka kepada para sidang pembaca Lobrainers sekalian, bila ada yang sekiranya tahu atau mengenal fotografernya, silahkan kabari kami melalui kolom komentar di posting ini. Tabik! []

5/20/13

Eastern Blues



Teks dan foto oleh Prabhoto Satrio

Foto-foto ini merupakan bagian dari perjalanan saya di penghujung tahun 2011, saat berada di dataran timur Indonesia. Saya mengunjungi dan berkesempatan memotret kehidupan masyarakat Kupang, Alor, Rote Ndao, di sela-sela proyek dokumenter.

Di tengah kekeringan yang menjerit dari permukaan tanah tandus, jiwa masyarakat Indonesia timur yang hangat kepada pelancong seakan menjadi oase yang menyegarkan kalbu. Keramahan mereka menghembus di pucuk-pucuk pohon lontar, di permukaan gelas-gelas moke, di pantai dan lautan yang teduh, hingga di sela-sela tumpukkan kerakal yang disusun menjadi pagar-pagar. Keramahan yang menyebar di udara itu seperti sekam yang rapi menyimpan api. Dalam lubuk hati masyarakat Kupang, mereka masih memendam rasa sakit dan trauma akibat berpisahnya Indonesia dengan Timor-Timur di tahun 1999. Kejadian yang mengubah peri kehidupan dan memisahkan banyak keluarga tersebut berbuntut bara konflik yang tak kunjung usai seperti perebutan tanah, tempat tinggal, dan seterusnya.

Namun getir manisnya kehidupan masyarakat menjadi senandung romantika yang merasuk jiwa saat mata saya menjelajah luasnya saujana dari pelosok Kupang sampai pulau Ndana. Banyak kejutan yang tak sempat terbayangkan sebelumnya. Dan melalui kamera, saya merekam kejutan-kejutan selama perjalanan menjadi cerita lepas petualangan di bawah langit Indonesia Timur.

Selamat menikmati! 










5/17/13

Celebration of Mother Earth



Teks dan foto oleh Anggara Mahendra

Hujan, angin dan petir selalu menjadi pertanda datangnya Sasih Kapitu atau bulan ketujuh dalam sistem kalender Bali. Pada pertengahan bulan, masyarakat Desa Subaya, kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli mengadakan Usaba Sambah sebagai kelanjutan dari prosesi Usaba Desa yang dilakukan pada awal bulan. Sambah bermakna ayunan, dan untuk upacara ini dibuatkanlah sanggah ayunan setinggi hampir 20 meter di Pura Bale Agung. Upacara kali ini kebetulan bertepatan dengan hari raya Saraswati pada 12 Januari 2013.

Ketut Suar, Perbekel Desa Subaya menceritakan sejarahnya berdasarkan kisah para kamitua. Usaba Sambah berkaitan dengan persembahan kepada Ratu Ayu Mas Subandar yang beristana di Pura Pengubengan. Beliau merupakan putri bungsu dari Bhatara yang berstana di Pura Puncak Penulisan. Anak kesayangannya ini diberi tugas membagi-bagikan tanah pada masyarakat sekitar Puncak Penulisan. Tugas dilakukannya dengan baik, tapi Ratu Ayu Mas Subandar justru sedih karena tanah sisa pembagian yang diberikan untuknya berada di daerah berbatu dan sulit dijangkau, yaitu di Subaya.

Singkat cerita, untuk menghibur hati sang Ratu, masyarakat bergotong royong membuatkan sanggah berbentuk ayunan, dilengkapi dengan persembahan berupa hasil panen yang diletakkan di sisi kiri dan kanan ayunan. Diharapkan dengan ini, Ratu Ayu Mas Subandar bisa bahagia dan memberikan kesejahteraan, keselamatan, dan panen berlimpah pada masyarakat.

Bentuk sambah atau ayunan terbilang unik. Meski berukuran raksasa, tapi tidak ada satupun sambungannya menggunakan paku atau tali plastik. Semua dari bahan alam. Tempat dudukan ayunan dari kayu dadap tis yang dipercaya sebagai material yang disucikan. Kaki-kaki bambu setinggi 20 meteran berdiameter sekitar 13 centi didapat dari sekitar desa atau desa tetangga. Sedangkan bahan pengikat konstruksi bambu dan tali utama ayunan khusus menggunakan rotan titikan yang hanya bisa didapat di daerah sekitar sungai Samuh. Konon, ini merupakan tempat suci Ratu Sakti sebelum berstana di Pura Puseh yang ada di Desa Subaya. 


