Pages

5/17/13

Celebration of Mother Earth



Teks dan foto oleh Anggara Mahendra

Hujan, angin dan petir selalu menjadi pertanda datangnya Sasih Kapitu atau bulan ketujuh dalam sistem kalender Bali. Pada pertengahan bulan, masyarakat Desa Subaya, kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli mengadakan Usaba Sambah sebagai kelanjutan dari prosesi Usaba Desa yang dilakukan pada awal bulan. Sambah bermakna ayunan, dan untuk upacara ini dibuatkanlah sanggah ayunan setinggi hampir 20 meter di Pura Bale Agung. Upacara kali ini kebetulan bertepatan dengan hari raya Saraswati pada 12 Januari 2013.

Ketut Suar, Perbekel Desa Subaya menceritakan sejarahnya berdasarkan kisah para kamitua. Usaba Sambah berkaitan dengan persembahan kepada Ratu Ayu Mas Subandar yang beristana di Pura Pengubengan. Beliau merupakan putri bungsu dari Bhatara yang berstana di Pura Puncak Penulisan. Anak kesayangannya ini diberi tugas membagi-bagikan tanah pada masyarakat sekitar Puncak Penulisan. Tugas dilakukannya dengan baik, tapi Ratu Ayu Mas Subandar justru sedih karena tanah sisa pembagian yang diberikan untuknya berada di daerah berbatu dan sulit dijangkau, yaitu di Subaya.

Singkat cerita, untuk menghibur hati sang Ratu, masyarakat bergotong royong membuatkan sanggah berbentuk ayunan, dilengkapi dengan persembahan berupa hasil panen yang diletakkan di sisi kiri dan kanan ayunan. Diharapkan dengan ini, Ratu Ayu Mas Subandar bisa bahagia dan memberikan kesejahteraan, keselamatan, dan panen berlimpah pada masyarakat.

Bentuk sambah atau ayunan terbilang unik. Meski berukuran raksasa, tapi tidak ada satupun sambungannya menggunakan paku atau tali plastik. Semua dari bahan alam. Tempat dudukan ayunan dari kayu dadap tis yang dipercaya sebagai material yang disucikan. Kaki-kaki bambu setinggi 20 meteran berdiameter sekitar 13 centi didapat dari sekitar desa atau desa tetangga. Sedangkan bahan pengikat konstruksi bambu dan tali utama ayunan khusus menggunakan rotan titikan yang hanya bisa didapat di daerah sekitar sungai Samuh. Konon, ini merupakan tempat suci Ratu Sakti sebelum berstana di Pura Puseh yang ada di Desa Subaya. 


Tata cara pembuatan sambah diajarkan secara turun temurun tanpa petunjuk tertulis. Pengerjaan rata-rata membutuhkan waktu tiga sampai lima hari, tergantung berapa banyak penduduk desa yang datang membantu. Setiap warga mengerjakan tugasnya masing-masing. Ada yang kebagian tugas mendirikan tiang bambu, ada yang berkewajiban memasang hiasan, ada pula warga yang ditugaskan mencari bambu dan rotan.

Prosesi upacara dimulai sehari sebelum hari H, masyarakat berjalan dari desanya ke Pura Pengubengan membawa panji aneka warna, berbagai persembahan, sambil diiringi bebunyian musik gamelan. Defile agung ini berjalan menembus kabut tebal perbukitan Kintamani, ditemani hujan deras, angin kencang dan petir. Sesampainya di Pura, Jero Bayan sebagai pemimpin upacara meminta ijin menjemput Ratu Ayu Mas Subandar ke Pura Bale Agung. Seharusnya upacara ini dilakukan di Pura Pengubengan, tapi karena pelataran pura tidak cukup luas, maka dipindah ke Pura Bale Agung. Ritual berlangsung seharian penuh sampai hari malam dan berlangsung meriah dengan tari-tarian Baris khas Desa Subaya.




Puncak acara adalah hari yang panjang. Sejak pagi para warga terlihat sibuk menyiapkan uba rampe perlengkapan upacara, memilih hasil panen untuk diikat pada rotan di sisi kiri dan kanan ayunan dan membuat gebogan berisi buah-buahan dari hasil bumi.

Hujan turun hampir sepanjang hari. Kabut pun turun, membuat jarak pandang semakin terbatas. Cuaca seakan tidak lantas menyetop warga desa menunjukkan rasa baktinya. “Usaba Sambah memang harus hujan angin dan petir, karena itu ciri khas Ratu Bhatari” kata Budi, salah satu pecalang Desa Subaya. Sekitar jam tujuh malam kesibukan memuncak, para penari memakai kostum dan riasan sederhana, para sekaha gong mulai bekerja dengan instrumennya, pertanda upacara sudah dimulai. Tari-tarian sakral Baris Truna, Rejang Dewa, Baris Dadap, Jojor, Presi dan Tombak dibawakan dengan indah dibawah sambah berbentuk prisma.

Tiba saatnya Jero Kabayan membersihkan dudukan ayunan, dihiasnya dengan beberapa lembar daun pisang, beras dituangkan diatasnya beserta sarana upacara lainnya. Warga seperti berlomba–lomba mempersembahkan hasil panen mereka pada tali rotan ayunan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat karena sudah diberi hidup yang baik.

Bagus bagus kesunane, bungkil jahe wadah kisa. Dapin bagus terunane megae tuara bisa” artinya “Untuk apa berwajah tampan, kalau bekerja saja tidak bisa” ujar salah satu truni pada truna desa saat prosesi Cangkriman atau berbalas pantun. Tanah masih basah, hujan turun renyai-renyai, dan warga melanjutkan rangkaian usaba dengan memanjatkan doa-doa kepada Sang Pencipta, berharap upacara ini bisa diterima dengan baik dan memohon maaf untuk segala kekurangan yang ada. Desa Subaya tergolong dalam kategori Bali Mula atau Bali Aga yang dalam tata cara sembahyang tidak menggunakan Panca Sembah dan Tri Sandhya, melainkan langsung mengucapkan apa yang menjadi doa dan harapannya.



Rangkaian Usaba Sambah berlanjut. Waktu menunjukan jam 2 pagi. Banyak warga yang pulang ke rumah seusai sembahyang, beberapa masih tetap tinggal di Pura Bale Agung, menunggu Jero Kabayan dan Mangku Alit sebagai pemimpin spiritual menaiki ayunan pertama kali setelah selesai diupacarai. Setelahnya, warga pun bebas bisa menaiki ayunan sampai keesokan hari. Satu dua lelaki dewasa menaiki sambah dan mulai mengayun. Semakin lama semakin keras. Bahkan bila punya tenaga dan nyali yang cukup, sambah bisa diayun setinggi belasan meter. Wuuung wuuung. Di puncak, konstruksi bambu berbunyi kriyet-kriyet yang renyah. “Wih, rasanya seperti terbang, Bli” kata Budi. Dia juga bercerita bahwa pernah ada warga yang mengayun terlalu keras hingga terlempar belasan meter sampai ke luar Pura, tapi tidak ada satupun luka di tubuhnya. Lain halnya jika usai Usaba dan ada warga yang mencoba bermain di ayunan, bisa jadi cidera meski jatuh tidak terlalu keras.[]

1 comment:

IW Arista MA said...

kereeen...maren sempet mau ksana...tp g jd *sukaayunan