Pages

5/9/13

The City of Failure




Teks dan foto Tuhu Nugraha

Setiap perjalanan pasti punya cerita, bukan hanya tentang alam yang indah, budaya yang eksotis, atau kuliner yang maknyus untuk dipamerkan. Tapi perjalanan juga kadang membuka wawasan baru, perenungan, sekaligus membuat miris. Termasuk perjalanan saya tahun lalu ke Festival Erau di Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara yang lebih tersohor sebagai kabupaten terkaya di Indonesia. Saya sendiri sudah sejak lama penasaran, ingin tahu seperti apa sebenarnya wajah kota ini? 

Tekad saya semakin bulat untuk berkunjung ke Tenggarong setelah membaca iklan Festival Erau di sebuah majalah penerbangan.Saya pun segera mendaftar tur Gelar Nusantara, sebuah komunitas pecinta budaya, yang membuka paket perjalanan ke Festival Erau. Saya terpaksa mengambil paket ini karena informasi tentang Festival Erau dan Tenggarong sangat minim di internet. Bagaimana transportasinya? Nginep dimana? Dan lain sebagainya tidak tersedia dengan jelas. Tapi dalam tulisan ini saya lebih tertarik berkisah tentang Tenggarong, dibanding Erau. 

Sebelum berangkat, Tenggarong membangkitkan fantasi tentang sebuah kota modern yang dibangun dari kekayaan alam melimpah. Mulanya, Tenggarong hanya sebuah kampung kecil bernama Tepian Pandan yang berkembang di sempadan Sungai Mahakam. Di sinilah komunitas kecil Dayak Benuaq membangun pemukiman berupa rumah-rumah kayu yang dibangun di atas air. Bentuk huniannya menyerupai rumah betang, namun dengan ornamen yang lebih sederhana. Pada hutan-hutannya terdapat bekantan dan satwa asiatik lain khas hutan Borneo.

Tenggarong tempo dulu versi litografi karya C.F. Kelley, koleksi Tropenmuseum. 

Pada tahun 1782, Raja Kutai Kartanegara ke-15 memindahkan ibukota kerajaan dari Pemarangan ke Tepian Pandan yang lebih jauh masuk ke hulu. Namanya pun diubah menjadi Tangga Arung yang berarti "rumah raja", meskipun belakangan orang lebih suka melafalkannya sebagai Tenggarong saja. Hingga saat ini jejak kerajaan Kutai masih dapat ditemui di Tenggarong. Seperti makam raja-raja hingga berbagai koleksi benda pusaka yang tersimpan di Museum Mulawarman. Lembuswana, hewan mitos berupa singa bersayap dan berbelalai gajah, yang menjadi simbol Tenggarong juga merupakan warisan budaya dari Kerajaan Kutai.

Dalam beberapa dekade terakhir, batu bara mengubah Tenggarong menjadi kota modern. Mineral yang terbentuk selama jutaan tahun ini bisa ditemui hanya dengan menggali tanah sedalam lima meter saja. Kalimantan memang memiliki tanah yang kaya! Dan kekayaan alam inilah yang menyulap Tenggarong menjadi kota modern. Sama seperti Dubai yang maju karena minyak bumi. Saya berpikir pasti kota Tenggarong keren dan festivalnya dikemas menarik! Saya begitu bersemangat.

Ternyata dugaan saya meleset total. Perjalanan memasuki Tenggarong disambut dengan jalanan aspal yang rusak parah dan genangan air sebesar kolam lele. Saya mulai merasa kecewa, inikah jalan menuju kabupaten terkaya? Mengapa jalur transportasinya begini menyedihkan?

Ketika masuk ke tengah kota, gedung-gedung mewah memang bertebaran. Kantor Bupati dan legislatifnya begitu wah. Ketakjuban saya bertambah saat melihat kereta gantung mewah yang menghubungkan dua sisi kota dan stadion olah raga di seberang Pulau Kumala yang sejak tahun 2000 dibangun sebagai kawasan wisata. Tapi tunggu dulu sepertinya fasilitas publik ini sia-sia. Menurut penduduk sekitar, kereta gantungnya sudah lama terbengkalai, jembatan Kukar yang gagah menyerupai Ampera pun ambruk dua tahun lalu dan hanya menyisakan tiang pancang saja.

Bisa ditebak, korupsi adalah biang keladinya. Kereta gantung usang, jalanan berlubang, jembatan yang ambruk, dan stadion mangkrak jadi saksi keserakahan, nafsu pamer dari sebuah kota kecil yang mendadak kaya. Dari empat propinsi di Kalimantan yang pernah saya kunjungi, jalanan Tenggarong adalah yang paling mengenaskan. Padahal sepanjang sungai Mahakam conveyor belt tak henti memuntahkan batu bara ke tongkang-tongkang raksasa yang haus uang. Lebih miris dan ironis, walaupun jalanan jelek dan tergenang lumpur sana sini, di tengah kota Tenggarong ada dealer Piaggio.

Saya geleng-geleng, luar biasa memang masyarakat Tenggarong. Konsumtifnya sudah di luar akal. Masyarakat Tenggarong memang hidup makmur, tapi tidak semuanya. Lihatlah juga penduduk yang tinggal di pinggiran sungai tetap hidup kumuh, memandangi jalanan becek, dan berlumpur. Sementara di bagian lain ada yang hip hip hura mejeng naik Vespa berkeliling kota yang jalannya tidak mulus-mulus amat.

Perjalanan menuju Tenggarong, harus mendarat via Balikpapan. Inilah kesempatan Anda untuk membaca karakter antara dua kota ini. Ibarat manusia, Balikpapan adalah orang kaya lama dengan tampilan elegan. Sebaliknya Tenggarong adalah gadis muda bergincu tebal yang haus akan pembuktian berbau Soekarnoesque. Obsesinya sangat mirip dengan politik mercusuar era Soekarno yang memoles Jakarta dengan membangun Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia, Monas, dan lain-lain.

Tenggarong oh Tenggarong. Inilah cermin sisi kelam otonomi daerah, dimana komprador politik berkolaborasi cantik dengan kapitalis besar untuk mengeruk kekayaan alam demi kepentingan segelintir orang. Bila jenis kota seperti itu yang Anda cari, maka Tenggarong adalah destinasi yang paling tepat.

Dulu ketika belajar Hubungan Internasional di UNPAD, saya pikir kondisi seperti itu hanya dongeng masa lalu di negeri-negeri yang jauh. Ternyata saya dengan amat berat harus mengakui, itu ada dan begitu dekat...[]

3 comments:

fiz-online said...

Jadi ingat kisah Belitung dalam novel Laskar Pelangi, daerah penghasil timah tetapi banyak penduduknya yang masih miskin.

galih s putro said...

wahh...tumben ada tulisan macam gini di HFLB

Nur Hafizah said...

ya,... saya juga miris.. saya orang kutai asli namun kekayaan tanah kutai sendiri tidak pernah sya dan orang2 desa saya rasakan..