Tata cara pembuatan sambah diajarkan secara turun temurun tanpa petunjuk tertulis. Pengerjaan rata-rata membutuhkan waktu tiga sampai lima hari, tergantung berapa banyak penduduk desa yang datang membantu. Setiap warga mengerjakan tugasnya masing-masing. Ada yang kebagian tugas mendirikan tiang bambu, ada yang berkewajiban memasang hiasan, ada pula warga yang ditugaskan mencari bambu dan rotan.

Prosesi upacara dimulai sehari sebelum hari H, masyarakat berjalan dari desanya ke Pura Pengubengan membawa panji aneka warna, berbagai persembahan, sambil diiringi bebunyian musik gamelan. Defile agung ini berjalan menembus kabut tebal perbukitan Kintamani, ditemani hujan deras, angin kencang dan petir. Sesampainya di Pura, Jero Bayan sebagai pemimpin upacara meminta ijin menjemput Ratu Ayu Mas Subandar ke Pura Bale Agung. Seharusnya upacara ini dilakukan di Pura Pengubengan, tapi karena pelataran pura tidak cukup luas, maka dipindah ke Pura Bale Agung. Ritual berlangsung seharian penuh sampai hari malam dan berlangsung meriah dengan tari-tarian Baris khas Desa Subaya.




Puncak acara adalah hari yang panjang. Sejak pagi para warga terlihat sibuk menyiapkan uba rampe perlengkapan upacara, memilih hasil panen untuk diikat pada rotan di sisi kiri dan kanan ayunan dan membuat gebogan berisi buah-buahan dari hasil bumi.

Hujan turun hampir sepanjang hari. Kabut pun turun, membuat jarak pandang semakin terbatas. Cuaca seakan tidak lantas menyetop warga desa menunjukkan rasa baktinya. “Usaba Sambah memang harus hujan angin dan petir, karena itu ciri khas Ratu Bhatari” kata Budi, salah satu pecalang Desa Subaya. Sekitar jam tujuh malam kesibukan memuncak, para penari memakai kostum dan riasan sederhana, para sekaha gong mulai bekerja dengan instrumennya, pertanda upacara sudah dimulai. Tari-tarian sakral Baris Truna, Rejang Dewa, Baris Dadap, Jojor, Presi dan Tombak dibawakan dengan indah dibawah sambah berbentuk prisma.

Tiba saatnya Jero Kabayan membersihkan dudukan ayunan, dihiasnya dengan beberapa lembar daun pisang, beras dituangkan diatasnya beserta sarana upacara lainnya. Warga seperti berlomba–lomba mempersembahkan hasil panen mereka pada tali rotan ayunan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat karena sudah diberi hidup yang baik.

Bagus bagus kesunane, bungkil jahe wadah kisa. Dapin bagus terunane megae tuara bisa” artinya “Untuk apa berwajah tampan, kalau bekerja saja tidak bisa” ujar salah satu truni pada truna desa saat prosesi Cangkriman atau berbalas pantun. Tanah masih basah, hujan turun renyai-renyai, dan warga melanjutkan rangkaian usaba dengan memanjatkan doa-doa kepada Sang Pencipta, berharap upacara ini bisa diterima dengan baik dan memohon maaf untuk segala kekurangan yang ada. Desa Subaya tergolong dalam kategori Bali Mula atau Bali Aga yang dalam tata cara sembahyang tidak menggunakan Panca Sembah dan Tri Sandhya, melainkan langsung mengucapkan apa yang menjadi doa dan harapannya.



Rangkaian Usaba Sambah berlanjut. Waktu menunjukan jam 2 pagi. Banyak warga yang pulang ke rumah seusai sembahyang, beberapa masih tetap tinggal di Pura Bale Agung, menunggu Jero Kabayan dan Mangku Alit sebagai pemimpin spiritual menaiki ayunan pertama kali setelah selesai diupacarai. Setelahnya, warga pun bebas bisa menaiki ayunan sampai keesokan hari. Satu dua lelaki dewasa menaiki sambah dan mulai mengayun. Semakin lama semakin keras. Bahkan bila punya tenaga dan nyali yang cukup, sambah bisa diayun setinggi belasan meter. Wuuung wuuung. Di puncak, konstruksi bambu berbunyi kriyet-kriyet yang renyah. “Wih, rasanya seperti terbang, Bli” kata Budi. Dia juga bercerita bahwa pernah ada warga yang mengayun terlalu keras hingga terlempar belasan meter sampai ke luar Pura, tapi tidak ada satupun luka di tubuhnya. Lain halnya jika usai Usaba dan ada warga yang mencoba bermain di ayunan, bisa jadi cidera meski jatuh tidak terlalu keras.[]

5/11/13

Talkshow "Lets Travel and Document It"


Hifatlobrain turut berbahagia karena Explore Solo akan merayakan ulang tahunnya yang ke-3 pada akhir minggu nanti! Yeay! Selamat ulang tahun bro! 

