Pages

5/29/13

The Almighty Travel Photographer

Photographer unknown

Setelah perayaan waisak kemarin, beredar foto-foto menarik yang menggambarkan hubungan antara fotografer dengan subyeknya. Dalam hal ini adalah fotografer wisata (turis) dan umat Buddha yang sedang melakukan ritual keagamaan (utamanya para biksu). Sebagian besar fotonya bernada nyinyir. Ada foto yang menggambarkan seorang biksu dikerubuti turis bak anak domba dikelilingi hyena. Secara artistik itu adalah foto yang menarik, karena warna jingga pakaian biksu menjadi empasis yang kuat secara visual. Namun sekaligus mengundang rasa miris karena imaji yang dihasilkan seakan-akan sang biksu adalah relik eksotis yang diperebutkan banyak orang.
  
Foto lainnya adalah karya Made Yudistira -kami unggah pada postingan berjudul Indeed sebelumnya- yang mengabadikan aksi seorang fotografer saat menyodorkan kamera di hadapan sekelompok umat Buddha yang sedang berdoa. Seakan tidak ada lagi batas etika yang membatasi keduanya. 

Tapi di antara berbagai foto yang beredar, tidak ada yang mampu mengalahkan foto di atas. Seorang cewek berbusana kasual menaiki stupa, mengambil posisi berhadapan dengan biksu yang sedang bersipuja di depannya. Sekilas saja, foto ini mengingatkan saya pada fragmen lukisan bertitel Perburuan karya Raden Saleh. Entah mengapa. Barangkali karena dua karya ini sama-sama menghadirkan elegi klasik tentang relasi kuasa dan penaklukan. Ada yang kuat ada yang lemah, ada yang menang ada yang kalah. Atau bisa jadi karena persamaan yang menarik bahwa hewan buas dan foto sama-sama didapat dengan cara berburu (hunting).

Perburuan sendiri mengandung unsur hasrat dan penaklukan. Berburu hewan eksotik seperti antelop misalnya, dikatakan sukses apabila si pemburu berhasil menembak jatuh hewan yang diinginkan, menyamak kulitnya untuk penghias interior, dan menyimpan kepala antelop sebagai bentuk pencapaian -atau pembuktian ras superior- yang dibanggakan. Pada taraf ideologis, kamera memiliki fungsi yang mirip dengan senapan buru. Kamera membantu penggunanya untuk membidik dan mengeksploitasi sebuah obyek yang dianggap eksotik. Mengabadikan imaji tentang obyek tersebut hingga menjadi sebuah realitas baru yang dapat dibentuk dan dikuasai.

Saya mencoba memahami turis cewek ini. Mengapa ia bersusah payah mengambil foto melalui sudut pandang tersebut? Apa gambar yang kira-kira ingin ia hasilkan?

Saya dapat membayangkan bahwa perayaan budaya seperti Waisak pasti ramai dan riuh karena dihadiri banyak orang. Hal ini merupakan petaka bagi setiap fotografer, karena kesempatan untuk menghasilkan gambar bersih tanpa ada gangguan elemen lain yang tidak dikehendaki menjadi sangat kecil. Apalagi dalam kondisi sesak berhimpit, tidak banyak sudut pandang yang bisa dieksplorasi. Pada kondisi seperti itu, maka seorang fotografer harus jeli memilih jenis lensa, sudut pandang pengambilan gambar, atau permainan komposisi melalui bentuk dan warna untuk menegaskan point of interest yang akan ditampilkan.

Nah, turis cewek dalam foto di atas tampaknya mengisolasi obyek dengan opsi pemilihan angle yang unik. Melalui sudut pandang mata burung seperti ini pengaturan komposisi lebih gampang dilakukan. Letak biksu dengan obyek lainnya pun mudah dipetakan secara visual.

Kreatifitas semacam ini tentu saja tidak salah dalam dunia fotografi. Apabila tujuannya untuk membuat foto yang indah secara estetika, maka usaha yang dilakukan turis cewek ini tidak bisa disalahkan. Secara teknik, ia benar. Tapi belum tentu benar bila dilihat dari kacamata yang lebih luas.

Dalam sebuah ritual keagamaan, ada tata krama dan kepatutan yang harus dipahami. Saya pernah mengikuti ritual kirab Makco yang diadakan oleh komunitas Konghucu Surabaya. Peristiwa ini sangat langka karena lebih dari setengah abad kirab ini tidak pernah dipraktekkan akibat represi rezim Orde Baru. Namun di tengah jalan upacara ini gagal. Iring-iringan patung Dewi Makco tak bisa masuk ke Klenteng Hok Tek Hian karena ada beberapa penonton mbeling yang melihat jalannya upacara dari lantai dua. Posisi manusia yang berada di atas patung dewa adalah pamali. Nah, pengetahuan seperti ini yang sebaiknya menjadi bekal, tidak hanya bagi fotografer perjalanan, tapi juga pelancong pada umumnya.          