Awalnya, pada tahun 2009 saya dipertemukan dengan Yusuf Solo dan Taufik Al Makmun melalui sebuah jejaring sosial untuk pejalan, Travelers For Travelers. Kebetulan dua orang ini adalah tipe anggota yang sangat aktif dan responsif di Forum TFT. Segala pertanyaan dan postingan dijawab dengan antusias. Hingga pada sebuah acara kopi darat, saya pun mengenal lebih jauh dua persona yang ternyata di kehidupan nyata juga sangat grapyak (mudah akrab). Sejak awal bertemu kami bisa langsung nyambung, ngobrol ngalor ngidul oke saja, padahal usia mereka terbilang cukup senior di atas saya. Lha bagaimana tidak senior, wong saat mereka sudah jadi aktivis kampus, saya masih mainan Tamiya dan tamagochi. Yusuf dan Taufiq adalah generasi Emilia Contessa, sedang saya generasi Britney Spears. Tapi tak apa, usia yang terpaut lumayan tak memadamkan gairah kami untuk saling nggojloki dan ngebully satu sama lain. Kami pun bisa mendadak kompak saat harus ngecroki Farida Arum. Siapakah Farida? Biarlah itu tetap menjadi misteri ilahi...

Pada tahun 2010, duet maut Yusuf dan Taufiq mengembangkan hobi berpelesir menjadi sebuah bisnis. Explore Solo pun lahir di bulan Mei. Saat itu paket perjalanan yang ditawarkan cuma satu, yaitu trip ke Karimunjawa. Untungnya waktu itu Karimunjawa termasuk tujuan wisata yang seksi, sehingga paket-paket yang mereka tawarkan selalu ludes dipesan pelanggan.

Melihat peluang terbuka semakin lebar, akhirnya Explore Solo menggandeng dua orang local chic dan seorang local dude untuk diajak bergabung: Feri seorang gadis mungil pemuja black metal, Imeh gadis berkulit eksotis asli Purwodadi, dan Kris seorang anak lanang yang sangat berbakti pada orang tua. Formasi awal inilah yang menjadi saksi hidup jatuh bangunnya Explore Solo di masa awal.  

Meski baru seumur jagung, tapi Explore Solo mudah sekali untuk terlihat menonjol. Selain karena pelayanan yang prima dan rajin menambah jumlah destinasi, mereka juga tak alfa mengedukasi peserta tur untuk menjadi pejalan yang berwawasan. Yusuf sendiri mengambil kuliah pascasarjana di bidang pariwisata. Sehingga ia paham betul bagaimana seharusnya memenej wisatawan dan dampak industri turisme terhadap sebuah destinasi.

Explore Solo juga terbukti mampu berinovasi dengan mengembangkan berbagai produk sampingan. Diantaranya adalah pembuatan peta, booklet, dan ebook tentang Karimunjawa; menyelenggarakan kontes penulisan perjalanan; turut aktif dalam forum pelaku pariwisata di Kota Solo; hingga yang terbaru adalah pembuatan playing card bertema pariwisata Indonesia. Daya inovasi seperti ini yang menjadikan Explore Solo mencapai tahap makrifat di saat travel agent lain masih bergulat dengan urusan syariat.    

Hingga hari ini hubungan kami masih sangat baik dan saling mendukung satu sama lain. Kalau anak Hifat ke Solo, pasti numpang nginep di basecamp Explore Solo. Kalau anak Explore Solo bertandang ke Surabaya, pasti mereka minta senthong anak Hifat. Hubungan kami berjalan cukup mesra. Bagaikan smartphone dengan chargernya.    

Nah persahabatan jugalah yang membuat Paguyuban Lobrainers harus datang pada saat ulang tahun Explore Solo nanti. Saya bersama Vira Indohoy akan membawakan sebuah talkshow tentang pendokumentasian perjalanan. Sedangkan Hafidz Novalsyah, mantan fotografer National Geographic Indonesia, akan membagi pengetahuan tentang travel photography

Maka bagi siapa saja Lobrainers yang memiliki waktu luang, kami persilakan untuk datang dan bergabung! 

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi akun twitter @exploresolo atau email ke info@exploresolo.com 

5/9/13

The City of Failure




Teks dan foto Tuhu Nugraha

Setiap perjalanan pasti punya cerita, bukan hanya tentang alam yang indah, budaya yang eksotis, atau kuliner yang maknyus untuk dipamerkan. Tapi perjalanan juga kadang membuka wawasan baru, perenungan, sekaligus membuat miris. Termasuk perjalanan saya tahun lalu ke Festival Erau di Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara yang lebih tersohor sebagai kabupaten terkaya di Indonesia. Saya sendiri sudah sejak lama penasaran, ingin tahu seperti apa sebenarnya wajah kota ini? 

Tekad saya semakin bulat untuk berkunjung ke Tenggarong setelah membaca iklan Festival Erau di sebuah majalah penerbangan.Saya pun segera mendaftar tur Gelar Nusantara, sebuah komunitas pecinta budaya, yang membuka paket perjalanan ke Festival Erau. Saya terpaksa mengambil paket ini karena informasi tentang Festival Erau dan Tenggarong sangat minim di internet. Bagaimana transportasinya? Nginep dimana? Dan lain sebagainya tidak tersedia dengan jelas. Tapi dalam tulisan ini saya lebih tertarik berkisah tentang Tenggarong, dibanding Erau. 

Sebelum berangkat, Tenggarong membangkitkan fantasi tentang sebuah kota modern yang dibangun dari kekayaan alam melimpah. Mulanya, Tenggarong hanya sebuah kampung kecil bernama Tepian Pandan yang berkembang di sempadan Sungai Mahakam. Di sinilah komunitas kecil Dayak Benuaq membangun pemukiman berupa rumah-rumah kayu yang dibangun di atas air. Bentuk huniannya menyerupai rumah betang, namun dengan ornamen yang lebih sederhana. Pada hutan-hutannya terdapat bekantan dan satwa asiatik lain khas hutan Borneo.

Tenggarong tempo dulu versi litografi karya C.F. Kelley, koleksi Tropenmuseum. 

Pada tahun 1782, Raja Kutai Kartanegara ke-15 memindahkan ibukota kerajaan dari Pemarangan ke Tepian Pandan yang lebih jauh masuk ke hulu. Namanya pun diubah menjadi Tangga Arung yang berarti "rumah raja", meskipun belakangan orang lebih suka melafalkannya sebagai Tenggarong saja. Hingga saat ini jejak kerajaan Kutai masih dapat ditemui di Tenggarong. Seperti makam raja-raja hingga berbagai koleksi benda pusaka yang tersimpan di Museum Mulawarman. Lembuswana, hewan mitos berupa singa bersayap dan berbelalai gajah, yang menjadi simbol Tenggarong juga merupakan warisan budaya dari Kerajaan Kutai.

Dalam beberapa dekade terakhir, batu bara mengubah Tenggarong menjadi kota modern. Mineral yang terbentuk selama jutaan tahun ini bisa ditemui hanya dengan menggali tanah sedalam lima meter saja. Kalimantan memang memiliki tanah yang kaya! Dan kekayaan alam inilah yang menyulap Tenggarong menjadi kota modern. Sama seperti Dubai yang maju karena minyak bumi. Saya berpikir pasti kota Tenggarong keren dan festivalnya dikemas menarik! Saya begitu bersemangat.

Ternyata dugaan saya meleset total. Perjalanan memasuki Tenggarong disambut dengan jalanan aspal yang rusak parah dan genangan air sebesar kolam lele. Saya mulai merasa kecewa, inikah jalan menuju kabupaten terkaya? Mengapa jalur transportasinya begini menyedihkan?

Ketika masuk ke tengah kota, gedung-gedung mewah memang bertebaran. Kantor Bupati dan legislatifnya begitu wah. Ketakjuban saya bertambah saat melihat kereta gantung mewah yang menghubungkan dua sisi kota dan stadion olah raga di seberang Pulau Kumala yang sejak tahun 2000 dibangun sebagai kawasan wisata. Tapi tunggu dulu sepertinya fasilitas publik ini sia-sia. Menurut penduduk sekitar, kereta gantungnya sudah lama terbengkalai, jembatan Kukar yang gagah menyerupai Ampera pun ambruk dua tahun lalu dan hanya menyisakan tiang pancang saja.

Bisa ditebak, korupsi adalah biang keladinya. Kereta gantung usang, jalanan berlubang, jembatan yang ambruk, dan stadion mangkrak jadi saksi keserakahan, nafsu pamer dari sebuah kota kecil yang mendadak kaya. Dari empat propinsi di Kalimantan yang pernah saya kunjungi, jalanan Tenggarong adalah yang paling mengenaskan. Padahal sepanjang sungai Mahakam conveyor belt tak henti memuntahkan batu bara ke tongkang-tongkang raksasa yang haus uang. Lebih miris dan ironis, walaupun jalanan jelek dan tergenang lumpur sana sini, di tengah kota Tenggarong ada dealer Piaggio.