Saya tidak mahir mengurai tanda-petanda pada sebuah foto melalui kajian semiotika yang canggih. Namun, foto di atas memiliki beberapa pola yang dengan mudah ditangkap sebagai simbol universal. Secara posisi, si cewek yang berada di atas melambangkan otoritas yang lebih kuat daripada biksu yang bersimpuh di bawah. Nilai berdasar oposisi biner seperti ini memang sungguh naif, seperti tangan kanan lebih baik dari tangan kiri, pria lebih kuat daripada wanita, atau posisi atas lebih mulia dari bawah. Namun dalam kajian visual tampaknya nilai seperti ini masih relevan digunakan sebagai salah satu pisau analisis.

Posisi yang idiosinkratis semacam ini menjadikan pembacaan hubungan turis-biksu dapat dikembangkan ke dalam benturan relasi baru yang lebih luas. Apalagi jika memperhatikan atribut yang melekat pada keduanya; wanita-pria, modern-tradisi, materialisme-idealisme, liberal-konservatif, profan-sakral, dan seterusnya.  

Gestur si cewek yang merentangkan pijakan -sebagai usaha menyetabilkan posisi kamera- dan biksu yang menangkupkan tangan untuk berdoa, sangat mungkin mewakili relasi imajiner antara yang berkuasa dan yang dikuasai. Coba letakkan seorang rentenir dan penghutang jatuh tempo pada posisi yang sama, maka Anda akan melihat relasi kuasa yang tak jauh berbeda. Bagi saya sendiri, secara semiotis foto ini istimewa. Begitu kaya simbol dan makna. Framingnya begitu ciamik. Rupanya sang fotografer mengamalkan ajaran eyang Henri Cartier-Bresson untuk menekan shutter di saat yang tepat (decisive moment).  

Eh, omong-omong kenapa saya malah membahas semiotika foto ya, hahaha! Sok tau deh saya. Maaf ya. Padahal kan bila menyangkut Waisak 2013 di sebagian blog lain justru membahas tentang etika fotografer; bagaimana mengembangkan empati terhadap obyek foto, bagaimana menempatkan diri pada sebuah destinasi, bagaimana tata krama seorang fotografer perjalanan agar penduduk lokal tak terintimidasi, bagaimana menghasilkan foto yang tidak saja indah tapi juga jujur dan memberikan nilai, and so forth...

Tentu saya sepakat bahwa pada prinsipnya seorang fotografer tidak saja dituntut untuk menghasilkan foto yang indah belaka, tapi juga harus baik. Baik yang saya maksud di sini terdapat dalam bingkai etika tentu saja. Etika sendiri memang subuah diskursus yang rumit. Tidak ada tolok ukur yang tepat saat membahas etika, karena nilai yang dipahami setiap manusia tentu saja berbeda-beda. Namun saya percaya bahwa pemahaman tentang etika dimulai dari pengetahuan. Oleh sebab itu, seorang fotografer perjalanan sepatutnya memperkaya diri dengan banyak membaca dan rajin melakukan riset sederhana. Terutama sebelum terjun ke lapangan.

Saya menuliskan catatan ini semata-mata karena kagum dengan hasil jepretan di atas. Sayangnya sejauh ini saya tidak mampu menemukan siapa fotografernya. Maka, tanpa bermaksud melanggar hak cipta, saya tulis saja fotografernya Unknown. Akan segera saya ubah bila sudah tahu siapa pembuatnya. Pun saya mendapatkan foto ini di internet dalam resolusi yang sangat rendah. Saya menduga foto di atas adalah hasil repro dari foto yang asli.

Maka kepada para sidang pembaca Lobrainers sekalian, bila ada yang sekiranya tahu atau mengenal fotografernya, silahkan kabari kami melalui kolom komentar di posting ini. Tabik! []

6 comments:

siary said...

..analisis yang cerdas om. Maafkan mereka yang tidak pernah jalan2 keluar melihat dunia yang indah, terutama yang penasaran melihatnya dari jendela bidik kamera...

turiscantik.com said...

analisa yang kritis dan cerdas mas ;)

fotodeka said...

=)) hahaha menurut saya ini postingan antimainstream, setelah saya terjebak diderasnya arus timeline twitter yang mencerca si mbaknya.

tentunya dengan postingan siapa itu? yang paling banyak di share lah pokoknya, mengatakan bla-bla-bla...

cumilebay.com said...

Mudah2an tahun depan waisak ini bener2 tertutup untuk umum, agar kekhusukan beribadah lebih mengena di hati pemeluk nya :)

wira said...

Bro...gak posting lagi broo..sibuk mau nikah ya bro? :3

duniautopia said...

Semoga fotografernya insaf yah.