Saya geleng-geleng, luar biasa memang masyarakat Tenggarong. Konsumtifnya sudah di luar akal. Masyarakat Tenggarong memang hidup makmur, tapi tidak semuanya. Lihatlah juga penduduk yang tinggal di pinggiran sungai tetap hidup kumuh, memandangi jalanan becek, dan berlumpur. Sementara di bagian lain ada yang hip hip hura mejeng naik Vespa berkeliling kota yang jalannya tidak mulus-mulus amat.

Perjalanan menuju Tenggarong, harus mendarat via Balikpapan. Inilah kesempatan Anda untuk membaca karakter antara dua kota ini. Ibarat manusia, Balikpapan adalah orang kaya lama dengan tampilan elegan. Sebaliknya Tenggarong adalah gadis muda bergincu tebal yang haus akan pembuktian berbau Soekarnoesque. Obsesinya sangat mirip dengan politik mercusuar era Soekarno yang memoles Jakarta dengan membangun Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia, Monas, dan lain-lain.

Tenggarong oh Tenggarong. Inilah cermin sisi kelam otonomi daerah, dimana komprador politik berkolaborasi cantik dengan kapitalis besar untuk mengeruk kekayaan alam demi kepentingan segelintir orang. Bila jenis kota seperti itu yang Anda cari, maka Tenggarong adalah destinasi yang paling tepat.

Dulu ketika belajar Hubungan Internasional di UNPAD, saya pikir kondisi seperti itu hanya dongeng masa lalu di negeri-negeri yang jauh. Ternyata saya dengan amat berat harus mengakui, itu ada dan begitu dekat...[]

5/2/13

Kembali Dari Perlawatan Ke Europa


Djamaluddin Adi Negoro adalah pelopor jurnalisme modern di Indonesia. Namun bisa jadi ia juga penulis perjalanan modern pertama yang dimiliki Indonesia. Hingga riset kami hari ini, belum ada karya lain yang lebih awal dibandingkan reportase perjalanan ke Eropa yang dilakukan Adi Negoro pada pertengahan tahun 1926. Saat itu ia berumur 22 tahun dan merantau ke Benua Biru untuk mendalami ilmu jurnalistik. 

Dalam laporan perjalanannya, Adi Negoro tidak hanya menulis laporan pandangan mata belaka, tapi juga mengaitkan pengalamannya dengan sejarah dunia dan membandingkannya dengan keadaan di tanah air. Ia berangkat naik kapal Tambora milik Rotterdamse Lloyd, Belanda, dari Pelabuhan Tanjung Priok. Dari sana, kapalnya sempat mampir singgah ke Singapura, Medan, Sabang, Kolombo, Aden, Port Said, hingga Marseille, Perancis. Tujuan Adi Negoro sebetulnya Jerman. Namun setiba di Marseille, dia lebih memilih jalur darat untuk melintas Eropa. 

Perlu diingat bahwa saat itu kondisi ekonomi dan sosial belum semakmur hari ini. Rakyat masih susah cari makan, tiwul dan gathot adalah panganan populer bagi wong cilik, Eropa baru saja bangkit dari kekacauan yang  tersisa akibat Perang Dunia I, dan bahkan pada masa itu imajinasi tentang Indonesia pun masih lumayan abstrak. Pemerintah kolonial memberlakukan peraturan yang sangat ketat bagi pribumi yang ingin ke luar negeri. Hanya  orang-orang tertentu saja seperti cendekiawan, anak ningrat, dan peziarah haji yang mendapatkan izin istimewa. Lha wong ngurus makan sehari-hari saja susah, apalagi ke pelesir ke luar negeri, alamakjang! Sungguh tak terpikirkan.  

Maka melalui tulisan-tulisannya yang terbit berkala, Adinegoro turut membuka wawasan rakyat Indonesia pada masa itu. Tulisannya yang ringan begitu digemari dan ditunggu-tunggu setiap terbitannya di harian Pandji Pustaka. 

Nah, beberapa waktu yang lalu kami mengunggah salah satu arsip tulisan perjalanan Adi Negoro. Booklet setebal 89 halaman ini berjudul "Kembali Dari Perlawatan Ke Europa" yang menjadi cikal bakal buku "Melawat Ke Barat" sebanyak tiga jilid. Silahkan dibaca, silahkan diunduh! Semoga di kemudian hari kami bisa menghadirkan arsip ketiga bukunya secara lengkap, sembari kami terus menambah koleksi sebagai bahan riset panjang kami. 

Selamat hari pendidikan nasional! 

Salam,
Hifatlobrain